
Kota Shuning terlihat tak biasa, meskipun aktifitas berjalan normal tetapi terlihat jika terdapat banyak pendekar yang berkeliling.
Bahkan gerbang masuk kota dijaga setidaknya lima puluh prajurit dan lima pendekar senior dari sekte Tujuh Tombak Emas. Pemeriksaan sebelum memasuki kota juga sangat ketat.
Hal itu dapat terlihat dari hanya ada satu post pemeriksaan, yang biasanya terdapat tiga post. Praktis dari banyaknya pengunjung, beberapa dari mereka yang merupakan pedagang mengeluh soal antrian.
Tapi meskipun begitu, situasi terlihat terkendali. Tak ada satupun yang bermasalah. Kelima pendekar senior yang ditugaskan untuk mengawasi setiap orang yang akan memasuki kota juga melakukan tugasnya dengan baik.
Meskipun dalam kewaspadaan tinggi tetapi sikap sopan dan ramah tetap mereka kedepankan. Karena itulah, tak ada dari banyaknya antrian yang berani membuat masalah.
Di dalam Kota Shuning terlihat sibuk seperti biasanya, hanya saja karena penjagaan yang ketat membuat para pengunjung tidak bisa bertindak leluasa.
Sebagian pasukan aliansi yang kembali setelah perang di Hibei bertahan di kota Shuning. Tentu saja itu merupakan pasukan dari sekte yang memiliki hubungan dekat dengan Tujuh Tombak Emas. Sementara pasukan dari sekte lain telah kembali ke sekte masing-masing sebelum masuk wilayah hutan Kota Shuning.
Dari pakaian yang dikenakan beberapa pendekar yang terlihat, menunjukkan asal sekte mereka. Dan yang paling banyak dari sekte Anggrek Suci, beberapa dari Gunung Pandan.
Terlihat juga ada beberapa orang pendekar yang memakai jubah bermotif Kalajengking, mereka dari sekte kecil yang bertempat di utara perbatasan wilayah kerajaan.
Sementara penjagaan di depan gerbang masuk sekte bisa dibilang sangat ketat. Penjaga yang berjumlah dua puluhan orang terlihat sangat berwaspada.
Suasana di dalam sekte juga tak kalah serius, para murid yang seharusnya berlatih di balai pelatihan kini mereka semua berada di setiap sudut sekte. Meskipun masih tetap berlatih dibawah pengawasan para guru pembimbing.
Didalam Balai Tetua Tombak terlihat ada beberapa orang yang tengah menggelar pertemuan.
Dari delapan orang yang ada, semuanya terlihat sangat serius. Ditambah dua orang lainnya sedang terlihat gelisah, keduanya berada di tengah dari ruang pertemuan itu.
Kembalinya Tetua Jing Yun beserta pasukan aliansi sehari sebelumnya nyatanya tidak membuat suasana pertemuan itu baik-baik saja.
__ADS_1
Bahkan raut wajah Patriark Sun Sian sangat serius sejak awal pertemuan, mereka semua sangat serius membahas soal pasukan hitam yang mengarah ke sekte.
Meskipun telah tiga kali mengirim mata-mata untuk mendapatkan informasi, nyatanya tidak ada satupun yang kembali. Untuk itulah mereka semua merasa tidak tenang.
“Jika begini terus, kita seperti menunggu untuk dihancurkan! Bagaimana kalau aku sendiri yang mencari informasi tentang mereka?” Tetua Feiying mengajukan diri setelah Patriark Sun maupun Tetua Jing Yun tak memberikan tanggapan soal mata-mata yang tak kunjung kembali.
Tetua Ling Ling menutup mata sambil menggeleng pelan, “Ini tidak mudah, beberapa hari lalu aku pernah mencobanya tapi aku dihadang seorang berpakaian serba hitam, jika aku tak cukup pintar melarikan diri mungkin aku bisa mati saat itu. Orang itu sangat aneh, senjata yang digunakannya juga aneh,”
“Aku sudah katakan, mereka itu berasal dari pulau itu! Kakak Li Chen pasti merekrut pendekar dari sana untuk ini. Aku takut, dia juga mendapat dukungan dari Raja Shu...! Sepertinya aku harus menyerahkan diri, aku tidak ingin rakyat yang tak bersalah menjadi korban,”
Orang dengan pakaian khas anggota kerajaan terlihat menekuk wajahnya, terlihat kesedihan bercampur rasa geram. Tetapi pembawaannya masih terbilang sangat tenang terlepas dari perasaannya.
"Apa yang kau bicarakan, kakak! Aku tidak setuju dengan pendapatmu. Jika kakak pertama yang bertahta, justru rakyat malah akan sangat menderita. Jangan kecewakan harapan ayah pada Kak Li Fen...!” sergah Putri Li May Lin, ia terlihat emosional dalam bersikap hingga membuat tetua tombak yang ada terdiam sambil menutup mata kecuali Tetua Jing Yun dan Patriark Sun Sian.
Pangeran Li Fen An tidak menjawab dan hanya menggigit bibirnya, terlihat sorot matanya begitu tajam.
Tetua Jing Yun mengeluarkan suara setelah beberapa waktu diam mendengarkan pendapat dari semuanya.
"Jadi apa yang kita tunggu? Bukankah seharusnya kita melakukan sesuatu sekarang?” Tetua Feiying kembali berpendapat.
Tak ada dari tetua lain yang berani berdebat dengan Tetua Feiying, sifat keras dan tak mau kalah menjadi ciri khasnya. Untuk itu, semua tetua tombak seperti bersikap menyerahkan keputusan kepada Tetua Jing Yun.
"Menurutku, sampai saat ini mereka belum bergerak itu menunjukkan kalau mereka belum sepenuhnya siap beraksi. Jadi kupikir sebaiknya kita memperkuat pertahanan dan memperketat penjagaan. Kediaman Pangeran Li Fen An juga harus lebih ketat lagi, untuk area luar sekte menjadi tanggung jawab setiap tetua tombak sedang area dalam dan pengawasan Pangeran Li Chen akan menjadi tanggung jawabku....” Patriark Sun Sian memberi pendapatnya saat Tetua Feiying masih bersikeras ingin bertindak sendiri.
“Baiklah...! Kita hanya harus memastikan keselamatan rakyat dan juga pangeran, untuk Putri Li May Lin akan aman selama masih bersama Nona Liqin Mei....” Tetua Jing Yun menambahkan yang kemudian dijawab dengan anggukan serentak dari para tetua tombak.
Sementara raut wajah Pangeran Li Fen An sangat tidak biasa, ia tidak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya. Yang ada dipikirannya hanya bagaimana nasib rakyat dan warisan dari ayahnya, bahkan ia tak memperdulikan keselamatannya sendiri.
__ADS_1
Meskipun Putri Li May Lin mencoba menenangkannya, tapi itu hanya sementara saja sebelum sikapnya kembali pendiam.
Pertemuan itu diakhiri dengan beberapa keputusan penting seperti penambahan jumlah penjagaan dan memperketat keluar masuknya pengunjung kota.
Selain itu, pedagang antar kota menjadi perhatian lebih karena itu bisa digunakan sebagai aksi penyamaran paling masuk akal dibanding penyamaran yang lain.
Tetua Feiying nampak tidak senang saat keluar dari ruang pertemuan itu. Sementara tetua yang lain kembali ke tempat mereka masing-masing, meninggalkan Tetua Jing Yun dan Patriark Sun Sian beserta Pangeran Li Fen An dan Putri Li May Lin di dalam ruang pertemuan itu.
“Kalian tenanglah...! Jika terjadi pertempuran besar, akan ada orang yang memenangkannya. Dan jika ada yang terluka, akan ada orang yang menyembuhkannya. Aku tidak bisa bilang itu suatu keberuntungan atau tidak, tapi yang jelas kita hanya perlu bersabar dan tak melakukan tindakan apapun sebelum orang itu sampai disini,” Tetua Jing Yun membuka suara sambil memainkan jenggot putihnya, sementara wajah pucatnya terlihat sangat tenang.
Patriark Sun Sian langsung menoleh sebelum akhirnya ia menyadari maksud ketua dari tetua tombak itu. Sementara Pangeran Li Fen An hanya tersenyum tipis, ia mengira jika ucapan Tetua Jing Yun hanya sebagai penenang.
“Ya, aku berharap akan ada orang yang seperti itu! Baiklah, sepertinya kakak butuh waktu untuk beristirahat. Kami undur diri dulu...!” Putri Li May Lin memberi salam sebelum kemudian memapah Pangeran Li Fen An yang kelihatan bertubuh lemah.
"Apakah kau penasaran, kenapa aku masih bisa tenang dengan situasi disini? Itu wajar ... Tapi untuk saat ini yang bisa aku katakan, kita akan aman dalam beberapa hari ke depan.” Tetua Jing Yun menyadarkan tubuhnya sambil menatap langit-langit ruangan, sementara Patriark Sun Sian hanya tersenyum kecil.
Tidak ada yang tahu selain Tetua Jing Yun jika terdapat pasukan dengan jumlah dan kekuatan tak kalah menakutkan berada di sekitar hutan. Perkemahan pasukan hitam yang sebelumnya di informasikan juga masih terpaut jarak yang lumayan jauh.
Tetua Jing Yun menjadi satu-satunya orang yang menyadari kehadiran pasukan dalam jumlah besar itu tetapi ia tahu mereka tidak memiliki keinginan menyerang kota walaupun memiliki nafsu membunuh yang mengerikan.
Satu-satunya penjelasan masuk akal baginya soal pasukan misterius itu berkenaan dengan rencana Tan Hao. Tetapi ia juga tak ingin mengambil kesimpulan terlalu tinggi.
Dirinya hanya sebisa mungkin melakukan tindakan sesuai arahan yang diberikan Tan Hao. Karena itulah saat ini ia masih bisa bersikap tenang dan berpikir jernih, tidak seperti Tetua Feiying yang terlihat terburu-buru meskipun telah mengetahui susunan rencana Tan Hao.
“Aku akan pergi berlatih menyerap inti roh hewan buas, mungkin butuh waktu sampai besok pagi. Sebelum itu, aku akan memasang pelindung di kediaman pangeran, jadi Patriark Sun tak perlu khawatir,”
“Ah ya ... Dari kita semua, hanya Senior Jing Yun yang berkesempatan naik tingkat lagi! Jika itu terjadi, bukankah jarak kita akan semakin jauh, heh...! Tapi tak masalah, aku bisa menyusul nanti, hehe...!” Patriark Sun Sian bangkit dari duduknya diselingi tawa kecil kemudian berjalan meninggalkan ruang pertemuan itu.
__ADS_1