Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 98 ~ Lembah Pertarungan 3


__ADS_3

Ledakan dahsyat terjadi akibat benturan kedua jurus tersebut menciptakan percikan api berhamburan kesegala arah, sesuatu yang terkena api tersebut dalam sekejap hangus terbakar.


Jangkauan dampaknya sampai ketempat Tan Hao berada, namun hanya terasa getaran di tempat Tetua Shuxan dan yang lainnya berada.


Hujan api segera memenuhi sekitar tubuh Tan Hao dan area sekitar, meski begitu Tan Hao masih diposisi yang sama. Berjongkok memandangi pedangnya yang masih belum berhenti bergetar. Ia menyadari kejadian itu namun enggan memperdulikannya.


Tanah disekitar berlubang dengan berbagai ukuran namun tempat Tan Hao berada luput dari hujan api tersebut, hanya meleset ke kiri atau ke kanan. Seperti menabrak sesuatu yang tak terlihat.


Kondisi buruk justru dialami oleh Tiandou, pakainnya tercabik-cabik tak beraturan, seluruh tubuhnya penuh luka bakar. Wujudnya yang hitam gelap oleh energi pedang iblis kini menghilang, ia kembali ke keadaan semula.


Detak jantungnya begitu cepat, nafasnya pun begitu berat meski masih dalam posisi berdiri. Siapapun yang melihatnya pasti tidak akan menyangka luka yang dialaminya begitu fatal.


"Tuan bertahanlah! Aku sedang memberitahukan ini pada Raja Ye," kata Yue Yin di dalam ruang jiwa Tiandou.


"Tak usah terburu-buru begitu, aku masih bisa bertaham. Jangan panik," balas Tiandou dengan nafas naik turun tak beraturan.


Kedua tangannya bahkan menggantung dengan posisi badan sedikit membungkuk, matanya menatap lemah kedepan.


"Ini salahku! Meminta Tuan menggunakan jurus yang belum Tuan kuasai, maafkan aku Tuan," timpal Yue Yin merasa bersalah. Sebab beberapa waktu yang lalu dirinya lah yang meminta agar Tiandou menyelesaikan pertarungan dengan cepat menggunakan jurus ketiga dari Pedang Sabit Matahari.


Namun siapa sangka, keputusan itu malah membuat dampak yang diderita Tiandou dua kali lipat lebih berat dari yang seharusnya.


"Uhh.. Uhukk ... Hmmm ughh ... Aku kalah ya? Hehe he hehe ... Uhhukkk." ujar Ming Yin lemah setelah batuk darah berulang kali, tubuhnya tergolek lemas tak bertenaga. Bahkan menggerakkan ujung jari pun tak dapat ia lakukan.


Pakaiannya habis terbakar dan hanya menyisakan sebagian selendang iblis yang menutupi sebagian tubuhnya, luka bakar yang dialaminya bahkan lebih berat dari yang Tiandou derita.


Tak berselang lama setelah itu, Ming Yin tak lagi bersuara. Keduanya matanya masih terbuka dengan darah merembes dipelipisnya. Ming Yin menghembuskan nafas terakhirnya bersamaan dengan ambruknya tubuh Tiandou.

__ADS_1


Kondisi Tiandou juga tak kalah buruk, nafasnya semakin memberat. Bahkan Yue Yin pun dibuat panik sampai ia keluar dari Ruang Jiwa dan melesat menuju Tan Hao berada.


"Dasar sial! Harusnya aku tak melakukan kecerobohan seperti itu, bodoh bodoh,-!! Tiandou bertahanlah sebentar lagi." batin Yue Yin ketika melesat cepat menuju Tan Hao berada.


Ye Yuan yang sejak tersengat listrik dari pedang dewa surgawi hanya diam, tercekat kaget kala merasakan bahwa Tiandou melemah dan terus melemah.


"Haohao! Abaikan pedang bodoh itu, cobalah kau cari tau sahabatmu itu saat ini tengah bagaimana?"seru Ye Yuan memandang kearah Tiandou bertarung.


Tan Hao mengalihkan pandangannya.


"Apa maksudmu!!"


Ye Yuan hanya membuka kedua tangannya kesamping sembari mengangkat pundaknya. Hal itu membuat Tan Hao penasaran maka ia langsung mengunakan insting dewa nya untuk mencari tahu kebenaran dari ucapan Ye Yuan.


"Oh tidak! Ini benar-benar diluar dari rencana?!"


Tan Hao berdiri dengan cepat kemudian memandang ke arah tempat Tiandou berada. Cukup mudah baginya untuk menemukan keberadaan maupun kondisi yang Tiandou alami.


Belum terlalu jauh dari tempat semula Tan Hao bertemu dengan Yue Yin, terlihat jika Yue Yin begitu tergesa-gesa hingga ia tak menyadari telah berwujud manusia dalam laju lesatannya.


Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya, Yue Yin hanya berwujud manusia ketika berada di ruang jiwa Tiandou, diluar itu ia kembali ke wujud spiritualnya.


"Tuan Muda! Tuan Tiandou ... Dia saat ini ... Buruk," seru Yue Yin yang terlihat panik.


Tan Hao menyadari itu, ia tak berniat untuk membuang waktu dengan banyak menjelaskan.


"Tenanglah, kita kesana,"

__ADS_1


Tan Hao juga mengirimkan pesan pada Tetua Shuxan tentang situasi yang ada, dan bagaimana kondisi Tiandou saat ini. Hanya Tetua Shuxan yang dapat mendengarkan pesan itu sebab memang dikirimkan langsung ke ruang kesadaraan milik Shuxan.


Mendapat kepastian kabar tersebut Tetua Shuxan langsung mengajak Liu Zey untuk kembali tanpa menjelaskan alasan karena ia tau akan menghabiskan banyak waktu untuk menjelaskan.


Keduanya berlari cepat meninggalkan Su Kong yang masih belum bisa menguasai tubuhnya karena ketakutan.


Ketika Tan Hao telah sampai ketempat Tiandou berada, senyuman kecil malah tersirat di bibirnya. Ia berhenti dari laju larinya, berdiri tenang dengan melipat tangan kedepan.


"Kakak Ye! Kenapa kau tak ingatkan aku soal Lan Lihua? Sia-sia aku berlari sejauh ini, dasar burung bodoh," ujar Tan Hao yang kemudian mengumpati Ye Yuan.


"Kenapa aku? Aku kan hanya memintamu mencaritahu keadaan bukan mencaritahu keberadaan, lagipula kau yang bodoh sampai melupakan istrimu. Ehmm ... Dasar manusia! Mudah melupakan sesuatu yang telah didapatkan, haih ... ." seloroh Ye Yuan bernada mengejek halus Tan Hao.


Lan Lihua tengah mengobati Tiandou, alasan Tan Hao tersenyum adalah kondisi Tiandou yang tak seperti ia lihat sebelumnya menggunakan insting dewa nya.


Kini luka bakar disekujur tubuhnya telah perlahan pulih, hanya wajahnya terlihat sangat pucat sebab banyak kehilangan darah.


Tak lama kemudian, Tetua Shuxan dan Liu Zey pun tiba. Bahkan keberadaan Tan Hao pun diacuhkan keduanya, yang mereka lihat pertama kali saat tiba adalah Tiandou yang tengah duduk bersila tanpa pakaian dan hanya beberapa balutan kain di beberapa bagian tubuhnya.


"Kakak Tian ... Oh Ya Tuhan ... Kau?!" Liu Zey bukan hanya terkejut namun ia juga tertegun hingga tak kuasa menahan airmata.


"Tenangkan dirimu! Dia akan baik-baik saja, berikan aku waktu untuk mengobatinya," ujar Lan Lihua yang masih terfokus dengan apa yang dilakukannya, meski begitu ia menyadari kehadiran Liu Zey beserta perasaan yang dirasakannya.


Liu Zey mengusap halus pipinya kemudian berjalan menuju bawah pohon yang terpotong batangnya akibat pertarungan sebelumnya.


Sementara itu Tetua Shuxan menghampiri Tan Hao, ia masih belum memahami apa yang terjadi selama pertarungan. Tetua Shuxan berniat ingin menanyakan hal itu dan juga menanyakan apa yang dialami Tetua Tiandou hingga sampai menderita luka yang cukup parah.


"Aku tak tau harus bertanya darimana? Tetapi bisakah Tuan Muda mengatakan apa yang telah terjadi? Bagaimana mungkin orang terkuat setelahmu bisa seperti itu," tanya Tetua Shuxan yang sebelumnya memberi hormat.

__ADS_1


"Tunggu sebentar! Hei Haohao, apa kau melihat itu? Bukankah itu ... ." seru Ye Yuan sembari menunjuk kearah Lan Lihua berada.


"Ya kau benar! Itulah yang kumaksud dengan takdir itu berjodoh untuk pemilik hati yang bersih," jawab Tan Hao santai, ia menggunakan mata dewa nya sejak beberapa saat yang lalu.


__ADS_2