
Tan Hao tersenyum penuh makna memandang Lan Lihua. Sementara Fen Lian memiringkan kepalanya, cukup heran dengan sikap Tan Hao yang seperti itu.
"Maksud Tuan Muda?" tanya Fen Lian lugu sembari masih memiringkan kepalanya.
"Sumber daya sebanyak dan selengkap itu, sia-sia rasanya jika tidak digunakan dengan benar. Lagipula aku punya seseorang yang harusnya sekarang mulai mengembangkan lagi keahliannya," balas Tan Hao sambil sekali lagi melirik Lan Lihua.
"Maksud kakak? Aku?" timpal Lan Lihua menunjuk dirinya sendiri.
"Tunggu dulu? Maksud Tuan Muda Tan Hao, ingin membuat pil sumber daya dengan menggunakan bahan sumber daya itu?" imbuh Fen Lian terkejut.
"Ya ...! Itu lebih efektif untuk menyimpannya, dan terus terang saja! Aku juga ingin bereksperimen kecil, semua sumber daya di gudang penyimpanan itu lebih dari cukup untuk metode yang ingin aku buat ...."
Fen Lian nampak terkekeh bodoh, terlihat senyumannya itu seperti senyum tidak rela.
"Apakah dia ingin menjadikan sumber daya langka dan mahal itu untuk sebuah percobaan? Haha ... Lebih baik aku dibunuh saja jika begitu ...!" batin Fen Lian sambil terkekeh ringan.
"Kenapa ekspresimu seperti itu? Tenang saja, tidak akan merugikan ... Hanya saja mungkin ada beberapa kegagalan kecil," kata Tan Hao datar sembari memutar tubuhnya berniat untuk meninggalkan taman itu.
Lan Lihua tersenyum namun terlihat itu merupakan senyum terpaksa dengan segala pertanyaan di benaknya, sementara Fen Lian hanya menggeleng pelan, seolah tak memiliki jawaban lagi.
Beberapa saat kemudian, ketiganya telah sampai di ruangan yang letaknya bersebelahan dengan gudang penyimpanan sumber daya. Fen Lian masih terlihat ragu, sementara Lan Lihua terdiam dengan berbagai pertanyaan di benaknya.
__ADS_1
"5 pucuk Bunga Anggrek Suci, 8 buah Ginseng es, 4 buah Kerang susu Giok, 6 tangkai Tanaman Selor, 7 buah Jamur Angin, 10 tangkai Rumput Pelangi, 2 tangkai Daun Tinta Hitam, 4 pucuk Bunga Matahari Emas, 8 buah Inti Mahoni Putih ... Hmm sepertinya ini sudah cukup untuk percobaan pertama, emm ...!" gumam Tan Hao sambil memegangi dagunya, terlihat sedang fokus melihat semua sumber daya yang ia ambil dari gudang penyimpanan beberapa saat yang lalu.
"Sebenarnya, pil apa yang mau dia buat? Ini semua kan sumber daya langka yang sulit ditemukan, Ohh ya Dewa ... Hukuman macam apa ini ....!" batin Fen Lian seolah ingin menangis, dan hanya bisa menangisinya dalam hati.
"Kakak? Bukankah ada dua sumber daya lagi yang terlewat olehmu? Sumber daya yang sudah berevolusi ... Bukankah itu lumayan untuk dicoba," kata Lan Lihua mengingatkan Tan Hao setelah menemukan kembali semangatnya karena melihat semua sumber daya tersebut.
"Oh iya ...! Mange Mawar Darah ... Aku hampir melupakan bahan itu, ehh tapi ... Yang satu lagi, emm!"
"Teratai Naga Langit," sahut Lan Lihua cepat, membuat bukan hanya Tan Hao saja yang terkejut tapi Fen Lian tak kalah terkejutnya hingga tersedak napasnya sendiri.
"Apa yang kau katakan? Teratai Naga Langit ...?" tanya Fen Lian memastikan, namun terlihat jelas ekspresi wajahnya lain.
"Ya ... Itu merupakan Bunga Teratai Iblis yang dalam kurun waktu seribu tahun akan mengalami perkembangan kelopak, setiap satu dari tujuh kelopaknya akan terbentuk aliran energi alam yang menyebabkan setiap serat sarinya membesar sampai batas dimana tangkainya mengalami pergeseran kondisi. Disebut Naga Langit karena bersamaan dengan itu warna hitam pada kelopak bunganya berubah cerah serta memiliki sedikit corak menyerupai sisik naga, tapi itu bukanlah corak sia-sia. Karena semakin banyak corak yang terbentuk, artinya semakin banyak juga energi alam yang terserap, itu juga menjadikan khasiatnya berkali-kali lipat," terang Tan Hao sembari menunjuk ke atas seolah membayangkan kedua bahan tersebut.
Lan Lihua mengeluarkan dua buah bahan yang ia ambil bersamaan dari rak paling atas di gudang penyimpanan sumber daya sebelumnya, lalu menunjukkannya pada Fen Lian.
"Aku tak sengaja menemukannya, memang posisinya terhalang Ekor Naga Sisik Iblis ini. Awalnya aku mengira ini Tanaman Sihir, tapi setelah aku perhatikan ternyata ini adalah Teratai Naga Langit."
Fen Lian terdiam sembari memperhatikan sumber daya tersebut. Ia tak menyangka, asosiasi memiliki sumber daya nomor satu paling dicari oleh para peramu obat. Tapi sejenak kemudian ia tersadar, jika bahan itu hanya ada satu di gudang penyimpanan. Membuat ekspresinya tambah menyedihkan.
"Baiklah, cukup basa-basinya ...! Adik Lan, sekarang keluarkan Periuk Neraka," pinta Tan Hao serius.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Pe-periuk Neraka ...? Bejana iblis dengan sembilan kepala naga sebagai pengatur nyala api, memiliki daya keberhasilan hampir seratus persen ...! Pusaka kelas suci nomor satu dalam sejarah peramu obat. Kalian dapatkan darimana benda itu?" tanya Fen Lian tak henti-hentinya dibuat terkejut. Karena selama ini selain dia tak pernah mempelajari lebih jauh soal sumber daya juga dia enggan mencari tahu lebih dalam tentang golongan tingkat periuk obat.
"Nanti saja penjelasannya! Sekarang, biarkan kami bekerja," sahut Tan Hao serius sembari menyiapkan beberapa bahan.
Lan Lihua mengikuti permintaan Tan Hao tanpa mempertanyakannya, karena memang ia tak lagi meramu obat setelah keluar dari Foshan. Dalam pikirnya, mungkin Ini merupakan kesempatannya untuk kembali mengasah keahliannya dalam meramu pil sumber daya, meskipun ia belum mengetahui pil apa yang akan dibuat oleh Tan Hao.
***
"Lepaskan aku, brengsekk ...! Ayo kita bertarung ...." erang Sui Jiu, kedua tangannya di rantai berjauhan sementara lehernya dipasang cincin pengunci yang terhubung ke rantai di pergelangan tangannya.
"Hng!! Melepaskanmu? Sudahlah, tenang saja disini. Lagipula, kau tak akan menang melawanku. Lebih baik bersikap manis dan penurut lah, kata guruku itu lebih baik lho ...."
"Dasar brengsekk!! Beraninya bertindak curang, laki-laki lemah gemulai sepertimu ... Cuihh," geram Sui Jiu dengan sorot mata tajamnya kemudian meludah yang langsung mengenai wajah orang yang berdiri dihadapannya itu.
WHONG ...
"Jaga lidahmu, sebelum aku potong ...!"
Tubuh Sui Jiu bergetar hebat, kedua matanya melotot tajam seperti melihat sesuatu yang mengerikan berada diatas orang yang berdiri didepannya itu. Tatapan matanya begitu tajam, seolah itu merupakan tatapan mata pembunuh kejam ditambah senyumnya yang terlihat memuakkan.
"Gadis baik ...! Benar begitu, menurut lah. Jangan melewati batasanmu, kata guruku itu tidak baik lho, hihihi," kata orang tersebut sembari menepuk pelan pundak Sui Jiu kemudian meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
"Orang itu?! Orang yang mengerikan ...! Apa yang barusan itu tadi? Sungguh kekuatan yang besar, itu diluar batasku ... Seperti, seperti Tuan Tan Hao saat itu, ck ...." gumam Sui Jiu tertunduk memandangi lantai sembari berulang kali menggigit bibirnya. Terdapat cukup banyak luka disekujur tubuhnya, hingga masih menyisakan sedikit noda darah dipinggir bibir sampai ke dagunya.