Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 107 ~ Bertemu Fen Lian


__ADS_3

Tan Hao meminta Lan Lihua menggunakan persepsi jiwanya untuk mengetahui situasi sekitar, sembari mereka menunggu penjaga pintu gerbang yang belum kembali.


Situasi yang cukup sepi memberikan keanehan tersendiri dibenak Tan Hao, ia merasa ada sesuatu yang mungkin akan terjadi tak lama lagi. Bukannya ia tak mau menggunakan Mata Dewa, Tan Hao hanya ingin memberi Lan Lihua kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.


Selama ini Lan Lihua hanya lebih banyak diam, Tan Hao merasa itu bukan sesuatu yang baik. Memiliki kemampuan besar dan pencapaian tinggi akan sia-sia jika tak selalu diasah.


"Kak HaoHao, aku melihat ada pergerakan yang cukup besar dari arah tenggara," kata Lan Lihua yang masih menutup kedua matanya.


"Apa kau bisa memastikan?"


"Jangkauan yang terlalu jauh, aku tidak begitu jelas. Yang pasti lebih dari seratus orang bergerak menuju Hibei,"


"Lanjutkan!" pinta Tan Hao kemudian mengeluarkan Pedang Dewa Surgawi.


"Baiklah kawan! Sekarang kau bisa tunjukkan dirimu yang sebenarnya." kata Tan Hao mencoba mengajak berbicara pedang pemberian ayahnya itu.


Seolah mengerti perkataan Tan Hao, pedang tersebut bergetar sesaat kemudian memancarkan energi keemasan yang menyilaukan mata. Namun, hal itu tak menjadi kendala bagi Tan Hao.


"Oh menarik! Dugaanku sepertinya tak meleset," batin Tan Hao sambil tersenyum.


Tak butuh waktu lama hingga pancaran energi itu lenyap, pedang yang semula melayang di depan muka Tan Hao. Kini berubah wujud. Wujud yang begitu mengejutkan Lan Lihua hingga ia tersentak dari tempatnya berdiri.


"Tak apa! Kau lanjutkan saja," ujar Tan Hao menenangkan Lan Lihua.


Lan Lihua hanya mengangguk sekali kemudian fokus kembali memeriksa wilayah sekitar. Sementara Tan Hao berdiri dengan tenang memandang wujud asli pedang peninggalan ayahnya itu.


"Aku hanya tak habis pikir, mengapa selama ini kau begitu pintar menyembunyikan diri sampai aku tak menyadarinya. Hingga saat manik-manik teratai dari ibuku yang memberitahuku tentangmu. Apakah ada yang ingin kau katakan?" kata Tan Hao begitu santai yang diselingi tawa kecil.

__ADS_1


Perwujudan dari Pedang Dewa Surgawi tersebut terkekeh ringan, bulu indah warna-warni yang ia miliki terlihat begitu mengagumkan. Wujud yang tak terlalu besar, hanya lebih kecil dari ukuran wujud Ye Yuan yang sebenarnya.


Kemunculannya bahkan membuat Ye Yuan seolah tak pernah ada, ia terdiam jauh di dalam ruang jiwa Tan Hao seolah terkejut menahan ketakutan.


"Sepertinya lain kali saja aku mengatakannya, orang yang kau tunggu akan segera datang. Aku tak ingin kemunculanku diketahui sekarang," kata perwujudan Pedang Dewa tersebut sambil menunduk seolah memberi hormatnya.


"Ah ... Kau benar! Sekarang kau bermainlah dulu bersama kawanku yang lainnya," balas Tan Hao tersenyum lebar.


"Aku siap kapanpun Tuan Muda butuhkan," sahutnya tegas. Kumis panjangnya yang hanya dua helai seakan menari melayang berlawanan arah.


Tak ada pernyataan lagi setelahnya, Tan Hao memasukannya ke dalam Cincin Dimensi sesaat setelah kembali ke wujud pedang.


Tan Hao menghela nafas panjang, sesekali ia tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Bersamaan dengan itu, Lan Lihua pun telah usai memeriksa wilayah sekitar.


"Kakak! Apa kau sudah selesai?" tanya Lan Lihua pelan.


"Kau melakukan kebodohan berulang kali dan kau masih tak tahu? Coba lihat penjaga di belakangmu itu," celoteh Lan Lihua sambil menunjuk penjaga gerbang yang telah terbaring di anak tangga dengan mulut berbusa serta kedua matanya memutih.


"Eh?! Aku melupakan keberadaannya barusan," balas Tan Hao tersenyum polos sambil menggaruk kepala bagian belakang.


•••••


Fen Lian tersenyum hangat ketika berbicara dengan Tan Hao, seolah sifatnya yang dingin serta acuhnya dalam bersikap lenyap didepan Tan Hao. Sampai ia tak terlalu memerhatikan keberadaan Lan Lihua.


Tan Hao hanya menjawab seadanya semua pertanyaan Fen Lian, ketiganya berjalan cukup santai menaiki anak tangga yang menuju ruang utama Asosiasi Menara Emas cabang Hibei.


"Kudengar dari penjaga, nona Fen Lian sedang mengadakan pertemuan? Bukankah seharusnya nona berada di Kekaisaran Chu? Hal genting seperti apa yang membuat nona sampai harus datang ke desa kecil terpencil di Kekaisaran Wang ini," kata Tan Hao dengan jelas. Membuat keduanya terhenti ketika telah beberapa langkah dari pintu masuk bangunan tersebut.

__ADS_1


Fen Lian tersentak kemudian menghela nafas sebelum tersenyum canggung.


"Sepertinya Tuan Muda Tan Hao mengetahuinya, ya? Baik, kita bicarakan nanti. Sekarang mari kita masuk dan nikmati jamuan yang telah aku persiapkan secara khusus,"


Tan Hao menoleh kearah Lan Lihua seolah meminta pendapat, namun reaksi Lan Lihua yang acuh harus membuatnya tersenyum kecut. Ia menyadari alasan Lan Lihua bersikap seperti itu. Wanita memiliki sifat tertentu yang membuatnya seolah tak dihargai saat orang yang ia suka beralih pandangan ke wanita lain, biarpun pembicaraan itu bukan menyangkut soal perasaan.


Fen Lian masuk dan mengambil tempat duduk terlebih dahulu kemudian disusul Lan Lihua yang mengacuhkan Tan Hao sebelum ia mengatakan sesuatu.


"He he ... Wanita oh wanita? Sulit sekali," kesah Tan Hao dengan polosnya.


Sementara itu ditempat lain, Tetua Tiandou bersama Liu Zey tengah duduk menikmati teh di sebuah kedai minum. Keduanya terlihat cukup hening, mendengarkan beberapa diskusi kecil maupun pembicaraan pengunjung kedai. Kedai minum yang tak terlalu luas namun pengunjungnya begitu banyak, hingga tak ada satu pun tempat duduk yang tersisa.


Sebagian besar pengunjung memang bukan warga desa Hibei, itu terlihat dari pakaian dan cara mereka berbicara. Disamping itu juga, pelayan kedai juga seolah tak mengenali mereka dari reaksinya ketika mengantar pesanan arak.


"Kak Tian! Apa tidak sebaiknya kita kembali? Malam hampir tiba, kurasa Tuan Muda sudah menunggu kita," tanya pelan Liu Zey. Keduanya memakai jubah hitam dengan penutup kepala agar kehadiran mereka tidak terlalu mencolok.


"Jangan khawatir! Tuan Muda sedang mengurus masalah penting, selagi Yue Yin belum kembali. Aku masih harus mencari tahu semua informasi yang dibutuhkan," terang Tiandou lembut kemudian memegang tangan Liu Zey.


"Sebaiknya kau tidak bicara lagi atau semua orang akan tahu kalau kau adalah wanita," imbuhnya sembari tersenyum hangat.


Tiandou harus tersenyum kecut, sebab hampir dua jam ia berada di kedai namun tak ada informasi penting yang didapatkan. Hanya bualan serta pernyataan-pernyataan bodoh para pendekar tingkat rendah yang tidak ada gunanya.


Namun, ketika ia berniat mengajak Liu Zey untuk beranjak meninggalkan kedai arak tersebut, beberapa orang yang duduk tak jauh dari tempatnya mulai membicarakan sesuatu yang menarik perhatiannya.


Memang ketika malam telah datang, pengunjung kedai banyak yang berkurang. Hanya beberapa meja yang masih terdapat pengunjung. Lengang dan cukup hening, berbeda dari situasi dua jam yang lalu.


"Sepertinya aku mengenali suara ini? Mungkinkah si brengsek Gao Zhan?" geram Tiandou setelah mendengar suara percakapan dari arah lain.

__ADS_1


Gao Zhan tak mengetahui kekesalan Tiandou padanya sebab memang belum pernah bertemu maupun terjadi pertarungan diantara mereka. Saat di kedai makan beberapa waktu yang lalu pun dirinya tak sempat melihat kekacauan yang terjadi sebab memutuskan pergi sebelum memesan makanan.


__ADS_2