Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 184 ~ Mulai Membaik


__ADS_3

Setelah cukup lama memakan waktu mengurus Selir Xin dan Mu Yuan, Tan Hao akhirnya menerima permintaan Selir Xin dan membawa Bola Kristal tersebut sebelum meninggalkan ruang persembunyian itu.


"Kenapa kau melepaskan mereka? Mu Yuan itu berasal dari Kerajaan Hao, jika dia mati disini tentu tidak masalah, bukan? Apa susahnya melenyapkan satu orang jahat demi masa depan?" protes Fen Fang ditengah laju terbangnya.


Tan Hao masih memikirkan semua hal yang baru saja ia dapatkan, perkataan Fen Fang membuatnya mengakhiri lamunannya, "Kakek! Jika semua hal jahat baik itu kecil atau besar dimusnahkan tanpa sisa, lalu apa gunanya pencerahan? Dimana tempat terpenting untuk sebuah kesempatan?"


Fen Fang tersentak kemudian terdiam tanpa berniat lagi untuk membahas masalah itu. Dirinya kini memilih fokus ke arah depan ditengah laju terbangnya.


Sebelumnya, Tan Hao memberi kebebasan Mu Yuan untuk segera pergi meninggalkan wilayah Kerajaan Shio dan tidak pernah lagi untuk mencoba kembali. Ancaman yang diberikan Tan Hao pada Mu Yuan tak main-main, ia akan melenyapkan sekte Mawar Putih kalau Mu Yuan mengingkari janji. Hal itu membuat Fen Fang menyesalkan keputusan yang diambil oleh Tan Hao.


Dan yang membuat Fen Fang semakin kesal, Tan Hao membantu Selir Xin menekan Kutukan Darah tersebut menggunakan Chicun Jin Lian. Hal yang sangat disesalkan Fen Fang, Tan Hao begitu mudah merasa iba dengan musuh yang bahkan belum jelas kebenaran dari pengakuannya.


Dalam benaknya, semakin jauh mengenal dunia semakin dalam pula ia akan mengetahui rahasia yang tersimpan didalamnya.


Tan Hao masih memikirkan semua hal tersebut ditengah laju terbangnya ke arah Padang Rumput dimana Lan Lihua berada. Sudah hampir seharian ia meninggalkan Lan Lihua sendirian tanpa tahu keadaannya.


Lamunan Tan Hao berakhir ketika melintasi Desa Hibei, segera perhatiannya tertuju pada situasi yang ada di desa tersebut. Fen Fang sendiri masih terdiam dan hanya melihat sesaat kondisi desa, tak jelas apa yang menjadi pikirannya saat ini.


Terlihat oleh mereka kondisi Desa Hibei yang memprihatinkan, rumah dan bangunan tak ada yang masih utuh berdiri. Pasukan aliansi sebagian telah meninggalkan desa sebagian lagi tetap tinggal untuk membantu penduduk membangun kembali desa.


Para penduduk juga terlihat sibuk membersihkan puing-puing rumah mereka masing-masing, terlihat juga ada beberapa pendekar bertudung emas berada di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


Tan Hao tersenyum tipis melihat hal itu, ia tak mengira kalau pendekar dari asosiasi mau membantu penduduk desa diluar dari misi utama mereka.


Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk sampai di wilayah tengah Hutan Hibei. Memang setelah melewati desa, mereka mempercepat laju terbangnya. Tak ada yang lebih menarik lagi setelah hanya ada hamparan pepohonan.


"Kakek! Sebenarnya untuk apa kepala itu ada disana? Aku lihat kakek memiliki cincin langit, sebaiknya kakek simpan saja disana sebelum aku mendapat masalah ketika bertemu Hua'er nanti," pinta Tan Hao merasa canggung setelah cukup lama mereka terdiam.


Fen Fang mendengus berat sambil menggerakkan tangannya, "Aku berpikir akan menaruhnya disini saja sampai nanti ku gunakan. Tapi baiklah! Aku akan simpan saja, lagipula jika terlalu lama di udara bebas akan lebih cepat membusuk," Tan Hao terkekeh bodoh mendengar jawaban Fen Fang tersebut.


Ia sebenarnya merasa penasaran tapi enggan menanyakannya, lagipula cepat atau lambat Tan Hao yakin akan melihat sendiri apa yang akan dilakukan Fen Fang dengan kepala itu.


Tak ada pembicaraan lagi setelah itu, mereka berjalan seperti biasa dengan pemikiran masing-masing.


Tan Hao tersenyum tipis ketika Lan Lihua melambaikan tangan kearahnya, pada saat yang sama ia juga melihat kalau hanya ada Burung Elang yang menemani Lan Lihua.


"Kakak lama sekali...! Hari sudah akan gelap dan kembali tanpa makanan, cih!" ketus Lan Lihua membuang wajah tetapi matanya melirik Tan Hao.


Tan Hao tersenyum pahit, 'Bodohnya aku, kenapa tak terpikir membawa makanan! Ahh .. Karena terlalu memikirkan persoalan tadi.'


"Ah hehe, maafkan aku Hua'er! Karena terlalu mengkhawatirkanmu, aku jadi lupa membawa makanan. Tunggu sebentar, aku akan pergi berburu kelinci atau semacamnya ...."


Lan Lihua bersungut sebal sambil memandang Tan Hao yang berlari menuju area tengah padang rumput, 'Dasar bodoh...! Paling bisa beralasan, terlalu khawatir, eh! Berjalan kesini saja seperti setengah hati. Masih berani bilang khawatir!'

__ADS_1


Sejenak kemudian ia mengalihkan perhatian ke Burung Elang yang sedari tadi diam berdiri disampingnya. Lan Lihua mengusap halus bulu kepala burung tersebut sambil bergumam tak jelas. Dilihat dari ekspresi Burung Elang tersebut, cukup menggambarkan kalau Lan Lihua sedang membicarakan tentang Tan Hao dan segala keburukannya.


Fen Fang menghela napas panjang setelah mengakhiri semua pemikirannya, sebelum ia lebih memperhatikan Lan Lihua.


"Nona Hao Hao, kau berasal dari Foshan, kan? Apa kau mengenal Kera Biru? Mendadak aku merindukannya, jadi kupikir kau mengenalnya!" tanya Fen Fang yang sikapnya telah mulai kembali ke jalur yang benar seperti biasanya.


Lan Lihua melirik sinis seperti tidak suka ketika dirinya sedang sibuk lalu diganggu, "Tentu saja! Dia kakekku...!"


Fen Fang terkejut mendengar jawaban ketus Lan Lihua, dirinya tak mengira akan bertemu cucu dari kawan lama yang sudah berpuluh tahun tak bertemu. Meskipun sebenarnya telah lama bersama Lan Lihua, tapi baru saat ini ia tahu kalau gadis berusia tak lebih dari delapan belas tahun tersebut ternyata cucu dari Lan Hou, Pendekar Kera Biru dari Foshan.


Saat itu juga ia baru mulai menyadari identitas Tan Hao yang sebenarnya, bukan hanya bocah dalam ramalan pertapa tupai tapi juga memiliki koneksi tak biasa dengan orang-orang luar biasa.


Dalam benaknya, ia semakin yakin dengan keputusannya untuk terus mengikuti kemanapun Tan Hao berkelana. Lagipula, ia juga berpikir kalau hanya bersama Tan Hao dirinya bisa kembali ke dunia kependekaran dan bersinar sekali lagi setelah lama menyembunyikan diri.


"Ah tidak! Aku hanya teman bermain dadu sewaktu dulu masih muda. Lain kali jangan sungkan jika membutuhkan bantuanku, sebab dulu kakekmu juga tak pernah sungkan menghajarku saat aku mabuk, hehe!"


Lan Lihua kembali mengusap kepala Burung Elang tersebut yang kelihatan tak nyaman dengan perlakuan itu tetapi ia hanya bisa diam menuruti.


"Aku tak membutuhkannya! Dengan kakek membantu Kak Hao Hao saja, aku sudah sangat senang. Lagipula, Kakek Lan sudah lama meninggalkan Foshan sewaktu aku masih berlatih bersama Kak Hao."


Fen Fang tersenyum pahit melihat sikap yang ditunjukkan Lan Lihua, 'Heh, hehe dasar menyebalkan! Bahkan sifat burukmu kau turunkan kepada cucumu ...!"

__ADS_1


__ADS_2