Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 119 ~ Kemampuan Lan Lihua


__ADS_3

Chen Seng berjalan mendekati Lan Lihua yang melirik tajam kearahnya. Patriark Harimau Emas itu tak tahu latar belakang dan juga identitas gadis yang berpenampilan seperti bangsawan tersebut. Ia begitu angkuh, terlihat dari ekspresi wajahnya.


Jika ia tahu, ia pasti tak akan bertindak sembrono seperti itu. Bahkan Tan Hao pun tak berkutik jika Lan Lihua telah benar-benar marah.


"Nona cantik! Bagaimana dirimu bisa memiliki roh naga es itu? Katakan padaku dengan harga berapa kau mau menukarnya? Hng ...." kata Chen Seng mencoba bernegosiasi setelah berjarak cukup dekat.


Lan Lihua menatap tajam, tanpa terasa tenaga dalamnya keluar secara perlahan.


"Aku tak tertarik,"


Chen Seng terkejut dengan jawaban yang ia dengar, Patriark sekte Harimau Emas tersebut tak menduga sikap gadis di depannya itu cukup berani.


"Kupikir nona ini orang terpelajar yang mengetahui situasi, jika itu aku. Akan dengan senang hati aku menyetujuinya! Paling tidak, demi nyawaku,"


"Aku tak tertarik! Dan jangan mengancamku!? Pergilah ...." sergap Lan Lihua sembari melirik tajam kemudian memegang kalungnya.


Chen Seng mendengus kesal, kemudian ia memandang dua orang pendekar bertopeng putih di belakangnya sembari memberi isyarat untuk bertindak.


"Aku bertanya cukup baik! Kau sungguh salah menilaiku, Nona! Tch ... Kalian urus dia!"


Kedua pendekar bertopeng putih tersebut memiliki tingkat kultivasi setidaknya berada di tahap pertapa bumi puncak. Menyerang Lan Lihua secara langsung, gerak lari keduanya cukup cepat. Sebelum terlalu dekat, keduanya mengalirkan tenaga dalam dan memusatkannya di kanan.


CLIIINGG...


SROOOSSSHHH ...


KLAKKH ...


DEGH ...

__ADS_1


Chen Seng tersentak bukan kepalang, ia melotot tak percaya dengan apa yang ia lihat baru saja. Ia memandang Lan Lihua berbeda dari pandangan sebelumnya.


"Bagaimana mungkin!" batin Chen Seng menelan ludah.


Tebasan pedang yang begitu cepat mengenai leher kedua pendekar bertopeng putih tersebut sebelum pukulan keduanya mengenai Lan Lihua. Kontan saja membuat dua kepala terpisah dari tubuh pemiliknya.


Begitu cepat hingga membuat kepala dua pertapa bumi puncak itu masih sempat melotot tajam ketika menggelinding ditanah. Kedua tubuh tak berdaya tersebut terkapar bersimbah darah segar.


"Gadis berhati iblis! Aku tak percaya dia sama mengerikannya dengan wanita tua itu!" gumam Chen Seng memandang mayat bawahannya.


"Pergilah! Suasana hatiku sedang buruk," tegas Lan Lihua yang masih berdiri di tempatnya tanpa bergerak sambil memegang sebuah pedang di tangan kirinya.


Perkataan Lan Lihua membuat Chen Seng merasa diremehkan. Dalam hatinya, bagaimana mungkin seorang gadis yang masih muda bisa membuatnya ketakutan.


"Cuihh!? Ku akui dirimu cukup hebat untuk ukuran seorang gadis, membunuh dua pertapa bumi puncak dengan sekali tebasan! Bahkan aku pun belum tentu bisa melakukannya,"


Sementara disisi lain, Chen Shen menahan kegeramannya. Sikap gadis yang ditemuinya beberapa saat lalu itu sangat berkebalikan dengan penampilannya. Beberapa kali juga Patriark sekte Harimau Emas tersebut mengumpat dalam hati mendengar perkataan Lan Lihua yang terkesan sombong baginya.


Namun, sebelum ia bergerak untuk bertindak lebih jauh. Kedua matanya melotot tajam kala melihat lebih jelas sebilah pedang yang di pegang Lan Lihua. Pedang berwarna biru cerah dengan mata pedang seperti batu giok biru laut yang sesaat lalu tertutup tubuh Lan Lihua kini terlihat jelas oleh Chen Seng.


"Pusaka kelas Suci! Pedang Pembalik Langit?! Oh Ya Tuhan!! Sebenarnya siapa gadis ini? Roh Naga Es dan sekarang pedang suci? Apalagi yang dia miliki? Sepertinya hari ini memang keberuntunganku ... Ah tidak, keberuntungan sekte Harimau emas! Heh ...."


Chen Seng begitu senang ketika melihat pedang yang dipegang Lan Lihua, alasan sederhananya karena pedang tersebut sekelas dengan Pagoda Emas milik sekte Biara Kehidupan dan Trisula Dewa Perak milik sekte Badak Hitam. Ketiganya merupakan bagian dari tujuh senjata suci yang ada di Benua Perak.


Sekte yang memiliki salah satu saja dapat dipastikan dapat menjadi sekte besar. Sekte Tujuh Tombak Emas adalah salah satunya, yang memiliki pusaka suci Tombak Naga Es yang merupakan urutan teratas dari tujuh pusaka suci.


Chen Seng berpikiran untuk mengalihkan tujuannya, beberapa saat lalu ia ingin memiliki roh naga es. Kini ia berambisi untuk memiliki pedang pembalik langit itu juga. Bisa dipastikan menurut perkiraannya, jika berhasil memiliki keduanya. Bukan tidak mungkin, sekte Harimau Emas akan menjadi satu-satunya pemimpin sekte aliran hitam yang akan disegani.


Namun, Chen Seng tak mengetahui jika Lan Lihua memiliki pusaka yang lebih hebat dari pedang itu. Kalung Giok Dewi Bulan yang dipakai Lan Lihua baginya hanya terlihat seperti riasan wanita pada umumnya. Padahal itu merupakan pusaka dewa yang paling dicari, bukan hanya kekuatan dan kemampuannya. Namun juga kalung tersebut memiliki keistimewaan mengagumkan yang hanya segelintir orang mengetahuinya.

__ADS_1


"Nona manis! Bisakah aku memberimu satu juta koin perak dan beberapa pil sumber daya untuk pedang yang kau pegang?" tawar Chen Seng bernada lembut, tatapan matanya tak lepas dari pedang tersebut.


Lan Lihua tersedak ludahnya sendiri tatkala melihat perubahan sikap yang ditunjukkan Chen Seng, ekspresinya jelas terlihat muak.


"Aku tak tertarik! Jika kau tak mau pergi, biar aku yang pergi. Masih banyak urusan yang lebih penting daripada berbicara dengan orang tak waras sepertimu,"


Ketika Lan Lihua berniat pergi setelah memastikan tujuannya, tiba-tiba ia tersenyum lebar melihat di kejauhan ada seseorang yang berjalan santai kearahnya. Tanpa perlu dipastikan lagi, Lan Lihua tahu benar bahwa itu adalah Tan Hao.


Tentu saja hal tersebut belum disadari oleh Chen Seng sebab masih sibuk memperhatikan pedang yang kini berada di pinggang kanan Lan Lihua. Sebenarnya, Lan Lihua bisa menyimpannya kembali ke dalam kalungnya namun hal itu enggan ia lakukan menyadari mungkin saja Chen Seng juga akan tertarik dengan kalungnya tersebut.


"Hentikan sikap memuakkanmu itu! Aku peringatkan kau untuk pergi sebelum kau menyesali perbuatanmu," ketus Lan Lihua.


Chen Seng tersadar dari lamunannya mendengar ucapan Lan Lihua, seketika itu ia berubah kembali sikapnya. Seolah sikap bodoh yang baru saja terlihat dari wajahnya tak pernah terlihat.


"Aku sudah memberimu pilihan dan kesempatan! Tapi agaknya kau salah mengartikan kebaikanku ... Cih!"


Chen Seng mengalirkan tenaga dalam keseluruh tubuhnya, tak lama kemudian ia mengeluarkan senjata berbentuk kapak dari cincin bumi dijarinya.


"Dasar keras kepala! Orang tua menyebalkan," ejek Lan Lihua setengah menghardik.


Tiba-tiba ledakan tenaga dalam terdengar cukup keras.


SWOOSSHHH ...


WHONGG ... WHONGG ...


Tenaga dalam besar menyelimuti tubuh Chen Seng hingga mengakibatkan pusaran angin disekitar tubuhnya. Wajahnya menunduk dengan tangan mengepal menyamarkan ekspresi kemarahannya.


"Chen Seng! Si Harimau Utara tak akan segan menghabisimu, gadis tak tahu diuntung!" seru Chen Seng sesaat sebelum melesat cepat kearah Lan Lihua.

__ADS_1


__ADS_2