
"S-siapa k-kau?" dengan tergagap karena terkejut, salah seorang diantara ketiga orang itu berseru tajam.
Tan hao masih dengan senyum ramahnya mengubah posisi berdirinya disertai lambaian tangan ringan dengan mata menutup.
"oh aku? ahhhh.. hanya orang desa yang sekedar cari angin. Kenapa kalian begitu terkejut? apakah aku semenakutkan itu, haihh."
"Heh, cari mati." seru seorang yang terlihat muda dengan wajah mirip Sui Jiu.
"hehe..Sebelumnya aku mohon maaf tuan tuan, karena yang akan tetap hidup hanya pria ganteng itu saja, hehe he." dengan senyum konyolnya Tan Hao menunjuk Xin Jiu dengan ekspresi genit.
"Ehh, sepertinya dia orang berkelainan. Xin, kau beruntung ehh." ucap datar kedua orang itu bersamaan dengan ekspresi bodoh sambil menepuk jidatnya pelan.
Orang yang dipanggil Xin itu menatap tajam penuh amarah tanpa memperdulikan kelakuan bodoh kedua rekannya.
"Ohh jangan salah sangka, aku membiarkannya hidup hanya untuk menebus kekeliruannya pada seseorang. Dan..."
Dengan mengertakkan giginya serta kepalan tangan keras Xin Jiu melesat menyerang Tan hao.
"Jangan banyak bacott, Mati saja kau."
..Jurus jiwa pukulan sukma..
Menyadari serangan yang datang, Tan hao hanya menggeleng kepala pelan dengan senyum tipisnya.
Dengan sangat mudah Tan hao menahan serangan pukulan dari Xin jiu yang dialiri tenaga dalam hanya dengan sebelah tangan.
"Hehh, Malam sudah larut waktunya kau tidur."
Ddduuuaakkkk..
Dengan sekali pukulan tangan kirinya tepat kearah bagian belakang kepala Xin jiu seketika itu pula Xin jiu kehilangan kesadaran hingga terjatuh dengan di topang lengan kanan Tan hao.
"Haihh, satu beres. Sekarang tinggal kalian berdua." tatapan dingin Tan hao segera membuat kedua orang lainnya bergidik merinding.
"Tch..dasar bocah busuk. Terlalu cepat bagimu menakutiku."
"Cuihh, tikus bau. Rasakan Tapakku."
Kedua orang itu berseru lantang sambil melesat ke arah Tan hao bersamaan.
Mereka mengarahkan serangan Tapak serta pukulan yang dialiri tenaga dalam kuat
..***Tapak Penghancur Batu..
..Tinju Gunung***..
Serangan gabungan keduanya cukup kuat, Tenaga dalam yang dipakai dalam serangan itu juga besar.
Tan hao dengan gerakan cepat namun lembut, membaringkan Xin jiu yang pingsan. Lalu menyambut kedua serangan itu dengan kedua tangannya secara langsung.
woossshhhh....
Benturan yang terjadi menyebabkan gelombang angin kencang. Tan hao hanya menyeringai dingin dengan masih menahan kedua serangan itu.
"Aku sedang tak ingin bermain-main. Ucapkan selamat tinggal dunia..Hng."
Belum sempat mereka melepaskan diri dari cengkraman tangan Tan hao. Tiba-tiba mereka terjatuh begitu saja dengan keras, kepala duluan menghantam tanah seperti tengah tertindih sesuatu yang berat.
Sesaat kemudian mata mereka memutih dengan busa keluar dari mulut.
"Heh dasar lemah, hanya Jurus Ilusi Tingkat Jebakan saja tak sanggup menahan, haishh..."
"e'ehh" tiba-tiba Tan hao menyadari kehadiran dua orang dibelakangnya.
"Anak Muda, kau terlalu berlebihan. Hmm biarkan yang tua ini memberikanmu sedikit pembelajaran." ucap sinis salah satu dari kedua orang yang tengah berjalan santai di belakang Tan hao dengan melipat kedua tangan mereka kebelakang.
__ADS_1
"Ohh, sepertinya Kadal Tua telah menunjukkan dirinya. Aku kira masih ingin bersembunyi mengamatiku diam-diam. Heh.."
Dengan ekspresi setengah kaget, kedua orang itu menaikkan sebelah alisnya.
Tentu mereka tidak menyangka jika selama ini mereka telah diketahui keberadaannya. Namun, mereka segera tersenyum menyeringai licik.
"ohh kemampuanmu cukup bagus. Sebelum kematianmu tiba, aku akan berbaik hati memberitahumu nama kami. Kau beruntung akan segera mati ditangan kami berdua.
Jian Heng si Cakar Racun dan Jian Ying si Cakar Bintang. hahahahaha.." dengan sombongnya Jian Heng menyebutkan nama mereka disertai senyum meremehkan.
"Eh, aku tidak tertarik. Jika ingin basa-basi, nanti sajalah. Aku masih ada urusan." ucap Tan hao ringan sambil berbalik badan serta berjalan pergi.
"Heh, bocah sombong. Sadari batasanmu."
..Cakar Penebas maut..
Dengan amarah yang tajam, Jian heng langsung menggunakan senjata besi hitam berbentuk Cakar di kedua tangannya menyerang Tan hao dari belakang.
Trraaannggg... ouhhh..
Dengan cepat Tan hao berbalik badan serta mencabut Pedang Dewa Surgawi menahan serangan Cakar besi Jian heng.
Tanpa dia duga, ternyata Cakar tersebut mengandung racun. Seketika itu juga Tan hao termundur beberapa langkah sambil memegang tangan kanannya yang sempat terkena ujung cakar.
"Hehe kau masih pemula, untuk apa sombong." senyum licik Jian heng dengan tatapan remeh.
"Cukup bermain-mainnya Heng kecil, Selesaikan dengan cepat." seru datar Jian Ying memperingatkan.
"ah..baik baik, kakak lihat saja dengan tenang." ucap Jian Heng dengan sedikit merendah.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, jian heng langsung melesat kearah Tan hao yang masih berdiri tak bergerak dengan menunduk.
Teknik cakar yang digunakan kali ini berbeda dari teknik pertamanya.
Dengan langkah zig-zag cepat menciptakan beberapa bayangan dirinya lalu bersamaan menyerang Tan hao dari berbagai sisi menggunakan Cakar yang berisi racun.
Seketika itu muncul bayangan cahaya berwarna ungu gelap sesaat setelah tebasan cakar dilancarkan Jian heng yang langsung melesat kearah Tan hao.
Ssrraaaassshhhh..
Klaannggg..
Serangan cepat itu nyatanya tidak mengenai Tan hao sama sekali bahkan terkesan seperti terbentur sesuatu yang tak terlihat sebelum sempat sampai ketubuh Tan hao.
"Hahaha, apa kau kira racunmu itu bekerja padaku?" Tatapan dingin Tan hao disertai ekspresi kejam mengarah langsung ke Jian heng.
Jurus kedua Pedang Dewa Surgawi
..Pedang Penghapus Jiwa..
Whirrrr... Sriingggg...srriinnggg..
Whongg..whongg..whongg..
Seketika itu muncul energi pedang begitu dahsyat yang menggetarkan area disekitar hingga tubuh Jian bersaudara ikut bergetar.
"Ah gawat." seru Jian Ying yang melesat kearah Jian Heng berada.
Namun belum sempat ia sampai untuk membantu menahan serangan energi dahsyat itu, Jian heng telah terkena sinaran energi itu tanpa mampu menahannya.
Bahkan senjata Cakar besinya pun hancur ketika bersentuhan dengan sinaran energi pedang menyilaukan sebelum membentur tubuhnya.
"Adikkkkkk." seru Jian Ying murka.
"Kurang ajar kau, aku akan membunuhmu."
__ADS_1
Belum berakhir sinaran energi pedang itu melahap Jian Heng. Jian ying dengan amarah meledak-ledak menyerang Tan hao yang sedikit lengah.
..Cakar Bintang Raja Akhirat..
sswwoooosssszhhh..
Ddduuuuaaaaarrrrrr..
zztt..zzttt..zztt..
Serangan tiba-tiba Jian ying membuat Tan hao termundur beberapa langkah namun tanpa terluka.
Setelah ledakan serangan itu berakhir, jelas terlihat bahwa tubuh Tan hao diselimuti Energi Spirit berwarna Ungu dengan percikan petir kecil yang pekat serta Pedang Dewa Surgawi memancarkan cahaya terang berwarna putih keemasan.
"Heh, hampir saja aku kena." batin Tan hao dengan lenguhan pendek.
"Dasar ceroboh, jika tidak ada aku, kau sudah sekarat." seru Ye yuan dengan ekspresi geram serius.
Bersamaan dengan itu, Jian Ying mendekati tubuh Jian heng yang tergeletak sekarat dengan penuh luka lebar bekas sayatan, terlihat seluruh badannya terselimuti darah segar.
"Adik, bertahanlah. Aku akan membawamu pergi dari sini." teriak Jian ying dengan memeluk tubuh Jian Heng berniat mengangkatnya.
"Keparatttt.. Cuihh. Tunggu pembalasanku." dengan gerakan cepat Jian ying membawa pergi Jian Heng dengan menggendongnya.
Sesaat kemudian setelah dampak ledakan menghilang. Tan hao hanya tersenyum dingin.
Dengan kekuatan yang Tan hao miliki, cukup mudah menghabisi mereka berdua, namun Tan hao membiarkan mereka pergi tanpa menghalanginya.
"Hei bocah, kenapa kau biarkan mereka pergi?. Kesempatan bagus untuk mengurangi kekuatan tempur mereka malah kau sia-siakan, hehh bocah ceroboh." seru Ye yuan kesal.
"Hmm, mereka bukan tujuan utama kali ini. Lagipula, tak kan lama lagi juga akan bertemu. Sekarang yang harus aku pentingkan adalah keselamatan Liqin Mei beserta tawanan lain sebelum penyerangan besar dilakukan." Tan hao melirik dingin Ye yuan dengan ekspresi tidak ramah.
Hal itu membuat Ye yuan sedikit terkejut takut sesaat dan hanya melenguh pelan lalu menghilang.
Sementara itu didalam bangunan Ran Liu dan Wen Liu sedang berhadapan dengan seorang Pertapa Langit. Terlihat ketiganya seimbang setelah beberapa puluh kali bertukar serangan. Stamina mereka terlihat cukup baik meladeni setiap gerakan cepat yang dilakukan penjaga dengan Tingkat Pertapa Langit itu.
Sedangkan Sui jiu berada di ruang tahanan berusaha membebaskan semua tawanan dengan lebih dulu membebaskan Liqin Mei.
Meskipun telah terbebas, terlihat jelas raut wajah Liqin Mei muram tidak bersemangat karena mentalnya terpukul hebat.
Tak membutuhkan waktu lama untuk membebaskan tawanan yang berjumlah tujuh orang.
Dengan arahan jelas Sui jiu memimpin jalan untuk keluar menuju Zey Liu berada dengan melewati bagian lain bangunan.
Hampir bersamaan dengan berhasil keluarnya para tawanan, Ran serta Wen memenangi pertarungan mereka dengan gabungan jurus pamungkas keduanya.
"Saudari Sui, apakah ini sudah semuanya?" ucap Zey cepat setelah beberapa saat para tawanan itu berkumpul di depan pintu bangunan.
"Ya, aku rasa sudah. Tunggu Tuan datang, aku akan pergi kedalam lagi, kurasa ada banyak harta bernilai tinggi di dalam. Akan sangat disayangkan jika ditinggalkan begitu saja. Kau jagalah mereka, sebentar lagi Tuan akan kemari." ucap Sui Jiu yakin serta berlalu pergi kedalam.
Zey cukup canggung diantara mereka, sebab tak mengenal siapapun diantara mereka. Hanya saja Zey seperti familiar dengan seorang gadis muda dengan pakaian yang cukup mewah ketika mengamati wajah para tawanan itu.
"ehh, sepertinya aku tidak asing dengan gadis ini? apakah dia nona Liqin Mei itu..hmm." gumam lirih Zey dengan ekspresi penasaran.
"Zey, apakah semua tawanan sudah berhasil keluar..?" kata Tan hao jelas dengan berjalan santai sambil menggendong Xin Jiu di pundaknya.
Zey sempat terkejut dengan perkataan Tan Hao yang tiba-tiba, membuyarkan lamunannya.
"Ah..Iya Tuan Muda, menurut Saudari Sui mereka hanya berjumlah 7 orang. Setelah mengantar mereka, saudari Sui kembali masuk untuk mengambil harta didalam bangunan ini. Sementara Kakak Ran dan Wen masih belum keluar." jelas Zey dengan sopan disertai senyuman ramah yang tampak manis.
"Oh aku mengerti. emmm..ngomong ngomong apa kau masih punya simpanan susu segar? er..emm aku butuh asupan untuk tenagaku.." ucap gugup Tan hao dengan muka merahnya.
"Ahh..i-itu.. Ada pada Kakak Ran. Tuan muda.." jawab Zey malu-malu dengan mengalihkan pandangannya.
Percakapan mereka nyatanya membuat para tawanan yang berada di dekat mereka melongo terkejut. Mereka tentu salah mengira maksud dari pembicaraan Tan hao dengan Zey liu.
__ADS_1
Beberapa saat setelah kehadiran Tan hao, jelas terlihat bahwa Liqin Mei dan Gadis muda disebelahnya cukup terpana akan wajah putih bersih Tan Hao.
Kedua gadis itu merasakan hal yang sama yaitu ketenangan dan kedamaian terpancar dari wajah lugu Tan hao. Meskipun nyatanya memang paras Tan Hao cukup rupawan.