
Menggunakan Tombak Jarum Rajawali-nya, Tetua Feiying menyerang Yin Fen sementara Matriark Zhang Weili menyerang Yin Xiang langsung menggunakan teknik jurusnya.
Pertarungan satu lawan satu antara keduanya tak terhindarkan lagi, mereka masing-masing bergerak dengan kecepatan tinggi hingga menjauh dari area pertempuran pasukan aliansi.
Mereka seperti seolah telah memilih lawan yang sebanding dengan kekuatan yang mereka miliki, terlihat kalau Tetua Feiying tak hanya menggunakan tombaknya saja melainkan juga melepaskan jarum-jarum dari ujung tombak bagian bawah.
Dilain sisi Yin Fen masih dalam posisi nyaman, ia dengan mudah memblok serangan tombak tersebut menggunakan kedua kaki maupun lengannya.
'Pemimpin dari aliansi aliran putih seperti ini? Sangat mengecewakan, tapi ini kabar bagus untuk organisasi...! Sepertinya aliran putih telah mengalami kemunduran sampai-sampai tak memiliki orang kuat, orang ini bahkan melawanku yang hanya kelas menengah saja sampai seperti ini. Bagaimana jika melawan yang lebih tinggi kelasnya daripada aku, haha ... Ketua pasti akan sangat senang!'
Yin Fen terlihat menyunggingkan senyum licik ketika menghadang tombak Tetua Feiying sekaligus menggenggamnya dengan kuat, terlihat jelas kalau senyum itu ditujukan untuk Tetua Feiying. Tak terhindarkan lagi, adu tekanan aura energi dari kedua belah pihak pun terjadi.
BOOM!!
SWOOSH!!
Benturan dua energi yang sangat kuat hingga menciptakan anomali udara disekitar tubuh mereka, saling tekan dan terlihat saling mengungguli.
Merasa tak ada hasil, beberapa saat setelah saling menekan menggunakan energi. Tetua Feiying menjauhkan diri dengan mencoba menendang ke arah perut Yin Fen.
"Hehe, aku katakan! Kau ... Payah!" cibir Yin Fen tertawa setelah menghindari tendangan kaki kiri Tetua Feiying.
Tetua Feiying tak menghiraukan ejekan Yin Fen, ia mengatur napas sembari melirik ke arah pertarungan Matriark Zhan Weili. Agaknya, Matriark Anggrek Suci itu sejauh ini cukup mampu menguasai pertarungan membuat Tetua Feiying bernapas lega.
'Orang ini setidaknya satu tingkat denganku, tapi aku merasakan ada kekuatan tersembunyi dalam tubuhnya!' batin Tetua Feiying menatap tajam Yin Fen, sejauh adu serangan energi yang ia lakukan membuatnya sedikit banyak mampu membaca kekuatan Yin Fen walaupun hanya sebatas perkiraan.
Mencoba tetap tenang dan tidak terpancing situasi cukup membuat Tetua Feiying tersita perhatiannya, sebab pasukan aliansi terlihat kepayahan dalam menahan gempuran serangan pendekar topeng emas yang dibantu pendekar topeng hitam.
"Oh, saat kau bertarung. Jangan mengalihkan pandanganmu dari lawan ... Payah!"
__ADS_1
BOOM!!
Tetua Feiying terhempas beberapa meter sebelum menghentikannya menggunakan tombak, pukulan dengan mengandung energi tenaga dalam yang dilepaskan Yin Fen memang berhasil ia tahan menggunakan tombak beberapa detik sebelum pukulan itu mendarat di dadanya.
"Heh...! Beraninya kau bermain kotor! Lihat bagaimana caraku membuatmu menyesal!"
SWOSH!!
HONG!
"Oh ... Sedikit kemampuan ya! Kita lihat siapa yang akan mati, ehm!"
WUSH!!
Yin Fen melepaskan energinya setelah Tetua Feiying menunjukkan kekuatannya yang terlihat seperti kepala burung rajawali merah.
Keduanya mengambil satu tarikan napas secara bersamaan sebelum akhirnya masing-masing melesat menggunakan ledakan energi yang tercipta sebelumnya.
Disisi lain, Matriark Zhang Weili seperti terpacu semangatnya melihat di kejauhan Tetua Feiying tengah bertarung sengit di udara, meskipun dirinya juga tengah bertarung. Tak jarang terjadi percikan api maupun kilat cahaya saat keduanya saling adu pukulan ataupun tendangan.
'Aku juga tak akan kalah darimu, Senior Fei!' Matriark Zhang Weili melepaskan energi tenaga dalamnya yang sebelumnya ia tahan.
Kontak serangan kembali terjadi dalam intesitas yang meningkat, Yin Xiang sendiri sama halnya seperti Yin Fen. Mereka seolah merasa malas untuk bertarung serius, meskipun kekuatan yang digunakan bisa dibilang cukup tinggi.
"Lihatlah, Tetua Feiying dan Matriark Zhang bertarung sangat gigih...! Lalu, apa yang membuat kita kehilangan kepercayaan diri? Pergi dan tunjukkan jika kita tidak bisa dianggap remeh!"
Teriakan Patriark Gunung Pandan itu terdengar oleh seluruh pasukan aliansi aliran putih-netral tak terkecuali pasukan topeng emas dan hitam. Ujaran pembangkit semangat yang coba diberikan Patriark Su Long itu cukup mampu memberi dorongan lebih pada setengah dari pasukan aliansi yang terpojok.
Para tetua sekte juga terlihat meningkatkan porsi serangannya menyusul teriakan Patriark Su Long, walaupun mereka sendiri juga telah melihat pertarungan yang dilakukan kedua pasangan itu.
__ADS_1
***
Langkah Liu Zey sempoyongan menuju ke tempat Xue Mei berada. Luka dalam yang ia terima dari pukulan Nian Zhen nyatanya meninggalkan efek yang menyakitkan, itu terlihat dari raut wajahnya yang memucat serta bibirnya mengering.
Liu Zey berjalan dengan langkah tersendat-sendat di tengah bunyi suara pertempuran yang terjadi.
'Pertempuran kah itu? Ah ... Aku tak bisa turut serta, orang itu benar-benar menyebalkan! Aku bersumpah, akan membalas ini ...!' Liu Zey mengangkat wajahnya sementara tangan kanannya masih memegang bagian dada yang terkena pukulan.
Meskipun ia sudah bisa melihat Xue Mei dan yang lainnya, namun ia merasa jaraknya tak pernah berkurang meskipun ia telah berjalan cukup lama.
Beberapa saat yang lalu setelah Liu Zey meninggalkan Yu Yan menghadapi Nian Zhen sendirian. Dirinya sempat berhenti berlari dan muntah darah yang menghitam. Hal itu terjadi berulang kali hingga tubuhnya tak sanggup lagi untuk berlari, selain staminanya yang menurun juga rasa nyeri tak tertahankan benar-benar melemahkannya.
Kedua kakinya memberat sementara penglihatannya serasa memburam membuat Liu Zey seakan tak sanggup untuk berjalan lagi padahal hanya berjarak kurang dari dua bangunan dari tempat Xue Mei berada.
"Kau wanita yang lumayan tapi ceroboh ...!" ujar Yan Yu sambil menangkap tubuh Liu Zey yang hampir terjatuh.
"Kau...!"
"Diamlah! Pegangan yang erat," pinta Yan Yu sebelum menggendong Liu Zey kemudian melompat cepat kearah Xue Mei berada.
"Senior Yu! Ah ... Wanita ini? Bagaimana bisa kalian ...!"
"Sudahlah, lebih baik bantu aku mengobati luka dalamnya! Apa kau masih memiliki Pil Pembangkit Energi?" potong Yan Yu sebelum Xue Mei menyelesaikan perkataannya, ia hanya butuh satu lompatan kuat untuk sampai ke tempat Xue Mei berada.
Xue Mei sendiri tak dapat melihat Liu Zey sebab terhalang beberapa tembok bangunan dan juga tak bisa merasakan hawa kehadiran Liu Zey karena memang energinya hampir-hampir terkuras habis.
"Baiklah! Aku masih menyimpan beberapa, baringkan dia disini," jawab Xue Mei sembari menggeser posisi salah satu rekannya yang kelihatan sudah lebih membaik dari sebelumnya.
"Senior, wanita ini yang menyelamatkan kami! Dia sungguh sangat kuat, bagaimana bisa dia terluka parah seperti ini? Lawan seperti apa yang dihadapinya?" tanya Xue Mei menceritakan sebelum akhirnya menanyakan sesuatu yang belum sempat ia selesaikan beberapa saat lalu sambil membantu Liu Zey mengkonsumsi pil sumberdaya tingkat empat yang berwarna biru cerah tanpa motif.
__ADS_1
"Ah, benarkah...! Tapi dia sedikit ceroboh, belum lama ini dia berurusan dengan Nian Zhen. Untung saja aku tepat waktu untuk membantunya melarikan diri! Jika terlambat satu detik saja, mungkin nyawanya tak akan selamat," terang Yan Yu sambil mengambil tempat untuk duduk, ekspresi Xue Mei berubah-ubah kala mendengar cerita Yan Yu. Nampak ia tak percaya kalau wanita di depannya ini masih bisa hidup setelah bertarung dengan Panglima Perang Kerajaan Yan itu.