Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 143 ~ Tak Terduga


__ADS_3

Tan Hao berhenti di salah satu pohon yang paling tinggi diantara pohon lainnya, pandangan matanya hanya tertuju ke satu arah. Nampak jelas bahwa sorot matanya memperlihatkan keseriusan yang selama ini tak pernah ia tunjukkan.


"Jika sosok waktu itu memiliki kekuatan lebih tinggi, aku hanya bergantung pada diri sendiri. Kekuatanku yang sekarang hanya berada di tingkat Pertapa Dewa Langit sepeninggal Ye Yuan cukup merepotkan jika menemui lawan yang lebih kuat. Dan lagi, kenapa ada orang seperti itu berada di tempat ini...."


Terlihat jika Tan Hao sedang memperhatikan sekeliling menggunakan Insting Dewa, sambil berusaha mencari cara terbaik untuk bisa menyelamatkan Sui Jiu. Meskipun ia telah berhasil menemukan keberadaan Sui Jiu, tak lantas ia bertindak begitu saja. Aura kuat yang ia rasakan sebelumnya, seperti memberitahukan jika lawan kali ini berada di tingkat berbeda dari lawan-lawan sebelumnya.


"... Ah untuk apa menebak-nebak! Sebaiknya aku pastikan sendiri ...!" gumamnya pelan sebelum kembali melesat melayang kearah sebuah menara tujuh tingkat yang terlihat berada tepat di tengah hutan.


Sementara itu, Tetua Shuxan dan Su Kong terlihat kembali ke penginapan dengan tergesa-gesa. Dari ekspresi keduanya, menunjukkan bahwa mereka mengalami satu hal yang menyulitkan.


"Lihat...! Keributan seperti apa yang kau buat! Dasar tikus busukk ...!" hardik Tetua Shuxan sembari setengah berlari, sementara Su Kong menguntit dari belakang dengan ekspresi yang sama.


"Mana aku tahu akan jadi seperti ini...! Sudahlah, percepat langkahmu ...!" tampik Su Kong setengah berteriak, terlihat ia tengah menggenggam sebuah piala berwarna emas yang memiliki corak manik-manik giok hijau.


Tak jauh di belakang mereka, sekumpulan orang berpakaian pelayan berusaha mengejar yang terlihat dipimpin seorang wanita yang mengenakan gaun merah bersari putih, wanita itu juga memegang pedang perak. Kelihatan dari ekspresinya, wanita itu begitu marah sembari berteriak tidak jelas.


"Buru-buru sekali! Saudara pendekar mau kemana?"


Kembali Tan Hao harus menghentikan langkahnya ketika telah sampai tak begitu jauh dari menara, ia berhenti bukan tanpa alasan. Sebab tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat seseorang tengah duduk bersandar di cabang pohon.


"Kenapa menatapku seperti itu? Aku beritahu kau, kalau jalan ini ditutup untuk siapapun. Jadi lebih baik kembalilah ...!" kata orang itu cukup santai.


"Maaf! Tapi aku harus lewat, bisakah memberiku muka dan membiarkanku melewati jalan ini?" tawar Tan Hao sedikit merendah.


Orang itu melompat turun dan kemudian mengibaskan pakaian menggunakan tangannya, sesaat kemudian ia tersenyum kearah Tan Hao.


"Bagaimana kalau aku tidak mengijinkan mu? Disana kupastikan tidak ada yang kau cari, jadi lebih baik percaya dan kembalilah," sahut orang itu sambil menunjuk menara yang berada tak jauh di belakangnya menggunakan ibu jari sembari tersenyum.


Orang yang tersenyum sembari memainkan lidah panjangnya itu memiliki warna kulit tubuh yang terlihat aneh, kehijau-hijauan dan memiliki bintik-bintik tonjolan di sekujur kulit wajahnya.


Tan Hao menghela napas pelan, kelihatan jelas kalau ia sedang mengatur emosinya. Ia merasa akan membuang-buang waktu meladeni orang menjijikan di depannya itu.

__ADS_1


"Sepertinya aku tidak punya pilihan lain...!" ujarnya pelan sembari menatap orang aneh tersebut.


"Apa kau punya cukup kemampuan untuk melakukan itu...! Aku Shan Wa, tidak pernah mengecewakan setiap lawan-lawanku!" tantangnya sembari menunjuk dirinya sendiri menggunakan ibu jari tangan kanan, sementara tangan kiri sedang memegang sebuah pedang berukuran cukup besar yang entah sejak kapan berada di pundaknya.


"Ah ... Jika harus mengalahkanmu untuk bisa lewat, baiklah! Aku akan memuaskanmu...! Majulah ...." tukas Tan Hao sembari mengeluarkan sebuah pedang dari cincin dimensi di jarinya.


"Oh ... Kau memiliki senjata yang lumayan! Tapi itu saja tidak cukup untuk bisa melewatiku ..." ejek Shan Wa sebelum melompat menuju Tan Hao sembari mengalirkan tenaga dalam ke pedang besarnya.


"Kau bisa mencoba untuk memastikannya, heh ...!" cibir Tan Hao sembari mengalirkan tenaga dalamnya ke pedang putih yang memiliki corak kulit harimau di gagangnya itu.


BLAARRR ...


Adu serangan pedang terjadi begitu saja, menciptakan ledakan energi yang cukup memekakkan telinga. Tan Hao masih berdiri di tempatnya dengan sebelah kaki berada di depan kaki yang lain, sementara tangan kirinya ia letakkan di pinggang belakang. Ekspresinya cukup datar namun terlihat sorot matanya begitu serius.


Sementara Shan Wa masih begitu percaya diri, hal itu terlihat dari senyuman di wajahnya yang tidak mengendur. Kedua pedang masih menempel erat, masing-masing mengeluarkan energi tenaga dalam saling menekan satu sama lain.


Posisi Shan Wa yang masih berada di udara, kelihatan kalau ia seperti memiliki kemampuan berhenti di udara atau lebih tepatnya berpijak di udara. Tak lama setelah benturan pertama terjadi, Shan Wa menambah kekuatan energi ke dalam pedang besarnya. Kelihatan kalau ia ingin memotong pedang Tan Hao sekaligus memenggal kepala Tan Hao.


BOOMM ...


Ledakan kembali terjadi menimbulkan retakan tanah disekitar keduanya, bersamaan dengan itu Shan Wa melompat mundur untuk mengambil jarak. Ekspresinya yang masih sangat percaya diri di lihat dari senyum menjijikkan sembari memainkan lidah panjangnya, mengira serangannya itu berhasil memenangkannya.


"Heh! Sama saja, tidak ada yang benar-benar memuaskanku ... Begitu saja sudah mati, cih ...!" ledeknya seraya memanggul pedang ke pundaknya kembali sembari memandang sisa-sisa kepulan asap.


"Jangan terlalu percaya diri, begitu! Terlalu cepat seribu tahun bagimu untuk bisa melukaiku ...!"


Shan Wa terkejut, senyumnya seketika menguap begitu saja tergantikan dengan muka wajah tidak senang, sorot matanya juga berubah tajam, tidak lagi meremehkan seperti sebelumnya.


Sosok Tan Hao terlihat masih pada tempatnya, bahkan posisinya tidak berubah sama sekali sesaat setelah sisa-sisa asap tersibak hembusan angin.


"Begini! Aku akan memberitahumu sedikit saja mengenai senjataku ini...! Pedang Harimau Putih, memiliki kemampuan menyerap dan mengontrol energinya sendiri. Hanya perlu mengalirkan sedikit energi dan ia akan bekerja sesuai kemampuannya. Apa kau tahu artinya itu ...!" ujar Tan Hao cukup santai sembari mengangkat pedangnya, terlihat bahwa arah pandangannya tertuju ke pedang namun juga mengarah ke tempat Shan Wa berada.

__ADS_1


"Cuih! Omong kosong ...! Pemenggal Kepala ini jelas-jelas lebih tangguh dari senjata kecilmu itu. Trik mu tak berguna terhadapku! Barusan hanya pemanasan saja, tapi sekarang ... Bagian utamanya baru akan dimulai," berang Shan Wa, sesaat kemudian tanah disekitarnya seolah bergetar. Terlihat tubuhnya terselimuti energi berwarna hijau gelap.


Tan Hao menaikkan sebelah alisnya melihat hal tersebut. Namun tiba-tiba fokus pandangannya berubah arah, ia seperti menatap tajam ke bagian puncak menara yang terlihat runcing dari kejauhan itu. Hal itu hanya sesaat saja dan kembali beralih memandang Shan Wa.


"Maaf saja, tapi aku kehabisan banyak waktu hanya untuk meladenimu!"


WOSH ...


HONG ... DUAARR ...


Tan Hao melepaskan energi tenaga dalamnya, namun itu hanya setara tingkat Pertapa Cahaya. Shan Wa memandang rendah Tan Hao melihat apa yang dilakukannya dengan menyunggingkan senyum sinis.


SWOOSH...


Shan Wa menyeringai tajam kemudian melesat ke arah Tan Hao dengan kecepatan tinggi sembari memasang Pedang Pemenggal Kepala yang terselimuti energi kuat berwarna kehijauan.


...****************...


***Hai, apa kabar pembaca setia? yang tidak setia, tidak apa kabar, hehe. Setelah melewati beberapa proses meditasi, akhirnya saya kembali menemukan semangat jiwa dalam berdrama, eh berkarya maksudnya. Seharusnya saya bisa update sehari dua chapter, tetapi ternyata kemampuan saya masih dibawah ambang batas antara mimpi dan imajinasi. Pertempuran sengit dengan pekerjaan membuat saya hanya bisa update satu chapter sehari, mudah-mudah tidak mengurangi minat baca para pembaca setia sekalian. Dan juga terimakasih atas dukungan kalian, yang tidak mendukung tidak terimakasih, hehe.


Catatan kaki ini hanya untuk menyapa, bukan memaksa. Jadi silahkan di skip jika membuat sakit mata.


Akhir kata dari saya, jangan lupa makan. Karena membaca juga butuh tenaga. Jangan lupa minum, karena kalau tidak minum, ya tidak apa-apa. haha


Jangan lupa like dan komen ya...


Selamat membaca ...


eeh ... Vote juga ...


Byee bye*** ...

__ADS_1


__ADS_2