
Dewi Empat Penjuru memang julukan yang cukup pantas untuk mereka berempat. Mereka bukan hanya memiliki ilmu yang tinggi namun juga jurus yang mereka miliki mampu menyatu dengan baik.
Bahkan Mereka belum pernah berlatih bersama tapi dalam pertarungan ini, jelas terlihat kalau mereka telah cukup lama menguasai gabungan beberapa jurus yang mereka miliki.
Pedang Iblis pun dibuat tak berdaya ketika berhadapan dengan dua jurus gabungan milik Ran Liu dan Wen Liu. Begitu pula dengan Sui Jiu dan Zey Liu yang membuat Cakar Racun dan Cakar Bintang muntah darah beberapa kali.
Meskipun pertarungan mereka hanya menggunakan setengah dari tenaga dalam yang dimiliki namun jelas terlihat bahwa umur panjang dan pengalaman bukan menjadi ukuran memenangkan sebuah pertarungan.
Tan Hao masih melawan Jiwei Dan di bagian sisi yang lain. Pertarungan mereka masih tetap berlanjut tanpa jeda sekalipun.
Sementara bagian luar gerbang, pertarungan telah hampir sampai puncaknya. Itu terlihat dari luka dalam yang di derita Jian bersaudara. Keduanya cukup sering muntah darah meskipun tidak menerima serangan langsung.
Jian Heng beberapa kali menggerutu disertai umpatan kasar, begitu pula dengan Chang Yi. Namun Jian Ying berbeda, ia hanya menatap tajam tanpa pernah berkata apa-apa lagi, seolah perkataan apapun tak cukup untuk merubah situasi yang terjadi.
"Orang tua yang renta, sudah seharusnya telah lama mati. Hidupmu hanya tinggal beberapa langkah. Apakah tidak ada nasihat baik yang kalian katakan untuk kami sebelum mati..?" Sui Jiu begitu santai dalam bersikap, ia berkata seolah dia adalah malaikat pencabut nyawa yang sedang menjalankan tugas. Tak ada senyuman juga tak ada ekspresi apapun.
"Ha hahaha..Kau pikir siapa dirimu-! berani berkata sombong di depan kami? Wanita murahan tetap saja murahan. Secantik apapun parasmu, kenyataannya adalah kau Sampah-!" Chang Yi tertawa lebar yang dipaksakan yang kemudian berbicara disertai ekspresi remeh.
Disisi lain, Qixuan dengan senyum liciknya ternyata telah menyiapkan sebuah serangan mendadak. Dirinya terlihat diam berdiri di belakang ketiga rekannya dengan kedua tangannya di belakang badan memegang Panah Setan yang menghadap keatas.
Dia masih belum melepaskannya karena belum menemukan kelengahan mereka. Dengan terus adu mulut antara Chang Yi dan Sui jiu menjadikannya lebih mudah menemukan titik lengah mereka.
Namun, setiap pergerakan Qixuan nyatanya telah lama diperhatikan oleh Zey Liu. Dia memang bukan orang yang suka banyak bicara. Menjadikannya lebih fokus ke situasi saat ini. Dia merasa yakin kemampuan Busur Bulan miliknya jauh lebih hebat dibanding Panah Setan milik Qixuan, hanya saja Zey Liu belum bisa mengeluarkan seluruh kemampuan dari Busur Bulan.
Selain karena baru memilikinya beberapa waktu yang lalu yang membuatnya belum bisa menguasai sepenuhnya juga karena saat ini Tenaga Dalam miliknya hanya bisa di gunakan setengahnya saja dan itu memengaruhi daya serang Busur Bulan.
Zey Liu memutuskan hanya akan menggunakannya jika memang sudah benar-benar ada kesempatan. Untuk menghemat konsumsi Tenaga Dalam yang di gunakan.
Sebelum sempat Sui Jiu mengumpati Chang Yi lebih jauh lagi, Wen Liu memperingatkannya dengan jelas. "Saudari Sui, jangan banyak bicara dengan orang sepertinya. Itu hanya membuang waktu. Kita tak bisa berlarut dalam pertarungan ini. Ingat pesan Tuan Muda.."
Sui Jiu hanya melirik tajam seakan tidak menyukai seseorang memotong saat ia sedang bicara. Sui Jiu mendengus kesal disertai gerakan tangan tajam.
"Tcih.. Sudah waktunya untuk mencoba jurus baru. Kalian urus yang lain.."
__ADS_1
.Jurus Ilusi : Dimensi Pengguncang Semesta.
Sui Jiu langsung mengeluarkan Jurus kedua nya yang menyerang tiga orang sekaligus.
"Dimana ini!! Jalaang siallaann.. Dimana kau membawa kami, tunjukkan batang hidungmu dan hadapi kami? jangan jadi pengecut menggunakan trik murahan,-!"
Chang Yi berseru lantang dengan bunyi geretakan gigi yang keras. Dia beserta dua rekannya saat ini tengah di buat kebingungan lantaran mereka telah berpindah tempat.
Tempat yang sangat luas gelap pekat tanpa satupun titik cahaya. Bukan hanya Chang Yi yang dibuat kebingungan, Jian Ying pun meras cemas dengan apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka.
Tempat gelap tanpa mampu melihat apapun, sangat mudah bagi seseorang untuk menyerang tanpa diketahui keberadaannya. Sama halnya dengan Chang Yi, Jian Heng mengumpat dalam hati disertai gerakan tangan dan kaki. Jian Heng menyerang membabi buta yang hanya mengenai udara hampa.
"Ha haha.. Apakah kalian merasa putus asa sekarang!! Jalaang ini hanya menggunakan trik kecil, jadi cobalah untuk keluar dari sini. Itupun jika mampu,-! haha haha.."
Suara Sui jiu menggema diantara mereka tanpa wujud, seolah Sui jiu sudah menyatu dengan alam.
Ketiganya hanya bisa mengumpat dalam hati, menyadari situasi ini bukan trik kecil semata. Ini lebih kuat dibanding ilmu ilusi. Bahkan Su Ling pun tak memiliki ilmu ilusi setingkat ini.
Sementara itu, Qixuan dibuat keheranan. Ia beberapa kali memanggil Chang Yi yang tengah berdiri di depannya namun tak ada balasan apapun. Begitu juga dengan Jiang Heng maupun Jiang Ying. Ketiganya berdiri mematung dengan bola mata mereka terbalik, semuanya berwarna putih dengan mulut sedikit terbuka.
Sementara Sui Jiu terlihat sedang berdiri dengan kaki kanan ke depan, mata tertutup sedangkan kedua tangannya menyatu di depan dada yang jari telunjuk menghadap keatas dan ke bawah.
"Percuma, mereka bertiga sudah dipastikan akan mati mengenaskan. Tidak ada yang berhasil lolos dari Ilusi Nona Sui,-! Lebih baik kau pikirkan nasibmu sendiri, hhe.." seru Wen Liu dengan mengibaskan telapak tangannya pelan.
Qixuan berdecak kesal dengan mengumpat dalam hati, terlihat jelas raut wajahnya begitu pucat tanpa mampu berkata. Selama ini, dia tidak pernah merasa terhina seperti ini kala berhadapan dengan musuh, tapi kali ini ia merasa sangat hina dan buruk.
Terpojok ketakutan di depan lawannya yang merupakan pendekar wanita. Qixuan merasakan takut ketika menyadari hawa kuat dari senjata yang para gadis itu pegang.
Dia merasa Senjata Panah Setan miliknya tak bisa dibandingkan dengan senjata para gadis meskipun panah setan miliknya telah banyak memakan korban jiwa.
Ran Liu yang sejak tadi hanya diam saja, kini menatap tajam Qixuan dengan posisi kuda-kuda siap menyerang.
Qixuan menyadari itu dan tanpa pikir panjang ia melepaskan serangan pada Ran Liu. Serangan yang cepat dan tanpa di duga. Yang sebenarnya ia menyiapkan serangan ini untuk membunuh Zey Liu tapi kali ini ia mengubah sasarannya.
__ADS_1
Namun, bersamaan dengan itu. Wen Liu melesat cepat kearah Qixuan dengan serangan menggunakan Pedang Bintang Kembar, sedangkan Zey Liu juga melepaskan anak panah dari Busur Bulan menyambut serangan Qixuan yang berhasil menahannya tepat di depan dada Ran Liu.
Dengan gerakan mundur cepat Qixuan menangkis serangan Wen menggunakan Panah Setan.
Namun, dilangkah yang ketiga. Ia merasa lehernya terasa dingin dan matanya buram yang sesaat kemudian tubuhnya terkulai lemas terjatuh membentur tanah.
Sebelum menyadari tentang apa yang terjadi, penglihatannya menjadi gelap dan menghembuskan nafas terakhir dengan mata menatap tajam.
Tanpa Qixuan sadari, serangan Wen Liu merupakan pengalihan untuk serangan Ran Liu. Gerakan Ran terhalang oleh Wen, dengan kecepatan penuh Ran Liu berhasil menusuk leher Qixuan serta mengoyaknya hingga terlihat tulang leher Qixuan menyembul keluar.
Zey Liu menghela nafas pendek dengan meletakkan kembali Busur Bulan ke punggungnya.
"Kakak, sepertinya kita hanya bisa menunggu Nona Sui selesai bermain. Tanpa bisa ikut campur." kata Zey ringan sambil memandang Sui Jiu sejenak.
"Benar. Kita telah selesai ditempat ini. Tapi Tuan Muda sepertinya belum selesai, apakah tidak lebih baik kita membantunya segera.." Wen Liu menimpali perkataan Zey dengan memandang kearah dalam sekte.
Ran Liu menghela nafas panjang kemudian berkata "Kita tidak bisa ikut campur pertarungan mereka, kekuatan kita tidak sebanding. Kita percayakan saja semuanya pada Tuan Muda. Tugas kita saat ini hanya memastikan tidak ada lagi anggota sekte yang tersisa.."
Ketiganya secara bersamaan memandang ke arah pertarungan Tan Hao dengan Jiwei Dan yang sebenarnya hanya terlihat seperti dua buah benang beda warna tertiup angin dengan cepat.
Sementara itu Tan hao berhasil menguasai situasi, membuatnya diatas angin. Sedangkan Jiwei Dan berhasil tersudut tanpa mampu mengeluarkan lagi jurusnya.
"Ck..Kurang ajarr. Dasar tidak berguna,-"
Jiwei Dan beberapa kali mengumpat kesal karena dirinya tidak berhasil menyarangkan satu serangan pun ke tubuh Tan Hao. Meskipun Tan Hao juga tidak bisa memberikan luka pada Jiwei Dan.
Namun jelas terlihat arah pertarungan ini akan berakhir dengan kekalahan Jiwei Dan dengan akhir yang buruk, jika Jiwei Dan tidak segera mengubah cara bertarungnya.
Tan Hao bisa melihat dengan jelas arah gerakan yang di buat Jiwei Dan tanpa kesulitan, itu membuatnya seperti mampu melihat masa depan beberapa detik.
Dengan perubahan Mata Dewa nya, membuat kepercayaan diri Tan Hao meningkat. Meskipun ketenangannya dalam bertindak masih dikatakan buruk.
Kesalahan yang tidak di sadari Tan hao adalah dia melupakan Kitab 1000 kehidupan dalam dirinya dan itu masih terus berlanjut.
__ADS_1