Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 101 ~ Kembali


__ADS_3

Ketujuh manik-manik tersebut bergerak melayang di depan wajah Tan Hao. Gerakannya begitu dinamis dan halus seperti tengah membentuk sebuah pola.


"Ini ... Oh mungkinkah ini?" kejut Ye Yuan tak percaya.


Tan Hao tertegun melihatnya, cahaya emasnya benar-benar membuat pandangannya tak mau berpaling. Bahkan rona wajah Tan Hao kian berubah sesuai gerakan melayang manik-manik teratai tersebut.


Tepukan ringan Lan Lihua di pundaknya membuat Tan Hao tersadar, dirinya kemudian menangkap manik-manik itu dengan sekali gerakan tangan kanannya.


"Benda ini begitu istimewa! Suatu saat akan ada saatnya ia ku gunakan tapi tidak sekarang," gumam Tan Hao pelan.


"Baiklah! Sudah cukup terkejutnya, karismaku hilang karena kebodohan ini. Heh ... Hehe," kelakar Tan Hao yang membuat Lan Lihua mengembungkan pipinya.


"Cihh, karisma apanya! Dasar bodoh," ketus Lan Lihua.


Tetua Tiandou dan Liu Zey tak memperhatikan itu, keduanya tengah berdiskusi singkat. Duduk di bawah pohon beringin membelakangi tempat Tan Hao dan Lan Lihua berada.


"Oh iya Hua'er! Apa rencanamu selanjutnya setelah memiliki Periuk Neraka? Apakah Paman Feng benar-benar membutuhkan benda itu? Bagaimana jika itu diberikan untukmu," tanya Tan Hao memecah suasana.


Lan Lihua tercekat, ia hampir lupa jika telah mendapatkan pusaka juga. Seketika itu terdapat banyak pemikiran di kepalanya.


"Haha, apa yang kakak bicarakan? Tentu saja aku akan berlatih dengan serius untuk menjadi alkemis terhebat, bukankah akan bagus untuk kita nanti," sahut Lan Lihua dengan senyuman penuh tanya.


"Aku tahu apa yang menjadi kebimbanganmu! Jadi berhentilah sok misterius di depanku. Biar bagaimana pun aku telah berjanji akan menjagamu, jadi kita akan berlatih bersama," timpal Tan Hao sembari memegang dagu Lan Lihua dengan ujung jarinya.


Lan Lihua tampak malu-malu, pipinya memerah.


"Aku ... Tidak akan mengecewakanmu kakak,"


Tan Hao tertawa lebar dengan kedua tangan di pinggang.


"Hahaha, sepertinya HaoHao cukup bagus. Tak perlu lagi memanggilku kakak? Hmm ... Itu terlalu menyakitkan bagiku,"


"Dasar buaya muka kadal, lihat saja nanti bagaimana kau bersikap jika bertemu wanita yang satu itu," Ye Yuan tersenyum sinis sembari melirik tidak senang Tan Hao.


"U-uh," jawab Lan Lihua singkat sembari menunduk malu-malu.


Tak berselang lama, Tetua Shuxan kembali bersama Su Kong. Terlihat kondisi Su Kong tak begitu baik, ia sekilas seperti seorang ketakutan. Wajah pucat serta tak ada ekspresi apapun disana.


"Tuan Muda aku datang! Sepertinya kita bisa pergi sekarang," seru Tetua Shuxan.

__ADS_1


"Oh ya ... Tapi sepertinya rekanmu tidak dalam kondisi baik? Apa yang terjadi dengannya," tanya Tan Hao sembari memandang Su Kong yang berada dibelakang Tetua Shuxan.


"Ah itu ... Sebenarnya hanya sebatas terkejut saja," jawab Tetua Shuxan memberikan alasan singkat.


Tan Hao tersenyum tipis kemudian berjalan mendekati Su Kong.


"Sepertinya beberapa saat yang lalu kau masih memiliki niat buruk, bukan? Baiklah ... Aku mengerti tak perlu kau jelaskan,"


"Tetua Tiandou! Kemarilah aku pinjam cincin bumi mu," seru Tan Hao memanggil Tiandou yang telah berdiri namun masih ditempat yang mana dia duduk.


"Ya aku mengerti," balasnya kemudian melompat dan mendarat di sebelah Tan Hao.


"Untuk apa kau meminjam? Bukankah ini memang milikmu," kata Tiandou sembari memberikan cincin tersebut.


"Itu dulu, sekarang ini milikmu,!! Cukup, aku hanya ingin mengambil Rumput Giok Sutra,"


Tan Hao memberikan kembali cincin dimensi bumi yang sejatinya merupakan pemberian pamannya, Yao Liu. Disana tersimpan berbagai senjata, sumber daya, buku milik Yao Liu dan juga kepingan emas dan perak.


Ia tak berniat mengambil kembali, sebab ia masih memiliki cincin dimensi alam pemberian ayahnya. Yang memiliki ruang tak terbatas dan dapat menyimpan segala hal termasuk jiwa ataupun roh.


Cincin dimensi sejatinya memiliki beberapa tingkat, mulai dari yang terkecil yakni cincin samudra, cincin bumi, cincin langit, cincin surga dan terakhir cincin dimensi alam. Setiap cincin memiliki ruang dan kegunaan yang berbeda kecuali cincin dimensi alam yang sekarang ada pada Tan Hao yang tak memiliki batas juga didalamnya memiliki ribuan ruang.


"Ambil dan minumlah! Ini dapat membantu menenangkan gejolak tenaga dalam mu,"


Su Kong sendiri hanya melakukan apa yang diperintahkan Tan Hao tanpa menolak ataupun bertanya.


•••••


"Hei, mana arak kami! Cepatlah," seru salah seorang pengunjung kedai makan.


"Pelayan! Aku mau pesanan daging rusa, sayur kacang panjang dan arak," teriak pengunjung lainnya di meja bagian luar kedai.


Suasana cukup riuh dengan banyaknya pengunjung, terlihat semuanya merupakan pendekar dari pakaian serta senjata yang terselip di belakang punggung maupun pinggang.


"Tuan Muda! Haruskan aku buat mereka diam? Disini cukup berisik untuk menikmati arak," tanya Su Kong setengah berbisik.


"Silahkan jika kau mampu melawan mereka semua! Aku tidak masalah," sahut Tan Hao setelah meneguk arak.


"Eh ... Maksudku bukan begitu! Haiyahh, bisa mati konyol aku kalau mereka semua memukulku," balas Su Kong yang memasang wajah konyol.

__ADS_1


Sementara itu Liu Zey dan Lan Lihua berada di meja yang berbeda namun tak terlalu jauh. Tan Hao memutuskan untuk memesan meja yang berbeda setelah sampai di kedai makan yang cukup besar.


Tempat duduk yang tersedia disetiap meja hanya cukup untuk empat orang, meskipun berada di luar kedai namun tak masalah bagi Tan Hao.


Memang setelah Su Kong membaik, mereka memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan. Sewaktu dalam laju lari mereka berdiskusi singkat ketika telah mencapai Desa Hibei, desa satu-satunya yang mereka lewati setelah sehari perjalanan dari lembah kematian.


Meskipun hanya desa kecil yang hanya berpenduduk kurang dari seratus kepala keluarga namun cukup ramai lalu lalang. Mulai dari pedagang pakaian, perhiasan, kedai makan hingga rumah bordil.


Kebanyakan pengunjung merupakan para pendekar yang singgah saat menjalani misi ataupun pendekar yang berkelana.


Tan Hao cukup puas dengan arak yang tersedia. Mereka telah menghabiskan setidaknya tiga porsi makanan untuk setiap orang kecuali Liu Zey dan Lan Lihua.


Bisa dibilang ini makan besar mereka setelah satu minggu tak menikmati makanan yang sebenarnya. Tetapi bagi Tan Hao ini pertama kalinya ia meminum arak di luar, sensasi yang dirasakannya sungguh berbeda ketika meminum arak bersama Feng Zhenzhu dan Leluhur Lan.


"Tch ... Mereka menikmati makanan dengan begitu beringas sementara aku diacuhkan seperti ini? Dasar, Tuan tak punya belas kasihan," gerutu Ye Yuan didalam Ruang jiwa Tan Hao.


Suara riuh khas kedai dengan pengunjung penuh menjadi hal lain yang Tan Hao rasakan setelah beberapa tahun.


"Hari menjelang malam, apa kita lanjutkan atau kita cari penginapan?" ujar Tetua Shuxan santai setelah meneguk arak dari gelas yang ia pegang.


GGG..BBRRAAAKKK ...


"Apa maksudmu? Aku mampu membayar semua tagihan ini! Aku hanya meminta waktu sampai temanku datang,"


Terdengar teriakan dari dalam kedai yang membuat suasana di luar kedai menjadi hening. Para pengunjung mulai saling berbisik antar rekan mereka.


"Haih, dia lagi pelaku nya! Aku rasa belum ada yang berani memberinya pelajaran,"


"Jika aku cukup kuat, dia sudah kubuat berlutut didepanku,"


"Hei hei, pelankan suaramu. Lebih baik nikmati makananmu saja."


Tan Hao mendengarkan bisik para pengunjung dengan santai sembari menikmati arak. Ia hanya sesekali melirik kedalam kedai.


"Kurasa orang yang berbuat onar itu orang paling kuat disini? Lihat saja orang-orang berwajah sangar disini tak ada yang bertindak," ujar pelan Su Kong.


"Diam dan nikmati arakmu," sahut Tan Hao santai.


Tetua Tiandou hanya menggeleng pelan sementara Tetua Shuxan membuang muka dengan mata melirik kesana kemari sembari memegang gelas arak.

__ADS_1


__ADS_2