
Tan hao masih duduk menyandar dengan memikirkan segala sesuatu tentang apa yang ia lihat. Tiba-tiba ia di kejutkan dengan tepukan halus di bahu kirinya. Dengan refleks Tan hao menarik tangan di pundaknya serta menekannya kuat.
Ternyata orang itu adalah Xin jiu yang telah sadar tetapi masih lemah. Kontan saja tubuh lemahnya terpelanting membentur tanah. Namun, dia tidak mengalami luka serius hanya meringis kesakitan.
"Oh kau sudah sadar, maafkan atas sikapku." ucap datar Tan hao tanpa ekspresi.
"Heh tidak apa-apa. Terimakasih telah membunuh kedua orang itu, jujur saja. Aku bukan bagian dari mereka, aku hanya menyamar untuk sebuah tugas dan berpura pura menyerangmu tadi meskipun serangan yang kulakukan bukan pura-pura. Maafkan aku juga." kata Xin jiu tenang dengan memegangi bahu kirinya sambil membenahi posisi duduk.
Tan Hao cukup terkejut mendengar pernyataan Xin jiu, namun tak mengubah ekspresi datarnya hanya mengernyitkan dahi saja.
"Ehh, untung saja aku tak membunuhmu barusan. Kenapa kau tak bilang sejak awal, kenapa juga harus pura-pura lagi."
"Hehe, aku tak mengira jika kau sekuat itu. Aku hanya tidak ingin tugasku gagal saja. Oh ya ngomong-ngomong kenapa kau mau melakukan ini semua, terang-terangan pula. Apakah kau tak takut dengan Penguasa Lembah Hijau." dengan senyum kecil Xin jiu berkata dengan ramah, berbanding terbalik dengan sikapnya beberapa saat yang lalu.
"Ha ha, aku melakukan ini atas dasar keinginanku sendiri, salah??. Kau sendiri juga melakukan hal sama bukan? hanya saja yang kau lakukan terlalu memaksakan diri dengan penyamaran." timpal Tan hao yang sekerang lebih tenang, raut wajahnya juga kembali normal.
"hehe benar juga. Tapi tugasku sangat penting. Jika gagal, kembali atau tidak pasti akan mati dibunuh. Hahaha. Terimakasih karena secara tidak langsung menolongku. ohh ya dan lalu dimana para tawanan?" sikap Xin jiu cukup ramah dalam berbicara disertai senyuman kecil.
Tan hao menoleh sesaat memandangi Xin jiu dan lalu tersenyum kecil.
"Aku tahu tugasmu menyelamatkan salah satu tawanan itu kan? Tapi maaf, mereka semua telah dibawa ke sekte Tujuh Tombak Emas untuk perlindungan. Mereka akan aman di sana, kau tenang saja."
Raut wajah Xin jiu mendadak cemas dengan sedikit pucat.
"Ah ini..... Sebenarnya orang yang aku ingin bebaskan adalah Tuan Putri Li Maylin. Dia adalah Putri dari Raja Shio, Raja Li Xiuhuan. Bisakah aku pergi ke sekte untuk memastikan keselamatannya."
Perkataan Xin jiu membuat Tan hao tersedak ludahnya sendiri, melotot terkejut.
"Apa kau bilang? Putri dari Raja Shio?. Salah satu gadis itu adalah putri dari Raja Shio? Sungguh tak ku sangka, aku secara tidak sengaja telah menyelamatkan seorang Putri Kerajaan."
"Ya aku tidak mungkin berbohong. Sekarang mari kita pergi, kupikir rombongan mereka masih belum sampai."
"Ah soal itu tenang saja, mereka akan aman. Kita akan bertemu dengannya nanti. Sekarang yang harusnya kau lakukan adalah penjelasan pada seseorang. hmm...tapi orang itu saat ini tengah menguras harta benda di bangunan ini, hehe hehe he.." Sergap Tan Hao dengan menggaruk pelipisnya ringan disertai tawa terpaksa.
__ADS_1
Xin jiu hanya diam memandangi Tan hao dengan kebingungan serta penasaran. Ucapan Tan hao membuatnya kembali memikirkan sesuatu yang tidak dia ingat dengan baik.
Xin jiu hanya tertunduk dengan tatapan mata nanar penuh pertanyaan.
Tan hao hanya melenguh pendek.
"Haiihhh.. Yang ku maksud adalah Sui Jiu."
Seketika itu raut wajah Xin jiu mendadak muram, terlihat ada guratan kesedihan di wajahnya namun dia langsung membuang muka begitu Tan hao mencoba menatapnya.
Mereka berdua hanya diam membisu dengan suasana canggung bagi Tan hao. Namun tak lama kemudian terdengar suara wanita dari dalam bangunan yang cukup dekat.
"Tuan, aku menemukan banyak harta bernilai tinggi beserta sumber daya berharga dan juga beberapa Cincin Bumi, Kita akan punya cukup kekayaan untuk mendirikan sebuah Asosiasi atau Organisasi, bukankah ini bagus..
Ucapan Sui jiu seketika berhenti bersamaan dengan langkah kakinya, Dengan tatapan nanar mengandung air mata tubuhnya bergetar kecil.
"Oh haloo adikku yang cantik, Apakah keberadaanku mengganggumu sampai perkataanmu pun tak kau lanjutkan." kata Xin jiu menyapa dengan sedikit canggung namun berusaha ramah.
"ehh." Tan hao hanya menyeringai konyol dengan wajah bodoh.
"Tsk..aku pikir siapa, ternyata hanya orang bodoh yang mengganggu penglihatanku saja". lanjut Sui jiu dengan melipat tangan kedepan dengan membuang muka disertai wajah sebal.
Tiba-tiba berubah serius sesaat kemudian.
"Saudara Sui, lebih baik kita gunakan harta itu untuk menolong beberapa desa yang membutuhkan. Aku pikir itu hal yang bijak, lagi pula aku melihat banyak desa kecil di sekitar daerah ini memiliki kondisi buruk." kata Tan hao dengan tatapan tajam serius.
Sui jiu dengan cepat berubah serius dengan mengubah posisi tangannya.
"Hmm, baiklah aku paham. Tuan memang sulit ku tebak. Jadi lebih baik kita segera pergi menyusul yang lain."
"Oh baiklah, tapi sebelum itu kau selesaikan urusanmu dengan saudaramu dulu, aku akan pergi lebih dulu. Kalian menyusul nanti jika sudah menemui titik temu." kata Tan hao sambil berdiri memandang sesaat mereka berdua lalu langsung melesat cepat menggunakan ilmu Angin Senyap.
Mereka berdua cukup hening ketika ditinggal berdua, tidak ada diantara mereka yang ingin memulai pembicaraan, hanya terdengar hembusan angin.
__ADS_1
•••
"Haha haha, Nona Yue waktu sudah melebihi tiga hari dari yang ku janjikan, tidak ada alasan lagi untukmu mengulur waktu, Sekarang aku ingin dengar apa keputusanmu."
Sementara itu di Asosiasi Menara Emas terlihat Manager cabang kota Shuning, Yue yun sedang menghadapi Walikota Shen Ho yang kembali datang setelah lima hari yang lalu mendatanginya.
Kini ia di haruskan memberi keputusan tentang penawaran yang di berikan oleh Walikota Shen Ho kepada Manager Yue Yun secara pribadi bukan menyangkut soal Asosiasi. Yah, Shen Ho menginginkan Yue yun sebagai istri ketiga nya.
Terlihat Yue Yun tampak bingung serta jelas raut wajahnya memburuk, sebab ia tak tahu harus bagaimana menjawabnya.
Keputusan yang sulit, jika ia menerimanya itu berarti ia akan menyerahkan hidupnya pada orang yang lebih pantas ia sebut ayah dan itu sama halnya dia akan menjadi pelayan Walikota. Jika ia menolaknya, ia takut akan berdampak pada Asosiasi, bukan tidak mungkin jika izin Asosiasi cabang Shuning akan di cabut dan pasti akan diusir.
Mengingat Shen Ho orang licik yang mempunyai koneksi dengan berbagai sosok penting di Kerajaan maupun Sekte sekte beladiri.
Yue yun hanya diam membisu dengan tertunduk lesu. Pandangannya hanya tertuju pada meja tamu.
Raut wajah Shen Ho berubah ketika jawaban yang ia tunggu tak juga ia dengar. Dengan sekali hentakan kipasnya ke atas meja dengan berdiri sombong, Shen Ho bicara dengan nada mengancam.
"Apa ini. Jika kau masih diam membisu tanpa mau menjawab keinginanku, ku pastikan bahwa keputusanmu keliru. Aku bisa meratakan tempat kerjamu dan mencabut izin berdirinya dari kotaku."
Dengan tubuh bergetar nafasnya tersengal-sengal. Yue yun akhirnya menjawab dengan disertai air mata membasahi pipinya.
"B-baiklah, A-aku menerimanya."
Seketika itu ekspresi Shen Ho berubah menjadi lembut dan tertawa puas.
"Bagus.bagus.. kau memang wanita cantik dan cerdas. Bhahhahah.. Baik kalau begitu dua hari lagi aku akan mempersiapkan semuanya dan orangku akan menjemputmu, Sayangku.. bhahahha.a.a.a."
Shen Ho tertawa puas penuh kemenangan sambil berjalan pergi meninggalkan Yue yun yang masih terduduk lesu. Jelas terlihat uraian airmata memenuhi pipinya membasahi pakaiannya tanpa mampu bersuara.
Perasaan maupun pikiran Yue yun menjadi tidak terkendali. Hatinya menjerit bibirnya penuh dengan umpatan kesedihan.
Meskipun dirinya hanya sendirian di dalam ruangan itu tapi Yue yun hanya bisa menangis tanpa suara.
__ADS_1