Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 43 ~ Kekuatan Misterius


__ADS_3

Saat masih saling bertukar bicara antara para tawanan dan juga Tan hao dengan Zey Liu, Ran Liu dan Wen Liu keluar dari bangunan dengan senyum merekah dan sama sekali tidak terlihat kelelahan.


Keduanya berjalan penuh semangat menghampiri Tan hao.


"Tuan Muda, kami berhasil mencapai tahap kedua dari masing-masing Jurus yang Tuan berikan. Awalnya aku tidak menyadarinya seakan itu semua berjalan sangat cepat." sapa Ran liu dengan senyum sopan penuh kegembiraan.


Mendengar pernyataan Ran Liu membuat Tan hao tersenyum bangga, tapi tidak dengan Zey. Dia hanya menunduk dengan raut wajah tidak menentu.


Bagi Zey, pernyataan kakaknya membuat dia semakin jauh tertinggal dan hanya sebagai pelengkap jumlah mereka saja. Zey seperti telah kehilangan keberaniannya untuk sekedar balik menyapa.


Tan Hao bukannya tidak mengetahui gelagat Zey, dengan sekali lirik saja Tan hao sudah memahami apa yang Zey Liu rasakan. Namun, sekarang bukan waktu yang tepat untuk mencoba meneguhkannya kembali.


Meskipun terlihat begitu bangga dengan pencapaian keduanya, tak lantas bagi Tan hao memuji. Selain menjaga perasaan Zey juga agar mereka berdua tidak lupa diri dan sombong.


"Oh aku senang mendengarnya. Tapi bukan berarti kalian tak terkalahkan, ingat selalu rendah diri dan berlatih." ucapnya datar tanpa melihat kearah mereka berdua.


"Baiklah, sekarang tugas kalian bertiga membawa mereka semua ke sekte Tujuh Tombak Emas sekarang. Aku akan menunggu Sui jiu serta menyelesaikan beberapa urusan. Dan pastikan mereka semua sampai di tujuan dengan aman." lanjut Tan hao menjelaskan singkat dengan beberapa kali memandang wajah para tawanan yang sebagian besar lelaki dan hanya 2 orang wanita muda.


"Emm, Baiklah Tuan Muda, kami akan pastikan mereka semua selamat sampai tujuan. Kalau begitu kami berangkat dulu. Dan oh ya, kuharap ini cukup untuk Tuan muda." kata Ran Liu dengan yakin serta menyerahkan tiga kantong kulit berisi susu segar dengan senyum kecil.


Kemudian mereka semua langsung berangkat menuju sekte Tujuh Tombak Emas dengan melalui jalan yang mereka lalui.


Memang dengan menerabas hutan akan sangat aman bagi mereka, meskipun jalurnya sedikit lebih menyulitkan namun itu tidak membuat para tawanan mengeluh. Mereka lebih ke terlalu bersemangat berlari. Memang kemampuan mereka sebagai pendekar tidak terlalu tinggi namun mereka mempunyai wajah berwibawa layaknya pedagang besar atau bagian dari pemerintahan.


Dengan Ran Liu sebagai penujuk jalan serta Wen dan Zey sebagai pelindung di belakang. Mereka berlari dengan kecepatan normal. Malam memang telah mencapai puncaknya, hingga mereka melupakan hak besar. Ya, mereka belum menyantap makanan apapun, bahkan Para tawanan pun lupa tentang kondisi tubuh mereka karena saking senangnya telah terbebas.


Setelah mereka menempuh jarak yang cukup jauh, setidaknya sepertiga perjalanan hingga sampai ke tujuan. Barulah salah satu diantara mereka jatuh pingsan dan tawanan lainnya juga kelelahan hingga wajahnya pucat.


"Kakak..kita berhenti dulu." seru Wen memperingatkan Ran yang berada di paling depan.


Mendengar teriakan Wen langsung membuat Ran berhenti dan kembali ke barisan mereka.

__ADS_1


"Kakak, sepertinya mereka semua kelaparan. Dan gadis ini pingsan juga karena itu, lebih baik kita mencari makanan untuk mereka lebih dulu." ucap Zey dengan menyangga tubuh gadis muda yang sedang pingsan.


"Baiklah, kita istirahat disini dulu. Kita akan lanjutkan ketika pagi telah tiba. Aku akan berburu, pastikan mereka semua berkumpul dan tak lepas dari pandangan kalian." jelas Ran liu pada kedua adiknya dengan tegas dan langsung menghilang secepat angin.


Mereka semua beristirahat di bawah rimbunnya bambu. Cukup jelas bagi Wen dan Zey untuk melihat pergerakan di area sekitar walaupun hanya sedikit cahaya bulan yang masuk.


Sementara itu Tan hao masih berada di depan bangunan tempat penyekapan tawanan menunggu Sui jiu yang belum juga muncul.


Dengan wajah penuh kebosanan Tan hao menunggu dengan bersandar di dinding samping pintu masuk dengan santai sesekali meneguk Susu dari kantong kulit pemberian Ran Liu.


"Tan'er.. aku merasa di bagian lain di wilayah ini terdapat kekuatan besar menakutkan, bahkan aku sendiri merasa sedikit tertekan ketika menyadarinya." tiba-tiba Ye yuan muncul tanpa basa-basi.


"Kekuatan besar? sebesar apa? apakah lebih besar dariku atau itu salah satu iblis hati?" sergap Tan hao penasaran.


"Aku tak tahu pasti, lebih baik kau coba saja melihatnya, jaraknya masih dibatas area Mata Dewa mu." lanjut Ye yuan dengan wajah serius.


Tanpa menunggu waktu lagi, Tan hao langsung mengaktifkan Mata Dewa dan melihat segala apa yang berada dalam jangkauannya.


Terlihat juga rombongan Ran Liu yang sedang beristirahat, Tan hao hanya tersenyum tipis melihatnya.


Tak cukup itu saja, ternyata di bawah sepasang Mata besar itu terdapat seseorang yang sedang duduk di singgasana megah dengan senyum menyeringai ke arah tatapan mata Tan hao, seperti tahu bahwa Tan hao sedang melihatnya.


Hoshh..hoshh..hoshh


"Ahh kurang ajar, siapa dia sebenarnya. Bahkan Mata Dewa milikku tak berpengaruh apa-apa. Sepasang Mata apa itu tadi, Tch..."


Dengan cepat Tan hao menghentikan Mata Dewa nya dan langsung berkeringat dingin serta nafas tidak beraturan.


Sesuatu yang belum pernah Tan hao alami selama ini, kini ia merasakannya, sebuah Ketakutan.


•••

__ADS_1


Sementara itu, Tetua Tiandou masih menunggu selesainya pelatihan Tetua Jing yun di depan pintu kamarnya. Meskipun sudah cukup lama hingga hampir pagi, tapi Tiandou tidak merasa lelah sama sekali.


Beberapa saat kemudian, ketika Tetua Tiandou mencoba memejamkan matanya dengan berposisi berdiri. Pintu kamar Tetua Jing yun terbuka yang mengagetkan Tiandou.


"Ahh, senior sudah selesai. Aku hampir saja tidur, haihh.." ucap lugu Tiandou dengan ekspresi bodoh.


"Berita apa yang kau bawa? sampai harus menungguku semalaman." sergap Tetua Jing yun dengan serius.


Dengan sigap Tiandou berubah sikap dengan ekspresi serius.


"Aku baru saja membunuh salah satu tetua Lembah Hijau yang menyamar sebagai Matriark Zhang weili. Jika dugaanku benar, kemungkinan Lembah Hijau telah bersiap untuk menyerang lebih dulu."


Ekspresi Tetua Jing yun berubah tajam dengan raut wajah geram.


"Lalu apakah kau tahu tujuannya menyamar dan datang kesini?"


"Untuk bertemu Patriark Sun dan Membunuhnya." jawab Tiandou tegas dan jelas.


"Kurang ajar. Lalu bagaimana kabar Saudara Tan hao? apakah dia telah berhasil membebaskan Nona Mei.."


"Ahh aku lupa tentang itu, maaf Senior. Aku belum sempat menghubunginya." sergap Tiandou dengan ekspresi bersalah.


"Baiklah, kau kembali dulu ke kamarmu. Aku akan memikirkan langkah selanjutnya." kata Tetua Jing yun dengan ekspresi tatapan tajam lalu berlalu masuk ke dalam kamar.


"Haihh.. sepertinya akan segera datang, Sebuah peperangan besar. Senior Jing yun sampai seperti itu, pasti pikirannya sedang rumit. Baiklah, waktunya istirahat." lenguh pelan Tiandou dengan ekspresi tampak bosan.


Dengan kegagalan Zhang Junda membunuh Matriark Sun dan gagal mengirimkan sebuah isyarat. Membuat Tetua anggota Lembah hijau menjadi kebingungan. Rencana yang mereka buat mengalami kegagalan tanpa mereka sadari.


Selain itu, mereka juga tak mengetahui jika tawanan yang akan mereka gunakan sebagai alat pendukung kemenangan juga telah di bebaskan. Penjaga yang mereka tugaskan memiliki kemampuan mumpuni nyatanya tidak ada yang berhasil hidup atau bahkan memberi mereka kabar.


Namun, yang paling merasa getir adalah Tan hao. Kekuatan yang dia lihat sepertinya kekuatan hitam yang sangat kuat, bahkan dirinya merasa ketakutan.

__ADS_1


Dengan kemampuannya saat ini memang dia merupakan orang paling kuat di seluruh wilayah kerajaan Shio, namun Tan hao tidak menyadari jika kekuatannya masih bukan apa-apa ketika dibandingkan dengan tujuan utamanya.


Bahkan dengan bantuan Ye yuan sekalipun.


__ADS_2