Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 63 ~ Keluarga Terbuang 3


__ADS_3

Lan Lihua merasa seperti tersambar petir disaat wajah Tan hao mendekat pada wajahnya dengan senyum tipis yang ditujukannya. Tan hao tersenyum lebar melihat tingkah Lihua yang salah tingkah karenanya, sifat jahilnya tak pernah hilang meski telah memperoleh pencerahan.


Namun ketika ia mencoba memajukan wajahnya lebih dekat. Sebuah pukulan mendarat di atas kepalanya.


Plakkkh..


"Apa sih yang kau pikirkan,-!! Kenapa kau masih hidup, kupikir makanan sebanyak ini kubawakan khusus untuk upacara kematianmu. Hehh,-!! Ganti tenagaku yang hilang karena mengumpulkan makanan yang sia-sia, Tch..??"


Pukulan tangan kiri Lan Lihua cukup tepat mengenai kepala bagian tengah atas Tan hao. Lihua nyatanya terkejut bukan soal apa yang dipikirkan Tan hao.


Tanpa bersuara apapun Tan hao hanya memegangi kepalanya dengan senyum pahit bereaksi bodoh. Ia tak menyangka jika kejahilannya gagal untuk pertama kalinya.


Lan Lihua maupun Feng Zhenzu hanya berjalan tanpa ekspresi seolah tak menganggapnya melewati Tan hao yang masih berdiri bodoh.


"Hehehe.. Tak perlu terlalu terkejut, ketampananmu masih belum cukup mampu meluluhkan pandangan Hua'er.-!! Kemarilah, duduk dan nikmati buah segar ini, Sementara aku akan menyiapkan hidangan utamanya." kata Feng ringan disertai tawa kecil.


Tan Hao tak menyangka dirinya berada di dalam sebuah keluarga aneh, sikap dan sifat mereka sungguh aneh membuat Tan hao hanya bereaksi bodoh. Dalam pikiran Tan hao seharusnya jika seseorang telah sembuh dari sakitnya akan di sambut begitu menyenangkan namun yang ia peroleh malah sikap datar seolah tak mengharapkan kesembuhannya.


"Aihh.. Untuk pertama kalinya daya tarikku jatuh di hadapan gadis tomboy ini, oh ya tuhann.. Hancur sudah nama baikku sebagai penakluk wanita, Tsk." ucap Tan hao dalam hati sambil berjalan gontai ketempat duduknya semula.


Tan hao tak mengetahui bahwa apa yang dirasakan dan di tunjukkan Lihua sebenarnya kebalikannya. Ia sangat bahagia melihat pemuda yang ia rawat sudah kembali pulih. Lihua cukup berdesir hatinya ketika mengetahui jika sikap pemuda yang ia rawat ternyata menyenangkan. Berbeda dari apa yang ia pikirkan sebelumnya.


Ketika Tan hao telah duduk, yang tepat di depan Lihua, dirinya melihat kalung yang dikenakannya. Tan Hao terkejut bukan main. Sikapnya berubah serius setelah menyadari bahwa kalung itu merupakan Giok Dewi Bulan yang merupakan salah satu pusaka dewa.


Tan hao mengambil buah pir dalam keranjang di depannya dengan memikirkan banyak hal. Ia bingung harus senang atau sedih setelah menemukan Benda Dewa yang ia cari secara kebetulan seperti ini.


Tan hao berfikir, haruskah ia berterus terang dan memintanya atau berpura-pura tidak menyadari dan menjaganya beserta pemakainya.


Gigitan demi gigitan buah pir yang ia pegang dengan pandangan ke arah meja seperti sedang memikirkan sesuatu jelas terlihat oleh Leluhur Lan maupun Lihua.


"Hei, siapa namamu dan darimana asalmu? Bisakah kau ceritakan tentang dirimu sekarang."


Seruan Lan Lihua yang bernada tinggi membuat Tan hao tersadar dari lamunannya, bersamaan dengan itu pula Tan hao memutuskan memilih menjaga daripada memintanya dengan berbagai pertimbangannya.


Giok Dewi Bulan adalah benda dewa yang dirinya belum mengetahui kegunaannya, mengambil secara paksa hanya akan merugikannya.


"Tan hao. Aku sangat berterimakasih padamu telah merawatku dengan baik selama ini. Tentang asalku, entahlah.. bisa dibilang aku berasal dari sekte Tujuh Tombak Emas atau bisa dibilang tidak juga." ucap Tan hao dengan memandang singkat Leluhur Lan.


"Ah..tadi kau bilang tumbuh besar di pulau phoenix,-!! Ngomong-ngomong dimana itu letak tempatnya, ehh,-!!" leluhur Lan berusaha mengingatnya dengan berat.

__ADS_1


"A-apa,-!! Pulau Phoenix..??? Kakek, apa kau tak ingat, pulau itu terletak di selatan benua ini, bagaimana kau bisa lupa akan hal itu."


Lan Lihua sempat terkejut mendengarnya, dengan wajah serius ia mengingatkan Leluhur Lan. Sepengetahuannya, pulau phoenix biasa disebut pulau kematian sebab tidak ada yang bisa bertahan hidup jika sudah masuk. Ia juga ingat benar bagaimana kejadian saat mereka masih tinggal di dalam pusat kota.


Leluhur Lan menyadari maksud keterkejutan Lihua namun dirinya berusaha bersikap tenang setelah mengingatnya.


"Sudahlah, tak perlu membahas masalah itu. Sekarang aku ingin memastikan masalah lain. Bisakah kalian jujur padaku.??"


Tan hao menemukan waktu yang tepat untuk mengetahui latar belakang keluarga yang telah menyelamatkannya itu. Ia merasa janggal dengan semua yang ia lihat dan dengar. Namun tak ada cukup ruang baginya untuk menanyakan hal itu ketika hanya bersama Leluhur Lan.


"Baiklah. Katakan apa yang kau ingin ketahui. Aku akan berusaha menjelaskan yang tidak di ceritakan oleh kakek." kata Lan Lihua yakin.


Tan hao tersenyum tipis. Ia tak mengira beberapa saat lalu gadis di depannya bersikap seolah tak menghiraukan tapi sekarang sikapnya seolah berharap ingin lebih banyak mengobrol dengannya.


Tan Hao meminum arak terakhirnya dengan gerakan cepat kemudian ia meletakkan gelasnya.


"Aku berfikir keluarga kalian tak sesederhana ini, sebenarnya apa yang terjadi pada kalian.?"


Lan Lihua menelan ludah sesaat kemudian memandang kearah Leluhur Lan yang hanya di balas anggukan pelan.


"Masalah itu,-!!"


Lan Lihua menunduk dengan mata berkaca-kaca, Tan hao melihat jelas keengganan Lihua untuk mulai berbicara, Tan hao menunggunya dengan sabar dengan menunjukkan keramahannya.


Masalah itu disebabkan karena dirinya, saat itu karena usianya masih belia, ia tak mengerti tentang apa yang terjadi namun empat tahun setelah itu dirinya bisa mengerti kejadian hari itu.


Lan Lihua menggenggam erat kalungnya, terlihat jelas airmatanya mulai mengalir tipis. Leluhur Lan yang berada tak jauh darinya hanya membuang muka pelan seolah tak menghiraukan apa yang akan dikatakan Lihua.


"Jika saja aku tak terlahir ke dunia ini, ayah dan kakek tak akan mengalami hal buruk seperti ini. Meskipun aku tau, jika kakek ingin,-!! Dengan kekuatannya cukup mudah untuk membinasakan seluruh orang yang terlibat, namun aku juga sadar bahwa jika itu dilakukan, sama saja dengan membantai seluruh anggota keluarga hanya demi seorang anak angkat yang lemah."


Isakan tangis Lihua terdengar lirih yang menghentikan perkataannya. Disisi lain, Tan hao mulai memahami garis besar masalah yang terjadi namun belum bisa mengetahui alasan yang jelas mengenai penyebab semua itu.


"Sudah aku bilang berulang kali bahwa itu bukanlah salahmu, mereka saja yang tak memahami seberapa berharganya dirimu. Aku tak pernah sekalipun menyimpan dendam pada Pemimpin maupun anggota keluarga yang ada. Aku juga tak mempermasalahkan di coretnya aku dari daftar leluhur keluarga dan Feng Zhenzu dari daftar calon pemimpin selanjutnya. Ini semua aku anggap setimpal, sebab dirimu lebih berharga dari apa yang telah di ambil dari kami."


Leluhur Lan menyanggah cepat kesedihan Lan Lihua dengan tegasnya. Reaksinya membuat Tan hao semakin memahami arah penyebab masalah itu. Tan hao merasakan dalam pikirannya Ribuan pengetahuan secara berurutan bersamaan yang saling berkaitan tiba-tiba memenuhi setiap sisi kepalanya.


"Giok Dewi Bulan,-!! Kalung yang kau pakai adalah Benda Dewa peninggalan Dewi Teratai Kesucian Yu Huanran. Benar yang dikatakan Leluhur Lan, kau tidaklah cacat, tapi bahkan kau lebih berharga dari seluruh harta yang ada di benua ini.-!! Jika aku tak salah, kau merupakan Reinkarnasi Dewi Kehidupan yang memiliki kemampuan istimewa, Pembalik Kematian."


Apa yang dikatakan Tan hao membuat Leluhur Lan tersedak nafasnya sendiri, ia terkejut tak menyangka bahwa rahasia besar itu nyatanya di ketahui oleh seorang pemuda yang baru saja siuman dari sekarat. Leluhur Lan memandang serius Tan hao, ia paham benar. Dari cara Tan hao menyampaikan apa yang diketahuinya, Leluhur Lan menilai pengetahuan yang dimiliki Tan hao bukanlah pengetahuan sederhana dari pembelajaran selama bertahun-tahun.

__ADS_1


Sedangkan Lan Lihua hanya memandang dengan sayu tak memahami maksud perkataan Tan hao.


Tan hao menyadari reaksi Leluhur Lan dan langsung melanjutkan bicaranya.


"Kakek tak perlu khawatir, Yang selama ini kakek tunggu kini telah ada di hadapan kakek tanpa disengaja,-!! Bukankah kakek Lan seharusnya sudah sadar jika tubuhku telah menyatu dengan Kitab 1000 Kehidupan. Hheihh."


Leluhur Lan terkejut bukan main sampai merasa nyawanya seakan ingin meloncat keluar, raut wajahnya begitu pucat. "Kau adalah yang di ramalkan,-!! Sungguh aku tak menyangkanya selama ini, ohh ya Tuhann.."


Lan Lihua menatap dengan bingung keduanya secara bergantian. Ia tak bisa mengerti tentang apa yang dibicarakan keduanya.


Tan Hao mengangguk pelan kemudian melanjutkan perkataannya.


"Seharusnya penyebab kultivasi Nona Lihua stagnan dan cenderung tidak stabil yang salah diartikan sebagai sebuah kecacatan adalah Segel Hati yang terdapat di dalam tubuhnya, jika aku tak salah mengira. Leluhur Lan selama ini berusaha mencari cara untuk membukanya namun sampai saat ini belum menemukannya, benar,-!!"


Sekali lagi Leluhur Lan dibuat terkejut hingga terdiam seribu bahasa, ia tak menyangka pengetahuan puluhan tahunnya kalah telak dari seorang pemuda berusia belasan tahun.


Memang benar apa yang dikatakan Tan Hao itulah penyebab Leluhur Lan diam dengan wajah setengah menunduk.


"Semuanya,-!! Makan malam telah siap."


Belum sempat Leluhur Lan mengatakan sesuatu, Feng Zhenzu datang dengan membawa nampan besar berisi daging panggang Kijang Rusa.


Kedatangannya membawa makanan membuat suasana menjadi canggung.


"Ehh, apakah kedatanganku tidak tepat," Feng Zhenzu menyadari reaksi ketiga orang yang sedang duduk terdiam.


Tan hao dengan segera berusaha mencairkan suasana.


"Tidak paman, aku telah menunggumu sejak tadi. Aku sudah tidak sabar untuk menikmati masakan Paman Feng yang kelihatannya sangat lezat ini, benarkan,-!! Leluhur Lan,-!! Nona Lihua,-!!"


Keduanya terhenyak sejenak kemudian menunjukkan senyum lebar yang dipaksakan secara bersamaan.


"Ya benar. Aku sudah kelaparan sejak tadi, sebaiknya kita sempurnakan dulu makanan ini" kata Leluhur Lan disertai gerakan tangan mengusap perut.


"Ah iya, aku juga merasa lapar, ayah? Mari kita nikmati makan besar kali ini,-"


Tentu saja Feng zhenzu menyadari apa yang ditunjukkan ketiganya tidak sesuai dengan apa yang sedang mereka pikirkan dan rasakan. Namun Feng tidak ingin mengulik, ia berpura-pura tidak memahami situasi serius yang baru saja terjadi. Dalam hatinya, Feng berencana akan ikut pembicaraan setelah menyantap makan malam.


Feng Zhenzu hanya tersenyum getir ketika melihat gerakan tangan mereka sedikit kaku ketika mengambil daging.

__ADS_1


"Hei, yang benar saja,-!!. Cuci tangan dulu dong."


Feng zhenzu berseru dengan wajah konyolnya berusaha mencairkan kecanggungan situasi yang ada.


__ADS_2