Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 194 ~ Kota Zhongnan


__ADS_3

Sebelumnya, Tan Hao memang sengaja menghubungkan dimensi tersebut dengan wilayah hutan tak jauh dari kota untuk menghindari masalah jika sampai ada yang melihatnya.


Han Xue tak lagi bertanya apapun, kini dirinya terdiam dan hanya mengikuti Tan Hao yang kini berjalan lebih dulu.


Tak butuh waktu lama mereka telah sampai di depan pintu gerbang kota area luar. Terpampang jelas plakat yang menggantung bertuliskan Kota Zhongnan.


Banyak dari para pedagang atau para pengelana biasa berada di luar pintu gerbang untuk menunggu giliran pemeriksaan sebelum diijinkan masuk oleh petugas jaga.


Meskipun terdapat dua tempat pemeriksaan tetapi karena banyaknya pengunjung menjadikan barisan orang-orang tersebut memanjang.


Kota Zhongnan tergolong kota besar meskipun wilayahnya dekat dengan perbatasan antara Benua Naga, walaupun masih kalah besar dibanding Kota Shuning tetapi perekonomian serta pembangunan di kota ini selangkah lebih maju dari kota lain dibawah kekuasaan Kerajaan Shio.


Peran penting para bangsawan dan keluarga besar yang berkuasa di dalamnya yang membuat kota ini sangat makmur, tak ada satu kekurangan apapun. Warga asli kota ini juga tak ada yang berakhir menjadi budak, mereka semua memperkerjakan orang-orang dari luar kota maupun desa sekitar.


Tembok kota terlihat berdiri kokoh, tidak terlalu tinggi namun setiap jarak tertentu terdapat satu orang penjaga yang berdiri diatas tembok. Mereka merupakan pasukan militer pengaman kota dibawah perintah walikota.


Bendera merah bertuliskan Zhongnan berkibar tepat di atas tempat pemeriksaan, Tan Hao mengamati semuanya penuh ketelitian tinggi walaupun ia bersikap santai seolah acuh dengan semua itu.


Ada empat barisan yang memanjang sementara Tan Hao berada di barisan kedua berbeda dengan Lan Lihua dan Han Xue yang berada di barisan ketiga.


Suasana cukup riuh yang diisi oleh berbagai perbincangan satu sama lain, mereka semua nampak sesekali tertawa dalam perbincangan. Menurut Tan Hao, itu bukti kalau situasi kota dalam keadaan aman.


'Bangsawan Du Tianxing ini seberapa berpengaruhnya di dalam kota? Aku penasaran, ada berapa bangsawan yang mendiami kota ini...! Aku rasa tidak mungkin jika tidak ada gerakan di belakang layar, kota ini megah dan memiliki potensi yang besar. Sebaik apapun para bangsawan itu, tidak mungkin jika berbuat baik tanpa tujuan!' Tan Hao membayang sementara pandangannya terarah ke dalam pintu gerbang yang sedikit terlihat aktifitas didalamnya.


Beberapa kali sempat terjadi keributan kecil saat ada orang-orang yang tak lolos pemeriksaan. Tan Hao tersenyum tipis ketika penjaga keamanan secara sigap mengatasi hal tersebut. Hal itu membuat antrian tidak tertunda.


Tak berselang lama, giliran Tan Hao yang akan diperiksa dan dimintai keterangan, sementara Lan Lihua dan Han Xue nampak belum memiliki giliran.


"Mana Token mu?" tanya salah satu petugas periksa yang duduk sembari menghadap meja bersama beberapa tumpukan kertas.


Tan Hao terlihat seolah bingung ketika petugas itu bertanya, "Token apa? Aku tidak memilikinya...?"

__ADS_1


"Oh, orang biasa rupanya! Siapa namamu, asalmu dan keperluanmu? Berapa hari yang kau butuhkan?"


Petugas periksa yang memiliki perawakan kurus kering itu menatap Tan Hao begitu sinis, terlihat kalau ia meremehkan.


'Pakaian bagus, rupa juga lumayan tapi sayangnya orang biasa. Kenapa akhir-akhir ini banyak sekali orang yang berpenampilan seperti pendekar dan bangsawan. Cih ... Kurang kerjaan,' petugas periksa tersebut memicingkan mata kala melihat Tan Hao.


Pada saat yang sama, Tan Hao sendiri tersenyum tipis. Entah kenapa ia seperti bisa membaca apa yang dipikirkan petugas tersebut, 'Jika aku menggunakan Token Naga Emas dari Asosiasi Menara Emas, takutnya terjadi keributan besar disini. Ah, sudahlah ... Jadi orang biasa sesekali juga tak terlalu buruk, kan!'


"Tan Hao, dari Kota Foshan. Singgah disini hanya ingin membeli beberapa ekor kuda. Mungkin butuh waktu dua hari,"


Petugas tersebut mengamati Tan Hao dari atas sampai bawah dalam sekali pandang sebelum melakukan gerakan seperti menulis.


"Baiklah, gunakan waktumu dengan baik! Jangan melakukan hal yang menyulitkanmu sendiri,"


"Selanjutnya ...!"


Tan Hao tersenyum ketika mendapat saran dari penjaga itu sebelum melangkah memasuki pintu gerbang kota bagian luar.


"Minggir dari jalan...! Jangan menghalangi jalan Tuan Muda Jun Mehui!"


Seorang pendekar berkuda yang memegang pedang di tangan kanannya berseru lantang sembari menyibak antrian. Dibelakangnya nampak diikuti sebuah kereta kuda dan terdapat sebuah lambang berbentuk lingkaran bertuliskan Jun.


"Eh, bukannya itu si sombong Mehui dari Keluarga Jun!"


"Ya, kudengar dia baru pulang dari berburu siluman buas di hutan Benua Naga! Lihatlah kesombongannya itu,"


"Sstt ... Pelankan suara kalian jika masih ingin memiliki kepala! Jangan menyinggungnya, dia sudah berada di tingkat Pertapa Angin tahap puncak. Lagipula, posisi Keluarga Jun cukup berpengaruh di area luar kota Zhongnan ini,"


Beberapa orang saling berbisik satu sama lain, tatapan mereka terlihat sangat tidak ramah. Dan lagi, pengawal kereta kuda itu berlaku kasar, bahkan tidak menghormati seorang pria sepuh dari kalangan warga biasa yang berjalan menggunakan tongkat kayu.


Lan Lihua dibuat geram dengan perlakuan salah satu pengawal tersebut yang menendang pria sepuh tersebut dari atas kuda hingga terpelanting ke tanah.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang lagi, Lan Lihua menghampiri pria sepuh tersebut yang terjatuh tepat di depan kereta kuda.


"Kakek tidak apa-apa? Hati-hati kek, biar aku bantu kakek untuk berdiri," Lan Lihua merendahkan posisi tubuhnya sembari memegang kedua bahu pria sepuh itu.


Terang saja apa yang dilakukan Lan Lihua tersebut menarik perhatian banyak orang termasuk petugas pemeriksaan. Mereka sama terkejutnya dengan keberanian Lan Lihua yang seolah tidak menghiraukan pemilik kereta kuda tersebut.


Tan Hao tersenyum kecut melihat tindakan Lan Lihua sembari menggelengkan kepala, "Hua'er...! Hehe masalah apa lagi yang kau berikan padaku? Apa tidak bisa menjadi gadis yang penurut! Heh ...!"


Perbincangan kecil segera memenuhi tempat itu, mereka semua membicarakan hal yang sama. Disisi lain, Han Xue terdiam mematung sembari menundukkan kepalanya.


"Kurang ajar! Beraninya kau menentang Tuan Muda Jun Mehui! Wanita tidak tahu di untung ... Kalian, bereskan dua orang sampah ini!" teriak pengawal yang menendang pria tua itu sambil mengacungkan pedang memerintah bawahannya.


Lima orang pengawal berpakaian sama yang berada di sekeliling kereta kuda bergerak cepat mengepung Lan Lihua sambil menghunuskan tombak mereka.


"Berhenti...!" seru seseorang dari dalam kereta kuda sebelum kemudian ia keluar.


Pengawal yang tadinya mau menghujamkan tombak mereka, berhenti bersamaan saat hanya beberapa jarak dari muka wajah Lan Lihua yang menatap tajam.


"Apa yang kalian lakukan pada gadis manis sepertinya...! Turunkan senjata kalian," perintah laki-laki itu yang diketahui bernama Jun Mehui.


Para pengawal langsung menarik kembali senjata mereka kemudian bersikap tegak, sementara Jun Mehui berjalan menghampiri Lan Lihua.


"Ayo kakek kita pergi dari sini...!" kata Lan Lihua sembari membantu pria sepuh tersebut berdiri dan kemudian memapahnya untuk meninggalkan tempat itu.


"Hei ... Mau kemana kau? Aku telah menyelamatkanmu, bisakah kau memberiku muka? Perkenalkan, aku Jun Mehui. Pewaris utama Keluarga Jun di Kota Zhongnan area luar."


Jun Mehui memperkenalkan diri, tetapi gerak tubuh maupun tangannya seolah menunjukkan keangkuhan sedangkan ekspresi wajahnya jelas terlihat sombong.


Lan Lihua tidak menghentikan langkahnya yang masih terus membantu pria sepuh itu menyeimbangkan tubuh, "Aku tidak tertarik denganmu,"


"Kau?!" geram Jun Mehui terkejut sinis.

__ADS_1


Lan Lihua benar-benar telah berhasil mengambil perhatian semua orang yang ada di tempat itu dengan sikap dan tindakannya. Terlebih keberaniannya dalam menjawab.


__ADS_2