
Mata merah Shan Wa menatap Tan Hao begitu tajam seakan tatapan itu sebuah panah yang mengunci sasarannya. Suasana hening tercipta antara keduanya, tak ada gerakan apapun dan hanya saling pandang untuk beberapa saat.
"Fiuuhh ...!"
Shan Wa menaikkan sebelah alisnya melihat Tan Hao memegang cincin di jarinya sembari menghela napas, ia tak tahu jika Tan Hao paling tidak suka campur tangan orang lain saat dirinya bertarung tetapi suka mencampuri pertarungan orang lain ketika ia sedang bosan.
"Katakan pada orang yang memberimu perintah, yang lemah ini tidak keberatan jika harus membunuh hewan peliharaannya. Kau tahu...! Kau sangat menjijikkan ...!" lontar Tan Hao sembari mengeluarkan Pedang Dewa Hampa dari cincin dimensinya.
"Hng?! Kurang ajar...! Ngokk ... Akan ku cincang mulut busukmu itu!"
Shan Wa menghentakkan sebelah kakinya yang memakai gelang giok hijau. Hentakan itu menyebabkan tanah disekitar retak cukup lebar, mata merahnya bertambah merah menahan amarah karena perkataan Tan Hao.
Disisi lain, Yan Chui membelalak lebar melihat pedang yang digenggam Tan Hao. Ekspresi wajah yang seolah mengetahui itu adalah pusaka yang memiliki kualitas diatas kualitas suci, membuatnya cukup lama tertegun.
"Aku tahu, aku tahu...! Kenapa kakak terkejut begitu? Dalam Manuskrip kitab Enam Dewa Naga, pedang itu disebut Pedang Dewa Hampa. Tapi itu masih tertahan di kualitas suci, lagipula jika tak memiliki kitab Ilusi Dewa Yaoshan, pedang itu hanya setingkat senjata suci tingkat atas. Kata guruku, itu bukan masalah! Tidak masalah ...!"
"Heh! Kau jangan terlalu percaya diri begitu, cakram kadal milikmu bukan tandingannya, jika pedang itu telah mencapai tingkat tertinggi!" geram Yan Chui mendengar Yan Mu seperti meremehkan pengetahuannya.
"Cakram kadal ya! Hihi ... Tapi itu masih lebih baik daripada pisau buah milikmu, kak! Haha ...."
"Anak busuk! Mulutmu benar-benar menyebalkan! Setelah kita gagal mengambil Zirah Naga Suci yang hilang entah kemana, aku pikir pedang itu lebih dari bagus sebagai ganti kegagalan kita, bagaimana menurut gurumu? Apakah itu masalah!" ejek Yan Chui diselingi tawa kecil.
Yan Mu tidak menjawabnya dan hanya melirik tipis sembari masih tersenyum ramah, tetapi Yan Chui menyadari kalau lirikan mata itu mengisyaratkan hal sebaliknya.
"Aku bosan! Ayo kita tunggu orang itu di dalam saja!" kata Yan Mu sejenak kemudian menghilang bagai asap, sedangkan Yan Chui mengamati Tan Hao sekali lagi kemudian menghilang menyusul Yan Mu.
"Kau di depan mata dewa hanya seekor semut! Dan di depan pedang ini, kau sudah tak memiliki nyawa lagi ...."
JURUS ILUSI : JEBAKAN HAMPA
DDUUAAR ...
__ADS_1
NGING ... NGING ...
SWOSH ...
Ledakan energi tercipta ketika Tan Hao menggunakan pedangnya menyibak udara, jelas itu bukan hal percuma. Tekanan yang ditimbulkan membuat Shan Wa kehilangan kesadaran dan masuk kedalam kubah ilusi Tan Hao.
"Apa ini? Dimana bedebah sialan itu...! Beraninya bermain trik kotor seperti ini, Cuih!"
Ribuan pedang tiba-tiba muncul dari berbagai arah, bukan hanya itu saja. Pedang-pedang itu bisa memanjang dan memiliki gerigi tajam. Shan Wa menatap serius serangan tersebut, ia cukup percaya diri jika dilihat dari ekspresi wajahnya.
PEDANG IBLIS : SABETAN PEMENGGAL JIWA
NGUNG ...
SROOSH ...
BLARR ... BLARR ... BLARR ...
"Trik macam apa ini? Ah ... Kurang ajar!" gerutunya sembari menangkis menggunakan pedang dan cakarnya.
Tan Hao melangkah mendekati Shan Wa cukup santai, setelah sebelumnya menyadari dua orang yang mengamatinya dari puncak menara sudah tidak ada lagi.
WHUNG ... WHUNG ...
BLZZZT ...
"Jangan sekarang! Aku masih butuh bantuanmu untuk melawan mereka berdua!"
Pedang Dewa Hampa bergetar digenggaman Tan Hao, hal itu bukan tanpa alasan. Bergetarnya menandakan bahwa waktu penggunaan akan segera habis, dan itu jelas dari tingkat kekuatan yang dipergunakan Tan Hao memang sangat rendah untuk bisa mengontrol pusaka dewa tersebut.
Sepeninggal Pedang Dewa Surgawi yang ternyata adalah Naga Suci yang juga merupakan Naga Pemangsa Iblis ke Istana Naga Langit, menjadikan Pedang Dewa Hampa satu-satunya pusaka terkuat yang dimiliki Tan Hao walaupun selama ini dirinya jarang sekali menggunakannya sebab kekuatannya belum lah mencapai tahap maksimal untuk bisa mengendalikan pedang milik Dewa Yaoshan semasa di Alam Bumi tersebut.
__ADS_1
"Raja Katak Gunung...! Akhir hidup yang menyedihkan, seharusnya kau bisa melihat mana yang baik dan mana yang buruk, kau sebagai penguasa wilayah dataran pegunungan ini ... Mengecewakan!"
TRAANK ...
SROOSSHH ...
Kepala Shan Wa terpisah dari tubuhnya ketika Tan Hao menyibakkan Pedang Dewa Hampa yang memanjang seperti cambuk bergerigi itu, darah mengucur deras dari leher yang terpotong urat nadinya. Sejenak kemudian tubuh Shan Wa tersungkur tanpa mampu memberi perlawanan.
Tan Hao hanya menggeleng kepala pelan melihat mayat Raja Katak Gunung itu kemudian menyimpan kembali pedang dewa hampa ke dalam cincin dimensi sembari menoleh kearah menara.
"Terlalu lama bermain disini membuat waktu berlalu sia-sia! Eh ...?"
Tan Hao tersentak kaget ketika ia tersadar jika ada orang lain lagi yang tengah mengamatinya, aura keberadaannya yang setipis udara membuat Tan Hao hampir tidak bisa mengetahuinya.
Tanpa menoleh untuk mencaritahu dimana orang tersebut, Tan Hao hanya mengandalkan Mata Dewa dan Insting Dewa untuk melacak keberadaan orang itu yang menurutnya tak terlalu jauh dari tempatnya saat ini.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian samar-samar Tan Hao melihat terdapat aura berupa cahaya redup berwarna emas kehitaman berada diatas sebuah pohon dibalik cabang pohon yang bercabang dua, hanya beberapa belas meter dari posisinya.
"Seperti yang diharapkan! Kau mampu mengetahui keberadaanku walaupun terlambat menyadarinya, heh! Bagaimana kabarmu, anak muda?"
Tan Hao mengernyitkan dahi ketika sebuah suara berada di dalam kepalanya, hanya sesaat saja dan Tan Hao mengenali suara tersebut membuat ekspresinya berubah.
"Kakek pengemis! Kau kah itu ...?" panggil Tan Hao agak keras sembari menoleh kearah yang sebelumnya ia ketahui.
"Hahaha...! Ingatanmu cukup baik rupanya. Aku bukan bermaksud mengganggumu, hanya saja aku seperti harus mengingatkanmu soal orang yang melihat pertarunganmu tadi," balas seorang yang memiliki camping lebar serta mengenakan pakaian yang penuh jahitan tambahan di bajunya sembari melompat turun mendekati Tan Hao.
"Mengingatkanku! Apa maksud kakek...? Oh ya, hormat kakek Fang ...!" salam Tan Hao sembari setengah membungkuk setelah sebelumnya merasa heran dengan perkataan pengemis tersebut.
"Oh! Tak perlu seperti itu, aku hanya seorang pengemis yang kebetulan lewat saja, hahaha...!" kelakarnya sembari berkacak pinggang.
"Maksud Kakek Fang, mengingatkanku tentang apa?" tanya Tan Hao serius, merasa penasaran dengan apa yang belum ia ketahui.
__ADS_1
"Ah ... Soal itu! Begini ... Orang yang terlihat seumuranmu itu sebenarnya memiliki usia yang lebih tua dariku. Aku pernah sekali bertarung dengannya beberapa puluh tahun lalu dan berakhir tanpa pemenang. Saat itu, dia hanya memiliki kitab Enam Dewa Naga dan sudah hampir mencapai kekuatan sempurna ...." terang pengemis yang memiliki nama Fen Fang itu, namun tiba-tiba berhenti dan memandang Tan Hao.