Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 205 ~ Jalur Jalan Tengah


__ADS_3

Selesai membaca setengah isi dari buku bersampul biru tua, raut wajah Tan Hao telah kembali, tidak setegang sebelumnya tetapi pikirannya masih merasa rumit.


Isi yang terkandung di dalam buku tersebut membahas tentang sebuah klan di alam atas yang memiliki hubungan dengan Dewi Yu Huanran, hal itu sangat wajar sebab Yao Liu merupakan orang kesetiaan dari Dewa Yaoshan dan Dewi Yu Huanran.


Semua bukunya selalu berhubungan dan menyoal tentang kedua Saint Murni tersebut, perlu di ketahui jika tidak semua buku dia tulis sendiri melainkan ia kumpulkan saat masih di alam atas.


Klan Malaikat Suci merupakan satu diantara tujuh klan yang menguasai alam atas. Menurut yang tertulis, klan tersebut memiliki Saint Sejati lebih dari seribu orang. Jumlah yang lumayan banyak tetapi kalah banyak dibanding ketiga klan lainnya, peringkatnya sendiri hanya di peringkat ke empat klan terkuat.


"Petarung alam atas juga memiliki tingkatan, aku kira semuanya sama hebatnya!"


Tan Hao masih membaca lembar yang sama, kini ia mengetahui tentang tingkatan seorang saint dari penjelasan yang ada di buku tersebut. Meskipun dirinya percaya diri akan mampu sampai menembus tingkatan Saint Suci seperti ayahnya, tapi perhatiannya tertuju ke arah Lan Lihua.


"Bagaimana cara membangkitkan kekuatan Saint-nya? Bahkan dia belum sampai di tingkat Half-Saint! Bing Long bukan menjadi inti rohnya tetapi pelindung sekaligus pendukung kekuatannya, sampai saat ini bahkan Hua'er hanya berada di Pertapa Bumi," Tan Hao berujar sekaligus mengamati lembaran buku disaat yang sama mengamati Lan Lihua.


Pemikirannya terganggu saat angin kencang tiba-tiba datang, awan yang semula bersih menampakkan cahaya bulan kini tertutup awan gelap.


'Sepertinya akan hujan! Aku harus mencari tempat berteduh untuk Hua'er!' Tan Hao memasukkan kembali semua buku yang ada dan menyelipkan buku biru tua tersebut di dalam pakaiannya, setelah itu ia kembali membopong Lan Lihua.


"Kakek! Ayo kita pergi, hujan mungkin akan segera datang!" seru Tan Hao mengajak Fen Fang yang tengah bersandar dengan mata terpejam.


Fen Fang tersadar dan kemudian mengikuti Tan Hao yang lebih dulu melayang menuju Kota Shaoguan. Untuk beberapa hal, Tan Hao telah mengetahui tentang Kota Zhongnan. Setelah semua yang terjadi, ia tak ingin terlalu lama berada di kota tersebut.


Identitas Han Xue juga telah ia ketahui, untuk sekarang ia membiarkan. Tapi Tan Hao berniat akan mengurusnya setelah menyelesaikan masalah di kota kerajaan.


Posisi dirinya saat ini hanya berjarak tiga kota lagi untuk sampai di Sekte Tujuh Tombak Emas, dengan kecepatan tertingginya seharusnya Tan Hao akan sampai tak lebih dari dua hari penuh. Namun keadaan Lan Lihua tak memungkinkan untuk itu.


"Kita akan kemana? Bukankah ini mengarah ke pusat Kota Shaoguan? Apa benar kita akan kesana tengah malam begini? Aku rasa penjaga kota tak akan mengijinkan kita masuk!" tanya Fen Fang.


"Tenang saja! Kita akan bisa masuk dengan mudah tanpa harus melalui cara jahat! Aku pikir disana pasti ada kantor cabang Asosiasi Menara Emas. Kita akan kesana,"


Jarak yang seharusnya ditempuh dalam dua hari perjalanan biasa, Tan Hao tempuh tak lebih dari sepertiga malam. Tak ada yang lebih mengkhawatirkan saat ini dibanding kondisi Lan Lihua, Tan Hao khawatir jika luka Lan Lihua akan terkena air hujan, maka dari itu ia mempercepat laju terbangnya diikuti Fen Fang.

__ADS_1


Dan benar saja, suara guntur menggelegar di kejauhan. Langit malam menjadi sangat gelap tertutup awan hujan, wilayah Kota Shaoguan yang merupakan dataran tinggi kerap kali terjadi hujan lebat pada malam hari sedangkan pada siang hari, panasnya udara sangat tinggi terlebih hembusan angin kering yang membuat kota Shaoguan terkenal dengan suhu tingginya.


Saat Tan Hao telah melewati hutan perbatasan, terpampang jelas wilayah luas tanpa tumbuhan satu pun. Bangunan yang terbuat dari tanah liat terlihat jelas dari sinar cahaya yang berada di dalam dinding kota.


Tan Hao terbang seperti sedang beradu kecepatan dengan air hujan yang telah mulai jatuh, sampai bunyinya sangat jelas terdengar yang disertai suara guntur dan kilatan petir.


Tak berselang lama, keduanya telah sampai di depan gerbang kota. Terlihat penjagaan begitu ketat, terhitung ada beberapa orang yang berjaga di dalam gerbang dan lainnya berada di atas tembok kota.


Tan Hao dan Fen Fang memutuskan untuk jalan kaki begitu sampai, mereka tak ingin menarik perhatian berlebih jika tiba-tiba datang begitu saja tanpa terlihat sebelumnya.


"Kalian siapa? Darimana?" tanya salah seorang penjaga.


"Kami pengelana yang sedang membutuhkan tempat berlindung sementara! Bisakah kami masuk?" jawab Fen Fang sembari mendekati penjaga tersebut.


Sementara Tan Hao mengamati penjagaan dengan teliti, ia menggunakan mata dewa tahap satu untuk melihat lebih jelas dan detil.


'Penjagaan kota sekuat ini? Ancaman seperti apa yang sedang mereka tunggu?' Tan Hao bisa melihat di dalam tembok kota juga terdapat puluhan penjaga yang memiliki kekuatan setidaknya Pertapa Ahli dan beberapa dari mereka memiliki basis kekuatan Pertapa Bumi.


Jika tubuh Lan Lihua tak terbalut jubah, sudah pasti luka bakarnya terkena air dan ramuan yang di berikan Fen Fang akan jadi tidak berguna sebelum khasiatnya terserap sepenuhnya.


Tan Hao berjalan mendekat sambil terus membopong Lan Lihua, "Kenapa dengan kota ini? Kami hanya ingin masuk, apa kalian tak melihat ada yang sedang terluka disini?"


"Aku tidak ingin mengambil resiko! Bisa saja kalian Manusia Ular Gurun yang sedang menyamar...! Jadi sebaiknya kalian berbalik,"


Perkataan penjaga tersebut dibarengi dengan sikap siaga oleh beberapa penjaga di belakangnya, Fen Fang merasa geram dan terlihat hampir kehilangan kesabaran.


Merasa tak ada gunanya berdebat, Tan Hao mengeluarkan Token Naga Emas yang telah ia persiapkan sebelumnya.


"Kau! Kalian orang-orang dari asosiasi? Kenapa tidak menunjukkannya sejak tadi! Kalian masuklah, aku akan memanggil yang berwenang untuk ini!"


Penjaga itu melonggarkan penjagaan sembari meminta Tan Hao untuk masuk kedalam gerbang yang memiliki atap layaknya pagoda bertingkat dua. Meskipun mengenali token tersebut tetapi kelihatannya penjaga itu tak mengetahui seberapa berharganya token pengenal yang memiliki tulisan emas itu.

__ADS_1


Begitu Tan Hao masuk, hujan lebat di barengi angin kencang datang begitu saja. Seolah langit menahan airnya hingga Tan Hao menemukan tempat berlindung.


"Kakek! Apa itu Manusia Ular Gurun? Apa itu sejenis Hewan Buas atau Siluman Buas?" tanya Tan Hao setelah penjaga yang tadi menghadangnya pergi melapor.


Fen Fang yang masih merasa geram dan memandang tajam semua penjaga yang ada di gerbang tersebut melunak mendengar pertanyaan Tan Hao, "Mereka berwujud manusia setengah ular, mereka tak memiliki kaki. Keberadaan mereka tak diketahui dimana markasnya tetapi banyak yang sudah menjadi korban keberingasan mereka. Sejauh yang aku tahu, Manusia Ular Gurun memiliki seorang ratu yang bisa berubah wujud seperti manusia normal dan bisa seperti seekor ular besar. Selain itu, terdapat tujuh jenderal ular yang menjadi tangan kanannya. Mereka bertujuh memiliki kekuatan di atas Pertapa Alam Semesta,"


Tan Hao merasa penasaran dengan apa yang diketahui Fen Fang, ia membaringkan Lan Lihua di kursi panjang yang biasa digunakan oleh petugas pemeriksaan.


"Jadi mereka itu masih manusia? Apa kakek pernah bertemu ratu mereka?" tanya Tan Hao sembari menambah jubah untuk menyelimuti tubuh Lan Lihua.


"Bisa dibilang begitu, asal usul mereka tak begitu jelas. Aku sendiri selama ratusan tahun berkelana dan melewati gurun itu ribuan kali, sekalipun tak pernah bertemu hanya saja aku pernah sekali berhadapan dengan salah satu jenderal ular. Saat itu aku sedang di kejar oleh Yu Shan beserta rekan-rekannya dan melarikan diri melewati gurun itu. Siapa sangka ternyata aku malah masuk wilayah timur dari istana ular yang di jaga oleh salah satu jenderal ular. Meskipun tak sampai bertarung tetapi aku mengorbankan banyak sumber daya yang aku curi waktu itu untuk negosiasi tempat persembunyianku, hmm ...!"


Cerita Fen Fang terhenti ketika seseorang berpakaian khas asosiasi datang bersama penjaga yang sebelumnya menghadang.


"Apa kau orang yang memiliki token asosiasi? Boleh aku lihat?" tanya orang itu pada Fen Fang.


"Bukan! Orang yang kau maksud itu dia!" Fen Fang menggeser posisi berdirinya sembari menunjuk Tan Hao.


Orang itu terkejut sesaat sambil tersenyum, "Oh maaf! Bisakah aku melihat token milikmu, Tuan!" pintanya sekali lagi sambil membuka telapak tangannya sambil tersenyum.


Tanpa menjawab, Tan Hao memberikan token tersebut dengan memasang wajah datar.


"I-ini...!"


Begitu menerimanya, orang itu terbelalak hingga tangannya gemetar memegang token yang terlihat jelas tulisan "Tan Haochun Bintang Dua" berwarna emas gelap.


'Kayu Naga Emas bintang dua! Oh ya Tuhan ... Selama hidup mengabdi, baru kali ini aku bertemu orang sepenting ini. Nona Fen Lian saja aku tidak pernah punya kesempatan bertemu, tapi sekarang malah lebih tinggi posisinya. Aku harus menjamunya dengan baik,' batin orang itu yang merupakan manager cabang Kota Shaoguan.


"Tuan Muda Tan Hao! Perkenalkan, saya Ying Yue adalah manager cabang kota Shaoguan. Mari ikuti saya, lewat sini!"


Beberapa penjaga terkejut bersamaan saat Ying Yue bersikap sopan santun dan penuh rasa hormat. Mereka semua tak mengira kalau Kota Shaoguan kedatangan tamu penting dari Asosiasi Menara Emas saat malam berada di penghujungnya.

__ADS_1


__ADS_2