Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 81 ~ Bunga Teratai


__ADS_3

Kegelapan tanpa adanya cahaya segera terhampar di depan Tan Hao dan Lan Lihua setelah keduanya sampai di dasar lembah.


Namun itu bukan menjadi halangan bagi Tan Hao, sebab Mata Dewa miliknya mampu melihat keseluruhannya meskipun tanpa cahaya sedangkan Lan Lihua mengandalkan persepsinya.


"Hua'er,-!! Pegang tanganku. Kita akan maju sekarang." kata Tan Hao sembari memegang tangan Lan Lihua.


"Ya?! Aku tau aku tak bisa melihat tapi aku bisa merasakan semua yang ada di dasar lembah ini hanya saja tidak begitu jelas. Aku percaya padamu kak Tan,-!!" balas Lan Lihua mempererat genggaman tangan Tan Hao.


Keduanya berjalan lurus dengan yakin dan hati-hati. Sesekali Tan Hao menoleh ke kiri dan ke kanan seakan memastikan sesuatu.


Tak berselang lama mereka berjalan, tiba-tiba dada keduanya terasa sesak seperti kehilangan udara dengan cepat.


"A-apa ini?!" gumam Tan Hao tergagap.


Semakin mereka melangkah semakin juga mereka sesak dan itu semakin berat. Namun Tan Hao segera melepaskan Aura Dewa yang secepat itu pula menyelimuti keduanya.


"Sebenarnya apa yang ada disini,-!! Sampai tekanannya begitu mengerikan. Apakah memang seperti ini tekanan dari benda dewa atau ini hal lain." gumam Lan Lihua mempertanyakan pada dirinya sendiri.


Aura Dewa milik Tan Hao mampu menekan hingga setengah dari tekanan yang mereka rasakan. Tetapi disisi lain, Tan Hao begitu menderita sebab Aura Dewa membutuhkan begitu banyak energi, dan sialnya selama ini Tan Hao tak pernah sekalipun menyerap energi apapun.


Tan Hao merasa ini akan berakhir buruk jika ia kehabisan energi dan belum menemukan sumber tekanan yang menyerang keduanya.


"Hua'er?! Apa kau masih kuat,-!! Kurasa sebentar lagi kita akan segera menemukannya? Hanya saja aku saat ini tak bisa terlalu lama menggunakan Aura Dewa. Sisa energi roh yang kumiliki tinggal sedikit." kata Tan Hao sembari menahan rasa sakit ganda yang menyerang tubuhnya.


Lan Lihua tak bisa melihat kesakitan dan penderitaan yang Tan Hao alami namun ia bisa merasakan bahwa energi dalam tubuh Tan Hao semakin merosot.


"Tenanglah kak Tan,-!! Aku akan membantumu, lebih baik kita mempercepat langkah kita. Aku merasa itu ada di depan kita tak terlalu jauh." kata Lan Lihua yang memegang tangan Tan Hao dengan kedua tangannya.


Keduanya berjalan dengan sangat hati-hati memasuki gelapnya lembah yang semakin memunculkan pekatnya kabut.


Hingga membuat Energi Roh Tan Hao semakin terkuras. Disisi lain, Lan Lihua menggenggam Kalung Giok Dewi Bulan dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya berpegang erat tangan Tan Hao.


Beberapa kali mereka di buat bingung, sebab tekanan yang mereka rasakan selalu berubah-ubah arah datangnya.


Namun itu tak membuat Tan Hao mempertanyakan keputusannya yang terus maju lurus.

__ADS_1


Beberapa waktu telah mereka habiskan menyusuri gelapnya lembah dengan langkah berat.


Namun hal tak terduga terjadi ketika Tan Hao terjatuh dengan sebelah lututnya yang nampak terengah-engah.


Tan Hao berfikir, kekuatan seperti apa yang dimiliki Pusaka Dewa hingga mengeluarkan tekanan sekuat dan seberat itu. Yang bahkan dirinya merasa kepayahan menghadapinya.


Cukup lama Tan Hao mengatur nafasnya dalam posisi yang sama. Sedangkan Lan Lihua terduduk di samping belakangnya tanpa melepaskan genggaman tangannya.


Ditengah-tengah ia sedang sibuk mengatur nafasnya, muncul secerca cahaya kecil di kejauhan. Keduanya melihat secara bersamaan.


Cahaya itu berwarna ungu cerah yang nampak sesekali berkedip.


"Hua'er?! Aku sedang berhalusinasi atau memang benar disana ada cahaya,-!!" kata Tan Hao yang menyipitkan sebelah matanya dengan masih sedikit terengah.


"Memang benar disana itu cahaya. Namun, mana ada cahaya berwarna ungu seperti itu,-!!" balas Lan Lihua yang juga seolah tak percaya dengan yang ia lihat.


Keduanya cukup lama terdiam tanpa bisa membuat keputusan dengan cepat sebab kondisi keduanya tak memungkinkan untuk bertindak cepat dibawah tekanan kuat yang selalu berubah arahnya.


Andai saja, pusat tekanan tersebut berada di satu titik arah yang sama, tentu keduanya akan lebih mudah memfokuskan pertahanan diri.


Dengan berubah-berubahnya arah tekanan itu membuat tubuh keduanya seperti terhempas oleh angin yang kuat dari berbagai sisi secara acak dan bergantian.


Kejadian itu bukan hanya membuat Lan Lihua tersentak kaget, namun tubuhnya seperti ditarik dengan sangat kuat. Hingga pegangan tangannya terlepas dari Tan Hao.


"Hua'er...,-!!" seru Tan Hao yang tak bisa lagi meraih tangan Lan Lihua yang terseret cepat dengan kalung dilehernya melayang.


"Ah sial,-!!


"Aaarrrggghhh."


Pikiran dan hati Tan Hao bergejolak, membuatnya melepaskan erangan kemarahan.


Disaat itulah, muncul tanda kecil berbentuk bunga teratai di keningnya yang berwarna hitam.


Tan Hao tak menyadari itu, kemarahan yang bertumpu pada ketidakberdayaannya membuat tubuhnya mengeluarkan energi kuat yang misterius.

__ADS_1


Kedua bola mata Tan Hao berwarna putih seluruhnya dengan tubuh terlapisi energi keemasan serta tanda bunga teratai dikeningnya memunculkan guratan petir berwarna ungu yang segera setelah itu melapisi bagian luar energi tubuhnya.


Dalam ketidaksadarannya, Tan Hao melayang dengan kedua tangan mengembang serta wajah menengadah ke atas.


Sebuah energi misterius dari dalam dirinya muncul ketika ia merasa sangat marah pada dirinya sendiri karena ketidakberdayaannya dalam menghadapi kesulitan didepannya.


Energi yang sama sekali berbeda dari miliknya meskipun sama-sama berwarna keemasan. Perbedaan itu cukup mencolok sebab energi miliknya putih keemasan sedangkan saat ini berwarna keemasan murni yang menyilaukan.


Selain itu, Tanda Bunga Teratai di keningnya juga menyimpan sebuah energi besar. Energi petir berwarna ungu yang begitu mendominasi.


Dengan keadaannya saat ini menjadikan tekanan yang dirasakan sebelumnya menjadi tidak berarti.


Tak berselang lama, ia menapakkan kakinya ketanah dan berjalan kedepan dengan mantab. Seperti tidak ada penghalang maupun energi yang menekan.


Disisi lain, Lan Lihua cukup terkejut di buatnya. Sebab apa yang ia lihat setelah tubuhnya berhenti bergerak sangat mencengangkan.


Nyatanya, saat ini ia tidak berada di lembah. Seperti di dalam sebuah ruangan megah dengan ornamen yang terbuat dari emas seluruhnya.


Hal itu ia lihat dengan jelas setelah beberapa saat ia terhenti, secara bersamaan lampu-lampu kecil yang terbuat dari Api Dingin menyala bersamaan disetiap sudut ruangan.


Api dingin yang berwarna putih kebiruan itu berpusat pada kedua mata patung kepala Naga di depannya.


Patung itu terlihat begitu hidup. Lan Lihua menyangka jika tubuh patung itu berada di bawah tanah dan yang nampak hanya kepalanya saja.


Pandangan Lan Lihua teralihkan saat tak sengaja melihat tiga benda berjejer rapi yang memunculkan energi masing-masing.


Ketiga benda tersebut seperti terbungkus oleh suatu energi berbentuk kotak cerah tembus pandang.


"Pe-periuk Neraka,-!!"


Dengan cepat dan pasti, Lan Lihua mengenali salah satu benda yang letaknya berlainan sisi dengan Patung Kepala Naga.


Bagaimana tidak. Benda yang berhasil ia kenali itu merupakan benda yang di inginkan oleh ayahnya, Feng Zhenzu.


Para Peramu Obat memiliki senjata mereka sendiri yakni sebuah tungku yang membantu mereka meramu obat maupun meracik pil. Tiap Peramu Obat pasti memiliki tungku obat dengan tingkatan bervariasi.

__ADS_1


Dan yang berada di depan Lan Lihua, merupakan tungku legendaris milik ahli obat lima ribu tahun lalu yang telah lama dicari oleh para Peramu Obat.


Tidak ada yang tau pasti berada ditingkatan apa Periuk Neraka namun para Peramu Obat sepakat bahwa tingkatannya berada paling tidak di tingkat Pusaka Suci menilai dari sejarah dan catatan mengenainya.


__ADS_2