
"Heh! Jangan sombong, tombak kecil! Kita belum tahu siapa yang akan mati siapa...! Aku sudah cukup sabar, tapi sepertinya itu tak dapat membuka matamu!"
Fen Fang melepaskan tenaga dalam dengan jumlah tak kalah besar, jika dilihat sepintas aura yang terlihat terasa seperti terdapat kesedihan yang mendalam terlepas dari warnanya yang kelam.
'Jika saat ini dua puluh tahun lalu, kau akan mati tombak kecil. Aku tak mengerti, kenapa setelah selama ini masih tersimpan dendam di hatimu!'
Bayangan masa lalu terlintas dalam benak Fen Fang, terlihat ia sedang bersama seorang gadis berwajah manis dan disampingnya ada seorang pemuda yang kelihatan jauh lebih muda dibanding keduanya sedang menatap dengan senyuman lebar seolah menikmati pembicaraan itu.
'Yun'er! Kalau suatu saat nanti kau sudah cukup kuat, apa yang akan kau lakukan dengan itu?'
'Tentu saja melampauimu, aku sangat menunggu kesempatan untuk bisa mengalahkanmu nanti, dan ... Umm!'
'Hahaha, kau ini masih ingusan berpikir apa! Hahaha ... Ming Die tak akan tertarik padamu, kau tahu! Hahaha,"
Ketiganya terlihat sangat akrab, bahkan tertawa bersama selayaknya saudara. Kembali Fen Fang tersenyum tipis sambil meraih Seruling Neraka di pinggangnya.
"Kau yang memaksaku, Tombak Kecil! Aku tak akan sungkan lagi," ujar Fen Fang serius, pikirannya yang masih diliputi bayangan masa silam membuatnya kembali mengingat peristiwa itu.
Peristiwa yang sebenarnya tidak pernah ia inginkan, meskipun hatinya berontak tapi nyatanya saat itu Seruling Iblis menguasai tubuhnya secara penuh. Menjadikan dirinya seperti mayat hidup tanpa perasaan.
Jika bukan karena bantuan Pertapa Tupai yang saat itu mampu menundukkan Seruling Iblis, mungkin saat ini Fen Fang masih menjadi iblis pembantai berdarah dingin.
Tetua Jing Yun sejenak menaikkan sebelah alisnya ketika Fen Fang memegang seruling iblis, menurut ingatannya wujud seruling iblis bukan seperti yang di pegang Fen Fang saat ini, tetapi ia tidak mau mengambil resiko.
"Lapisi enam indera kalian dengan tenaga dalam, jangan bertindak sebelum aku meminta! Mengerti...!" seru Tetua Jing Yun memperingatkan kedua sahabatnya.
Raja Tempa tahu benar tentang itu, sebelum Tetua Jing Yun memperingatkan bahkan dirinya sudah melakukan lebih dulu.
__ADS_1
Tak berselang lama, Fen Fang memainkan seruling tersebut sambil seperti menari di udara dengan mata terpejam.
Bersamaan dengan itu juga, suara yang dihasilkan seperti mengandung energi kelam tak kasat mata yang menyebar ke segala arah.
SPIRIT SINGA : JIWA ROH SINGA UNGU
GROOAAR!!
Tetua Jing Yun tak tinggal diam begitu saja, segera setelah itu ia mengeluarkan spirit energinya yang berwujud seekor singa kepala ungu dengan dua taring panjang.
Singa Ungu itu melompat kesana kemari seperti memakan energi yang dihasilkan dari bunyi seruling Fen Fang.
'Ming Die, maafkan aku! Ku harap kau tak membenciku karena ini, sejak saat itu aku sangat tersiksa. Jika nanti aku menemuimu disana, kuharap kau tak mengusirku,'
Dua butir airmata Fen Fang menetes, pikirannya membayang masa silam sedang gerak tubuhnya masih mempertahankan alunan seruling yang terdengar semakin lama semakin terasa menyedihkan, menyiksa.
Jika Raja Tempa dan Kaisar obat tak segera melapisi seluruh indera mereka dengan tenaga dalam, sudah barang tentu saat ini mereka akan tenggelam dalam siksaan pedih jiwa mereka yang paling kelam.
Fen Fang memang tak benar-benar menyerang Jing Yun, sebab nada yang ia mainkan masih dibawah nada dasar dari jurus seruling iblis, itu bisa dilihat dari dampak serta efek yang ditimbulkan.
Burung disekitar mereka yang masih dalam jarak jangkauan suara seruling Fen Fang bahkan tak seketika mati, melainkan hanya seperti kehilangan arah dan keseimbangan.
Tetua Jing Yun bukannya tak menyadari hal itu, tetapi dirinya seperti seorang yang tak mau mengambil resiko dengan meremehkan sesuatu yang terlihat sederhana.
Jiwa roh Singa Ungu masih melakukan tugasnya, sementara Tetua Jing Yun sedang menyiapkan jurusnya.
'Kau sudah ku anggap seperti kakakku sendiri, sebab itulah aku tak bisa membiarkanmu terus berada dalam dunia hitam itu! Bagaimana caraku menjelaskannya nanti pada Ming Die kalau aku masih membiarkanmu menjadi iblis,'
__ADS_1
Tetua Jing Yun memegang tombaknya kuat-kuat sambil menatap lekat-lekat Fen Fang yang masih menari bebas sementara Jiwa Roh Singa Ungu terus mengikutinya sambil memakan energi kelam yang keluar dari suara serulingnya.
***
"Jika kau tak segera maju, biar kami yang maju duluan! Aku bosan menunggu dengan pemikiranmu yang lamban!" gerutu Shen Fu sambil melompat melewati Tetua Feiying, dibelakangnya diikuti Tetua Shen Lin dan Tetua Shen Gang beserta beberapa ratus anggota aliansi.
"Jangan gegabah, Tetua Fu!" pekik Matriark Zhang Weili mencoba menahan, sementara Tetua Feiying hanya diam memperhatikan.
"Kenapa kau tak mencegah idiot tua itu bertindak! Beberapa anggota sekteku bersama mereka, aku tak ingin anggota ku jadi umpan hidup!" protes Matriark Zhang Weili, terlihat ia kesal bercampur marah.
Tetua Feiying tak menjawab dan hanya melakukan gerakan mengeluarkan Tombak Jarum Rajawali-nya dari cincin bumi.
"Apa yang kau pikirkan, Senior Fei! Aku tak setuju jika kau mengorbankan mereka untuk langkah pertama ...!"
"Diamlah dan perhatikan dengan baik! Jangan dahulukan pemikiranmu sendiri," potong Tetua Feiying, terlihat jelas sorot matanya hanya terfokus pada dua orang bertopeng merah darah.
Matriark Anggrek Suci itu terdiam sembari mengubah arah pandangannya, ia menjadi lebih pendiam setelah mendengar perkataan Tetua Feiying.
Disisi lain, Yin Fen memerintahkan belasan pendekar topeng hitam dan ratusan pendekar topeng emas untuk menyambut serangan yang di komandoi ketiga tetua sekte Pedang Langit itu tanpa beranjak dari tempatnya.
"Jangan remehkan kami, sialan?!"
Tetua Shen Fu mengeluarkan jurus tenaga dalam bersamaan dengan bergeraknya pendekar topeng hitam kearah dirinya. Diikuti dua orang tetua lain yang juga langsung mengeluarkan jurus terbaik mereka.
Pertarungan pun tak terhindarkan lagi, kedua pasukan mendapat lawan masing-masing. Sementara, ketiga tetua Pedang Langit masing-masing menghadapi dua orang pendekar topeng hitam.
Suara dentuman kecil terjadi berkali-kali setelah kedua pasukan saling menyerang menggunakan teknik jurus maupun jurus tenaga dalam. Tak ada dari mereka satu pun yang menggunakan senjata, semuanya mengandalkan kekuatan fisik serta kemampuan jurus.
__ADS_1
Hal itu membuat Yin Fen tersenyum dibalik topengnya, sementara wajah serius nampak terlihat dari Tetua Feiying.
"Kapan kita ikut bertindak? Aku pikir, dengan kita diam seperti ini membuat musuh semakin memiliki banyak waktu untuk rencana mereka," tanya Tetua Tianba, yang merupakan salah satu tetua Kuil Tao di sekte Biara Kehidupan.