Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 83 ~ Peringatan


__ADS_3

"Sudah! Cukup terharunya. Aku masih harus melakukan sesuatu padamu, waktuku tak banyak tersisa."


Ucapan Dewa Yao membuat Tan Hao tergugah, ia segera setelah itu melepaskan pelukannya yang di barengi dengan senyum hangat.


Perasaan yang membaik setelah tak terduga bertemu ayahnya yang selama ini tak pernah ia kenal membuat Tan Hao berada pada kondisi penuh ketenangan.


Dewa Yao mengajak Tan Hao untuk masuk ke sebuah bangunan nan indah dengan dominasi warna ungu kemerahan. Keduanya berjalan berdampingan diatas lantai yang terbentuk dari awan.


"Tan'er! Aku hanya akan mengatakannya sekali jadi kuharap kau bisa memahami dan mengingatnya dengan baik. Setelah ini aku tak bisa lagi menemuimu karena energi rohku hanya berfungsi sekali ini saja."


Begitu sampai di sebuah ruangan yang tak terlalu lebar dengan hanya ada dua buah kursi serta meja bundar dan ornamen naga menghiasi setiap sudut ruangan. Dewa Yao mulai mengatakan tujuan ia menaruh sebagian energi rohnya di dalan ruang roh Tan hao.


"Di dunia dimana tempatmu berada sejatinya merupakan sebuah lahan latihan untukmu. Meskipun sebenarnya ini menyalahi aturan langit namun aku tidak punya pilihan lain waktu itu. Aku dan ibumu memutuskan mengirimkanmu ke dunia bawah ini agar kau bisa berlatih dengan aman tanpa ada gangguan dari musuh kami."


Tan Hao menyimak dengan baik dan terlihat begitu tenang. Dewa Yao menghentikan perkataannya disaat ia menuangkan arak ke dalam dua buah gelas serta menyodorkannya pada Tan Hao.


"Minumlah,"


Tan Hao tersenyum yang kemudian menenggaknya bersamaan dengan Dewa Yao.


"Aku melihat semua yang terjadi padamu selama ini. Long Wang sebenarnya bukanlah Raja Naga yang sebenarnya, ia hanyalah perwujudan kecil dari energi rohnya. Keberadaannya di dunia bawah tentu akan mendapat hukuman langit."


"Sejujurnya aku masih tidak mengerti tentang sistem dunia ini dan aku juga tidak memahami maksud perkataanmu, ayah?" ujar Tan Hao dengan kepolosannya yang tak dibuat-buat.


"Kau akan tau setelah benar-benar menjelajahi dunia bawah. Saat ini aku tak punya hadiah khusus untukmu, selain dari Petir Teratai Ungu yang kuberikan beberapa saat lalu, aku hanya akan menurunkan kemampuan seorang Petarung Sage. Ini berbeda dari kemampuan yang ada di dunia bawah." jelas Dewa Yao.


Tan Hao mengerutkan dahinya sejenak kemudian bertanya. "Apakah itu sama dengan kekuatan yang kumiliki sebelumnya?"

__ADS_1


Dewa Yao menggelengkan kepalanya ringan dengan senyum tipis.


"Itu hanya sebagian dari kemampuan sebenarnya yang ada pada seorang Sage di dunia atas. Gagak Raja Langit sudah menjelaskannya namun tidak rinci. Dengar? Energi spirit yang kau miliki sebelumnya merupakan kekuatan Roh tanpa proses sedangkan seorang Sage mendapatkan kekuatan Roh nya harus melalui proses penempaan diri. Penyatuan antara Roh dengan Hewan Spirit merupakan hal selanjutnya yang harus dilakukan oleh seorang Sage. Dan selama ini kau tidaklah menyatu melainkan hanya menyerapnya saja. Itu berbeda."


Tan Hao terkejut sesaat kemudian menunduk penuh tanya.


"Sebenarnya bagaimana cara kerja dunia ini? Alam bawah, Alam atas dan Alam Cahaya 12? Semuanya tidak bisa aku pahami bahkan sedikitpun tak bisa terbayangkan. Ah?" ujarnya dalam hati.


"Aku tidak menciptakan mereka karena sebenarnya aku hanya membawa telur mereka sebelum menetas saat pergi menjemput ibumu saat telah selesai menjalani pengasingan dari proses kelahiranmu. Tan'er? Dunia ini hanyalah bagian kecil dari Alam raya yang sesungguhnya. Manusia di alam bawah mengenalku sebagai seorang Dewa tetapi sebenarnya aku bukanlah dewa. Aku hanyalah seorang petarung sage dari klan menengah yang ada di alam atas yang terbuang ke dunia bawah karena suatu hal."


Tan Hao mengakhiri lamunan singkatnya kemudian memandang Dewa Yao dengan pandangan penuh penasaran. Ia kembali disodorkan arak dan diajak bersulang.


"Tujuan kami mengasingkanmu di alam bawah sebenarnya berhubungan dengan takdir yang akan kau jalani di masa depan."


"Kau harus benar-benar berlatih dengan sangat keras. Jangan mengandalkan bantuan orang lain atau bahkan menganggap semuanya mudah hingga mengabaikannya."


Perkataan Dewa Yao membuat Tan Hao teringat akan tindakannya yang dulu. Ia ingat benar telah menganggap remeh latihan dan mengandalkan kekuatan yang sudah ia miliki.


"Maksudku adalah kau harus mengetahui dan mempelajari keseluruhan apa yang ada pada alam raya ini."


Penjelasannya ia akhiri dengan tatapan tajam yang membuat Tan Hao tersentak.


"Akan kulakukan sesuai petunjuk ayah." ucap Tan Hao singkat setelah ia terkejut oleh pandangan serius ayahnya.


"Baik. Aku anggap kau sudah memahami hal ini. Selanjutnya dan yang terakhir aku akan menjelaskan sedikit mengenai apa yang ku maksud Takdir Masa Depan yang akan kau hadapi."


Tan Hao mengubah posisi duduknya seraya memindahkan gelas arak di depannya.

__ADS_1


"Dimasa depan nanti kau bersama dengan Reinkarnasi Dewi Kehidupan akan memimpin sebuah pertempuran besar dimana ada lima orang yang akan membantumu. Kalian bertujuh akan mengalami kenaikan."


Ekspresi Tan Hao tidak menentu bahkan setelah penjelasan singkat itu berakhir ia tetap menatap dengan serius.


"Tujuh orang? Lalu siapa kelima orang yang ayah maksud itu?" ujar Tan Hao setelah sesaat sebelumnya terdiam.


"Aku tidak mengetahuinya, itu merupakan bagian dari jalanmu. Kau akan menemukan mereka suatu hari nanti, mulai saat ini dan selanjutnya kau harus berlatih dengan benar." kata Dewa Yaoshan setelah berdiri dari duduknya.


Tubuh Dewa Yaoshan terlihat tembus pandang, Tan Hao mengerutkan dahi ketika menyadari itu. Namun, ia tak berusaha untuk mempertanyakannya karena lebih tertarik dengan kelima orang yang dimaksud.


"Oh waktuku sudah habis ya,-!!" batin Dewa Yaoshan.


"Mendekatlah," ujarnya dengan menggerakan sebelah tangan meminta Tan Hao untuk mendekat.


Dewa Yaoshan meletakkan ujung telunjuk kanannya ke kening Tan Hao yang sesaat kemudian memancarkan cahaya menyilaukan.


"Ehh,"


Terkejutnya Tan Hao bukan karena cahaya menyilaukan tersebut melainkan tubuhnya terasa begitu ringan namun penuh dengan tenaga.


"Aku sudah membawa kembali Gagak Raja Langit ke kondisi normalnya, dengan ini maka tujuanku telah selesai. Kami bangga memiliki putra setangguh dirimu, jadilah kuat dalam kebijaksanaan, jadilah hebat dalam kebaikan." kata Dewa Yaoshan sembari tersenyum hangat setelah melepaskan telunjuknya dari kening Tan Hao.


"Baik ayah,-!! Tan Hao tidak akan mengecawakan. Terima kasih atas segala hal yang ayah dan ibu berikan selama ini, suatu hari nanti aku pasti akan menemui ayah dan ibu." ucap Tan Hao sembari memberi hormat.


"Itu sudah tanggung jawab setiap orang tua dalam memberikan segala yang terbaik untuk anaknya." sergap Dewa Yaoshan sembari mengangkat kedua bahu Tan Hao.


"Oh dan ya? Aku hampir lupa titipan kecil ibumu. Dia sangat merindukanmu tapi tidak bisa menemuimu." ujar Dewa Yaoshan sembari memegang ringan keningnya.

__ADS_1


Setelah memberikan hadiah yang dimaksud, jiwa Dewa Yaoshan perlahan menghilang dan bersamaan dengan itu tempat Tan Hao berada juga perlahan memudar berganti ke tempat semula.


"Terimakasih ayah, ibu. Aku akan berusaha keras mulai dari sekarang. Aku pasti akan bisa memenuhi harapan kalian." batin Tan Hao yang diiringi tetesan air mata bahagia.


__ADS_2