
Leluhur Lan akhirnya telah datang dengan membawa bahan yang akan dipergunakan untuk menyembuhkan Pemuda yang saat ini tengah di temani Lan Lihua.
Feng Zhenzu amat gembira ketika menyambut kedatangan Leluhur Lan, dia merasa dengan kembalinya Leluhur Lan maka tugasnya sebagai juru racik ramuan akan berakhir.
Tak dipungkiri lagi, menumbuk ramuan setiap tiga jam sekali selama hampir empat tahun membuatnya lebih tersiksa di banding latihan kultivasi Alam Dewa.
Feng Zhenzu dengan senyum khasnya menyambut Leluhur Lan dengan membawakan barang bawaannya yang berupa buntelan kain agak besar.
"Leluhur, baru tadi pagi aku membicarakan tentang anda, bahwa bahan ramuan telah habis dan aku tak sanggup mencarinya sendiri. Aku senang ternyata tepat hari ini, anda telah kembali. Apakah ini adalah bahan yang anda butuhkan untuk mengobati pemuda itu."
Leluhur Lan hanya tersenyum tipis dibalik kumis tebalnya yang tatapan matanya tak terlihat akibat alis mata yang tebal putih itu.
"Kau benar, ini adalah bahan ramuan untuk membuatnya sadar kembali. Sekarang tumbuk itu sesuai catatan yang aku siapkan di dalamnya. Aku akan memeriksa keadaan pemuda itu sekarang dan kau lakukan tugasmu."
Feng Zhenzu tak lagi bertanya sebab ia tau benar kondisi pemuda itu, dengan cekatan ia segera menuju ruang meracik untuk menyiapkan semuanya, sementara Leluhur Lan langsung menuju kamar dimana pemuda itu tengah berbaring lemah.
Ketika Leluhur Lan memasuki kamar, Lan Lihua sangat terkejut karena senang. Namun, belum sempat ia menyapa dan berdiri untuk segera memeluknya, Leluhur Lan memberi isyarat dengan tangannya agar tetap tenang dan tidak menimbulkan suara berisik.
Lan Lihua dengan tanpa bertanya langsung menunduk, terlihat ia tersenyum getir. Bersamaan dengan itu, Leluhur Lan langsung memeriksa tubuh Pemuda itu dengan cara yang sama beberapa tahun silam. Lan Lihua dengan tenang mengamati apa yang dilakukan Leluhur Lan dan sesekali melirik wajah Pemuda itu.
Namun, beberapa saat setelah memeriksa tubuh Pemuda itu, terlihat ekspresi Leluhur Lan berubah sangat serius, bahkan Lan Lihua dengan jelas melihat perubahan itu yang juga bersikap sama hanya saja ia tak mengerti kenapa mengikuti ekspresi Leluhur Lan yang dengan tajamnya menatap wajah Pemuda itu.
"Kakek, ada apa? apakah dia telah mati,-!
Sebelum Lan Lihua melanjutkan pertanyaannya, Leluhur Lan berbicara dengan sedikit menggelengkan kepala pelan.
"Hua'er.. Pemuda ini bukan hanya jiwanya sedang berkelana namun juga sumber energinya saat ini tengah mengalami perubahan. Aku tak tau pasti, sedang apa jiwa nya saat ini, namun yang jelas hanya ada dua kemungkinan. Selamat dan sakti atau mati dan menjadi abu. Itu tergantung kesadaran hatinya, mampu menyadari dirinya sendiri atau tidak."
Lan Lihua dengan seketika menjadi galau, wajahnya sendu dan airmatanya tampak mengintip disela-sela bulu mata.
"Kakek, jika begitu bukankah apa yang kakek persiapkan akan percuma baginya."
Pertanyaan yang jelas namun nada bicaranya sedikit bergetar sambil memandangi wajah Pemuda itu dengan sendu. Lan Lihua tak mengerti kenapa hatinya begitu sakit ketika mengetahui jika bisa saja pemuda itu akan berakhir mati. Tanp tersadar, airmatanya pun menetes halus.
__ADS_1
Leluhur Lan memandangi wajah Lan Lihua sesaat kemudian tersenyum tipis. "Hua'er, sepertinya kau menyukai pemuda ini ya. Ah iya, setauku selama ini kau memang tak pernah berteman dengan seorang pemuda manapun,-!! Tapi tenanglah, bukankah kakekmu ini sudah berjanji beberapa tahun yang lalu, Pemuda ini akan kembali sehat. Jadi berhenti sedih dan bantulah ayahmu, jika telah selesai lekaslah bawa kemari."
Entah kenapa Lan Lihua tak bersikap seperti biasanya, jika sikap biasa dengan pernyataan kakeknya itu sudah pasti ia akan marah dengan umpatan kesal. Namun kali ini, ia hanya menyeka tetesan airmatanya lalu memasang wajah optimis. Lan Lihua hanya mengangguk sambil memandangi wajah Pemuda itu sesaat sebelum akhirnya ia pergi meninggalkannya untuk membantu Feng Zhenzu meracik ramuan.
Setelah hanya tinggal Leluhur Lan seorang yang ada di kamar itu, dengan senyum tipisnya yang khas, ia mengeluarkan sebuah lembaran kertas yang tidak terlalu lebar, hanya seukuran telapak tangan yang langsung ia tempelkan di dada pemuda itu.
Lembaran kertas itu seketika lenyap tanpa sisa seperti telah terbenam di tubuh pemuda itu yang diiringi munculnya cahaya berkilauan sesaat.
•••
Tan Hao masih memegangi bagian dadanya dan wajahnya terlihat menahan ringisan kesakitan. Ia masih tetap terfokus pada setiap gerakan yang akan dilakukan Long Wang tanpa peduli lagi dengan Jiwei Dan.
Yang tidak disadari Tan Hao, Long Wang terkejut ketika ia melihat ada setitik cahaya putih berkilauan di dalam diri Tan Hao. Keterkejutannya hanya sesaat saja setelah itu ia langsung menampakkan wujud aslinya, bukan lagi sosok aura mata besar bertelinga serta mempunyai mulut. Namun wujud asli yang ia miliki.
Tan Hao menelan ludah dengan wajah pucat pasi antara menahan rasa sakit juga terkejut bukan main melihat wujud asli Long Wang, walaupun hanya bagian kepala serta setengah badan saja.
Dengan tawa sombongnya Long Wang berseru keras yang suaranya memekikan telinga siapapun yang mendengarnya.
..Raungan Keabadian..
Menarilah.. Menggeliatlah..rasakan neraka perlahan memasuki setiap bagian tubuhmu.
Hwaa..Hwaa..Hwaa..
Sebuah gelombang suara yang sangat dahsyat tercipta melalui mulut Long Wang yang menganga. Bukan hanya Tan Hao yang terkena namun jangkauan Gelombang Suara itu terus meluas dan meluas.
Tan Hao menutup telinga dengan kedua tangannya dengan mata terpejam, Tan hao merasakan tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali dengan rasa sakit yang tak bisa ia lukiskan.
Rasa sakit luar biasa dahsyat yang dialami Tan Hao membuatnya tak lagi dapat berbicara bahkan berfikir pun terasa tak sanggup ia lakukan.
Bahkan orang-orang yang berada di sekitarnya pun langsung pingsan ketika di terpa gelombang suara tersebut.
Tak peduli pendekar hitam atau putih dan bahkan warga biasa yang ada selama berada di jangkauan gelombang suara tersebut akan langsung mati. Jika kekuatannya berada ditingkat lebih tinggi dari pertapa bumi hanya akan pingsan seketika.
__ADS_1
Sedangkan apa yang dirasakan Tan Hao sangat berbeda, dirinya merasakan sakit luar biasa namun dirinya tak mati ataupun hilang kesadaran. Tan hao merasa bahwa tubuhnya sudah tidak mampu bertahan lebih lama lagi namun perkiraannya ternyata salah.
Ini bahkan lebih menyakitkan ketimbang di mutilasi hidup-hidup. Yang Tan Hao rasakan sangat menyiksa, hidup tak bisa mati tak mau.
Gelombang Suara yang diciptakan Long Wang memang ia khususkan untuk menyerang Tan hao. Itu sebabnya apa yang diterima Tan hao berkali lipat rasanya.
Durasi Gelombang Suara itu juga seperti tak ada hentinya, seperti tak ada batasnya. Terus menerus menerpa tubuh walaupun Long Wang sudah tidak lagi membuka mulutnya.
Tatapannya tajam sinis tertuju pada Tan Hao dan di kesempatan yang sama, Tubuh Jiwei Dan seperti tersedot masuk kedalam mulut Long Wang. Jiwei Dan tertelan hidup-hidup dengan kondisi menyedihkan.
Long Wang menengadah ke langit dan berseru lantang. "Apa kau lihat Dewa Yao,-!!
Sementara itu dikesempatan yang sama, Tan Hao yang masih dalam ketersiksaannya merasakan tubuhnya menghangat tiba-tiba. Perasaan yang nyaman. Seperti tengah di peluk oleh seseorang namun ia tak cukup mampu untuk memahami di situasinya saat ini. Dengan mata yang masih terpejam dan kedua tangannya menutup rapat telinganya.
Sayup-sayup Tan hao mendengar ada suara yang memanggilnya, Namun ia tak cukup mampu untuk lebih mendengarnya. Bahkan kedua matanya pun tak sanggup membuka.
Tan hao merasa, suara itu begitu dekat di telinganya namun ia tak bisa mendengar jelas suara apa dan siapa.
Setelah selesai berseru ke langit, Long Wang kemudian memandang Tan hao kembali dan langsung menyerangnya.
Serangan cepat Long Wang berbentuk seperti segaris sinar merah kehitaman yang muncul dari kedua tanduknya dan mengarah tepat di jantung Tan Hao.
Seketika itu juga segaris sinar merah kehitaman menembus jantung Tan hao deng cepat, membuatnya terdorong dengan tubuh melengking hebat.
Sesaat setelah itu, Tan hao merasa tubuhnya begitu ringan seperti semua beban dan tekanan yang ada telah hilang. Tubuhnya terasa seringan kapas.
Long Wang dengan menyeringai tajam kemudian mendorong Tubuh Tan Hao kebelakang seperti ingin menghantamkannya ketanah dengan kedua kumis panjangnya yang tebal, Namun sesaat sebelum tubuh Tan hao menghantam tanah tiba-tiba muncul sebuah pusaran dimensi berwarna biru putih cerah tepat di belakang Tan hao yang langsung menelan tubuh Tan Hao dan sesaat kemudian pusaran dimensi itu lenyap.
Long Wang tidak menyadari kejadian itu karena begitu cepatnya dan juga fokus pandangan Long Wang ke Langit dengan senyum kemenangan.
Sebelum melihat kehancuran tubuh Tan Hao yang menghantam tanah Long Wang terbang lurus kelangit. Long Wang telah yakin bahwa Tan Hao sudah pasti mati, tidak akan ada orang yang bisa menyelamatkannya di kondisi seperti itu.
Bersamaan dengan hilangnya Tan Hao, Long Wang juga telah lenyap menembus awan.
__ADS_1