
Tak membutuhkan waktu lama bagi Tan hao untuk menyusul Ran Liu dan lainnya. Dengan kecepatan sedangnya hanya memerlukan beberapa saat saja.
Malam memang sudah mendekati pagi, setelah mereka selesai menyantap beberapa hewan buruan yang dibawa Ran Liu, para tawanan itu terlihat tertidur di bawah batang-batang bambu, sementara Ran liu masih berjaga di bagian depan, Wen Liu dan Zey berada di belakang.
Mereka bertiga tidak ada yang tidur untuk beristirahat. Mengingat bahwa orang-orang yang mereka bawa adalah orang-orang penting. Walaupun prioritas mereka adalah Liqin Mei tapi tak lantas membuat mereka mengacuhkan yang lain.
Tan hao datang dengan cara biasa, tidak lagi dengan tiba-tiba sebab menghindari keributan yang tidak perlu yang akan membuat para tawanan terganggu tidurnya.
Dengan santai Tan hao berjalan ke arah Wen dan Zey berada. Mereka berdua cukup jelas melihat kedatangan Tan hao. Mereka berdua hanya tersenyum ramah dengan tidak menyapa ataupun berkata. Mereka tahu bahwa yang pertama dituju Tan hao pastilah Ran Liu.
"Ssstttt.. jangan berisik." bisik Tan hao dengan menempelkan jari telunjuk di bibirnya dengan wajah bodoh.
Wen dan Zey tentu mengetahui maksud dari Tan Hao. Mereka berdua hanya menahan tawa dengan cekikikan kecil sambil memejamkan mata seolah tidak melihat.
Dengan langkah seringan mungkin Tan hao menuju dari arah belakang Ran Liu yang sedang duduk bersandar sebatang bambu.
Dengan penuh hati-hati Tan hao mengendap mendekati dengan kedua tangan menghadap kedepan seperti ingin menerkam.
Dengan cepat dan sigap tangan Tan hao meraih dua kantong kulit yang terselip dipinggang kanan Ran Liu setelah cukup dekat dengan hanya terpisah sebatang bambu.
Tapi tiba-tiba Ran liu menyadarinya dan langsung memegang tangan Tan hao serta berniat membantingnya namun tangan kiri Tan hao masih berpegangan bambu.
"Bbruukk."
"ehh"
Kontan saja tubuh Ran liu malah terjatuh menindih Tan hao yang terjungkal kebelakang.
Dengan memegang kedua kantong kulit, ekspresi Tan hao terkejut bodoh dengan mata melotot sedangkan ekspresi Ran Liu kikuk pipinya memerah dengan kedua tangannya menempel erat pada tubuh Tan Hao.
"Ihh..Apa yang ingin Tuan Muda Lakukan." dengan sedikit grogi Ran Liu bergumam.
Dengan cepat Tan hao mengalihkan tubuh Ran ke samping dan dengan sigap Tan hao duduk berjongkok dengan ekspresi konyol.
__ADS_1
"Tadinya ingin mengagetkanmu tapi malah begitu. Aku.."
Ran Liu hanya tersenyum kecil mendengar Tan hao tidak melanjutkan ucapannya.
Sejurus kemudian baru lah Ran Liu sadar jika ada yang hilang dari tubuhnya.
"ehh, dimana.dimana..? Hng..Tuan Muda. Bisakah kau kembalikan itu, hmnn.." tiba-tiba raut wajah Ran Liu menjadi kejam dengan tatapan seram.
Jelas saja membuat Tan hao berekspresi ketakutan yang konyol.
"Aku kan hanya mengambil milikku, apa salahnya."
"Hng..tadinya itu milikmu tapi sekarang itu milik mereka. Disini tidak ada sumber air ataupun sungai, itu satu-satunya air minum untuk mereka. Cepat kembalikan atau aku akan menyumpal mulutmu dengan bambu. hah?" Ran Liu menunjuk kearah para Tawanan yang sedang tidur kemudian ekspresinya kejam dengan tatapan tajam penuh nafsu membunuh disertai senyum sinis mengerikan.
Membuat Tan hao berkeringat dingin dengan wajah pucat bodoh, lalu menyerahkan dua kantong kulit berisi susu itu disertai getaran kecil diujung bibir.
Kemudian bertingkah konyol dengan menggambar di tanah dengan ranting bambu. Duduk berjongkok dengan melipat tangannya diatas lutut sambil menunduk lesu.
Terlihat di sisi lain Wen serta Zey hanya bermuka bodoh dengan mulut menganga bertatapan melongo kosong.
"Tch..Dasar Tuan Muda mesum, cari kesempatan dalam kenikmatan,..Tchh masih mengaku anak-anak pula, dasar muka tebal." Ran liu mengumpat dengan sikap kekanak-kanakan dengan membuang muka dua kali ketika melirik Tan hao masih dengan kelakuan bodohnya.
•••
"emm..Anuu. Apa kabarmu adik Sui, sudah lama kita tidak bertemu."
Xin jiu mencoba memulai pembicaraan setelah suasana hening terlalu lama. Sui jiu juga terlihat tidak ingin berbicara walaupun kini dia telah duduk bersandar pada dinding di dekat Xin jiu tapi tak lantas membuatnya berkeinginan menjawab pertanyaan Xin Jiu. Hanya mendegus ringan sesaat tanpa memandang.
Xin jiu akhirnya berubah serius dengan membenahi posisi duduknya.
"Maafkan kakak adik Sui, tidak ada pilihan lain waktu itu. Kakak hanya ingin kamu terbebas dari orang-orang itu. Meskipun ku akui keputusanku salah, tapi kakak bersumpah padamu, tidak pernah bergabung dengan mereka. Apakah kau tahu alasannya."
Sui jiu akhirnya melunak setelah mendengar perkataan serius Xin jiu dan mulai bertanya tanpa menoleh hanya memandang langit.
__ADS_1
"Apa alasanmu, sampai tega menelantarkan saudaramu sendiri dalam kelaparan, Hmm?"
"haihh.. Aku memang salah. Waktu itu aku hanya takut kalau kita akan dibunuh. Tapi beberapa Tahun setelah itu, aku diam-diam melarikan diri dari mereka dan bersembunyi cukup lama. Aku tak berfikir untuk kembali mencarimu karena aku takut akan membahayakan nyawamu. Maafkan aku." lenguhan pendek Xin jiu bernada penyesalan jelas terlihat pula guratan kekecewaan pada dirinya sendiri di senyuman kecil bibirnya.
Sui jiu hanya diam membisu dengan sekali menggeleng pelan disertai terpejamnya mata yang masih menatap langit.
Kemudian Xin jiu melanjutkan perkataannya.
"Setelah memastikan situasi aman aku keluar dari tempat persembunyian dan mencoba peruntungan di kota kerajaan. Selama lebih dari dua tahun aku hanya menjadi seorang pengantar pesan. Namun setahun yang lalu ada sebuah misi yang di berikan oleh Raja, bagi siapapun yang bisa menemukan serta menyelamatkan Putri bungsunya akan mendapatkan hadiah besar dan juga jabatan di Kerajaan."
Xin jiu menghentikan perkataannya dan melirik Sui jiu, memastikan dia masih mendengarnya. Sesaat kemudian Xin jiu melanjutkan.
"Aku berfikir jika mampu menyelesaikan misi itu, akan sangat bagus untuk kembali membawamu serta memberikanmu kehidupan yang layak. Tapi ternyata kemampuanku tak cukup mampu mewujudkannya. Meskipun gagal tapi aku bersyukur bisa melihatmu di tempat ini. Aku selalu merasa menjadi seorang kakak yang buruk untuk adikku dan aku tersiksa karena itu."
Terlihat Sui jiu menunduk dengan memejamkan mata, meskipun tertutup oleh rambutnya yang menjuntai ke depan, Xin jiu bisa melihat bahwa adiknya sedang menangis tertahan.
"Kau bodoh, untuk apa kau lakukan semua itu. Aku tidak berfikir kehidupan mewah, aku hanya ingin hidup tenang denganmu. Kau selalu saja sok hebat. Dasar kakak bodoh."
Dengan sigap Xin jiu memeluk ringan Sui jiu sambil mengusap lembut rambutnya tanpa berkata apapun. Hanya menatap langit dengan haru, terlihat airmata sedikit mengalir di pipinya.
Mereka berdua terlihat cukup tenang dengan kesedihan yang mendalam. Disisi lain mereka bahagia bisa bertemu kembali, disisi lain ada sebuah perasaan penyesalan, kemarahan dan kekecewaan yang bercampur. Membuat mereka hanya diam tanpa berkeinginan melanjutkan pembicaraan.
•••
Sementara itu di Markas Pusat Lembah Hijau sedang terjadi pertemuan besar antara Tetua Anggota dengan beberapa ketua sekte aliran hitam. Pertemuan digelar sangat mendadak di waktu malam telah berlalu dan pagi belum tiba.
Terlihat beberapa orang sedang duduk diam, beberapa yang lain berbicara antar sesama ketua sekte aliran hitam. Dan Tetua Anggota yang hanya ada dua orang terlihat cemas, berada di sisi lain ruang pertemuan tanpa meja ataupun kursi itu. Hanya terdapat sebuah singgasana besar yang tidak terlalu tinggi dengan warna emas ornamen kepala naga di kedua sisinya.
Ketua Lembah Hijau maupun Tetua Anggota yang lain belum menampakkan diri. Itu yang membuat dua orang Tetua Anggota merasa cemas. Apalagi yang berkumpul adalah masing-masing Ketua Sekte aliran Hitam yang mempunyai kemampuan hebat.
Mereka semua berkumpul atas undangan pemberitahuan dari Tetua Chang Yi beberapa waktu yang lalu.
Daripada disebut aliansi aliran hitam, hubungan mereka dengan Lembah Hijau lebih kearah kaki tangan atau bawahan.
__ADS_1