
Fen Fang terbelalak ketika seseorang datang tiba-tiba untuk menyelamatkan Totsuki Hirada, alasan reaksinya seperti itu karena ia mengenal orang berbaju putih tersebut.
Apa yang dirasakan Fen Fang juga dirasakan Tan Hao meskipun hanya sesaat.
“Sudahlah kakek! Ayo kita temui mereka!” Tan Hao mencoba menenangkan pikiran Fen Fang dengan mengajaknya untuk menemui Ran Liu dan lainnya.
Orang itu tak lain adalah Yan Mu, murid pertama dan satu-satunya Pendekar Seruling Iblis. Tan Hao memahami perasaan Fen Fang, bagaimana tidak. Seorang guru akan selalu memikirkan muridnya, tetapi tidak dengan murid itu sendiri.
“Jika ada kesempatan, aku akan menghajarnya sampai dia sadar telah salah jalan,” Fen Fang mendengus sebelum akhirnya melunak.
Disisi Lain, Ran Liu dan kedua adiknya masih berdiam di tempat mereka. Ketiganya tak bisa berbuat apa-apa sebab kejadian itu sangat singkat dan cepat.
Butuh beberapa tarikan napas bagi ketiganya untuk tersadar dari keterkejutan.
Ran Liu tak mengira akan ada orang yang menyelamatkan nyawa Hirada, padahal hanya tinggal satu gerakan saja untuk mengakhiri nyawanya.
Umpatan kekecewaan terus saja terlontar dari bibir merahnya sambil memandang arah dimana seseorang itu membawa pergi Hirada, sementara Wen dan Zey Liu berjalan mendekatinya.
“Sudahlah kakak! Biarkan saja, lebih baik kita lanjutkan perjalanan, Kota Shuning tak jauh lagi!” Wen Liu memberi saran.
Penampilannya yang kalem ditambah sifatnya yang tak banyak bicara membuatnya terlihat begitu menawan, Wen Liu memiliki sorot mata yang dalam. Ketika menatap sesuatu, seperti sesuatu itu akan terhanyut oleh pandangannya.
Zey Liu nampak membenarkan dengan anggukan kepala, sementara Ran Liu memandang sekali lagi sebelum menghela napas.
“Baiklah, baiklah...!”
Ketiganya tertegun cukup lama ketika berbalik badan berniat ingin melanjutkan perjalanan mereka.
Tatapan tak percaya disertai bibir bergetar terlihat di wajah Ran Liu ketika melihat dua orang pemuda berdiri beberapa langkah di depannya.
__ADS_1
“Halo... Ran, Wen...!” sapa Tan Hao sambil menaikkan sebelah tangannya.
Kehadirannya yang tak disadari membuat ketiga wanita itu terkejut, tetapi Zey Liu langsung bisa menguasai kekagetannya.
“Tuan Muda Hao...!” Zey Liu tersenyum tipis, tetapi kemudian mengalihkan pandangan ke arah Fen Fang.
Ran Liu nampak tak kuasa menahan kegembiraannya, begitu Zey menyebut namanya, ia langsung berlari dan memeluk Tan Hao sambil terisak.
Tak ada perkataan apapun yang keluar dari mulutnya kecuali airmata bahagia.
“Hei, kenapa kau begitu sentimental seperti ini? Aku tidak apa-apa, kendalikan perasaanmu!” ucap Tan Hao sambil menggerakkan tangannya tetapi pandangannya ke arah lain.
Beberapa detik setelah pelukan itu, pukulan bertenaga penuh dilayangkan Ran Liu tepat di pipi kiri Tan Hao. Sontak saja pukulan itu membuat tubuh Tan Hao terpelanting.
“Dasar pria bodoh, mesum, mata keranjang...!” Ran Liu mengumpat keras setelah pukulannya membuat hidung Tan Hao berdarah.
Tawa renyah dua wanita lainnya segera tercipta menyaksikan adegan tersebut, sementara Fen Fang hanya menggeleng pelan sambil tersenyum kecil.
Reuni mereka masih berlangsung penuh kegembiraan, tetapi hal berbeda terjadi di dalam hutan Kota Shuning wilayah selatan dimana Jenderal Rui Yun dan pasukannya bersembunyi.
Salah satu panglima ular sedang berhadapan dengan seseorang pemilik tanda bunga darah. Keduanya nampak saling tatap setelah sebelumnya sempat bertukar serangan.
Panglima Qian Chen memang ditugaskan Jenderal Rui Yun untuk berkeliling memastikan wilayah mereka aman dari pergerakan musuh, tetapi saat ia telah sampai di antara batas wilayah dan ingin kembali ke tempat persembunyian dihadang secara terang-terangan.
Pertarungan keduanya hampir bersamaan dengan pertarungan yang terjadi antara Dewi Empat Penjuru melawan Totsuki Hirada.
“Untuk apa Cacing Gurun berada di tempat seperti ini? Kalian pikir ini wilayah yang mudah dikuasai?” pria pemilik tanda bunga darah di dahi itu berbicara seolah mengejek.
Keduanya masih saling menekan menggunakan aura pembunuh. Tetapi terlihat jelas kalau Panglima Qian Chen mendapatkan beberapa luka ditubuhnya.
__ADS_1
“Bukan urusanmu! Jika kau menghalangi jalanku, bahkan jika aku mati, kau akan aku bawa bersamaku!”
Orang itu tak lain adalah Yin Tao, salah satu dari tujuh Panglima Iblis Organisasi Iblis Darah. Ia cukup terkenal di kalangan pendekar tanpa sekte, dia juga merupakan orang dari Kerajaan Shu.
Mengingat hutan wilayah selatan merupakan tempat paling mungkin untuk di datangi pasukan dari Kerajaan Shu sebab lokasinya paling dekat dari Kota Shuning dibanding lokasi perkemahan Pangeran Li Fen.
Letaknya yang jauh dari Pegunungan Kaca Api membuat pasukan kerajaan tak harus melewati pegunungan yang terkenal sangat berbahaya tersebut.
Kekuatan Panglima Ular itu sebenarnya berada jauh di bawah Yin Tao, tetapi karena tanggung jawab yang diembannya yang membuat dirinya harus berhadapan dibanding melarikan diri.
Yin Tao terkenal sebagai Iblis Penipu, itu karena ia memiliki ilmu membelah diri. Salah satu jurus dari ilmu itu adalah menggunakan tubuh orang lain untuk disusupi kemudian menggunakannya dengan sesuka hati.
Dan orang yang berhadapan dengan Qian Chen itu hanyalah belahan diri Yin Tao, tetapi kekuatannya tak jauh beda dari dirinya yang asli.
Sebenarnya ada beberapa pendekar yang memiliki ilmu serupa, Tan Hao pernah berhadapan dengan salah satu diantaranya. Bahkan Tiandou juga pernah membunuh belahan diri salah satu pendekar itu ketika sedang dikuasai roh dari Pedang Sabit Matahari.
Yin Tao tertawa renyah sebelum menatap tajam, “Jangan kau pikir aku tak tahu siapa yang memerintah kalian ke tempat ini! Pangeran Li Chen bukan satu-satunya tujuan, lebih baik kau beritahu jenderalmu untuk meninggalkan tempat ini atau seluruh cacing gurun di Istana Benteng Barat akan aku musnahkan!”
Tawa menggema nyaring bersamaan dengan menghilangnya Yin Tao di udara, sementara beberapa saat kemudian Qian Chen jatuh berlutut dan muntah darah segar.
“Orang itu tak main-main dengan ucapannya! Sepertinya masalah ini bukan soal perebutan kekuasaan, sial! Aku sampai terluka separah ini, aku harus kembali dan memberitahu Jenderal Yun...!” Qian Chen berusaha bangkit sambil memegangi dadanya.
Setelah beberapa waktu memulihkan dirinya, Qian Chen bergegas kembali ke tempat Jenderal Rui Yun bersembunyi. Disisi lain, Yin Tao tersenyum penuh makna dibalik batang pohon melihat kepergian Panglima Ular tersebut.
Seperti yang disarankan oleh Tan Hao sebelumnya, Jenderal Rui Yun memilih tempat bersembunyi dimana tempat itu menjadi tempat yang paling mungkin untuk dilewati para pendekar aliran hitam jika melakukan pergerakan.
Pasukan manusia ular yang dibawa Jenderal Rui Yun hanya berjumlah lima ratus orang dimana masing-masing dipimpin oleh panglima ular.
Meskipun jumlah yang kecil tetapi kekuatan mereka lebih dari cukup untuk meluluh lantahkan tiga sekte kecil sekaligus.
__ADS_1
Selama dua hari, mereka telah melenyapkan nyawa beberapa pendekar dari aliran hitam yang akan menuju ke Kota Shuning. Itu seperti permintaan Tan Hao.
Tetapi yang mereka dapatkan hanya pendekar tingkat rendah, meskipun Jenderal Rui Yun sedikit kecewa tetapi ia berpikir kemungkinan yang akan terjadi. Jadi untuk itulah ia menugaskan tiga panglimanya untuk berkeliling sambil menyembunyikan diri.