
Qian Chen tak menyadari jika dirinya di ikuti Yin Tao. Ia hanya berfokus untuk kembali secepat mungkin, memberitahu Jenderal Rui Yun tentang informasi yang dia dapatkan.
Tempat persembunyian yang dipilih sangat cocok, terlebih rimbunnya ilalang serta dedaunan merambat yang menjadikan tempat itu sangat tertutup.
Jenderal Rui Yun yang kini berwujud manusia normal sedang berlatih menggunakan pil obat yang diberikan Tan Hao, sementara pasukannya tersebar di berbagai titik.
Pelatihannya terhenti ketika Qian Chen datang menghadap. Raut wajah yang cerah berubah menjadi gelap tatkala melihat kondisi Qian Chen.
“Apa yang terjadi padamu? Bagaimana luka itu kau dapatkan?” Rui Yun terlihat geram sambil mencoba bangkit dari duduknya.
Qian Chen hanya berlutut sambil menatap kebawah, ia tak menjawab pertanyaan itu dan langsung mengatakan tentang lawan yang ia hadapi.
Ekspresi Jenderal Rui Yun segera berubah ketika mendengar Qian Chen menyebut nama Yin Tao, keterkejutannya bertambah ketika jenderal keempatnya itu mengatakan bahwa Yin Tao mengetahui siapa yang mengutus manusia ular gurun ke tempat ini.
Jenderal Rui Yun langsung bisa menarik kesimpulan setelah Qian Chen menyelesaikan laporannya.
Sementara tak jauh dari mereka berada, Yin Tao mengawasi dengan senyum penuh makna sebelum kemudian menghilang tak berbekas.
“Baiklah, aku mengerti! Sekarang pergi dan obati lukamu!” Jenderal Rui Yun mengibaskan tangannya sembari berbalik badan.
Sebelum Qian Chen pergi, Rui Yun melemparkan satu butir pil obat. Hal itu membuat Qian Chen tersenyum kemudian memberi hormat dan lalu menghilang dengan cepat.
“Tuan Hao...! Sepertinya yang akan kau hadapi jauh lebih buruk!”
Jenderal Rui Yun memiliki pemikiran untuk meminta bantuan dari Istana Dewi Ular, tetapi ia juga tahu kalau permintaannya itu akan sulit dikabulkan Ratu Qin Ling.
Tindakannya kali ini saja tidak diketahui sang ratu dan itu juga termasuk kesalahan besar. Benak Jenderal Rui Yun kini dipenuhi segala kemungkinan yang akan terjadi dan apa yang harus ia lakukan.
Kemunculan Yin Tao menjadi peringatan keras baginya kalau Organisasi Iblis Darah juga pasti akan terlibat dalam masalah ini.
Ia cukup tahu organisasi tersebut, sebab salah satu pimpinan organisasi iblis darah pernah bertarung melawan Ratu Qin Ling dan berakhir imbang.
Bahkan tujuh jenderal ular tak mampu mengalahkan tiga panglima iblis yang dibawa pimpinan organisasi iblis darah saat itu.
__ADS_1
Pertarungan yang terjadi di Istana Benteng Suci dua puluh tahun lalu itulah yang membuat dirinya menjadi Jenderal paling lemah dan harus bersitegang dengan Jenderal Hua Mei.
“Aku khawatir, sepertinya hanya bisa meminta bantuan Jenderal Li Shing...!” Jenderal Rui Yun memegang dagunya sambil berpikir, ia berulang kali menimbang jika memang Organisasi Iblis Darah terlibat maka bisa ia pastikan Istana Benteng Perang akan bisa memberinya pasukan tambahan.
Hal itu bisa terjadi mengingat istana yang dipimpin Jenderal Li Shing itu memang sejak dua puluh tahun terakhir mendapat tugas dari Ratu Qin Ling membinasakan anggota Organisasi Iblis Darah maupun orang-orang yang berhubungan dengan mereka.
Disaat Jenderal Rui Yun tengah memikirkan apa yang harus dilakukan kedepannya untuk berjaga-jaga dari kemungkinan yang terjadi, Tan Hao dan yang lainnya telah hampir tiba di gerbang Kota Shuning.
Dua orang pemuda tampan berbadan cukup gagah di dampingi tiga wanita bak dewi berjalan cukup santai mengarah ke gerbang kota yang terlihat di jaga oleh beberapa pendekar.
Sekeliling gerbang juga tak terlihat pengunjung maupun pedagang yang biasanya selalu antri memasuki kota.
Suasana yang terlihat oleh Tan Hao membuatnya tersenyum getir, ia menyadari situasi tenang yang terjadi tidaklah demikian pada kenyataannya.
“Tunjukkan identitas kalian!” salah satu penjaga gerbang meminta secara baik-baik tetapi ucapannya lebih dari sikap tegas.
Sebenarnya Fen Fang ingin menindak tetapi Tan Hao menahannya dan kemudian menunjukkan Token Emas.
Tan Hao memang bagian dari sekte, tetapi dirinya tak memiliki identitas sekte. Untuk itulah ia menggunakan token kayu naga emas dari asosiasi sebagai identitas resminya.
“Maafkan kelancangan kami Tuan Muda! Silakan anda masuk...!” ucap dua penjaga itu bersamaan.
"Bagaimana dengan mereka?”
“Mereka datang bersama anda, tentu saja boleh! Silakan...!” kedua penjaga itu memberi jalan sembari masih menunduk.
Tan Hao tersenyum melihat itu dan lalu mengajak yang lainnya untuk masuk.
Tak jauh dari tempat itu, Tetua Han Liu dan Tetua Ling Ling menatap tajam Tan Hao sebelum keduanya melompat mendekati Tan Hao.
“Kalian darimana? Kota Shuning ditutup untuk umum, bisakah aku mengetahui tujuan kalian?” tanya Tetua Han Liu tanpa basa-basi.
Kepergian Ran Liu beserta kedua adiknya memang sudah hampir enam tahun dan tak pernah kembali, pantas memang jika tetua tombak tak mengenali mereka.
__ADS_1
Apalagi dengan Tan Hao, mereka bahkan sama sekali tak menaruh ingatan apapun. Keduanya hanya menaruh curiga setiap orang yang masuk dengan mengandalkan sebuah token identitas.
“Tetua Han ... Tetua Ling! Lama tak jumpa. Masih ingatkah kalian dengan bocah nakal yang dibawa Tetua Tiandou pulang dari misi?”
Kedua Tetua Tombak saling pandang sejenak, mereka seperti saling mengingat tetapi ingatan mereka sama sekali tak bekerja dengan baik.
“Apa maksudmu? Siapa kau?”
“Katakan saja terus terang, kami tidak mengerti bocah nakal yang kau maksud!”
Tan Hao menghela napas ringan sebelum kemudian memperkenalkan diri lagi. Tetua Han dan Tetua Ling tersentak dibuatnya, keduanya menatap tak percaya.
"Tan Hao...!” seru serempak keduanya.
“Aku bahkan sudah bertemu Senior Jing Yun dan Senior Feiying! Apa mereka tak mengatakan apapun tentang aku, haih!” keluh Tan Hao dengan raut wajah malas.
Tetua Han tersenyum senang sementara Tetua Ling Ling masih bersikap waspada. Tetapi keduanya mempersilakan Tan Hao untuk memasuki kota.
Tanpa basa-basi terlalu jauh, Tan Hao langsung menuju ke Sekte Tujuh Tombak Emas. Sementara tiga bersaudara pergi ke arah berbeda, mereka bertujuan kembali ke Rumah Cahaya untuk melihat keadaan panti asuhan yang mereka dirikan beberapa tahun yang lalu.
Mereka memutuskannya setelah Tan Hao memberi saran, padahal ketiganya sangat ingin untuk terus mengikuti Tan Hao dan mengetahui situasi yang terjadi.
Tetapi Tan Hao mengatakan untuk tak perlu khawatir sementara ini dan akan menghubungi mereka setelah melakukan pertemuan dengan Pangeran Li Chen An.
Beberapa saat setelah kepergian ketiganya, praktis Tan Hao hanya bersama dengan Fen Fang.
Lan Lihua yang lebih dulu memasuki kota juga tak terlihat dan entah dimana keberadaannya.
Tan Hao juga tak habis pikir bagaimana cara Lan Lihua masuk dengan penjagaan seketat itu.
Tetapi Fen Fang mengatakan bahwa wanita selalu punya cara yang tak bisa ditebak disaat mereka memiliki keinginan yang kuat.
“Hua’er pasti pergi ke gedung asosiasi! Untuk sekarang, ayo kita menemui Patriark Sun Sian. Kita perlu menyerahkan beberapa benda itu pada Pangeran Li Chen dan membicarakan apa yang terjadi disini!”
__ADS_1
Fen Fang hanya mengangguk dan mengikuti Tan Hao tanpa banyak bertanya, dirinya juga sudah cukup lama tak menyambangi Kota Shuning.
Terakhir kali ia datang, saat masih muda dan Patriark Sekte Tujuh Tombak Emas masih dipimpin ayah dari Patriark Sun Sian yang merupakan kakak seperguruan Tetua Jing Yun.