
"Hanya saja apa? Bicara yang jelas jangan membuatku khawatir tidak jelas?" bentak tajam Lan Lihua memandang dingin Tan Hao yang malah terkekeh ringan.
"Aku hanya merasa haus." ujar Tan Hao memandang polos Lan Lihua.
"Dasar muka tebal, datang bagaikan iblis dan sekarang bilang kehausan. Cihh, sia-sia khawatir padanya." batin kesal Lan Lihua.
"Cari air sendiri! Aku terlalu lelah untuk memenuhi permintaanmu." kata Lan Lihua yang masih merasa kesal.
Tan Hao hanya menggeleng ringan sesaat kemudian mengeluarkan dua kantong kulit berisi air yang tersimpan dalam cincin dimensi.
"Apa kau mau?" goda Tan Hao menyodorkan kantong air.
Lan Lihua melirik pelan dengan menelan ludah.
"Mau. Aku mau," sahut Lan Lihua segera mengangkat tangannya berniat meraih namun tanpa ia duga, Tan Hao justru menghindari raihan tangannya.
"Cari sendiri dong!" ujar Tan Hao menirukan gaya Lan Lihua beberapa saat lalu.
Sontak saja membuat Lan Lihua termenung bodoh, kemudian berdiri dengan cepat. Terlihat wajahnya memerah karena kesal. Ia meninggalkan Tan Hao yang tanpa sungkan meminum dua kantong air bersamaan.
"Laki-laki macam apa dia! Membiarkan seorang wanita yang kehausan mencari air minum sendiri? Dasar laki-laki payah," gerutu Lan Lihua sambil berjalan kearah patung kepala naga.
Lan Lihua secara tidak sengaja menemukan sebuah tuas kecil di bagian leher belakang patung kepala naga, namun ia tidak menyadarinya sebab ia masih mengumpat kesal pada Tan Hao.
Gerakan kecil tangannya yang tidak sengaja menggerakkan tuas kecil tersebut.
"Eh eh ada apa ini! Airku ah airku," seru Tan Hao terkejut sebab tempat ia duduk bergetar ringan menyebabkan kantong air yang ia pegang bergoyang membuat air didalamnya tumpah.
Lan Lihua sendiri begitu terkejut, ia tak mengerti dengan apa yang terjadi namun tepat di depannya lantai yang semula rata bergerak kebawah seperti sebuah pintu terbalik. Ia melihat jelas terdapat tangga menurun didalamnya.
"Eeh! Apa ini ulahku?" kata Lan Lihua polos memandang Tan Hao sembari menunjuk dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian keduanya saling pandang yang begitu serius.
__ADS_1
"Apa kau yakin kita akan turun?" kata Lan Lihua.
"Bagaimanapun kita harus memeriksanya," sergap Tan Hao tegas.
Tan Hao berjalan lebih dulu kesisi depan anak tangga yang menurun tersebut, ia hanya melihat hanya ada gelap. Kemudian menatap Lan Lihua disertai anggukan ringan, membuat Lan Lihua berjalan dengan langkah kaku mendekati Tan Hao hingga menggenggam sebelah tangannya.
Dengan langkah pasti keduanya menuruni anak tangga tersebut dengan begitu hati-hati dan waspada. Lan Lihua yang biasanya terlihat acuh kini merasakan rasa takut dalam hatinya.
Cukup lama mereka menuruni anak tangga tersebut tetapi tidak ada tanda akan sampai pada ujungnya, hingga membuat Tan Hao berfikir bahwa tangga ini semacam lorong bawah tanah yang menembus sisi lain tempat mereka berada sebelumnya.
"Udara yang semakin menipis ini menunjukkan bahwa jalan ini telah begitu dalam, namun sampai di titik ini tak ada tanda sama sekali bahkan cahaya pun tak ada. Sebaiknya aku menggunakan mata dewa untuk melihatnya dengan jelas," batin Tan Hao yang sesaat sebelumnya berhenti melangkah.
Alangkah terkejutnya Tan Hao ketika Mata Dewa miliknya tak bisa diaktifkan, berapa kalipun berusaha namun tak ada hasil.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Tidak! Aku harus mencari cara lain." ujarnya dalam hati merasa tak bisa percaya dengan apa yang terjadi.
Hal itu membuat Tan Hao merasa tertekan, tanpa menunggu waktu lagi ia mencoba mencari tahu menggunakan kitab 1000 kehidupan dalam dirinya.
Lan Lihua bersikap tenang walaupun nafasnya sedikit terasa berat sebab udara yang menipis. Pegangan tangannya kini ia alihkan di lengan kanan Tan Hao.
Beberapa saat kemudian, Tan Hao membuka matanya. Reaksi pertama kali yang ia tunjukkan cukup mengejutkan.
"Adik Lan! Tujuan kita kemari adalah untuk pusaka yang ada di ruangan atas sebelumnya,bukan?" ucap Tan Hao sembari memegang tangan Lan Lihua yang ada pada lengannya.
"Sepertinya kakak mengetahui sesuatu? Bisa aku mendengarkanmu." balas Lan Lihua yang langsung mengerti maksud ucapan Tan Hao padanya.
Tan Hao menjelaskan secara singkat jika kekuatannya tertekan oleh sesuatu yang melindungi lorong tersebut, menurut apa yang ia pahami bahwa tangga ini bukan seperti yang terlihat.
Mata dewa bukan tak bisa dipakai tetapi lebih tepatnya tak berfungsi selama jeda tertentu. Itu menyebabkan daya lihat yang dirasakan Tan Hao seperti mata biasa pada umumnya.
"Ini seperti naik ... bukan turun seperti yang kita sangka! Aku khawatir kita akan menemukan hal tak terduga lainnya disini. Jadi menurutmu bagaimana?" kata Tan Hao mengakhiri penjelasan singkatnya.
Tak berselang lama setelah perkataan Tan Hao, tiba-tiba tubuh Lan Lihua bercahaya namun itu bukan energi tenaga dalamnya, itu seperti muncul dengan sendirinya tanpa Lan Lihua kehendaki.
__ADS_1
"Kakak?! Apa maksudnya ini,-!" teriak Lan Lihua terkaget-kaget melihat dirinya sendiri.
Tan Hao pun tercengang dibuatnya, ini pertama kali ia menyaksikan. Sebelum sempat Tan Hao berfikir dan menjawab pertanyaan Lan Lihua, terdengar suara yang mendengung.
"Hng ... Apa tujuan kalian kesini? Tempat ini tertutup untuk manusia dan kalian?"
Sejenak kemudian hampir bersamaan dengan munculnya suara tersebut, lorong dengan anak tangga menurun tersebut memunculkan begitu banyak cahaya kecil beterbangan.
Tanpa perlu memikirkannya, Tan Hao dan Lan Lihua mengetahui jika cahaya itu merupakan Kunang-Kunang Api. Yang membuat keduanya terkejut justru sesosok Tupai yang melayang di depan keduanya dengan pose berdiri layaknya manusia yang melipat tangannya kebelakang pinggang.
Tupai berwarna putih kemerahan dengan kumis panjang serta jenggot putih tebal dan alis mata yang menutupi kedua matanya terlihat begitu tak senang. Meskipun tertutup alisnya namun Tan Hao dengan jelas melihat tatapan matanya begitu mengintimidasi.
"Maaf atas kelancangan kami, Tuan Tupai? Sebenarnya kami hanya tak sengaja menemukan pintu masuk tempat ini lalu kami memutuskan untuk memeriksanya. Kami mengakui kesalahan, maafkan kami."
Lan Lihua membungkuk setengah badan memberi hormat sekaligus meminta maaf sementara Tan Hao masih terdiam tanpa berkedip.
"Tupai? Seperti manusia? Memiliki kekuatan tak terbaca? Ah ... Jangan-jangan dia ... ." seru Tan Hao dalam hati setelah beberapa saat sebelumnya melihat dengan jelas sosok Tupai di hadapannya.
"Aku Songshu Hong di kenal sebagai Pertapa Abadi tak pernah sekalipun mengusik keberadaan manusia, lalu kalian memasuki tempat yang telah ku jaga ratusan tahun tanpa ijin? Nyali kalian begitu besar rupanya,"
Songshu Hong melayang mendekati Tan Hao yang masih terdiam tanpa bergerak. Tatapannya begitu tajam terarah pada Tan Hao.
"Apakah kau sudah menyadarinya?" ucapnya setelah cukup dekat dengan Tan Hao.
"Ya ... Tempat ini bukan di Alam Bumi tapi juga bukan di Alam Atas. Sejujurnya aku tak bisa memahami meskipun aku mengetahui." balas Tan Hao cepat yang juga membalas tatapan yang tertuju padanya.
"Ah haha ... Aku kagum kau dapat mengetahui. Biar ku beritahu jika tempat ini dikenal sebagai Jalan Naga." ujar Songshu Hong dengan tawa yang dipaksakan.
Ia menghentikan perkataannya sementara ia mengamati Tan Hao lebih teliti.
"Bocah ini menarik? Bahkan didalam dirinya terdapat dua pusaka dewa dan memiliki darah naga. Siapa sebenarnya dia?" batin Songshu Hong sebelum melanjutkan perkataannya.
Lan Lihua mendekat pada Tan Hao dan kemudian memegang lengannya. Reaksinya begitu rumit hingga tak ada perkataan apapun yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1