
Dalam perjalanannya, Tan Hao masih memikirkan apa yang diucapkan Fen Fang. Dirinya bahkan tak merasakan apapun yang janggal dalam tubuhnya, tetapi ia juga tak menampik ketika melihat sendiri kalau Fen Fang benar-benar seperti seorang yang kepayahan, bahkan sampai saat ini.
Sebelum sempat beraksi lagi, Tan Hao melirik wajah Fen Fang kemudian memberi tanda sebuah anggukan.
Beberapa jam terlewat begitu hening, didalam benteng barat manusia ular terjadi pembunuhan diam-diam yang dilakukan dua orang manusia. Tak ada suara, tapi tiba-tiba secerca cahaya muncul bergantian di berbagai titik tempat itu.
Cahaya itu adalah inti roh manusia ular. Dua orang manusia pergi menyelinap dan membunuh. Lampu-lampu minyak di dalam rumah terhempas cahayanya ke kiri dan ke kanan tatkala terjadi gelombang energi tipis.
Keamanan benteng itu bukannya lemah, sebab pasti ada dua orang prajurit ular yang berjaga di setiap jarak tiga bangunan. Tetapi, tindakan pembunuhan itu bukannya sama sekali tak diketahui para prajurit jaga. Mereka seperti membiarkan.
Itu bisa terlihat ketika terjadi pembunuhan itu, kedua prajurit terdekat pasti saling pandang sejenak kemudian bersikap biasa kembali seperti tak mengetahui apa-apa.
Aksi terpisah yang dilakukan Tan Hao maupun Fen Fang bisa dibilang sangat lancar. Belum genap sehari, keduanya telah menghabisi hampir seluruh orang yang namanya ada di dalam daftar gulungan.
Anehnya, setiap kali orang yang namanya ada di gulungan itu telah mati maka nama orang itu akan lenyap dengan sendirinya. Tan Hao menyadari hal itu mungkin saja daftar itu dibuat khusus oleh Jenderal Rui Yun sendiri dengan menggunakan metode tertentu.
Sementara itu di dalam istananya, Jenderal Rui Yun tengah duduk bersila selama hampir sehari. Tubuhnya terlapisi energi pekat, sementara kedua tangannya menyatu di depan dada.
Selama seharian, Jenderal Rui Yun berkultivasi setelah mendapatkan pil obat dari Tan Hao. Dalam jangka waktu itu, tubuhnya beberapa kali mengalami ledakan energi.
Setelah ledakan energi terakhir, Jenderal Rui Yun membuka kedua matanya dan tak lama setelah itu senyum lebar tercipta diwajahnya.
"Ha ... Haha ... Akhirnya aku telah mencapai tingkat pertama Alam Pertapa Dewa, delapan tingkatan lagi sebelum aku menjadi Petarung Saint, haha haha...!" Jenderal Rui Yun bangkit dari duduknya dan menuju ke singgasananya kembali.
Pil Obat yang diberikan Tan Hao berhasil membantu Jenderal Rui Yun mendobrak penghalang yang selama ini menahan kultivasinya untuk dapat naik ke tingkatan selanjutnya.
__ADS_1
Perbedaan mendasar dari kultivasi manusia ular terletak pada tingkatan yang di lalui, setelah berhasil mencapai tahap tertinggi dari Pertapa Dewa Langit, manusia ular akan memasuki tingkat Alam Pertapa Dewa dan bukan Alam Dewa seperti yang di lalui manusia umum.
Hal itu disebabkan karena memang Manusia Ular bukan manusia dan juga bukan siluman buas. Mereka seperti makhluk antara keduanya.
Setelah mencapai tingkat pertama Alam Pertapa Dewa, Jenderal Rui Yun bisa dibilang setara dengan pendekar tingkat Alam Dewa Bumi tahap menengah. Meskipun sebenarnya perbandingan itu tidak sepenuhnya seimbang, sebab keduanya memiliki jalur masing-masing dalam hal peningkatan energi.
Energi yang dimiliki Alam Dewa Bumi hanya terbatas, itu hanya mencakup 5500 hingga 5900 lingkaran tenaga dalam, berbeda dengan Alam Pertapa Dewa yang tak menggunakan lingkaran tenaga dalam tetapi menggunakan roh energi.
Tan Hao pernah mencapai tingkatan ini sebelumnya, tapi tubuhnya tak mampu beresonansi dengan benar. Ketika tubuhnya memiliki ribuan tenaga dalam atau bahkan puluhan ribu sekalipun, itu tak bisa dibilang cukup bagi dasar tubuhnya yang merupakan seorang Saint, kemurnian yang buruk ditambah dengan keterbatasan energi yang ada membuat tubuhnya bisa dibilang kekurangan daya dorong kultivasi.
Tetapi saat berhasil memasuki Alam Pertapa Dewa atau disebut Half-Saint, Tan Hao tidak harus menembus sembilan tingkatan Alam Pertapa Dewa. Tubuh Saint murni memiliki keistimewaan tersendiri daripada tubuh setengah saint, mereka hanya akan dihadapkan pada tiga tingkatan dan bukan sembilan tingkatan.
Lain hal dengan Fen Fang, saat ini dirinya masih berada di tahap kelima Alam Pertapa Dewa. Meskipun memiliki darah murni seorang Saint, tapi tubuhnya bukan seorang Saint. Jadi bisa dibilang, jalan yang ia lalui sama dengan manusia ular jika masalah peningkatan kultivasi.
Jenderal Rui Yun tersadar dari lamunannya dalam membayangkan peningkatan selanjutnya ketika orang yang memberinya Pil Naga Tiga Garis terlihat menaiki tangga.
Tan Hao menyeringai kecil sebelum berhenti melangkah, "Tidak perlu berlebihan seperti itu, kau seorang Jenderal seharusnya kau pertahankan sikap tegasmu. Jangan jadi lembut hanya karena menerima sedikit makanan ringan."
Fen Fang yang sebelumnya bersikap kaku, kini terlihat lebih mengendur. Fakta bahwa Niu Ru jijik dengan ras manusia ular bukan menjadi alasan baginya untuk memandang rendah.
"Aku hanya berterima kasih padamu! Berkat obat darimu, aku mampu menembus penghalang yang selama ini menghalangiku!" Jenderal Rui Yun kembali menegakkan badannya kemudian berjalan mendekati Tan Hao.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah mendapatkan semua yang kau butuhkan?" tanya Jenderal Rui Yun sembari mendekatkan tubuhnya, ia berbicara cukup dekat di telinga Tan Hao sementara jemarinya sedikit bermain di pundak Tan Hao.
Tan Hao melirik Jenderal Rui Yun, "Lebih dari cukup! Hanya tinggal tiga orang lagi yang belum aku bereskan, aku sengaja sisakan untuk penutup sebelum aku kembali," sembari melepaskan tangan wanita itu, Tan Hao menyerahkan gulungan yang sebelumnya diberikan.
__ADS_1
"Aku bisa memberimu Pil Obat itu lagi, tapi jika kau mau membantuku," Tan Hao membuka percakapan lainnya seraya melangkah membelakangi Jenderal Rui Yun yang kelihatan tak senang diabaikan.
"Bantuan apa?" balasnya dengan wajah tak menyenangkan.
Tan Hao menoleh sambil menatap ramah, "Aku bisa memberimu lima puluh, tidak! Tujuh puluh butir Pil Obat yang sama, jika kau mau membantuku mengatasi masalah! Bagaimana, apa kau setuju?"
Mata Jenderal Rui Yun melebar mendengar tawaran Tan Hao, mulutnya juga terbuka seperti reaksi tak percaya dengan apa yang ia dengar.
'Tujuh puluh butir...! Itu bahkan bisa membantuku bisa sampai ke tahap ketujuh! Orang ini...? Siapa sebenarnya dia, dapat dengan mudah memberi barang berharga begitu saja? Ini kesempatan, aku harus mengambilnya!' Jenderal Rui Yun membatin seraya menyamarkan keterkejutannya.
"Baik! Aku setuju, tapi bantuan seperti apa yang kau butuhkan?"
Tan Hao tersenyum lebar diikuti Fen Fang yang berada di belakangnya, "Berperang! Aku punya masalah soal menggagalkan kudeta kerajaan, orang yang memiliki pewaris sah saat ini berada di sekte Tujuh Tombak Emas. Seminggu yang lalu, aku mendengar kabar jika dalam dua hari lagi, akan ada pergerakan pendekar aliran hitam yang dikirim untuk menghabisinya begitu juga dengan sekte tempatku berasal! Apa kau mampu membawa para bawahanmu di sekitar sekte dalam waktu kurang dari dua hari?"
"Oh, soal pemerintahan kerajaan ya? Itu hampir sama dengan yang terjadi disini ... Baiklah! Dimana aku harus pergi?"
"Kota Shuning...! Kau hanya harus melewati gurun sebelum kemudian melewati beberapa desa untuk bisa sampai. Tapi aku peringatkan untuk jangan sampai pergerakanmu terlihat! Bersembunyilah dengan baik di hutan Kota Shuning, jika ada pergerakan tak wajar langsung habisi saja. Aku mungkin akan sedikit terlambat setengah hari,"
Jenderal Rui Yun menatap lantai sambil mengangguk sebelum kemudian menjawab, "Baiklah, aku akan pimpin pasukanku sendiri beserta lima panglima terkuatku. Aku pastikan akan sampai bahkan sebelum matahari terbit!"
Tan Hao mengangguk sambil tersenyum, kemudian ia memunculkan tiga botol kaca dari cincin dimensi, "Ini untukmu! Sisanya, nanti saat aku tiba disana. Terima kasih, aku akan pergi setelah membereskan tiga orang tersisa. Sampai jumpa...."
Setelah melempar tiga botol kaca berisi pil obat yang sama yang diberikannya beberapa waktu lalu, Tan Hao melangkah pergi meninggalkan Jenderal Rui Yun yang nampak tersenyum bahagia.
"Dengan itu, kau bisa menghabisi Jenderal Hua Mei dan memperoleh kembali kepercayaan Ratu Qin Ling! Keberuntungan bagimu bisa bertemu dengan temanku...! Hehe hehe," kelakar Fen Fang sebelum menghilang bagai asap mengikuti Tan Hao yang pergi menggunakan dimensi ruang waktu.
__ADS_1
Jenderal Rui Yun begitu terkejut dengan ucapan Fen Fang, dalam benaknya seketika terpikir jika orang yang memberinya pil obat itu pasti telah mengetahui kesulitannya dan apa yang sedang ia hadapi. Tak berselang lama, tawa lepas segera bergema di ruangan itu.