
Dengan langkah kaki seperti terburu-buru, Tetua Feiying langsung menuju kamar tempat Kaisar Obat Yao Yuen berada setelah salah satu pelayan yang berjaga memberi kabar jika Kaisar Obat telah siuman.
Sebelumnya, Tetua Feiying berada di ruang rapat bersama Tetua Jing Yun, Tetua Tiandou dan Patriark Sun sian membahas waktu yang tepat untuk bergerak.
Setelah kesepakatan tercapai, saat itu juga Tetua Tiandou langsung menuju Sekte Anggrek Suci untuk memberi kabar Matriark Zhang Weili.
Sementara Patriark Sun mempersiapkan pendekar terbaiknya, begitu juga Tetua Jing yun mempersiapkan seluruh Murid terbaiknya.
Tetua Feiying sendiri masih terfokus untuk kesembuhan Kaisar Obat. Dirinya memang ditugaskan oleh Patriark untuk menjaga serta memberikan sumber daya terbaik agar kondisinya bisa membaik. Sebab, bukan tidak mungkin Kaisar Obat akan membantu saat pertempuran di mulai.
"Apakah anda sudah sehat, Senior Yao?. Bagaimana kondisi tubuh senior sekarang." kata Tetua Feiying dengan sopan namun tegas.
"Oh, aku sudah lebih baik dari saat malam itu. Sudah berapa lama aku pingsan?" ucap Yao Yuen dengan ekspresi datar.
"Tujuh Hari." jawab singkat Tetua Feiying.
"Ahh, sungguh memalukan, seorang Kaisar Obat pingsan selama tujuh hari karena seorang bocah belasan tahun. hehh.. Lalu dimana bocah sakti itu." Yao yuen menghela nafas ringan dengan ekspresi menahan malu.
"Tidak juga Senior. Aku juga pernah mengalami hal yang sama seperti senior namun tidak separah senior saat ini. Dia sedang pergi menjalankan misi pembebasan putri Patriark Sun sian, kemungkinan sebelum siang dia akan tiba." Tetua Feiying merendah tapi sikapnya masih saja kaku.
"Jika senior sudah sehat, lebih baik segera membersihkan diri. Di rak itu terdapat beberapa pakaian yang telah kami persiapkan. Aku masih akan melakukan hal penting lain. Apakah senior tidak keberatan, saya tinggal." lanjut Tetua Feiying sambil menunjuk Rak pakaian di seberang tempat tidur.
"Baiklah aku mengerti. Tidak apa-apa. Junior lebih baik segera menyelesaikan tugas." ucap Yao yuen dengan mengubah posisinya menjadi duduk di pinggir tempat tidur.
__ADS_1
Tetua Feiying tidak menjawab, hanya salam hormat sesaat kemudian bergegas meninggalkan Yao Yuen.
Tetua Feiying memang di beri tugas oleh Tetua Jing yun untuk pergi ke tempat Raja Tempa untuk mengambil pesanan tujuh hari yang lalu.
Dengan gerak cepat Tetua Feiying menuju ke tempat Raja Tempa.
Situasi di Sekte Tujuh Tombak Emas sedang sangat sibuk. Diberbagai sisi terlihat beberapa Tetua Tombak yang lain juga sedang menyiapkan dan memberi arahan ke beberapa murid senior yang terpilih untuk menjadi bagian dari pasukan yang akan bergerak.
Di depan Pintu Gerbang masuk sekte, tiba-tiba muncul beberapa orang laki-laki beserta beberapa gadis. Penjaga Gerbang tentu saja terkejut menyaksikannya namun beberapa saat kemudian Kedua penjaga itu bersikap biasa seperti mengenal orang yang datang secara tiba-tiba itu.
"Tuan muda, sungguh pembalasan yang menyakitkan kami semua. Kan yang kejam kakak Ran, kenapa kami ikutan kena, haihh.." keluh Wen Liu dengan reaksinya seolah menahan mual tingkat akut yang segera dibarengi dengan anggukan semua yang berada di sebelahnya tanpa berkata dengan pipi mengembung menahan mual.
"Ehh, bukan saatnya mengeluh. Silahkan masing-masing menuju pohon besar disana. Kupikir kalian sedang ingin rapat. Aku duluan yaa.." ucap Tan hao dengan muka datar sambil menunjuk sebuah pohon besar berdaun rindang dengan ekspresi bodohnya dan sesaat mereka menoleh ke arah pohon, dengan sigap Tan hao berlari.
Mereka sudah tidak sempat lagi untuk sekedar mengumpati Tan hao karena rasa mual yang menyiksa. Akhirnya dengan gerakan yang sigap secara bersamaan mereka berjongkok mengelilingi pohon besar itu untuk melepaskan ketersiksaan cacing yang keracunan dalam perut.
Beberapa jam kemudian.
Saat Sui jiu dan Xin jiu tiba. Mereka masih dalam posisinya. Terlihat jelas wajah mereka begitu pucat pasi serta lutut bergetar karena lemas.
"Ehh, apa yang kalian lakukan disini." kata Xin jiu melihat sesaat kemudian mengalihkan pandangannya.
"Ahh, kalian menjijikkan, aku pergi masuk dulu. Selesaikan rapat terbatas kalian. Sampai jumpa." seru Sui Jiu dengan ekspresi acuh konyol sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
Sui Jiu dan Xin jiu pun juga pergi meninggalkan mereka dengan ekspresi menahan kedongkolan atas sikap kedua orang yang sama saja usilnya.
Sementara itu Tan Hao telah disambut oleh Patriark Sun sian dengan ekspresi gembira disertai senyuman merekah, tapi Tan hao hanya berwajah datar tanpa senyum.
"Tidak perlu terlalu senang, putrimu sedang mengadakan rapat terbatas di depan bersama tawanan lain, ehh. Aku pergi makan dulu Senior."
Sontak saja ekpresi Patriark Sun Sian terdiam bodoh dengan sebelah tangan terangkat. Sebelumnya memang ingin menyapa Tan hao tetapi terhenti seketika ketika Tan hao berkata sambil melewatinya dengan ekspresi datar disertai senyum kecil.
Tentu saja Patriark Sun langsung berjalan cepat kearah Pintu Gerbang dengan raut wajah penasaran untuk mengetahui apa yang dimaksud oleh Tan hao.
Ketika berpapasan dengan Sui jiu dan Xin jiu pun Patriark Sun tidak sadar. Karena rasa penasarannya dengan raut wajah datar.
Ketika telah sampai, dirinya menoleh kesana kemari mencari keberadaan putrinya namun tak menemukannya. Hingga pada pandangan terakhir dirinya melihat ada sekumpulan orang sedang berjongkok mengelilingi pohon besar dengan sebelah tangan menempel di pohon dan sebelah lagi memegang perut.
"Ehh, ternyata memang sedang rapat terbatas. Ohh sebaiknya aku tak mengganggu mereka, hihihi. Dasar anak muda sialan. Membuat putriku begitu menyedihkan." gumam Patriark Sun sian dengan ekspresi menahan senyum sambil memutar badan melangkah kembali kedalam.
Beberapa jam kemudian.
Terik matahari telah sampai di atas kepala, terlihat semua orang yang tadi pagi di berikan arahan telah berkumpul di sasana latihan sekte.
Ketujuh Tetua Sekte berdiri berjejer di atas podium dengan Patriark Sun berada persis ditengah. Terlihat diam seperti sedang menunggu sesuatu.
Para pendekar yang terdiri dari Pendekar Ahli Atas dan Ahli Puncak, serta Pertapa tahap Ahli terlihat berbaris rapi berjumlah ratusan orang. Mereka semua diam tanpa suara bising sedikitpun dengan posisi berdiri tegap.
__ADS_1
Sesaat Kemudian, Tetua Tiandou tiba-tiba muncul di sisi Podium dan langsung memberi salam hormat singkat.
"Patriark Sun, Sekte Anggrek Suci telah bergerak kemari yang dipimpin langsung oleh Matriark Zhang, mereka berjumlah Dua ribu orang yang terdiri dari pendekar ahli atas, pendekar ahli puncak dan pertapa ahli serta beberapa pertapa bumi awal. Menurut jarak, kemungkinan mereka akan tiba sebelum petang." kata Tetua Tiandou memberi laporan jelas tanpa basa basi.