
Seorang pelayan wanita nampak berdiri menunduk di depan meja nya, sementara lelaki berkepala plontos masih terus mengumpat dan memakinya.
"Maafkan saya Tuan! Saya hanya menjalankan tugas, tuan boleh pergi ketika telah membayar atau menunggu disini sampai teman tuan datang," ujar pelayan itu dengan tubuh gemetar.
Gbbraaakk ...
"Brengsek, siapa yang menyuruhmu menyela! Apa kau ingin aku hancurkan tempat ini,!! Katakan pada pemilik jika aku, Fu Duan akan memastikan keamanan kedai ini sebagai ganti biaya makan,"
Lelaki bernama Fu Duan dengan pedang pendek di pinggang serta belati kecil di lengan kirinya memaksa dengan keangkuhannya. Orang-orang tidak ada yang berani bertindak bahkan bersuara, mereka hanya diam.
Tetua Tiandou yang sejak awal datang ke kedai bersikap begitu tenang tanpa berbicara, melirik Tan Hao sejenak kemudian berdiri dan berjalan memasuki kedai.
"Kau harus sopan pada wanita! Dan lagi bukan hanya makananmu yang harus kau bayar, meja tak bersalah itu pun juga harus kau ganti rugi,
Dan ganti rugi ke semua orang yang ada disini atas ketidaknyamanan yang kau buat, atau ... ."
Tiandou bersikap dingin, ekspresi datar yang ia perlihatkan membuat orang-orang yang berada disekitar saling berbisik.
"Orang ini! Apa dia tidak tahu siapa yang sedang ia ajak bicara,"
"Sepertinya akan ada korban lagi,"
"Fu Duan bukan orang yang mau bernegosiasi, apalagi ditegur seperti itu, haih semoga nasib baik ada pada orang itu,"
Tiandou dapat dengan jelas mendengar bisik-bisik pengunjung kedai, namun pandangannya tetap tertuju pada Fu Duan yang tidak menghiraukan tegurannya.
"Kau tuli! Aku bicara denganmu," bentak Tiandou.
Fu Duan menoleh dengan pelan, "Coba kulihat siapa tikus yang berani bersikap kurang ajar,"
Sementara itu di luar kedai Su Kong merasa gregetan dengan tindakan Tiandou yang terlalu banyak berbasa-basi.
"Hei hei, apa-apaan orang itu! Coba lihat apa yang ia lakukan? Buang-buang tenaga," ujar Su Kong sembari menunjuk Tiandou.
"Mulutmu terbuat dari apa! Mau aku sumpal dengan tombak!" sahut Tetua Shuxan.
"Kau diam dan nikmatilah arakmu, berisik sekali lagi akan kubuat kau tak bisa bicara selamanya," ujar Tan Hao dingin.
"Iya ... Iya oke! Aku diam aku baik,"
Disisi lain, Fu Duan merasa dirinya pendekar yang paling hebat di Desa Hibei sebab itu berlaku angkuh dan sombong, bahkan selama 15 tahun tak ada yang berani mengusik ataupun menantangnya berkelahi.
__ADS_1
"Oh ... Hanya orang asing yang tak tahu tempat! Sebaiknya kau diam dengan tenang selayaknya orang-orang ini, aku tidak ada urusan denganmu," kata Fu Duan merendahkan, tatapannya bahkan tak mengindahkan sikap dingin Tiandou.
Tetua Tiandou mendekati Fu Duan yang kembali membelakanginya, ia meraih kerah leher belakang Fu Duan kemudian melesat cepat menariknya keluar kedai.
Para pengunjung kedai bahkan tak ada satupun yang menyadari hal tersebut, mereka enggan untuk terlibat. Sejak Tiandou menghampiri Fu Duan, tak ada satupun dari pengunjung kedai yang mau memperhatikan lagi.
Fu Duan sendiri bahkan tak bisa mengetahui apa yang sedang terjadi, dirinya merasa sedang dihempas angin topan yang begitu cepat.
Tiandou membawa Fu Duan menjauh dari kedai makan, masuk ke tengah hutan hibei.
BBRRUUKK ...
Tubuh Fu Duan dihempaskan ke tanah oleh Tiandou setelah sampai di ujung persimpangan jalan antara hutan kematian dan desa hibei. Berjarak beberapa kilometer dari kedai makan.
"Sekarang tak ada yang akan ikut campur! Berdirilah katakan apa mau mu," Tiandou berseru dingin.
Fu Duan yang masih belum menyadari apa yang terjadi bersusah payah bahkan hanya untuk berdiri, tubuhnya terasa sangat lemas dan lemah.
"Apa yang terjadi! Kenapa kepalaku pusing sekali," gumam Fu Duan memegangi kepalanya.
"Tempat ini! Mengapa aku bisa sampai disini?
Tiandou tak menjawab melainkan mengeluarkan energi nya bersiap untuk bertarung, tatapan dingin yang seolah memberi pertanda tak akan ada ampun.
Melihat hal tersebut Fu Duan termundur selangkah, keringat dingin mulai membasahi wajahnya.
"Kekuatan macam apa ini? Tekanannya berat sekali," batin Fu Duan.
Tiandou berjalan selangkah demi selangkah mendekati Fu Duan dengan tetap menekannya dengan energi spirit yang dikeluarkannya.
"Tu-tunggu dulu! Tunggu dulu tuan pendekar! Aku punya informasi bagus sebagai jaminan nyawaku. Aku yakin tuan pendekar akan tertarik," pekik Fu Duan yang tubuhnya gemetar menahan tekanan energi Tiandou.
Tiandou menaikkan sebelah alisnya, kemudian muncul senyum tipis dibibirnya.
"Baiklah! Jika aku tak puas, kau tahu kan bagaimana akhirnya,"
Fu Duan menelan ludah, dalam pikirnya tak pernah ia ketakutan selama ini bahkan sebelum bertarung. Ia merasa tubuhnya seakan menolak untuk bergerak.
•••••
Tan Hao tetap tenang sejak kedatangannya bukan semata-mata karena ia menikmati santapan dan arak, namun ia tengah berwaspada pada sosok orang tua yang memakai camping dengan seruling tua di atas meja dekat dengan kendi arak miliknya.
__ADS_1
Orang tua dengan jenggot tebal putih lusuh tersebut terlihat menikmati arak menggunakan gelas kecil, jarak meja nya dengan Tan Hao tak cukup jauh yang sama-sama berada di luar kedai makan.
"Betapa tenang dia ditengah hiruk pikuk pendekar disini! Aku penasaran, kenapa aku tak bisa merasakan kekuatan miliknya. Sepertinya orang tua itu bukan orang sembarangan." batin Tan Hao menengguk arak sembari melirik kearah orang tua tersebut.
Tan Hao begitu memperhatikan setiap pergerakan orang tua tersebut hingga ia mengabaikan Lan Lihua dan Liu Zey yang tengah digoda oleh beberapa pendekar muda berpakaian sama.
Sedangkan Su Kong tengah sibuk menghitung uang nya, ia merasa akan menjadi miskin setelah ini. Sebab, beberapa waktu sebelumnya ia berjanji akan mentraktir semuanya menggantikan Tiandou. Keputusan yang saat ini menjadi penyesalannya.
"Mengapa lama sekali Senior Tiandou! Apakah aku harus menyusulnya," gumam Tetua Shuxan yang terus memandangi arah perginya Tiandou.
"Tenanglah Tetua Shu, senior akan kembali membawa informasi bagus. Lebih baik Senior Shu urus pendekar muda disana sebelum singa betina hilang kesabaran," sahut Tan Hao menjawab kegelisahan Tetua Shuxan.
Tetua Shuxan menelan ludah, ekspresi konyol segera tercipta di wajahnya.
"Singa betina ya, eh,-!! He hehe hehe,"
"Iya! Apa aku salah bicara? Kurasa tidak, cepatlah Tetua Shu sebelum tempat ini akan jadi debu," balas Tan Hao jelas dan tegas.
Tan Hao bisa merasakan aura Lan Lihua berubah pekat, ia tak bisa bergerak sendiri sebab ia masih penasaran dengan sosok orang tua bercamping lebar yang duduk tenang tak jauh darinya.
Tetua Shuxan memahami maksud Tan Hao, ia berniat mengajak Su Kong namun ia urungkan setelah melihat raut wajah Su Kong begitu menyedihkan dengan tetap menghitung uangnya di atas meja.
"Pendekar Muda! Apakah ada yang salah denganku, hingga kau terus memperhatikanku,"
Tiba-tiba Tan Hao mendengar suara yang begitu jelas, Tan Hao menoleh kesana kemari mencari sumber suara tersebut namun tak menemukan seorang pun berbicara padanya.
"Siapa itu tadi! Aku yakin itu ditujukan untukku," gumam Tan Hao sembari mengenggam gelas arak.
Sesaat kemudian pandangannya tertuju pada orang tua bercamping tersebut.
"Mungkinkah orang itu! Bagaimana bisa ... ."
••••
***selamat malam semua, terimakasih atas like dan vote dari pembaca setia sekalian dan terimakasih juga atas kritik serta saran dalam kolom komentar. Author berharap kepada pembaca setia, jika terdapat typo atau kesalahan tanda baca mohon untuk memberitahukan di kolom komentar agar dapat segera diperbaiki.
Jangan lupa untuk menyempatkan like setelah membaca, komen apapun asal dengan bahasa yang baik serta vote jika menyukai LDS sebagai bentuk dukungan dari kalian untuk Author.
Semoga kalian sehat selalu.
Selamat membaca*** ...
__ADS_1