Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 146 ~ Pengemis Tua


__ADS_3

Tan Hao bergegas menuju menara setelah memerlukan waktu lumayan lama mendengarkan informasi yang disampaikan oleh Fen Fang. Sebelum pergi, Fen Fang memberikan beberapa nasehat singkat serta mengatakan siap membantu Tan Hao dengan beberapa syarat yang disetujui.


"Orang yang disebut Maharaja Yan itu sebenarnya siapa? Sampai memiliki pengikut setia seperti mereka berdua ... Ah, sepertinya memang aku harus segera menyelesaikan masalah ini dan bergegas ke kota kerajaan!" gumam Tan Hao sembari mengamati bagian depan menara tersebut sementara langkahnya begitu teratur.


Apa yang diketahui Tan Hao mengenai masalah yang terjadi memang belum cukup banyak, walaupun ia bisa sedikit memposisikan pemikirannya untuk memahami apa yang sedang terjadi. Pertemuannya dengan pengemis tua yang memiliki kekuatan tak terbaca olehnya itu, membuat Tan Hao merasa bersemangat untuk mengetahui isi alam dunia yang sesungguhnya.


Beberapa informasi dan pesan penting yang disampaikan pengemis bernama Fen Fang itu cukup membuat Tan Hao penasaran, mengenai satu diantara dua orang yang dibicarakan Fen Fang memiliki kitab pusaka yang tengah ia cari.


Tan Hao meyakini jika kemungkinan usia orang itu terpengaruh oleh salah satu dari lima kitab dewi suci yang dia miliki. Meskipun dirinya juga belum mengetahui fungsi dan apa yang ada didalam Kitab Enam Dewa Naga, tetapi sedikit banyak dirinya memahami hal itu.


Tubuhnya yang telah menyatu dengan dua kitab dewi suci belasan tahun lalu dan walaupun belum sepenuhnya mempelajari salah satu diantaranya tetapi kekuatan dan kemampuannya meningkat berkali lipat, apalagi jika sudah berpuluh tahun. Hal yang cukup bisa dibayangkan bagaimana penguasaan yang telah dicapai orang itu.


Berbekal pesan yang disampaikan Fen Fang mengenai kemungkinan letak kelemahan orang tersebut, Tan Hao cukup percaya diri. Meskipun kekuatannya berkurang banyak sepeninggal Ye Yuan dan Pedang Dewa Surgawi yang belum pasti kapan akan kembali.


Tan Hao menyusuri lorong menara yang cukup gelap itu sembari menggunakan tingkat dasar dari Mata Dewa dan Insting Dewa. Nampak jelas terdapat beberapa sekat pemisah ruangan dan dua sisi anak tangga yang melingkar ke atas.


Sementara itu, Xinxin dengan ditemani Mu Yuan tengah berada di ruang berbeda tetapi masih di dalam menara, sedang melihat sebuah bola kristal tembus pandang. Keduanya nampak serius mengamati apa yang ada didalam kristal tersebut.


Yan Chui sendiri sedang berdiri di anak tangga terakhir menunggu Tan Hao sesuai usulan Yan Mu sebelumnya. Sementara Yan Mu sendiri sedang duduk santai di depan Sui Jiu.

__ADS_1


"Aura disini kenapa familiar sekali? Dan lagi, hawa keberadaan macam apa ini?" batin Tan Hao sebelum melompati anak tangga setelah sebelumnya melihat arah dari ujungnya.


"Heh! Orang ini percaya diri sekali...? Aku bisa melawannya sendirian, cih...! Apa mereka berdua tidak berlebihan kalau seperti ini!" ujar Mu Yuan remeh diselingi beberapa kali membuang napas.


Xinxin melihat berbeda, ia tahu benar seberapa kuat Tan Hao dan seberapa tinggi kemampuannya. Ucapan Mu Yuan tak mengindahkan penglihatannya dari bola kristal pemberian Yan Mu beberapa waktu sebelumnya itu.


"Diam dan perhatikan saja. Orang ini memiliki banyak benda berharga dengan kualitas tinggi, jadi wajar kalau mereka berdua turun tangan langsung. Ini demi kelancaran rencana awal, hmm ...!" timpal Xinxin beberapa saat kemudian yang membuat Mu Yuan hanya terkekeh ringan tanpa berniat membalas.


Disisi lain, Fen Fang masih duduk santai di cabang pohon yang sebelumnya ia tempati. Terlihat ia sedang memainkan nada menggunakan selembar daun sembari pandangannya tertuju ke puncak menara.


Beberapa saat kemudian ia berhenti lalu tersenyum, hembusan angin menyibak rambut panjangnya yang terurai.


Fen Fang memegang seruling iblis, mengamatinya dengan begitu dalam. Terlihat jelas dua butir air matanya menetes mengenai seruling yang ia genggam erat itu.


"Sudah sejak saat itu aku tak lagi menggunakan pemberianmu ini! Aku tidak mau lagi mengorbankan seseorang yang berharga hanya untuk kekuatan semata, tapi setelah bertemu dengan pemuda itu! Apa kau tahu? Hatiku terasa tenang, ada rasa damai yang aku rasakan, dan entah kenapa aku merasa ingin membantunya! Aku merasa ingin melindunginya ... Apakah ini hal yang benar, Pertapa Tupai?" gumam Fen Fang sambil mengamati seruling iblis sementara sebelah tangannya nampak masih menggenggam selembar daun yang mengering, sejenak kemudian pandangannya berpindah ke menara diselingi senyuman tipis.


Diwaktu yang sama, Sui Jiu yang tengah dikurung dalam penjara siksaan masih di cambuk secara bergantian tetapi matanya menatap lantai yang ia pijak cukup tajam, bukan rasa sakit yang ia rasakan melainkan ingatan tentang pengorbanan dan kematian Xin Jiu.


Bayangan masa lalu tercipta begitu saja di benaknya bersamaan dengan setiap cambuk yang mengenai punggungnya, Sui Jiu merasa ini merupakan hukuman langit karena telah gagal menyelamatkan nyawa sang kakak.

__ADS_1


"Kau sebenarnya wanita yang tangguh! Hanya saja, kau terlalu berani mencampuri urusan orang lain dan memandang tinggi kemampuanmu...! Kata guruku, itu tidak bagus. Tidak bagus," ujar Yan Mu menggeleng kepala pelan dengan masih tersenyum.


"Cih...! Kau mungkin orang yang hebat soal kekuatan, tapi bodoh soal nurani dan kebaikan ...!"


"Hehe, benar! Apa itu kebaikan jika harus mengorbankan yang paling berharga? Apa itu nurani jika harus melihat seseorang mati di depan mata sendiri...? Kata guruku, itu tidak bagus. Tidak bagus,"


Sui Jiu terbelalak mendengar perkataan Yan Mu tersebut, tatapan matanya menjadi lain namun masih belum beranjak dari pandangannya. Ia terkejut, bagaimana bisa Yan Mu mengetahui apa yang sedang ia pikirkan. Namun akal sehatnya kembali bekerja setelah bayangan Tan Hao tiba-tiba muncul dalam benaknya.


"Mungkin kau benar soal itu! Tambahkan lagi siksaanmu, aku anggap ini adalah hukuman untukku," kata Sui Jiu sembari menutup mata.


Yan Mu hanya memperlebar senyumannya, terlihat ia sedang memainkan dua bola emas seukuran buah anggur ditangannya. Tatapannya masih tertuju pada wajah Sui Jiu yang tertunduk.


"Oh! Dia hampir mencapai tempat ini...! Menyebalkan sekali harus melawannya disaat seperti ini ... Yan Mu sialan itu, cih!" gerutu Yan Chui sambil melihat arah anak tangga menurun didepannya dengan kedua tangan terlipat di pinggang belakang.


Yan Chui membiarkan hawa kekuatannya seolah tertekan dengan kehadiran Tan Hao. Ia berencana membuat Tan Hao bertarung tanpa menggunakan senjatanya, sebab Yan Chui tahu benar betapa merepotkan nantinya jika sampai Tan Hao menggunakan pedang dewa hampa.


Tan Hao masih melompati anak tangga itu dengan pandangan lurus ke atas sembari mempertahankan kecepatannya.


"Nona Sui! Bertahanlah ...."

__ADS_1


__ADS_2