
"Kurang ajar! Aku pasti akan membalasnya." ujar Yong Li sembari memegang dadanya sesaat setelah terbangun ia muntah darah ringan.
Terlihat disisi Yong Li berada terdapat dua orang dengan jubah menutupi seluruh tubuhnya. Kedua orang tersebut berdiri disisi samping Yong Li yang tengah duduk bersila.
"Dasar lemah! Menghadapi satu orang saja harus mengorbankan benda berharga dan itu pun masih terluka." ujar salah seorang di samping kiri Yong Li.
"Mengecewakan," timpal seorang di samping kanan Yong Li.
Ditempat lain Tiandou terengah-engah dengan wajah penuh peluh. Meski begitu ia terlihat tersenyum kecil.
"Aku tak mengira akan semelelahkan ini dari terakhir kali ku ingat,"
"Aku harus cepat memulihkan tenagaku dan mencari Tetua Shuxan." gumam Tiandou sebelum mengkonsumsi Jamur Emas Yin Yang yang ia keluarkan dari cincin bumi.
Tak butuh waktu lama bagi Tiandou untuk menyerap khasiat sumberdaya tersebut. Setelah ia kembali menyimpan Pedang Sabit Matahari ke dalam cincin, Tiandou melirik sesaat jasad Yong Li kemudian melesat cepat kearah terakhir kali ia melihat Tetua Shuxan bertarung dengan Yong Ho.
Tiandou tak mengetahui rahasia kemampuan Yong Li, sebab itu ia sama sekali tak berniat memeriksa potongan tubuh Yong Li yang tergelatak tak jauh dari jasad Yong Ho.
Hal mengejutkan yang di lihat Tiandou setelah beberapa waktu mencari keberadaan Tetua Shuxan cukup membuatnya berdiri mematung di sebuah cabang pohon.
"Zey?!" ucap Tiandou terkejut.
Tiandou melihat dengan jelas bahwa Tetua Shuxan tengah duduk bersila sementara Liu Zey duduk dibelakangnya dengan kedua telapak tangan menempel dipunggung Tetua Shuxan.
Ia cukup tau bahwa yang dilakukan Liu Zey membantu proses penyerapan sumber daya. Tiandou juga melihat ada seorang di belakang keduanya yang sedang bersandar santai.
Setelah mengatur nafas beberapa kali Tiandou memutuskan untuk turun dan berjalan ringan ke tempat Tetua Shuxan dan Liu Zey berada. Meski dalam pikirannya tengah berkecamuk berbagai macam hal ketika melihat Liu Zey lagi.
Ia berjalan pelan dengan tatapan lurus kedepan tanpa ekspresi.
Su Kong menyadari kehadiran Tiandou sejak sesaat yang lalu namun ia masih bersikap tenang, Su Kong merasa Tiandou tak memiliki maksud buruk karena itulah ia masih santai menyenderkan tubuhnya di batang pohon yang tumbang.
"Ah kau datang? Apakah dia rekanmu? Tenang saja, Dewi Zey sedang membantunya, kurasa beberapa saat lagi mereka akan selesai," kata Su Kong ramah setelah jarak tempatnya berada tak jauh dari Tiandou yang sedang berjalan pelan kearahnya.
"Duduklah. Tunggu saja! Disini lumayan nyaman, hehe." lanjut Su Kong yang berusaha menggeser tubuhnya.
__ADS_1
Tiandou tak menjawabnya hanya tersenyum kecil kemudian duduk di sebelah Su Kong.
"Oh ya, kau berasal dari mana? Siapa namamu." tanya Su Kong berusaha ramah.
"Tiandou. Sekte Tujuh Tombak Emas. Lalu kau sendir?" kata Tiandou pelan sembari melirik ringan.
Su Kong tertawa kecil sebelum memasang wajah serius.
"Panggil saja aku Su Kong, aku berasal dari Sekte Gunung Pandan,"
"Aku tak mengira akan bertemu dua orang dari Sekte Tujuh Tombak Emas ditempat seperti ini. Meskipun Sekte kita termasuk sekte aliran putih yang cukup besar tetapi aku menyadari jarak kekuatan kita berbeda jauh." ujar Su Kong memposisikan dirinya.
Tiandou tersenyum kecil sebelum memandang punggung Liu Zey.
"Lalu? Apa hubunganmu dengannya." tanyanya ringan namun mengandung rasa penasaran.
Hal itu cukup disadari Su Kong, ia melihat tatapan mata Tiandou pada Liu Zey bukanlah tatapan mata biasa seorang teman ataupun seorang yang dikenal.
"Ya bisa dibilang aku hanya sebagai bawahan, lebih tepatnya bawahan dari wanita mengerikan. Apa kau tau? Beberapa hari ini aku merasa menyesal mencoba mengenalnya, haihh!!" ujar Su Kong yang diakhiri helaan nafas pelan.
"Baiklah, sudah selesai," ucap Liu Zey setelah melepaskan telapak tangannya kemudian membuka kedua matanya.
Tetua Shuxan mulai mengatur pernafasannya setelah mendengar ucapan Liu Zey. Kondisinya benar-benar tak seperti orang yang baru saja terkena racun.
"Aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan bukan, Tetua Shuxan?" kata Liu Zey melanjutkan ucapan sebelumnya.
Tetua Shuxan menghembuskan nafas pelan kemudian mengubah posisi duduknya menghadap Liu Zey. Ia membuka mata lebar melihat Tetua Tiandou sedang terduduk dibelakang Liu Zey tak begitu jauh.
Liu Zey jelas belum menyadari itu sebab ia masih diposisi semula.
"Ah!! Aku baik-baik saja sekarang. Terimakasih atas bantuan Nona Zey." kata Tetua Shuxan yang langsung bersikap biasa setelah Tetua Tiandou mengedipkan sebelah mata padanya.
Liu Zey menghela nafas ringan, ia merasa lega.
"Apa tetua sendirian disini atau bersama tetua yang lain? Apakah Tetua Tiandou tak bersamamu kali ini." tanya Liu Zey bertubi-tubi.
__ADS_1
Tetua Shuxan tersenyum kecil sembari menggaruk ringan pelipisnya dengan jari telunjuk.
"Ahh, soal itu. Hehe hehe."
Reaksi yang ditunjukkan Tetua Shuxan membuat Liu Zey bingung, ia memiringkan kepalanya polos seolah menunggu jawaban yang ia tanyakan. Liu Zey terlihat begitu manis dengan ekpresi seperti itu. Membuat pipi Tetua Shuxan memerah serta salah tingkah.
"Haihh. Jangan menatapku seperti itu? Aku tak ingin seseorang menendangku lagi jika kau terus menatapku seperti itu," ujar tertekan Tetua Shuxan dengan sikap santai yang dibuat-buat.
"Hmm?"
Liu Zey hanya bergumam pelan bereaksi atas pernyataan Tetua Shuxan tanpa mengerti maksudnya.
"Yang aku maksud seseorang yang ada dibelakangmu, haishh." kata Tetua Shuxan sembari menunjuk arah belakang Liu Zey dengan santainya.
Tentu saja itu membuat Liu Zey membelalak kaget, wajahnya begitu pucat. Dengan gerakan berat Liu Zey berusaha menoleh ke arah yang di tunjuk Tetua Shuxan.
Su Kong tertawa ringan melihat hal itu, setelah beberapa waktu bertukar cerita dengan Tiandou, ia memahami garis besarnya. Disisi lain, Tiandou memasang wajah ramahnya yang dibarengi senyum tipis.
"Ka-kakak,-!!" seru kaget Liu Zey dengan tubuh gemetar.
Pandangannya terasa berat tatapan matanya menyimpan banyak kesedihan dan kebahagiaan. Airmatanya mengalir begitu saja tanpa ia sadari.
"Yoo!! Apa kabarmu Adik Zey," sapa Tiandou santai sembari mengangkat sebelah tangannya.
Liu Zey berdiri sambil menunduk dengan airmata menetes tanpa henti.
"Dasar kau bodoh! Dasar kau tak peka! Dasar kau sialann." gumam Liu Zey ditengah rasa harunya dengan kedua tangan merapat erat didadanya.
Liu Zey berlari kearah Tiandou tanpa berkata apapun. Hal itu membuat Tiandou berdiri tergesa-gesa yang juga sedang menyimpan rasa haru yang sama namun ia tak tunjukkan.
Liu Zey memeluk erat Tiandou dengan isakannya tanpa berkata apapun, ia seperti sedang melepaskan seluruh kerinduannya. Disisi lain Tiandou tersenyum tipis setelah menyambut pelukan Liu Zey, ia membelai ringan rambut Liu Zey setelah beberapa saat.
Su Kong bersiul ringan sembari membuang pandangannya dengan pelan.
"Aku tak melihat. Iya..aku tak melihat." ujar Tetua Shuxan sembari mengubah posisi duduknya kearah lain.
__ADS_1
Tiandou maupun Liu Zey hanya hening diantara keduanya dan hanya terdengar isakan samar Liu Zey. Apa yang dirasakan keduanya tak bisa mereka ungkapkan, selain hanya hening dengan tangisan bahagia dan sedih tercampur menjadi satu.