
Tan Hao mengubah arah pandangannya setelah menyadari adanya energi yang cukup kuat dari arah timur. Tanpa menunda lagi, ia segera mengaktifkan Mata Dewa untuk memeriksa pemilik dari energi yang ia rasakan itu.
"Kupikir kau akan tertarik dengannya...! Dia itu Nian Zhen, Panglima Perang Raja Yan ...!" teriak Fen Fang bertingkah santai padahal ia sedang beradu pukulan dengan Yin Xiang.
Tan Hao tersenyum lebar tetapi juga terlihat sedikit menyeringai, 'Oh, begitukah? Sepertinya dia membawa sesuatu yang menarik, tapi siapa di belakangnya itu?'
Tanpa membuang waktu lagi, ia segera melesat kearah timur meninggalkan Fen Fang yang masih baku hantam dengan Yin Xiang. Padahal seharusnya hanya butuh satu jurus darinya untuk membunuh panglima iblis dari Organisasi Iblis Darah itu tetapi sepertinya Fen Fang sedang ingin meluapkan kesenangannya yang telah lama tertahan.
Disisi lain, Liu Zey perlahan membuka mata namun tubuhnya kelihatan masih lemah. Begitu juga dengan sembilan pendekar lainnya yang telah sadar lebih dulu. Hanya Xue Mei yang baik-baik saja tanpa luka.
"Oh, kau sudah sadar? Pelan-pelan saja, lukamu masih belum sembuh. Aku hanya bisa memberimu pil pembangkit energi, maafkan aku ..." ujar Xue Mei sembari membantu Liu Zey untuk duduk bersandar, sementara ekspresi wajahnya terlihat bersalah.
Liu Zey tersenyum tipis, "Tidak apa, ini sudah lebih dari cukup! Terimakasih sudah membantuku. Lalu dimana pria tadi?" mata Liu Zey melirik kesana kemari mencoba mencari keberadaan Yan Yu.
Xue Mei tersenyum paksa sambil menaikkan bahunya, "Entahlah, dia memang orang seperti itu! Kelihatannya saja malas, tapi dia orang yang baik. Mungkin saja, dia tengah mengintip orang lagi, hahaha," Liu Zey cukup kaget dengan tawa lepas Xue Mei yang tiba-tiba, membuatnya penasaran seperti apa sosok Yan Yu yang sebenarnya.
"Haciuu...! Tempat ini dingin sekali, lebih lama lagi aku bisa masuk angin," keluh Yan Yu sembari memeluk tubuhnya sendiri.
Beberapa saat sebelumnya, Yan Yu memang berniat untuk pergi ke lokasi pertempuran tetapi ia mengurungkan niatnya setelah menyadari kalau ada tempat aneh yang tak jauh dari batas antara desa dan hutan.
Bermodalkan rasa penasaran dan kepercayaan diri dengan kemampuan kecepatannya, ia memasuki tempat itu yang terlihat seperti saluran air alami. Lorong gelap serta memiliki aliran air yang dangkal tak membuat Yan Yu berbalik, ia malah terus berjalan berlawanan dengan arah aliran air tersebut.
'Sebenarnya ini tempat apa sih? Kenapa seperti tak terawat sama sekali? Orang-orang desa ini tidak menghargai sama sekali pentingnya air, heh!' batin Yan Yu sambil terus berjalan menyusuri lorong yang hanya punya dua arah.
***
Nian Zhen berlari menggunakan jurus Angin Senyap sementara jauh di belakangnya, Die Lin mengikuti tanpa ia ketahui.
'Lebih baik langsung kembali atau membantu? Akan sia-sia mengulur waktu kalau aku membantu pasukan, tetapi jika tidak aku bantu takutnya orang dengan energi tak terbaca ini menghancurkan rencanaku,' Nian Zhen terlihat masih berpikir tentang apa yang sebaiknya ia lakukan sementara laju larinya tak berkurang sedikitpun.
Die Lin masih menjaga jarak, terlihat pandangannya terfokus begitu serius mengikuti pergerakan Nian Zhen. Sebelumnya ia berniat mencari keberadaan seseorang yang menjadi tanggung jawab misinya namun perhatiannya teralihkan beberapa saat lalu ketika Nian Zhen tanpa sengaja melewatinya dengan kecepatan tinggi.
'Nian Zhen ... Aku tak akan pernah lupa perlakuanmu pada ibuku! Mungkin ini kesempatan yang diberikan dewa untukku membalas dendam,' batin Die Lin menatap tajam, sangat jelas kalau tatapan itu tatapan pembunuh.
"Hng? Sejak kapan aku diikuti? Kenapa bisa aku sampai tak menyadarinya, heh...! Dasar tikus pengganggu," ujar Nian Zhen sambil melirik kebelakang setelah kebingungannya terselesaikan, ia akhirnya mengambil keputusan untuk kembali ke kerajaan.
__ADS_1
Nian Zhen tersenyum kecil sebelum bersiap mengubah arah laju larinya, 'Kau pikir bisa mengikutiku sesukamu seperti itu. Jangan mimpi,'
SWOSH!!
Dalam sekejap ia berpindah tempat dan sekarang tiba-tiba telah berada tepat di belakang Die Lin.
"Cukup sampai disini saja perjalananmu!"
DUAKK!!
Nian Zhen memukul punggung Die Lin menggunakan kekuatan penuh, sontak saja membuat Die Lin terpental dan menghantam tanah cukup keras.
"Ugh?!"
'S-sialan, cepat sekali!' gumamnya setelah berhasil dengan cepat memulihkan diri dari hantaman keras itu dan melompat ke belakang beberapa kali mengambil jarak.
"Nian Zhen?! Jangan sombong kau...!" seru Die Lin terlihat jelas kemarahan dari balik tudung yang sebagian menutupi wajahnya.
Nian Zhen tertawa lepas sambil berkacak pinggang, "Hahaha, apa kau bercanda? Yang kuat boleh sombong, dan yang lemah terus menggonggong, hahaha ...!"
DUARR!! WHONG ... WHONG!!
"Ucapanmu ... Perkataanmu! Kurang ajar kau ... Aku Die Lin, akan membunuhmu. NIAN ZHEN ...?!"
WUSH!!
BLARR!!
Die Lin menyerang Nian Zhen menggunakan seluruh kekuatannya, terlihat jelas ia melepaskan energi tenaga dalam yang melingkupi tubuhnya.
Nian Zhen menyambut serangan itu hanya dengan mengandalkan ketangguhan fisiknya, ia sama sekali tak menggunakan tenaga dalam. Lebih tepatnya tak cukup waktu untuk melepaskan aura energinya.
DUAKK!
BOMM!
__ADS_1
WOSH!
Setiap pukulan maupun tendangan yang dilepaskan Die Lin mengandung energi tenaga dalam yang cukup besar, tapi itu seperti tak berefek apapun pada tubuh Nian Zhen.
Hanya mengandalkan kedua tangannya, Nian Zhen memblok setiap serangan yang dilancarkan membabi buta tersebut. Ia sempat tak habis pikir, pendekar bertudung emas itu seperti memiliki dendam yang begitu dalam terhadapnya padahal ia merasa tak pernah sekalipun memiliki urusan dengan pendekar manapun.
Nian Zhen menatap tajam Die Lin yang terus menghantamnya dengan pukulan, 'Orang ini sebenarnya darimana? Punya masalah apa denganku! Sejauh yang kuingat, aku tak pernah menyinggung pendekar manapun,'
WHORR!!
KABOOM!!
"Cih ... Kurang ajar! Orang ini, tidak waras!" kata Nian Zhen terseret mundur setelah terkena jurus pukulan yang ia blok dengan menyilangkan kedua tangannya.
Tan Hao terkekeh ringan melihat pertarungan keduanya di salah satu dahan pohon, 'Pendekar ini menarik sekali! Sudah tahu bukan tandingannya, tapi masih saja bersemangat seperti itu? Hmm ... Pendekar dari asosiasi memang mengagumkan!'
"Bocah kurang ajar! Apa masalahmu, aku tidak peduli. Karena kau sudah menyinggungku, maka hanya ada satu kepastian ... Mati!"
WHONG!!
Nian Zhen melepaskan aura energinya, seketika itu membuat Die Lin tertekan hingga tubuhnya terasa memberat.
Die Lin menatap Nian Zhen dengan sebelah mata sembari mencoba bertahan dari tekanan berat tersebut, terlihat bahwa lututnya sedikit gemetaran.
TINJU HARIMAU BERTARING
SWOOSH!
GROARR!!
Nian Zhen melepaskan jurus pukulannya yang terlihat seperti sebuah gumpalan energi berbentuk kepala harimau dengan mulut terbuka lebar.
Die Lin terbelalak lebar, 'Gawat, aku tak bisa bergerak! Sial ...!' sorot matanya menunjukkan ketidakberdayaan sementara tubuhnya gemetaran menahan tekanan aura energi yang dilepaskan Nian Zhen semakin bertambah.
BLAARR!!
__ADS_1
"Kenapa jadi serius begitu...! Dia sudah tidak berdaya, seharusnya kau lepaskan saja," cakap Tan Hao datar sembari memegang pundak Die Lin untuk membantunya menyeimbangkan tubuh.