Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 52 ~ Menyerang Lembah Hijau 2


__ADS_3

Setelah berhasil masuk, Tan Hao langsung di sambut oleh tekanan kekuatan yang sangat berat dan menekan. Tan Hao dapat melihat dengan jelas sumber tekanan yang ia rasakan, berasal dari seorang yang tengah duduk santai di sebuah singgasana emas.


"Ohh, aku terkesan dengan kemampuanmu. Perkenalkan Namaku Jiwei Dan. Pemimpin sekte ini. Pertama kuucapkan terimakasih karena telah mengunjungiku dan yang kedua..Hng!!"


Jiwei Dan tak menyelesaikan perkataannya melainkan langsung mengeluarkan Aura iblis disertai Mata Iblis.


Tan Hao terkejut melihatnya karena ia baru mengetahui bahwa selama ini sosok saat inilah yang ia lihat beberapa waktu yang lalu.


Tan hao dengan cepat mengeluarkan Aura Dewa. Tak cukup itu saja, bahkan ia mengaktifkan Mata Dewa. Kekuatan besar yang di keluarkan Jiwei Dan beradu dengan kekuatan besar yang dikeluarkan Tan hao.


Kedua kekuatan besar berbeda warna itu beradu saling menekan. Posisi Jiwei Dan masih dalam duduk santainya sementara Tan Hao berdiri tegap dengan tatapan tajam.


Semua orang yang berada di luar sekte bisa melihat dengan jelas dua energi besar yang saling menekan. Mereka semua merasa tertekan hingga kesulitan bernafas.


"Patriark, jika kita masih bertahan disini. Kita akan mati kehabisan nafas, sebaiknya kita menjauh. Anggota yang lain sudah tidak bisa menahan ini lebih lama lagi." seru salah satu Pertapa Angin dari Anggrek Suci.


Patriark Sun Sian tidak menjawab melainkan menatap tajam kearah dua tenaga yang sedang beradu. Dengusan keras dengan wajah penuh amarah tercampur rasa cemas terlihat jelas di wajah Patriark Sun.


"Baiklah. Kalian pimpin yang lainnya menjauh dari sini, Aku dan Senior Jing yun serta Junior Tiandou akan bertahan disini. Pergilah sejauh mungkin, bawa juga yang terluka dan obati segera." seru Patriark Sun dengan keras dan tegas.


Meskipun tekanan itu terhalang oleh pelindung hitam namun dampaknya masih sangat luar biasa di rasakan oleh Pendekar Aliansi yang berada di luar pelindung hitam itu.


Patriark sekte Tujuh Tombak Emas merasa telah melakukan kesalahan perencanaan. Dia merasa tak cukup punya banyak informasi mengenai Lembah Hijau namun dengan begitu percaya diri menyerang dengan hanya mengandalkan lima orang.


Meskipun anggota Lembah Hijau sudah tewas seluruhnya dan hanya menyisakan beberapa Tetua Anggota saja. Tapi itu tidak menjadi jaminan mereka menang.


Sebab Pemimpin Sekte Lembah Hijau tidak mereka lihat kehadirannya. Yang mereka yakini kekuatan besar yang saat ini beradu dengan kekuatan Tan hao adalah miliknya.


Kekuatan sebesar ini bukan tidak mungkin akan mampu membantai mereka semua jika Tan hao terbunuh olehnya. Raut wajah Patriark Sun begitu buruk hingga tak mampu bicara apapun lagi, begitu juga dengan dua tetua tombak disampingnya. Hanya diam berdiri menyaksikan tanpa mampu berbuat apa-apa yang bahkan mereka sendiri saat ini kesulitan melindungi diri sendiri.


"Ahh siiaall.. Aku terlalu meremehkan musuh sampai tak membawa Tombak Naga Emas. Kupikir dengan kekuatanku saat ini, aku tak butuh senjata. Sebagai pemimpin aku menjadi bodoh dan gagal.." gerutu Patriark Sun dengan raut wajah menahan amarah.


"Patriark, bukankah senior Feiying masih mengambil senjata dari Raja Tempa, jika dia bisa segera mungkin datang kesini membawanya, kemungkinan kita masih memiliki peluang untuk membantu Tan hao.." sergap Tetua Tiandou cepat setelah mendengar umpatan putus asa Patriark Sun sian.


Mendengar pernyataan Tiandou seketika merubah raut wajah Patriark Sun meskipun tidak terlalu mencolok.


"Oh..benar juga. Kalau begitu cepatlah hubungi dia untuk segera mungkin datang kesini.."


Tanpa membuang waktu lagi Tiandou segera mengirimkan pesan melalui telepati kepada Tetua Feiying.


•••


Tan hao dengan memegang dua pedang dewa masih berhadapan dengan Jiwei Dan yang masih pada posisinya. Terlihat jelas bahwa ia sama sekali tak kesulitan, malah sepertinya kekuatan yang ia keluarkan belumlah kekuatan penuhnya.


"Mau sampai kapan kau akan tetap seperti itu, berdiri dan hadapi aku.." seru Tan hao yang diliputi rasa geram.


Jiwei Dan menatap sinis hanya dengan senyum tipis sambil mengangkat tangan kanan dengan telapak tangan membuka keatas.


"Aku terlalu memandang tinggi dirimu, tapi yahh!! Sepertinya aku harus memperlihatkan padamu apa yang namanya kekuatan sejati.."


Jiwei Dan terlihat malas ketika berdiri namun aura yang dimilikinya meningkat tajam ketika ia telah berdiri tegak. Membuat Tan hao kembali mengucurkan keringat dingin.


Sesaat ia teringat telah banyak membuang waktu dengan bermain-main tanpa pernah berlatih. Penyesalan yang menyelimuti pikiran Tan hao membuatnya semakin pudar atas keyakinannya selama ini.


Dunia selalu di penuhi hal hal yang di luar kendali, siapapun kita keturunan apapun kita sehebat apapun kemampuan kita akan selalu ada yang lebih hebat lagi. Manusia selalu diliputi kepuasan sesaat dan lupa akan jati dirinya. Kepuasan akan apa yang telah di miliki dan diperoleh telah membuat seseorang buta akan masa depan.

__ADS_1


"Tsk.. Aku sungguh bodoh, bahkan peringatan Ye yuan pun aku sanggah. Tapi ini sudah terlambat untuk diratapi. Bagaimanapun akhirnya, tanpa ye yuan sekalipun. Aku akan kerahkan semua kemampuanku untuk membunuh orang ini.."


Bersamaan dengan semakin bertambahnya aura yang di keluarkan Jiwei Dan, Tan hao dengan sigap mengeluarkan wujud asli Pedang Dewa Hampa di tangan kirinya.


Pedang Dewa Hampa berbentuk Pedang tipis yang memanjang seperti cambuk yang memunculkan gerigi tajam di kedua sisi bilah dan berujung runcing seperti jarum tebal.


Bersamaan pula dengan itu Tan Hao mempertajam Aura Dewa pembeku jiwa ketingkat menengah.


"Hehhe.. Pedang itu menarik, cocok untukku.." Jiwei Dan menatap kagum dengan aura yang dimiliki Pedang Dewa Hampa. Yang menurutnya berkebalikan dengan aura yang dimiliki Tan hao.


"Hah haha. Jangan mimpi, pastikan dulu nyawamu masih menetap setelah berhadapan dengan Pedang Dewa ini.."


Perkataan Tan hao membuat Jiwei Dan tersinggung. Tanpa banyak bicara lagi, ia mengeluarkan senjatanya dari ruang kosong dengan tatapan tajam tanpa senyuman.


"Pedang Sabit Matahari. Senjata dewa iblis yang akan menghancurkan kepercayaan dirimu. Kita lihat, kuasa dewa ku atau kuasa dewa mu yang akan menang.."


..Pedang Sabit Pencabut Nyawa..


Jiwei Dan langsung mengeluarkan jurusnya sebelum perkataannya ia akhiri. Sebuah energi yang dahsyat membentuk sabit hitam pekat seperti kumpulan dari jutaan jiwa yang meraung kesakitan.


Tan Hao tak diam saja, ia lekas mengeluarkan Jurusnya yang juga tak kalah dahsyatnya.


"Aku tak akan kalah dari iblis macam kau.."


..Spirit Pedang : Penghapus Dosa..


Teriakan Tan hao yang dipenuhi semangat membara dengan pandangan penuh keyakinan menciptakan sebuah energi putih keemasan yang menyilaukan.


Kekuatan Pedang Dewa Surgawi terasa begitu berbeda dari saat melawan Iblis Hati Yao Yuen.


Kedua jurus hebat tersebut membentur dengan dahsyat, saling menekan dan saling memakan. Menciptakan kilatan petir yang menyambar di dalam pelindung Hitam pekat tersebut.


"Apa ini? kenapa semuanya bergerak begitu lambat..!! Ahh, Mataku?? apakah berubah lagi?"


Tan hao kembali terkejut ketika menyadari bahwa Mata Dewa nya kembali mengalami perubahan. Dan kini ia bisa melihat semuanya dengan lebih jelas dan lebih rinci.


Semua yang dilihat Tan hao seperti bergerak sangat lambat. Bahkan Tan Hao bisa dengan jelas melihat wujud asli dari Jurus yang di keluarkan Jiwei Dan.


Apa yang di lihat Tan hao adalah Kumpulan dari jiwa manusia yang telah diserap oleh Jiwei Dan. Mereka terpenjara dan tersiksa meraung ingin melepaskan diri tapi tidak bisa.


"Kurang ajarr, dasar iblis laknattt.." batin Tan Hao dengan penuh kemarahan.


..Pedang Dewa : Penyerap Kehidupan..


Tanpa membuang waktu lagi Tan hao mengeluarkan jurusnya yang lain dan segera menciptakan gelombang cahaya emas yang terpusat pada ujung Pedang Dewa Surgawi.


Cahaya emas itu menyerang Energi Sabit Hitam dari sisi yang lain.


Sontak saja membuat Jiwei Dan terkejut dengan wajah dipenuhi guratan kemarahan hebat.


Dorongan kuat dari jurus pertama Tan hao membuat Energi Sabit Hitam itu tertahan tanpa mampu mendorong balik. Sementara Jurus kedua Tan hao terlihat seperti sedang menyerapnya dari belakang dengan sangat cepat.


"Kurang ajarrr.. Tikus busuk ini!! Apakah ia tahu rahasia dari Pedang Sabit Matahari. Tidak!! Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, atau aku akan kehilangan jiwa-jiwa menyedihkan itu.."


Jiwei Dan mengumpat kesal beberapa kali setelah menyadari bahwa jurusnya diserap oleh Pedang Dewa Surgawi dengan cepat.

__ADS_1


Sebelum dia mampu melakukan apa-apa, energi hitam berbentuk sabit itu telah lenyap terserap Pedang Dewa Surgawi.


Jiwei Dan kembali mengumpat beberapa kali dengan menatap dendam kearah Tan Hao.


"Tikus Busuk, Siaallllaannn..!! Akan ku cincang tubuhmu.."


..Jurus Pedang : Pancaran Matahari..


Seketika itu Pedang Sabit Matahari mengeluarkan gelombang cahaya kuning cerah menyerang Tan hao dengan kecepatan tinggi.


Segala apa yang di lewatinya lenyap terbakar tanpa sisa bahkan tanah pun membentuk garis lubang memanjang yang cukup dalam.


"Ehh hehe, kemarahanmu adalah kemenangan bagiku, dasar Iblis laknatt.."


..Spirit Pedang : Pelindung Langit..


Seketika itu ledakan besar terjadi hingga membuat suara gemuruh yang menggema.


Tan Hao mengeluarkan Jurus bertahan terkuat yang ia miliki tepat waktu. Meskipun termundur beberapa langkah namun Tan hao terlihat tersenyum kecil.


Jurus Pancaran Matahari nyatanya bukan sebuah jurus yang sekali keluar melainkan jurus yang terus menerus dengan kekuatan stabil dalam waktu yang lama.


Sementara Jurus Pelindung Langit merupakan energi Pedang Dewa Surgawi itu sendiri.


Jiwei Dan yang masih dalam tatapan dendamnya terus memancarkan jurusnya tanpa berkeinginan untuk mengakhiri.


Dentuman keras disertai gempa segera tercipta bersamaan dengan gerakan cepat keduanya saling serang.


Gerakan cepat mereka dalam bertarung tidak dapat dilihat oleh Patriark Sun dan dua Tetua Tombak yang berada tidak jauh dari mereka.


Yang terlihat hanyalah sekelebatan cahaya terang yang diakhiri dentuman. Dan itu terus berlanjut seperti sebuah benang cahaya yang sedang tertiup angin.


Kecepatan pertarungan mereka berdua tak dapat di lihat oleh mata biasa. Baik Tan hao maupun Jiwei Dan tak berniat untuk memperlambat kecepatan mereka.


Jiwei Dan masih terus menyerang Tan hao menggunakan Jurus Pancaran Matahari sedangkan Tan Hao hanya beberapa kali menahannya menggunakan jurus Pelindung Langit.


Dengan Mata Dewa yang telah naik tingkat, tak sulit bagi Tan Hao untuk membalikan keadaan. Yang sebelumnya hanya bertahan dan sekarang Tan Hao menguasai serangan sepenuhnya. Jiwei Dan dipaksa bertahan oleh Tan Hao.


Selain menggunakan Pedang Dewa Surgawi, Tan Hao juga menggunakan Pedang Dewa Hampa yang begitu lincah serta penuh tenaga untuk menyerang Jiwei Dan.


Kedua Pedang Dewa milik Tan Hao beberapa kali beradu langsung dengan Pedang Sabit Matahari milik Jiwei Dan. Yang anehnya, senjata milik Jiwei Dan itu beberapa kali memiliki retakan ketika beradu namun dengan cepat kembali seperti semula.


Mata Dewa milik Tan Hao bisa melihatnya namun tak bisa mengetahui alasannya. Sementara Mata Iblis milik Jiwei Dan belum menunjukkan tanda-tanda ikut campur.


Perbedaan Kedua Mata itu terletak pada penggunaannya. Mata Iblis milik Jiwei Dan tidak menyatu dengan matanya melainkan berdiri sendiri namun berukuran besar. Sementara Mata Dewa milik Tan Hao menyatu dengan Matanya dan juga mampu meningkatkan kemampuannya.


Meskipun Tan Hao belum mengetahui tingkatan tertinggi dari Mata Dewa yang ia miliki, namun ia merasa itu sesuatu yang sangat hebat.


Pertarungan keduanya begitu lama dengan dampak yang semakin meningkat, hingga membuat Pelindung Hitam mengalami retakan di berbagai sisi.


Pelindung tersebut memang di persiapkan oleh Jiwei Dan untuk mengurung mereka berdua agar tidak ada yang ikut campur di pertarungan mereka.


Walaupun beberapa Tetua Anggota dan Empat Gadis pendamping Tan hao berada di dalamnya yang juga terkena dampak secara langsung namun tak membuat mereka berani untuk ikut campur.


Mereka sibuk dengan lawan masing-masing, meskipun pertarungan mereka terasa hambar kurang tenaga disebabkan karena sebagian tenaga dalam mereka gunakan untuk melindungi diri.

__ADS_1


__ADS_2