Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 148 ~ Teknik Pembalik Spirit


__ADS_3

Belati yang di pegang Yan Chui bersinar cukup terang setelah ia selesai bertransformasi. Cahaya emasnya bahkan hampir menutupi aura energi merah pekat pada tubuhnya. Disisi lain, Tan Hao telah bersiap menggunakan manik-manik teratai meskipun sebenarnya di dalam cincin dimensinya terdapat banyak senjata dan pusaka yang ia bawa dari Pulau Phoenix dan beberapa saat melakukan awal perjalanannya.


Tanpa pikir panjang lagi, Tan Hao menyerang Yan Chui secara langsung. Mengandalkan kecepatan dan kekuatan tubuhnya, ia melepaskan tendangan dan pukulan secara bertubi-tubi. Pertarungan tanpa teknik jurus pun terjadi begitu cepat, bahkan sesekali menyebabkan dinding menara rontok sebagian.


Yan Chui bukan tidak melawan, kecepatan gerakannya boleh dibilang lebih cepat dari Tan Hao tetapi ketepatan sasarannya lebih rendah. Hal itu terbukti beberapa kali pukulan maupun tendangannya meleset, meskipun ia juga menggunakan ekor panjangnya untuk menghantam namun sepertinya itu tak terlalu efektif, sebab Tan Hao bergerak lebih cepat dari kibasan ekornya.


Nampak jelas dari ekspresi wajahnya, Yan Chui merasa kesal dengan situasi pertarungannya. Ia tak bisa bergerak dengan leluasa dalam serangan yang di lancarkan Tan Hao. Bahkan hembusan napasnya terlihat jelas menguap di udara beberapa kali.


"Orang ini tak memberiku kesempatan sama sekali! Hmm ... Aku harus bagaimana ...!" batin Yan Chui yang masih beradu pukulan dan tendangan dengan Tan Hao.


Sementara Tan Hao memikirkan hal yang berbeda, sorot mata yang tajam seolah mengisyaratkan bahwa ia tak lagi mau bermain-main dan menghabiskan banyak waktu. Meskipun sebenarnya jika ada Ye Yuan, pertarungan ini akan selesai lebih cepat. Saat ini, Tan Hao hanya bisa mengandalkan energi tenaga dalamnya, tanpa menggunakan Energi Spirit.


Sementara itu ditempat berbeda, Yan Mu tengah memandang seseorang yang nampak jelas tengah duduk di jendela sembari memainkan nada menggunakan selembar daun. Posisi jendela yang lebih tinggi dan hampir mendekati atap ruangan membuat wajahnya tidak kelihatan jelas sebab terhalang cahaya dari luar ruangan.


Sui Jiu masih tetap disiksa dengan cambukan bertubi-tubi tanpa jeda, tetapi yang terlihat dari ekspresi dan sorot matanya tak menunjukkan rasa sakit dan seolah tubuhnya itu terbuat dari besi.


"Oh tamu tak diundang ya...! Hmm ... Untuk apa kemari, bukankah kau sudah membawa tanaman sumber daya yang kau mau ... Seruling Tua!" kata Yan Mu yang telah berubah raut wajahnya walaupun masih tetap tersenyum.


Sui Jiu mencuri pandang sesaat, ia menyadari perubahan sikap Yan Mu secara tiba-tiba tersebut namun tak mengetahui penyebabnya. Ia hanya mendengar bahwa Yan Mu tengah menegur seseorang tetapi tak bisa ia ketahui dimana orang itu berada. Hanya bisa menggerakkan kedua mata tanpa mampu menoleh sebab rantai di lehernya dan juga kekuatan energinya yang terus terhisap rantai tersebut membuatnya tak bisa merasakan kehadiran seseorang atau bahkan mengetahui ada orang lain selain yang bisa ia lihat dengan penglihatan mata saja.

__ADS_1


Orang yang duduk santai sambil bersenandung itu adalah Fen Fang, pengemis yang ditemui Tan Hao beberapa saat lalu. Ia nampak bersikap biasa saja seolah tidak ada hal yang membuatnya harus serius.


Fen Fang menghentikan perbuatannya sembari tersenyum kemudian melepaskan daun yang ia gunakan untuk bersenandung bersamaan dengan gerakannya melompat turun.


Sui Jiu terkejut sesaat melihat seseorang yang tiba-tiba berada di depan jeruji besi yang mengurungnya, walaupun hanya bisa melihat punggungnya saja tapi jelas ia berpendapat dalam benaknya kalau orang berbaju lusuh itu bukan orang biasa.


"Hng...! Sikapmu masih tetap saja seperti dulu! Itu tidak bagus, kau tahu ...!" kata Fen Fang sembari melirik kearah Sui Jiu sesaat kemudian beralih memandang Yan Mu.


"Dunia saat ini tidak cocok untuk orang tua sepertimu! Tiru lah Kera Tua, bagaimana dirinya menghilang dari dunia persilatan ... Lagipula apa urusanmu datang kemari! Menemuiku atau ... Apa kau merindukanku, Pak Tua?" desis Yan Mu sambil tersenyum namun sorot matanya menunjukkan hal lain.


Fen Fang terkekeh ringan sembari membenahi baju lusuhnya, tetapi tatapan matanya jelas tajam tertuju pada Yan Mu seolah terdapat ancaman berat menyertainya.


"Pak tua...! Dunia saat ini membutuhkan orang yang memiliki kekuatan, cara kerja hukum dunia saat ini yang kuatlah yang berkuasa dan mengendalikan semuanya. Ini masih tidak sebanding dengan jutaan nyawa yang dulu kau jadikan korban kekuatanmu, jadi dimana letak kekeliruanku ...?" sahut Yan Mu sembari membuka kedua tangannya, tetapi senyum ramah masih tetap terjaga.


Cambukan terus menerus mendarat di punggungnya tetapi seperti tidak ia rasakan sama sekali malah terlihat Sui Jiu benar-benar merasa heran dengan perubahan sikap serta gaya bicara Yan Mu walaupun senyumnya tak pernah pudar tetapi Sui Jiu bisa membaca kalau Yan Mu sedikit tertekan batinnya dengan kehadiran orang yang berada di depannya itu.


"Kau...! Kesalahanmu adalah kau menjadi penjilat dan mengkhianati keluargamu! Aku tertarik dengan gadis ini dan akan aku bawa pergi bersamaku ... Urus urusanmu sendiri, tapi ingatlah! Suatu saat nanti, kau akan menemui karmamu!" tekan Fen Fang kemudian menggerakkan salah satu jari telunjuknya mengarah ke Sui Jiu.


"Ah ... Jangan menyulitkanku disaat seperti ini! Aku masih membutuhkannya untuk mendapatkan pemuda tangguh itu! Oh ayolah, Pak Tua...!" desah Yan Mu sembari bersikap selayaknya memohon namun sorot matanya berkebalikan.

__ADS_1


Rantai yang mengikat Sui Jiu terlepas begitu saja tanpa sebab, sementara dua orang yang mencambuknya terlempar membentur dua sisi dinding berbeda hingga tak mampu bangun kembali. Sui Jiu terjatuh tak berdaya ke lantai tetapi tatapan matanya tak beralih ke seorang pengemis di depannya itu. Walaupun kesadarannya berada diambang batas.


"Jangan jadi kurang ajar...! Atau kau mau nyawamu sebagai ganti gadis ini? Aku tertarik menjadikannya sesuatu yang berguna bagiku, kau menghalangiku itu artinya kau tak punya balas budi...!" geram Fen Fang sembari melepaskan aura pembunuhnya yang terfokus pada Yan Mu.


Yan Mu termundur beberapa langkah karena hal itu sebelum kemudian ia juga mengeluarkan aura pembunuh yang nampak mirip jika dilihat sekilas. Tak berselang lama, tiba-tiba muncul sebuah mata di dahinya. Sementara senyumannya sedikit mengendur untuk beberapa saat.


Tiba-tiba terjadi getaran yang lebih kuat dari sebelumnya. Menara bertingkat tujuh itu bukan lagi bergetar tetapi lebih seperti akan rubuh, sesaat kemudian hawa energi ungu gelap menyelimuti keduanya.


Pertarungan antara Tan Hao dan Yan Chui berlangsung dengan intensitas serangan dan kekuatan yang bertambah tinggi. Terlihat jelas kalau Tan Hao ingin menyelesaikan pertarungan itu secepatnya. Sementara Yan Chui telah berada di kondisi hilang kesadaran setelah lepas kontrol dari teknik yang ia pergunakan. Hal itu terlihat dari perubahan warna bola matanya serta gerakan tubuhnya.


Tan Hao sendiri telah mengetahui kalau hal itu pasti akan terjadi, tak heran memang karena ia sudah bersiap lebih awal untuk menghadapi situasi seperti itu. Ia menggunakan satu manik-manik teratai yang berubah bentuk menjadi Cakram Amarah Teratai seperti saat melawan Zhi Shen.


Tak heran jika bangunan menara tersebut terguncang sebab tak mampu menahan dampak serangan cakram yang digerakkan oleh Tan Hao menggunakan aura energinya.


Pertarungan begitu sengit, sebab keduanya bergerak dengan kecepatan sama tinggi. Zirah Api yang menyelimuti tubuh Yan Chui menjadi lawan tangguh bagi cakram Tan Hao. Zirah tersebut seperti tak tertembus walaupun serangan cakram itu menimbulkan dampak tekanan pada bagian tubuh yang terkena.


Saat ini, Tan Hao hanya mampu menggerakkan satu buah cakram, hal itu berbeda ketika energi spirit Ye Yuan masih berada di dalam tubuhnya. Tan Hao mampu menggerakkan dua buah cakram sekaligus. Meskipun sebenarnya Tan Hao memiliki lima biji manik-manik teratai.


Ditengah-tengah pertarungan, terlihat Tan Hao mengkonsumsi satu butir pil berwarna biru keemasan, gerakannya sangat cepat dalam mengambil di cincin dimensi maupun dalam melahapnya.

__ADS_1


__ADS_2