
Beberapa waktu telah berlalu saat Tan Hao meninggalkan istana Jenderal Rui Yun, tak ada rencana lain lagi yang ia lakukan selain langsung menemui orang yang ada didalam daftar.
Gulungan itu bukan hanya berisi nama tetapi juga keberadaan orang yang dimaksud, tak butuh banyak waktu bagi Tan Hao untuk menemukan orang di daftar terakhir dalam gulungan tersebut.
Dia dan Fen Fang memutuskan untuk memulai dari yang paling bawah dan menyimpan lebih lama untuk kesenangan diakhir, orang-orang yang berada di daftar atas.
Mereka sama meyakini kalau lima orang teratas dalam daftar buruan itu memiliki posisi tinggi dan pastinya banyak pengikut. Oleh karena itu, baik Fen Fang maunpun Tan Hao sama-sama bersemangat meskipun dalam maksud yang berbeda.
"Aku tak menyangka kalau ternyata istana benteng barat ini adalah yang terlemah diantara benteng lainnya, tapi aku masih tak habis pikir dengan kekuatan mereka. Yang terlemah saja bisa memiliki daya rusak yang tinggi, apalagi yang berada diatasnya? Orang ini bahkan jika dibandingkan kultivasi manusia umum setara pertapa angin tahap atas, sudah memiliki inti roh warna cerah, sulit dipercaya bagaimana para manusia ular ini meningkatkan kekuatan,"
Tan Hao mengajak bicara Fen Fang dengan masih mengamati inti roh manusia ular pertama yang ia dapatkan, sementara Fen Fang terlihat sibuk menampung beberapa darah manusia ular yang keluar dari lehernya.
"Jangan lupa, alasan mereka menculik anak-anak terutama anak perempuan adalah juga berkaitan dengan pelatihan ratu mereka. Aku rasa, apa yang akan kita lakukan seperti membalas nyawa yang mereka ambil, tapi sepertinya ini tidak akan mudah, mengingat manusia ular memiliki semacam insting membunuh dan dendam yang membara...." Fen Fang menyimpan dua botol kecil yang terbuat dari kaca ke dalam cincin langit miliknya setelah dirasa cukup mengambil inti sari darah manusia ular.
Keduanya meninggalkan korban pertama dari manusia ular sementara pergerakan mereka sangat cepat. Meskipun Fen Fang belum mendapatkan apa yang ia incar tetapi ia mendapatkan barang berharga lain yang tak kalah penting selain dari kepala manusia.
__ADS_1
Matahari telah mulai menuruni langit, tak ada aktifitas berlebihan dari para manusia ular saat udara panas tengah hari sedang berada di puncaknya. Pergerakan Tan Hao dan Fen Fang sangat mulus, meskipun beberapa saat lalu membunuh ditempat umum tetapi tak ada satupun yang melihat tindakan mereka, hal itu sangat lumrah sebab area manusia ular terbagi menjadi dua yakni area penduduk dan area prajurit.
Tanpa Tan Hao sadari, pedang dewa hampa menyala terang dengan getaran yang tak teratur didalam cincin dimensi. Hal itu menyebabkan tumpukan buku dan berbagai senjata yang tersimpan di ruang yang sama melayang berhamburan.
Nyala terang itu meredup dan getarannya berhenti, kejadian itu pertama kalinya terjadi. Pedang hitam legam tanpa corak itu mengalami perubahan yang mencolok, inti roh yang tersimpan di tingkat ruang berbeda tiba-tiba lenyap entah kemana.
Wujud yang semula hitam legam seluruhnya kini sebagian bilahnya berwarna emas. Perpaduan warna hitam dan emas semakin menambah kemisteriusan pedang dewa itu. Entah bagaimana bisa pedang itu keluar sendiri dari sarungnya dan masuk kembali setelah semua kejadian itu, seolah pedang itu memiliki nyawa dan pikiran sendiri.
Tan Hao masih belum menyadari apa yang terjadi didalam ruang pertama cincin dimensi miliknya, bukan saja karena kejadian itu berlangsung sangat cepat tetapi juga pergerakan yang terjadi terhalang oleh dinding dimensi yang memisahkan tiap ruang.
Disisi lain Tan Hao hanya tersenyum kecut sembari menoleh sejenak untuk melihat Fen Fang, "Aku harap suatu saat bisa mengetahui rahasiamu, kakek!" setelah itu tatapannya menajam lurus ke depan dan lalu mempercepat laju gerakannya.
Setengah hari telah berlalu, keributan kecil yang terjadi tak menarik perhatian manusia ular yang lain. Mereka seperti acuh terhadap apa yang terjadi meskipun beberapa kali mendengar teriakan kesakitan dari arah berbeda-beda seolah teriakan itu adalah hal yang biasa terjadi.
Sejauh ini tindakan Tan Hao dan Fen Fang berjalan lancar, tak ada sedikitpun hambatan yang berarti. Dari seratus daftar orang yang diberikan Jenderal Rui Yun, keduanya telah hampir melenyapkan seluruhnya dan hanya menyisakan sepuluh orang di daftar teratas.
__ADS_1
Tan Hao sendiri tak menyangka jika inti roh yang dimiliki manusia ular ternyata berbeda bentuk dan warna, tak butuh waktu lama baginya untuk segera menyadari kalau itu terjadi karena tingkat kultivasi mereka.
Menurut pemahaman Tan Hao, semakin tinggi tingkat kultivasi manusia ular maka inti roh mereka juga semakin cerah. Hal itu dapat terlihat dari berbagai macam warna yang ada di kekuasaan Tan Hao.
"Meskipun aku tahu terdapat perbedaan, tetapi aku belum bisa memastikan apakah juga ada perbedaan di penggunaannya! Aku rasa Lan Lihua akan terkejut dengan semua inti roh ini, hehe ... Aku tak bisa bayangkan bagaimana ekspresinya nanti ketika tahu kalau ini bukan dari siluman buas," Tan Hao terlihat berbicara sendiri diatas atap sebuah bangunan yang berlubang sementara di depannya nampak belasan inti roh sebesar kepalan tangan melayang di udara seperti nyala api dengan berbagai macam warna yang menonjol.
Pada saat yang sama, Fen Fang berhasil mendapatkan kepala pertamanya. Senyum merekah tercipta begitu saja sambil mengangkat kepala itu.
Fen Fang berhasil membunuh manusia ular setara Pertapa Surga di sebuah rumah bordil, tindakannya dalam mengambil nyawa sangat cepat, kejam dan tanpa belas kasih. Bahkan beberapa wanita ular penghibur dibuat diam tak berkutik dengan segala ketakutan mereka, saat orang yang mereka hibur tiba-tiba saja kehilangan kepala begitu seseorang masuk ke kamar hiburan.
Fen Fang tertawa renyah sementara dibelakangnya ketiga wanita ular saling berpelukan sambil menahan getaran tubuh masing-masing, "Hahaha ... Dengan ini, aku hanya harus mencari dua yang terakhir, hahaha ... Niu, kau harus bersiap dari sekarang hahaha!"
Setelah keributan yang ia ciptakan, Fen Fang pergi begitu saja meninggalkan sisa-sisa perbuatannya tanpa rasa bersalah.
Seorang kakek tua berambut putih, bersenjata seruling yang kelihatannya terbuat dari gading hewan berwarna hitam kekuningan melompati atap bangunan sambil membawa sebuah kepala berhasil menarik perhatian beberapa prajurit jaga, pergerakannya yang terkesan melambat membuat orang-orang yang terlewati dapat dengan jelas melihatnya.
__ADS_1
"Kupikir dengan begini akan lebih cepat menemukan yang selanjutnya, atau mungkin mereka akan datang sendiri! Hahaha ... Aku suka pekerjaan ini, seperti pembunuh bayaran kelas atas hahaha tapi aku tak memiliki topeng, hahaha,"