
Hampir setengah malam ketiganya berjalan tanpa beristirahat, selama perjalanan tak ada apapun yang mereka temui bahkan hewan buas sekalipun.
Meskipun menyibak rimbunnya hutan, tetapi jalan yang mereka lewati merupakan jalan besar yang menghubungkan kota-kota terdekat maupun wilayah desa sekitar.
Tan Hao mengusulkan untuk berhenti dan beristirahat, biarpun mereka pendekar yang memiliki kekuatan tinggi tapi jika tak pernah tidur juga akan mempengaruhi kualitas kemampuan mereka.
Hal itu pula yang disetujui Lan Lihua tapi tidak oleh Fen Fang, ia merasa masih mampu untuk terus melanjutkan perjalanan. Menurutnya, sudah tak terlalu jauh lagi untuk sampai di sebuah penginapan yang terletak ditengah hutan.
Adanya penginapan itu menjadi penanda kalau posisi mereka berada di tengah antara kota terdekat dengan wilayah Desa Hibei. Fen Fang mengenal betul pemilik penginapan tersebut, sebab dirinya seringkali mengunjungi meski hanya sekedar menyantap makanan dan meminum arak.
Lan Lihua terlihat tak terlalu menyukai Fen Fang semenjak dia menanyakan soal Lan Hou padanya, menurutnya orang dengan kepribadian buruk seperti Fen Fang tak seharusnya berhubungan dengan kakeknya yang merupakan orang baik.
Tapi ditengah pemikirannya itu, tiba-tiba Lan Lihua teringat dengan perlakuan penduduk Kota Foshan pada keluarganya terlebih Leluhur Lan. Status Leluhur yang dimiliki nyatanya tidak berpengaruh pada keberadaan Lan Hou di Foshan.
Lan Lihua tak mengira, hanya karena dirinya. Pemimpin kota tega mencoret dari daftar keluarga Lan dan membuang Lan Hou dan Feng Zhenzu yang merupakan calon pemimpin selanjutnya Kota Foshan.
'Keluarga Lan...! Lihat saja bagaimana nanti aku mengurus kalian! Lan Chang ... Aku pasti akan membunuhmu!' Lan Lihua menggigit bibir bawahnya, terlihat sorot matanya menyimpan dendam yang mendalam ketika menyebut nama pemimpin Keluarga Lan.
Entah kenapa, tapi tiba-tiba saja hati Lan Lihua merindukan ayahnya. Perasaannya menjadi tidak begitu nyaman. Ia merasa menyesal meninggalkan Feng Zhenzu sendirian sementara tidak ada satupun penduduk desa yang menganggapnya.
"Kakek Fang, berapa lama lagi kita akan sampai? Sudah sejauh ini tapi sama sekali belum terlihat tanda-tanda ada rumah disekitar sini?" ujar malas Tan Hao ketika telah berada di persimpangan jalan.
Fen Fang terdiam sejenak, terlihat ia sedang mengamati sesuatu sebelum akhirnya menghela napas, "Seingatku, harusnya penginapan itu tak jauh dari persimpangan ini. Tapi kenapa bisa tidak ada!"
Tan Hao tersenyum sinis, 'Dasar kakek tua! Paling bisa membuat orang hilang kesabaran ...!'
Tanpa menunggu lagi, Tan Hao memutar balik berjalan kearah pohon besar yang terlewati sesaat lalu. "Hua'er...! Kita istirahat disini saja ...!"
Lan Lihua tak menjawab, pikirannya masih tak tenang. Ia hanya berjalan mengikuti Tan Hao seolah tatapannya kosong. Sementara Fen Fang masih berusaha mencari letak penginapan yang ia yakini keberadaannya tak jauh dari tempatnya saat ini.
"Hua'er! Bagaimana kondisimu saat ini? Apa ada sesuatu lain yang kau rasakan?" tanya Tan Hao setelah beberapa saat keduanya hanya hening terduduk di bawah pohon besar.
__ADS_1
Remang sinar bulan akibat tertutup dedaunan membuat suasana keduanya terasa lain, Tan Hao masih belum menyadari perubahan sikap Lan Lihua.
"Aku baik saja, mungkin!"
"Syukurlah, aku lega mendengarnya. Lalu kenapa kau duduk disana? Mendekatlah ... Hei, kemana jubahmu? Kenapa tak kau pakai, udara malam tidak bagus untuk kesehatanmu,"
Tan Hao berpikir selama ini memang jarang memperhatikan Lan Lihua, ia yakin dengan memberinya perhatian-perhatian kecil membuat sikapnya dapat berubah. Tapi ternyata tebakannya salah, Lan Lihua terlihat tidak memperdulikan Tan Hao.
"Nona Hua Hua...! Apa yang sedang kau pikirkan sampai mengacuhkan lelaki setampan aku? Aku pikir malam ini bulan sedang memberi kita isyarat, tidakkah kau ...!"
"Aku tak tertarik! Aku lelah, bisakah kau diam dan nikmati waktu istirahatmu?" potong Lan Lihua datar sambil mengubah posisi sandarannya membelakangi Tan Hao.
Tan Hao terkejut bodoh melihat reaksi Lan Lihua, ia tak menyangka kalau Lan Lihua mengabaikan godaannya. Padahal selama ini jika ia menggoda dengan kata-kata selalu dibalas tindakan, entah itu memukul ataupun melemparkan sesuatu ke wajahnya. Tapi kali ini benar-benar membuat Tan Hao bingung.
'Heh...! Ada apa dengan wanita...? Kenapa mereka selalu sulit untuk dipahami. Jika begini, sama saja rasa bosan sendirian lebih baik, daripada diabaikan seperti ini!' Tan Hao tersenyum kecut sambil mengamati punggung Lan Lihua.
***
Tan Hao terlihat malas membuka mata, reaksinya biasa-biasa saja seperti tak tertarik dengan kabar yang Fen Fang katakan.
"Apa kakek...! Sudahlah, kita kesana besok pagi saja. Aku ngantuk sekali, lagipula Lan Lihua sudah tidur dengan nyenyak. Siapa yang berani membangunkannya saat suasana hatinya sedang buruk, eh!"
"Bodoh...! Ada sesuatu yang pastinya kau akan tertarik jika mengetahuinya. Ayolah, aku sudah berjanji padanya akan segera kembali!" Fen Fang memaksa mendudukkan tubuh Tan Hao.
Beberapa saat kemudian,
"Apa kakek yakin, itu yang terjadi?" tanya Tan Hao setelah mendengar ocehan Fen Fang panjang lebar mengenai pemilik penginapan yang ia maksud.
"Yakin! Maka dari itu, sebaiknya kita kesana sekarang. Kalau kau tidak berani, biar aku yang membangunkannya ...!" ujar Fen Fang bersemangat.
"Tidak perlu! Jangan sentuh dia, eh! Kakek duluan saja aku menyusul," sahut Tan Hao tersenyum sinis menyadari senyum Fen Fang berbeda.
__ADS_1
Tan Hao bergeser pelan mencoba mendekati Lan Lihua, gerakan tangannya sangat hati-hati. Tapi sebelum sempat menyentuh lengannya, Lan Lihua berbicara, "Aku dengar! Tidak perlu membangunkanku ...."
Alis Tan Hao turun naik sebelah, ia memandang Fen Fang dengan senyum bodohnya. Hal itu membuat Fen Fang tersenyum menahan tawa.
"Baiklah, ayo kita pergi! Lagipula aku sudah baik-baik saja setelah lama berpikir," ujar Lan Lihua sembari bangkit dari tempatnya, disusul Tan Hao yang masih memasang ekspresi polos tak berdaya.
Beberapa saat kemudian keduanya mengikuti Fen Fang yang berlari lebih dulu, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di tempat penginapan itu berada.
Terlihat sebuah bangunan berlantai dua yang memiliki ukuran lumayan besar untuk sebuah penginapan di tengah hutan. Di bagian depan bangunan tersebut terpampang plakat bertuliskan Penginapan Rembulan Merah.
Begitu ketiganya masuk di lantai pertama bagian depan penginapan tersebut yang merupakan kedai makanan, mereka disambut oleh seorang laki-laki sekira berumur empat puluh tahun dengan memasang senyum ramah.
"Selamat datang di Penginapan Rembulan Merah, tuan pendekar...! Apa ada yang bisa aku bantu!" sapa laki-laki itu ramah.
Fen Fang tersenyum lebar, "Tuan Han, mereka adalah temanku. Siapkan hidangan terbaik untuk mereka dan jangan lupa arak terbaikku!"
Laki-laki itu mengangguk sebelum berteriak meminta anak perempuannya untuk menyiapkan masakan terbaik yang dimiliki.
"Silahkan duduk disini...! Tunggu sebentar, makanan akan segera siap, Tuan Fang!" kata laki-laki pemilik penginapan tersebut.
Tan Hao mengamati sekeliling kedai tersebut yang sangat sepi, bahkan satu pengunjung pun tak nampak sama sekali. Bangunan bernuansa merah tersebut cukup mewah untuk ukuran penginapan yang letaknya jauh di belantara hutan.
Sementara Lan Lihua terfokus pada sosok Tuan Han yang kini tengah berbincang santai dengan Fen Fang, tubuhnya kelihatan bukan seorang yang sehat dan itu terlihat dari wajahnya yang pucat. Lan Lihua mengamatinya dari atas sampai bawah sebelum kemudian perhatiannya teralihkan oleh kedatangan dua sosok gadis muda dengan membawa dua nampan besar berisikan makanan.
"Makanan siap...! Silahkan Nona, Tuan...! Ini hidangan terbaik kami, sayur sawi putih ditambah sedikit irisan daging sapi serta tiga macam daging panggang. Semuanya menggunakan daging segar! Silahkan ...!" kata salah satu gadis sembari menata makanan di atas meja.
Tan Hao dan Lan Lihua saling pandang sejenak, perhatian mereka tertuju pada gadis lainnya yang diam. Terlihat tubuhnya penuh luka seperti luka cambukan, sedangkan wajahnya terdapat banyak goresan seperti bekas pisau.
"Apa kau sepemikiran denganku!" Lan Lihua berbisik pelan.
"Ya, sepertinya memang benar," balas Tan Hao sambil mengalihkan pandangan ke makanan yang telah disajikan.
__ADS_1