
Beberapa saat sebelum Tetua Tiandou dikuasai Zhi Shen, Tan Hao merasakan adanya energi besar yang tak asing baginya. Dirinya sempat terkejut, bahkan berulang kali meminta Lan Lihua untuk memastikan menggunakan persepsi jiwanya.
Begitu Lan Lihua selesai menjelaskan tentang situasinya, Tan Hao bergegas keluar dari ruang penyimpanan sumber daya meninggalkan Fen Lian yang terdiam keheranan. Sementara Sui Jiu menatap kosong punggung Tan Hao. Bahkan ia juga meninggalkan Lan Lihua begitu saja tanpa sadar sebab kekhawatiran dalam hatinya.
Tan Hao bukan hanya melepaskan kekuatan petir ungu miliknya, namun juga aura dewa. Dalam pikirannya, mungkin saja Tetua Tiandou berada dalam bahaya, ia melakukan hal itu untuk menghentikan apa yang telah dilakukan energi hitam yang ia rasakan itu untuk sementara waktu.
Kekuatan petir ungu yang ia lepaskan berada dalam jangkauan luas, Tan Hao cukup yakin bahwa siapapun pemilik energi hitam tersebut sudah pasti dapat merasakan kekuatan miliknya.
Dalam kecepatan tinggi, Tan Hao melayang diudara bersamaan dengan awan hitam diatas tubuhnya yang mengandung energi petir.
Namun setelah sampai di tempat energi hitam itu berasal, Tan Hao terkejut bukan main. Menyaksikan Tetua Tiandou yang berubah penampilan menatapnya begitu tajam, padahal tubuhnya terhalang awan dan gelapnya malam. Tak cukup itu saja, keterkejutannya bertambah ketika seseorang yang berada di belakang Tetua Tiandou tertembus pedang pada bagian jantungnya.
Mata Dewa miliknya begitu jelas dalam melihat gerakan pedang dengan bentuk melengkung setengah lingkaran tersebut yang begitu cepat. Tak lama setelah itu, Tan Hao merasa mengulang kejadian serupa lima tahun yang lalu.
Pedang iblis milik Jiwei Dan itu menyerap habis energi kehidupan orang tersebut dan juga mengikat jiwanya. Gemeretak giginya serta tatapan tajam seolah mengisyaratkan jika Tan Hao benci menyaksikan hal tersebut.
"Datanglah! Kemarilah anak dewa sialann?! Ha ha ha ... Aku akan memastikan kematianmu hari ini, ha ha ha ... ."
Seruan Tetua Tiandou dengan suara bergetar seperti suara dua orang menggema, seruan yang mengandung emosional tinggi membuat Tan Hao terdiam sejenak untuk mengatur ketenangan.
"Apakah kau mau membantuku sekali lagi?" tanya Tan Hao pada Ye Yuan didalam ruang jiwa yang menyeringai tajam seolah terarah pada Tiandou.
"Mengapa kau bertanya? Tentu saja ... Lagipula aku tak kan kalah darinya seperti waktu itu!"
Guratan senyum yang tertahan terlihat di wajah Tan Hao, kemudian mengeluarkan pedang dewa surgawi sebelum meluncur cepat kearah Tetua Tiandou berdiri menatapnya dengan tatapan pemangsa seakan melihat buruan.
Zhi Shen yang mengendalikan penuh Tiandou tersenyum lebar melihat orang yang ia tunggu melesat kearahnya. Senyum mengerikan disertai tatapan penuh kegilaan.
"Bagus! Kemarilah anak dewa bajingannn ... Ha ha ha,"
SPIRIT PEDANG : PEMBALIK BUMI
__ADS_1
Tan Hao menebas udara menggunakan pedang dewa surgawi. Energi besar terbentuk dalam bayangan tebasan pedang tersebut yang membesar hingga terselimuti petir ungu akibat gesekan kasar pada awan petir yang mengambang.
Zhi Shen menaikkan sebelah alisnya, dengan cepat memegang pedang sabit matahari.
"Kau pikir dengan jurus lemah seperti itu bisa melukaiku! Naif sekali ... ."
JURUS PEDANG : PANCARAN PENGHANGUS
Jurus yang dikeluarkan Zhi Shen membuat gelapnya malam menjadi seterang siang. Kecepatannya meningkat dari saat digunakan oleh Jiwei Dan maupun Tetua Tiandou sebelumnya. Bukan hanya itu, kekuatan serta jangkauannya lebih besar dari sebelumnya.
DDDUUUAAARRR...
SWOSHHH ... SWOSHH ...
Ledakan besar terjadi ketika kedua jurus tersebut beradu di udara, menyebabkan hempasan energi besar ke segala arah.
Cahaya yang begitu menyilaukan hingga menerangi seluruh wilayah Desa Hibei, bahkan sampai ke tempat dimana aliansi sekte aliran hitam berkumpul.
"Ketua! Apa yang terjadi?" tanya salah seorang pendekar bertopeng putih pada seseorang berjubah biru tua yang tengah memandang langit dengan tangan terlipat kebelakang.
Ditempat lain, Lan Lihua berlari secepat yang dia bisa, meskipun memiliki jurus angin senyap namun kecepatannya tak secepat Sui Jiu yang telah meninggalkannya lebih dulu.
"Kakak?" batin Lan Lihua sambil melihat cahaya energi bersinar terang ditengah laju larinya.
Bahkan Liu Zey yang tengah bertarung dengan tiga orang pendekar yang sebelumnya bersama dengan Gao Zhan, terhentak oleh tekanan cahaya energi itu. Pertarungan keempatnya yang tak seimbang dalam jumlah, terhenti dengan paksa.
Tan Hao melepaskan Aura Dewa begitu mendarat tak jauh dari Zhi Shen berdiri, dan langsung dibalas dengan Aura Iblis yang dikeluarkan oleh pedang sabit matahari yang melayang di depan tubuh Tiandou yang telag dikuasai Zhi Shen.
"Haohao! Aku baru menyadari, pedang itu seperti pedang yang kau pegang. Tapi tak aku sangka, yang mendiaminya adalah dewa kematian! Dan sekarang menguasai tubuh Tian kecil? Lalu bagaimana seharusnya?" ujar Ye Yuan di dalam ruang jiwa Tan Hao.
"Aku memiliki cara, tapi aku tak yakin akan berhasil! Sampai saat ini pun, makhluk yang mendiami pedang dewa surgawi tak juga muncul,"
__ADS_1
Zhi Shen tertawa cukup keras hingga menimbulkan gema.
"Kalian pikir aku tak mendengar apa yang kalian bicarakan? Hewan rendahan dan seorang keturunan dewa payah! Ingin mengalahkanku? Ha ha ha ... Naif sekali,"
Mendengar perkataan Zhi Shen yang terkesan meremehkannya, membuat Ye Yuan lepas kendali karena amarah. Ia keluar dari ruang jiwa Tan Hao dengan wujud aslinya. Gagak Raja Langit, penguasa udara dan ketangguhan.
Wujud yang selama lima tahun belakangan tak pernah ia tunjukkan, dan kini bukan hanya ukurannya saja yang berubah. Warna bulu, mahkota bulu berbentuk seperti bunga teratai mekar diatas kepalanya juga mengalami perubahan.
"Iblis angkuh yang tak mengerti kasta kehidupan, berani-beraninya meremehkanku?"
Tan Hao terdiam sembari menatap tajam Zhi Shen. Dirinya sadar benar, jika terpancing emosi maka akan kembali mengulang kesalahan yang lama. Akal sehat Tan Hao bekerja lebih cepat untuk menemukan celah sebelum Ye Yuan benar-benar hilang kendali dan menghancurkan semuanya.
"Tenanglah, Kakak Ye! Kendalikan dirimu ... ."
NIRWANA : KUASA LANGIT
Ye Yuan menengadahkan kepalanya sementara kedua sayapnya mengepak kedepan. Energi besar tercipta diantara kedua ujung sayapnya dan kepalanya. Sebuah energi petir berwarna keunguan memadat. Beberapa saat setelahnya, Ye Yuan melemparkan energi tersebut kearah langit.
"Ah ... Terlambat! Dasar burung bodoh, tetap saja sembarangan," batin Tan Hao.
Tak berselang lama, langit menggelagar cukup keras. Bunyi yang memekakan telinga. Dari balik awan muncul energi petir alam dengan tekanan luar biasa tinggi berbentuk kepala gagak berbadan naga.
Kepakan sayap Ye Yuan membuat energi petir alam tersebut menukik tajam menyerang Zhi Shen yang masih tak bergeming dari posisinya.
"Bantu aku!" ucapnya lirih seolah berbicara pada pedang sabit matahari.
BBLAAARRR ...
CTAAARRR ... CTAAARRR ...
JDEERRR ...
__ADS_1
Ledakan petir bertubi-tubi menyerang Zhi Shen. Tan Hao menggelengkan kepala sekali kala melihat serangan dahsyat tersebut mengenai Zhi Shen dengan cukup telak.
"Kau ceroboh lagi, Kakak Ye!" gumam Tan Hao pelan.