
“Seperti apa Kota Foshan itu? Apakah orang-orang disana sangat kuat?” tanya Liqin Mei pada Lan Lihua setelah ia bercerita mengenai tempat asalnya.
Mereka berdua nampak tengah menikmati teh, terlihat juga beberapa roti gandum dan sayuran di atas meja.
Lan Lihua bisa memasuki kota sebelumnya, karena secara tidak sengaja bersamaan dengan Liqin Mei yang baru saja kembali dari Sekte Anggrek Suci.
Cukup lama Lan Lihua bersitegang dengan penjaga gerbang masuk, disaat itu Liqin Mei datang dan merasa iba dengan Lan Lihua yang sebenarnya tengah menahan untuk buang air kecil.
Singkat cerita putri Patriark Sun itu membawa Lan Lihua ke kediamannya. Dan kini keduanya nampak akrab, itu terlihat dari sikap keduanya yang sama-sama terbuka meskipun masih saling menjaga ucapan satu sama lain.
“Aku tidak tahu yang disebut kuat itu seperti apa! Apakah bisa menindas, ataukah mengorbankan saudara. Disana tak jelas siapa lawan dan kawan, sebutan kota istimewa karena tak pernah masuk kekaisaran manapun hanya di permukaan saja.”
Melihat ekspresi Lan Lihua tak terlihat baik-baik saja dalam menjawab pertanyaannya, Liqin Mei memutuskan untuk tak lagi membahas asal usul Lan Lihua.
“Kakak Mei...! Kau sudah pulang dan tak menemuiku!” Putri Li May Lin menyapa sambil setengah berlari.
Tiga wanita menawan yang memiliki pembawaan berbeda kini bertemu, Liqin Mei memperkenalkan Lan Lihua pada Putri Li May Lin sebelum mereka duduk bersama.
Putri Li May Lin yang baru saja kembali dari tempat Pangeran Li Chen setelah sebelumnya menemani Pangeran menghadiri pertemuan.
Lan Lihua yang biasanya bersikap tak ramah pada orang baru kini lebih melunak, ia tersenyum ramah ketika berkenalan dengan Putri Li May Lin.
Diwaktu yang sama, Fen Fang mengamati area luar sekte yang dijaga belasan pendekar senior sekte. Kekuatan mereka dari yang terlihat rata-rata berada di Pertapa Ahli tahap puncak.
Terlihat Fen Fang tersenyum setelah mengamati beberapa saat, pandangannya beralih ke arah Tan Hao yang sedang berbicara pada penjaga pintu masuk sekte.
“Baiklah, Tuan silakan masuk!” kata penjaga tersebut setelah memeriksa.
“Baik, terimakasih! Kakek, ayo kita masuk!”
Fen Fang tersenyum kecut sebelum mulai melangkah, “Kenapa aku menjadi semacam pembimbing anak-anak bermain! Perasaan, dari tadi selalu mendengar ajakan tanpa tujuan. Haih...!”
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
“Bagaimana menurut kakek? Apakah sebaiknya ketiga benda itu diberikan atau tidak?” tanya Tan Hao di sela-sela perjalanannya menuju ke kediaman Patriark Sun.
“Kau sendiri bagaimana? Itu terserah dirimu, mau memberikannya atau tidak! Pangeran Li Chen An mungkin saat ini tengah depresi atau semacamnya, jadi kau bisa menilai sendiri, bukan!” ujar Fen Fang sebelum mengalihkan pandangannya mengamati sekitar jalan yang terlihat sepi aktifitas.
“Yah ... Kau mungkin benar kakek! Semoga saja Pangeran ini benar-benar kehendak rakyat yang sebenarnya!”
Tan Hao berniat memberikan tiga benda berharga yang ia dapatkan dari perjalanan sebelumnya pada Pangeran Li Chen An, termasuk salah satu peninggalan Kekaisaran Tang.
Keduanya berdiskusi ringan hingga tak sadar telah sampai di depan kediaman Patriark Sun yang dijaga seorang Tetua Tombak beserta beberapa murid senior sekte.
“Halo Junior Hao! Senang kau telah kembali!” Tetua Bai Huang langsung menyapa seolah telah menantikan kedatangan Tan Hao.
Hal itu sangat wajar, sebab sebelum Tetua Jing Yun menutup diri. Ia berpesan pada Tetua Bai Huang tentang kedatangan Tan Hao dan beberapa temannya. Tetua Jing Yun juga memberitahu ciri-ciri penampilan Tan Hao saat ini. Untuk itulah Bai Huang langsung bisa mengenali Tan Hao.
Selama berjalan ke tempat kediaman Patriark Sun, Tan Hao juga tak melewatkan kesempatan mengamati sekte. Telah banyak yang berubah dan terkesan sudah lebih maju dari terakhir kali ia lihat. Bangunan yang berdiri terlihat lebih kokoh dan tinggi, disamping itu hanya ada beberapa kedai dan satu restoran yang memiliki ukuran cukup besar.
“Ah... Salam Tetua Huang!” Tan Hao terlihat terkejut sebab dirinya tak menduga akan dikenali dengan mudah, mengingat tetua tombak sebelumnya kesulitan dalam mengenali dirinya.
Tan Hao membalas salam Tetua Bai Huang dan kemudian sedikit berbincang, dari Tetua Bai Huang ini Tan Hao mengetahui jika Tetua Jing Yun tengah menjalani latihan tertutup dan kemungkinan akan keluar satu hari lagi sebelum gelap.
Tetua Bai Huang juga mengatakan jika kondisi Pangeran Li Chen masih baik-baik saja meskipun pikirannya saat ini sedikit terguncang.
Tan Hao mendapat gambaran kasar mengenai situasi Kota Shuning juga berdasarkan penjelasan dari Tetua Bai Huang. Fen Fang cukup bersikap baik saat mendengar, tetapi kemudian ia memberi tanda pada Tan Hao untuk lekas menemui Patriark Sun.
Apa yang disampaikan Tetua Bai Huang sudah lebih dari cukup menurut pendekar seruling iblis tersebut. Dirinya juga mengerti tentang bagaimana Tetua Jing Yun menutup diri untuk meningkatkan kemampuan.
Kehadiran Yan Mu juga membuatnya semakin yakin jika semua masalah ini bukan hanya soal rencana penyerangan dan penghapusan pendukung Pangeran Li Chen An.
Keduanya masuk ke kediaman setelah Tan Hao berpamitan pada Tetua Bai Huang yang wajahnya nampak lebih cerah dari sebelumnya seperti mendapat angin segar.
__ADS_1
Di dalam bangunan berlantai dua itu nampak Pangeran Li Chen tengah duduk sambil memegangi kepalanya, sementara tak jauh dari tempat duduknya ada tiga orang yang berjaga, salah satunya adalah Tetua Mei Lin dan dua orang lagi dari Asosiasi Menara Emas yang langsung dikirim dari pusat di Kekaisaran Chu atas perintah Master Zhang Shen, pemilik dari asosiasi.
“Raja Yan selalu tertarik dengan harta peninggalan Kekaisaran Tang, bisa dibilang dia sangat terobsesi untuk membangkitkan kembali Kekaisaran Tang. Untuk Raja Shu, dia termasuk orang yang menjunjung tinggi martabat dari seberapa luasnya wilayah kekuasaan. Keduanya sama-sama orang yang fanatik di bidang masing-masing, aku khawatir Pangeran Li Fen...!”
“Jangan terburu-buru menarik kesimpulan! Meskipun ada benarnya tapi kemungkinannya sangat kecil, dua raja bermartabat tinggi itu mau menjadi pendukung bocah ingusan seperti Pangeran Li Fen! Jika pun terjadi, aku pikir mereka tidak benar-benar berada sepihak!” Patriark Sun mencoba menenangkan ketegangan Pangeran Li Chen, ia berdiri di dekat jendela sambil melihat keluar.
Pangeran Li Chen selalu merasa ketakutan jika menyangkut soal dua kerajaan tersebut, sebab ayahnya Raja Li Xiuhuan tewas akibat propaganda selir kedua yang mempunyai hubungan erat dengan Raja Yan, kemudian dirinya jatuh dalam jebakan yang dibuat oleh utusan Raja Shu ketika sedang melakukan kunjungan di kota perbatasan antara Kerajaan Shu.
Meskipun dirinya telah mendapatkan bukti mengenai dalang dibalik itu adalah ibunya sendiri Permaisuri Zhu Mei yang lebih memihak Pangeran Li Fen. Tapi, Pangeran Li Chen tak memiliki kekuasaan untuk menindak lebih jauh.
Dukungan pada dirinya memang terus mengalir setelah kejadian itu, tetapi sayangnya hanya dari kalangan pejabat menengah kebawah. Biarpun tiga sekte besar aliran putih juga mendukungnya, tapi jumlah pendukungnya kalah dibanding Pangeran Li Fen.
Puncaknya saat semua aset dan kekayaannya dibekukan dengan cara memalsukan penyelewengan yang tidak pernah ia lakukan. Praktis, dirinya tak memiliki apapun untuk diberikan sebagai hadiah bagi para pendukungnya.
Hal itu berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan Pangeran Li Fen. Akibatnya, sebagian besar pendukungnya dari kalangan bangsawan dan pejabat kecil pemerintahan perlahan mundur dan beralih pihak.
Sebab itulah dirinya meninggalkan ibukota kerajaan dan berlindung ke sekte Tujuh Tombak Emas atas saran Tetua Jing Yun.
Dibawah kepemimpinan Tetua Jing Yun juga yang membuat sekte aliansi aliran putih-netral menjadi pelindung dari Pangeran Li Chen, meskipun kini ia sudah tak memiliki pendukung di dalam pemerintah kerajaan dalam urusan politik.
Patriark Sun tak banyak bicara setelahnya, ia menyadari jika dirinya kesulitan dalam berbicara mengenai pemerintahan dan hal yang menyangkut soal itu untuk bisa menenangkan kekhawatiran Pangeran Li Chen.
Disisi lain, Pangeran Li Chen menatap kosong cangkir teh di hadapannya, terlihat dari sorot matanya bahwa ia sedang memikirkan banyak hal.
“Patriark, di luar ada dua orang pemuda yang ingin bertemu anda!” kata seorang pelayan setelah meletakkan hidangan.
“Pemuda? Baiklah, aku akan menemui mereka!” balas Patriark Sun bertanya-tanya namun segera berbalik badan dan berjalan keluar ruangan.
‘Siapa dua pemuda ini? Untuk apa mereka ingin menemuiku? Mengingat mereka bisa mendapat ijin masuk penjagaan, itu berarti dua orang ini memiliki kedudukan di Kota Shuning!’ batin Patriark Sun sambil berjalan keluar gedung.
“Salam Patriark Sun...!” Tan Hao memberi hormat dengan kedua tangannya sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
“K-kau...!” Patriark Sun Sian begitu kaget sampai tubuhnya sedikit terangkat, matanya membelalak.
“Kenapa Patriark begitu terkejut? Bukankah Tetua Jing Yun sudah mengatakan tentangku...!”