
Setelah Liqin Mei memasuki sekte, petugas jaga itu pun di hajar habis-habisan oleh dua orang pengawal yang disaksikan oleh seluruh orang yang ada di depan pintu masuk sekte meskipun terhalang oleh pintu gerbang yang menutup sebelah.
Tan hao masih dengan santainya menyusuri jalan setapak diantara bangunan bangunan besar sekte. Memikirkan hal apa saja yang akan ia kerjasamakan dengan Asosiasi Menara Emas, mengingat bahwa Asosiasi besar akan sangat sulit diajak kerja sama jika tidak memberi keuntungan besar.
Dalam lamunannya Tan hao tidak sengaja berpapasan dengan seorang wanita muda beserta 4 pengawalnya.
Tan hao hanya menyingkir beberapa langkah kesamping agar tidak menabrak mereka dengan tetap menunduk yang tangannya terlipat di belakang.
Apa yang di lakukan Tan hao justru salah di mata wanita itu. Betapa tidak, dengan pakaian lusuh serta tidak memberi hormat. Wanita itu ialah Liqin Mei, dia mengira Tan hao adalah warga biasa yang belum lama datang ke sekte untuk mencari pekerjaan.
Reaksi Liqin Mei menutup hidung serta tatapan jijik segera setelah itu mengibas-ibaskan tangannya di depan mulut.
Tan Hao menyadari itu dan hanya melirik lalu melanjutkan langkahnya. Yang seketika itu membuat Liqin Mei menjadi sangat Murka.
"..Hei pengemis jorok, apa kau tidak punya sopan. Dimana rasa Hormatmu?? apa kau tau siapa aku?. Menyingkir dan cepat berlutut atau kuberikan pelajaran buruk.." Seru Liqin Mei dengan menunjuk sombong Tan Hao.
" Nona, sebaiknya kita bergegas menemui Tetua Xianjin. Untuk apa berurusan dengan pengemis lusuh ini.." ucap salah satu pengawal memperingatkan tujuan utamanya.
"..jika tidak aku diberi pelajaran, orang-orang macam ini tidak akan sadar posisi mereka. Hei, kenapa diam saja. Cepat berlutut.." seru Liqin Mei dengan menodongkan Pedang kembarnya.
Sebenarnya umur Liqin Mei dan Tan hao tidak berbeda jauh, Liqin Mei berusia 15 tahun sedangkan Tan hao 13tahun tetapi perawakan serta tubuhnya terlihat seperti seseorang yang berumur 17 tahun. Karena memang pakaian yang di kenakan Tan Hao terlihat lusuh dan jelek, sebab setelah keluar dari Pulau Phoenix, ia hanya memakai pakaian pemberian pamannya dan belum berniat untuk membeli pakaian baru.
Itulah alasan kenapa meskipun paras wajah yang dimiliki Tan hao begitu tampan tidak terlihat.
" Tan'er.. Dia adalah putri Ketua sekte, ingat tugasmu. Sebaiknya untuk sekarang kau turuti saja perintahnya agar tidak menimbulkan masalah kedepannya.." seru Ye yuan memperingatkan Tan hao karena Ye yuan sadar jika Tan Hao belum pernah berhadapan dengan wanita selama ini.
"..oohh ternyata Liqin Mei, pantas begitu sombong. Baiklah, untuk pertama dan terakhir.. huuhhh.." batin Tan hao dengan dengusan pelan. Lalu dengan pelan ia menunduk serta berlutut dengan kedua tangan mengepal kedepan kepala tanpa bersuara sedikitpun.
Melihat apa yang di lakukan Tan Hao membuat Liqin Mei mengira bahwa pengemis lusuh itu begitu ketakutan sampai tidak sanggup bicara.
Dengan tawanya yang sombong Liqin Mei menatap jijik Tan Hao.
"..bagus.bagus.bagus.. begitulah seharunya. Sekarang kau ku ampuni, tapi lain kali tidak akan. Cepat berdiri dan pergi sebelum aku berubah pikiran.." seru Liqin Mei dengan mengibaskan tangannya dengan membuang muka.
Tan Hao hanya mendengus pelan lalu berdiri dan berjalan pergi.
"..Nona, ingat tujuan kita kembali. Jadi jangan terlalu mencari masalah lebih dulu. Aku takut kita akan mempersulit Matriak Zhang Weili.." ucap pengawal yang berdiri di samping Liqin Mei yang berperawakan badan tegap serta tubuh berotot dengan pedang terikat di punggung berpakaian hitam berpola garis merah.
__ADS_1
"..iya iya aku mengerti senior Si wu, sekarang cepat kita temui Tetua Xian jin.." tandas Liqin Mei dengan kesal lalu melanjutkan langkahnya.
Alasan Liqin Mei tidak berani membantah perkataan salah seorang pengawalnya karena dia merupakan ketua senior dari murid sekte Anggrek Suci yang bernama Si wu atau Pendekar Pedang Bayangan yang sedang menyamar sebagai salah satu pengawal Liqin Mei.
Meskipun Sekte Anggrek Suci adalah sekte aliran putih namun di dalamnya juga terdapat beberapa serigala bermuka dua seperti Si wu.
...
Sementara itu Tan hao yang tanpa sadar telah sampai di halaman depan sekte masih mengumpati diri sendiri yang tidak berdaya di hadapan wanita.
"..Sepertinya kau harus membeli beberapa pakaian baru, bukan karena hinaan wanita kurang ajar barusan. Tapi kau akan pergi ke Asosiasi, tempatnya orang-orang terhormat serta pendekar berilmu tinggi. Setidaknya buat dirimu terlihat terhormat dan berwibawa untuk memudahkanmu bernegosiasi dengan mereka.." seru Ye yuan dengan kedua tangan membuka ke depan sembari tersenyum mengejek.
"..Mulut kakak Ye cukup pedas. Tapi ada benarnya juga. Baiklah kita pergi ke toko pakaian dulu dan menyiapkan sesuatu untuk melancarkan kerja sama nanti.." kata Tan hao dengan wajah malasnya.
Tidak butuh waktu bagi Tan Hao untuk menemukan toko pakaian dan membeli beberapa pakaian baru yang semua nya berwarna dan gaya sama dengan harga hanya beberapa koin perak.
Memiliki warna hitam dengan corak ungu. Tan terlihat tampan serta gagah mengenakan pakaian barunya yang sempat membuat beberapa pelayan toko terkagum terpesona.
Di dalam toko pakaian tersebut selain ruang ganti juga memiliki beberapa kamar penginapan juga pemandian air hangat.
"..Baiklah kurasa ini cukup bagus untuk menjadi identitas baruku.. hmm.." ucap Tan hao sambil melihat pantulan tubuhnya di dalam cermin didepannya.
"..Selamat datang di Penginapan Oishi, Disini menyediakan kamar luas dan juga berbagai hidangan yang bisa diantar ke kamar hanya dengan 10 koin Emas permalamnya. Apakah Tuan Muda berminat.." kata salah seorang wanita pelayan penginapan yang berada di balik meja di depan lorong masuk penginapan.
"..Yaa aku ingin menginap satu malam saja, dan bawakan aku makanan tanpa daging.." ucap Tan hao sembari menyerahkan 10 koin emas yang ia keluarkan dari cincin dimensinya.
"..Baik Tuan Muda, ini kunci serta nomor kamar anda. Silahkan beristirahat, sebentar lagi akan kami antarkan pesanan Tuan Muda.." kata wanita itu dengan senyum ramah sembari menyerahkan kunci kamar bernomor 5 itu kepada Tan Hao.
Penginapan ini memang bagian lain dari Toko pakaian yang merupakan milik orang yang sama yaitu Pedagang Oishi. Yang mempunyai banyak kamar serta bangunan bertingkat Dua.
Tak butuh waktu lama bagi Tan hao menemukan kamarnya.
Memang beberapa hari ini Tan hao tidak tidur sama sekali, itu terlihat di bawah kantong matanya yang berwarna gelap. Namun, anehnya meskipun Tan hao tidak tidur berhari.hari serta belum memakan apapun selama beberapa hari. Tidak tampak lelah maupun rasa kelaparan menyerang tubuh Tan hao.
" hahhh akhirnyaa aku merasakan tempat tidur yang lembut juga.. Haiihh andaikan paman masih disini, dia pasti akan sangat senang bisa berbaring di tempat tidur senyaman ini. hmm Paman apakah kau melihatku sekarang.." kata Tan hao dengan keluhan panjang sambil menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur tebal yang terbuat dari bulu biri-biri berwarna putih cerah.
Dalam pembaringannya, Tan hao menatap langit-langit kamar serta mengenang ingatan saat masih bersama pamannya Yao Liu di pulau Phoenix.
__ADS_1
..Tok..tok..tok..tok..
.Tuan pesanan sudah siap.
Lamunan Tan hao terhenti ketika pintu kamarnya di ketuk yang terdengar suara wanita.
"..Silahkan Masuk, tidak aku kunci.." kata Tan hao dengan mengubah posisi duduk.
Tiga pelayan wanita itupun memasuki kamar dengan masing-masing membawa makanan serta salah satunya membawa satu guci arak.
Kemudian diletakkan di atas meja pendek di depan Tan hao.
" Apakah ini Arak?? Bawa kembali, jika ada lebih baik Susu Sapi Merah atau Teh Daun Mangi.." ucap Tan hao dengan menyentuh serta memutar pelan guci itu.
Ketiga pelayan di buat bingung dengan permintaan Tan hao. Sebab biasanya Arak lah yang paling di minati oleh seorang pendekar. Namun yang Tan hao inginkan malah Susu atau Teh. Yang biasa di konsumsi oleh anak-anak juga kaum bangsawan.
Tanpa bertanya salah satu pelayan dengan cepat keluar kamar mengambil pesanan Tan hao.
" Tuan Muda sungguh berbeda, mengapa dengan Arak?? Arak yang ada disini semua nya kualitas bagus berumur puluhan tahun yang disediakan gratis, tetapi Tuan Muda malah memesan Susu yang harus dibeli dengan satu guci nya berharga 2 koin perak.." ucap salah seorang pelayan dengan penasaran yang langsung di pelototi oleh pelayan lainnya.
".ohh aku masih 13 tahun sekarang dan juga aku tidak bisa minum arak.. Jangan cemas, aku akan membayarnya.. ini untuk kalian dan ini untuk susu yang aku pesan.." ucap Tan hao sembari mengulurkan 3 koin emas serta 2 koin perak.
Kedua pelayan itu melongo tak percaya dengan tip yang mereka terima, biasanya mereka hanya mendapatkan paling banyak 10 koin perunggu. Dan sekarang mereka mendapatkan masing-masing 1 koin emas yang setara 1000 koin perunggu.
"i-ini terlalu banyak Tuan Muda, mungkin anda salah mengambil koin.." ucap pelayan wanita itu dengan gugup.
"..Tidak, aku memang memberi 1 koin Emas untuk masing-masing kalian, Anggap saja sebagai hadiah untuk keluarga kalian.. sekarang kembaliliah biarkan aku menyantap makananku.." ucap Tan hao dengan senyum ramah sembari menatap hidangan yang tersaji di atas meja.
" Te-terima kasih Tuan Muda kami akan melayani sebaik mungkin, panggil kami jika membutuhkan sesuatu.." kata kedua pelayan secara bersamaan dengan membungkuk singkat lalu melangkah mundur keluar kamar disertai senyum merekah.
Setelah Susu pesanannya datang, tanpa basa.basi lagi Tan hao segera menyantap makanannya dengan penuh semangat seolah belum makan bertahun tahun.
Yang tidak Tan hao sadari bahwa Ketiga pelayan itu adalah Tiga bersaudara yang mempunyai Rumah Cahaya. Yang berisi puluhan anak-anak tidak punya orang tua serta anak-anak cacat yang di buang orang tuanya.
Dengan 3 koin emas yang di berikan Tan hao, cukup untuk membeli pakaian baru setiap anak serta membeli makanan selama Setahun penuh.
Sebab itu lah ketiga saudara itu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
__ADS_1
Setelah itu mereka memutuskan selama malam ini bergantian berjaga di depan pintu kamar jika sewaktu-waktu Tan hao membutuhkan sesuatu.