
Liu Zey benar-benar terpojok melawan empat orang pendekar bertopeng biru yang memiliki tingkat kultivasi setidaknya berada di Pertapa Bumi tahap atas. Meskipun dirinya berada setingkat lebih tinggi namun bukan perkara mudah melawan empat pertapa bumi secara bersamaan.
Jika bukan karena angin kencang yang mengandung energi kuat menerpa tempat pertarungan mereka, sudah pasti Liu Zey akan kalah. Kini keempat pendekar bertopeng biru mengepung Liu Zey sembari menyunggingkan senyum lebar. Topeng yang mereka gunakan cukup unik, sebab bagian mulut terbuka dengan dua ujung lancip bertemu dikedua sisi dagu.
Beberapa kali Liu Zey menyusun rencana untuk melawan namun tak ada hasil baik yang ia dapatkan. Seakan perbandingan kekuatan mereka dengan dirinya terlampau jauh. Padahal dalam kondisi normal, seorang pertapa langit dapat menghadapi dua pertapa bumi dalam waktu bersamaan dengan mudah.
"Sudah kami katakan sebelumnya, bukan! Sekarang lebih baik serahkan busur itu dan kami akan berikan kematian tanpa rasa sakit, he he ...." tawa remeh salah seorang pendekar bertopeng yang memegang sepasang rantai.
Salah satu pendekar bertopeng yang memiliki rambut putih serta memegang dua bilah pedang pendek terlihat memperhatikan area sekitar ketika ketiga rekannya terfokus dengan tersudutnya Liu Zey.
Dilain sisi, Liu Zey menatap tajam sembari menggigit kecil bibir bagian bawah. Ia memegang erat busurnya seolah menahan kedongkolan atas dirinya sendiri.
"Sial! Apakah ini akhir hidupku atau ini batas yang harus aku tembus ...." lirih Liu Zey sembari melirik cepat ke arah berdirinya empat pendekar bertopeng yang berasal dari aliansi aliran hitam dibawah pimpinan Chen Seng.
"Cih ... Dasar payah! Terlalu banyak mementingkan perasaan sampai membuat lemah kekuatan pun tak ia sadari! Menyedihkan ...." batin Sui Jiu menyaksikan dari ruang dimensi miliknya sembari menggelengkan kepalanya melihat kemampuan Liu Zey yang menurutnya semakin merosot.
"Hahaha lihatlah wajah penuh keputusasaan itu! Sungguh membuatku terlalu senang," kelakar salah seorang diantara mereka sambil menunjuk remeh Liu Zey.
Sementara itu pendekar yang memiliki rambut putih hanya diam sejak berakhirnya hempasan angin sesaat yang lalu sambil terus memperhatikan area sekitar tanpa memperdulikan rekan-rekannya yang merendahkan dan bermain-main dengan Liu Zey.
Ia memiliki basis kultivasi lebih baik dari ketiga rekannya, seorang pertapa bumi tahap puncak memiliki indera lebih tajam dibanding tingkatan dibawahnya. Itu hanya tinggal naik satu anak tangga dan mencapai pertapa langit dasar.
Itulah sebab ia merasakan ada kekuatan lain yang sedang memperhatikan mereka sejak beberapa saat yang lalu. Namun kemampuan inderanya masih tergolong dasar, ia hanya mampu merasakan tanpa mampu memastikan.
"Kumpulan orang tak berguna, cepat selesaikan atau kita yang diselesaikan!" seru pendekar tersebut merasa jengah dengan ulah rekannya yang membuang-buang waktu.
Pendekar berambut putih tersebut berinisiatif menyerang Liu Zey lebih dulu setelah ia merasa hawa berat seorang yang memiliki tingkat kultivasi lebih tinggi terasa begitu kuat terarah padanya.
__ADS_1
Menggunakan sepasang pedang pendek dengan bilah perak, ia melompat cepat kearah Liu Zey yang nyatanya belum siap sebab itu dari arah belakang.
KLAANG ...
SROOSSHHH ...
Tebasan cepat yang ia lepaskan di dukung dengan kecepatannya yang tinggi kontan saja membuat satu serangan tersebut berhasil mengenai Liu Zey cukup telak.
"Beres," ujarnya singkat setelah berpijak di tanah.
Namun ia segera mengerutkan dahinya ketika melihat ekspresi lain rekan-rekannya. Dengan cepat ia berdiri dan menoleh untuk melihat apa yang terjadi.
"A-apa?!"
Tebasan yang seharusnya merobek pinggang dan bahkan bisa memotong tubuh Liu Zey nyatanya tak berefek apa-apa. Tubuh Liu Zey tetap berdiri dengan utuh tanpa goresan sedikitpun kecuali dari pertarungan sebelumnya.
Pemandangan tersebut membuat pendekar berambut putih membelalak tak percaya. Racauan tak jelas keluar dari mulutnya sembari mempertajam penglihatannya akan area sekitar.
"Tidak! Itu memang benar. Senior Yun gagal melakukannya," balas yang lainnya.
"Kalian lihatlah lebih jelas! Di belakang punggung wanita itu ...." kata pendekar lainnya sembari menunjuk.
Liu Zey sendiri menatap tak percaya, menyadari tubuhnya seperti terlindungi sesuatu yang keras dengan tiba-tiba sebelum pedang ganda pendekar berambut putih yang dipanggil senior Yun mengenai tubuhnya.
"Apa yang terjadi? Ini ... Bagaimana bisa Pisau Naga Perak berada disini?" gumam Liu Zey bergetar seakan tak mempercayai penglihatannya.
Tiba-tiba pusaran gelap muncul di udara tak jauh dari tempat Liu Zey berdiri membuat keempat pendekar aliran hitam terkejut dan bahkan refleks melompat mundur.
__ADS_1
"Sebagai Dewi Empat Penjuru, kau satu-satunya yang sampai saat ini masih memalukan! Melawan kumpulan sampah seperti mereka saja membuatmu kewalahan, bagaimana bisa kau masih memiliki muka di depan Tuan Muda, hah?"
Liu Zey tertunduk dengan tubuh bergetar, tanpa perlu ia pastikan lagi siapa pemilik suara yang terdengar angkuh tersebut.
"Kakak Sui! Ma-maafkan a-aku ...." lirih Liu Zey yang masih tertunduk lemah.
Perkataan menyakitkan yang dilontarkan Sui Jiu tersebut sudah lebih dari belasan kali Liu Zey dengar namun baginya tetap saja itu menyakitkan. Kenyataannya memanglah seperti itu, beberapa tahun terakhir ini yang tidak mengalami peningkatan kemampuan hanyalah dirinya. Bahkan ia harus mengakui jika Liu Ran yang tengah sakit pun masih bisa berkembang melebihinya.
"Kau? Ini bukan urusanmu, mengapa ikut campur masalah kami?" hardik pendekar berambut putih sembari menatap tajam.
Sui Jiu berjalan mendekati Liu Zey, kemudian menepuk pundak kirinya perlahan.
"Jika seorang adik mendapat masalah? Lalu apa yang kau pertanyakan soal ikut campur?"
Perkataan Sui Jiu membuat pendekar berambut putih yang memiliki nama Yun Lei dari sekte Harimau Emas itu tersentak kaget. Dirinya tak menyangka jika orang yang sedari tadi ia rasakan kehadirannya merupakan saudara dari wanita yang ia permainkan itu.
Yun Lei menoleh ketiga rekannya, yang ia lihat ketiga rekannya tersebut tak mengenali wanita yang kini berdiri santai dan terlihat sedang membicarakan sesuatu dengan Liu Zey.
"Sialann! Siapa sangka bertemu iblis pembunuh itu ditempat ini? Dan lagi, orang-orang tak berguna ini ... Menyedihkan," batin Yun Lei bersungut kesal menyadari ketiga rekannya yang memang dari sekte yang berbeda tersebut buta informasi.
"Hei, Senior Yun! Datang satu wanita lagi! Bukankah ini makanan empuk untuk kita pagi ini?"
"Benar senior! Lalu bagaimana selanjutnya?"
"Uhk ... Makanan empuk kepalamu! Kita yang makanan empuk baginya, dasar kalian tak berguna," Yun Lei tersedak napasnya sendiri ketika mendengar ocehan ketiga rekannya tersebut yang masih tak menyadari situasi.
"Ku lihat kalian begitu percaya diri! Kalau begitu, silahkan kalian urus ...." kata Yun Lei datar yang langsung di balas anggukan bersamaan ketiganya.
__ADS_1
"... Jika mampu," bisik Yun Lei melanjutkan perkataannya yang tidak di dengar oleh rekan-rekannya.
Sui Jiu terlihat sedang berbicara serius dengan Liu Zey, itu terlihat dari beberapa kali terjadi perubahan raut wajah Liu Zey meskipun tak begitu jelas.