
Kekuatan penuh dari tenaga dalam yang sebelumnya dimiliki Tan Hao berada di tingkat Pertapa Dewa Petir tahap dasar, menurun selama lebih dari lima tahun. Hal itu juga dapat disetarakan pada kekuatan Spirit Energi di tingkat Jenderal Roh, akan tetapi itu merupakan energi tak murni.
Seorang Saint Murni atau petarung alam atas, harus menyerap roh hewan buas atau siluman buas dalam jumlah tertentu untuk menguatkan pondasi tingkatannya. Sementara Tan Hao, tak pernah melakukan itu. Ia hanya bergantung pada besaran kekuatan spirit Ye Yuan dan juga kekuatan tenaga dalamnya saja.
Pertemuannya dengan Fen Fang membuatnya membulatkan tekad untuk hanya memiliki satu inti kekuatan, dan pertarungan melawan Yan Mu merupakan kesempatan baginya untuk membersihkan inti kekuatan pada tubuhnya yang selama ini tercampur.
Padahal Tan Hao sendiri menyadari jika hal tersebut berarti menyia-nyiakan pelatihannya di Pulau Phoenix, walaupun sebenarnya yang tak berubah adalah kekuatan fisiknya yang masih sama.
Fen Fang menyadari hal itu, sebelumnya ia juga memberi pilihan untuk Tan Hao. Tetapi, Tan Hao memutuskan untuk memfokuskan kekuatannya pada satu inti kekuatan yang sama dengan yang dimiliki ayahnya. Langkah yang menurut Fen Fang cukup berani dan beresiko tinggi, sebab bukan hanya membutuhkan waktu yang tak sedikit untuk menyempurnakan pondasi menjadi seorang petarung Saint. Namun juga akan mengalami tujuh cobaan besar dari langit.
Alam Bumi, bukanlah tempat Saint berada. Resiko tinggi yang dikhawatirkan Fen Fang tak lepas dari tujuh bencana petir yang akan diterima Tan Hao jika Istana Naga Langit mengetahui hal tersebut.
Istana Naga Langit yang menurut sejarah dan juga yang diyakini Fen Fang, berada di langit ke empat alam dunia merupakan wilayah netral penjaga alam bumi dari para saint yang terdapat niat buruk dalam hatinya atau berencana jahat. Untuk itulah, jika Istana Naga Langit mengetahui telah lahir seorang Saint di alam bumi, maka secara aturan semesta orang tersebut harus menerima tujuh bencana petir yang memiliki kesulitan meningkat berkali lipat setiap bencana yang tidak bisa diprediksi kapan datangnya.
"Tenanglah, Kakek Fang! Aku tahu apa yang aku lakukan, jangan khawatirkan apa yang sedang kau pikirkan. Dengan terus memikirkannya tanpa ada tindakan dalam keberanian, lalu apakah itu masih layak disebut sebagai pembawa cahaya?" ujar Tan Hao pelan dalam ketenangannya, bersamaan dengan gerakan tangannya mengambil dan menelan pil yang sebelumnya ia persiapkan.
"Kau benar! Meskipun selama hidupku belum pernah melihat seperti apa itu cobaan dari langit untuk seorang Saint Murni, tetapi aku merasa kau dapat menghadapinya dengan baik. Dan jika kau berhasil melewatinya, kupikir cobaan petir itu bukan hanya sebatas cobaan. Namun itu juga bisa diartikan sebagai pelatihan dari langit! Hmm ... Aku mempercayaimu. Ayo, lakukan!"
__ADS_1
Fen Fang menciptakan sebuah kubah emas dengan energi tenaga dalamnya sesaat setelah selesai berbicara, sementara Tan Hao telah bersiap sejak menelan pil yang pertama ia buat bersama Lan Lihua beberapa waktu yang lalu. Pil sumber daya tingkat delapan, Pil Teratai Tujuh Kehidupan.
WHONG!
DDUAR!
WHIRR ... WHIRR
"Aarrggghhh!"
"Apakah ini, efek dari Pil itu! Sungguh mengerikan. Aku tak mengira akan sekuat ini, tapi untungnya kubahku tak hancur karenanya," gumam Fen Fang menatap tak percaya. Namun meski begitu, keputusannya membuat sebuah pelindung cukup tepat, jika tidak. Maka dapat dipastikan dampak yang terjadi akan memberi kerusakan sebagian padang rumput tersebut.
Efek cahaya terang masih melingkupi tubuh Tan Hao sementara kedua mata serta mulutnya juga memancarkan cahaya menyilaukan. Fen Fang berbicara dengan Tan Hao melalui pikiran, sebab posisinya berada di luar kubah emas yang mengelilingi tubuh Tan Hao.
"Sekarang! Lepaskan spirit energimu dan alirkan keseluruh tubuh. Gunakan Ruang Roh sebagai titik pusat dan jangan ditahan, kuasai dan kontrol arus energi yang mengalir. Konsentrasi dan rasakan setiap aliran energinya ...."
Fen Fang terlihat begitu serius dalam memandu Tan Hao, ia juga begitu hati-hati dalam memberi arahan. Tatapan matanya seolah dapat melihat dengan jelas setiap energi yang mengalir dalam tubuh Tan Hao. Gerakan kedua tangannya dalam menyeimbangkan energi di dalam kubah untuk membantu mengontrol energi alam agar tak terlalu banyak ikut terserap juga terlihat begitu hati-hati.
__ADS_1
Dari sudut lain dapat terlihat jika kedua bola mata Fen Fang menghitam seluruhnya, terdapat juga urat-urat kasar yang timbul diwajahnya. Tak diragukan lagi, kalau Fen Fang menggunakan Mata Dewa Iblis untuk melihat dan memastikan kultivasi Tan Hao berjalan lancar.
Kondisi yang dialami Tan Hao berlangsung beberapa jam lamanya dan Fen Fang masih cukup setia dalam memberi arahan walaupun terlihat jelas ia keletihan. Mengontrol kubah pelindung bersamaan dengan menyeimbangkan energi alam yang masuk, membuatnya cukup bekerja keras untuk itu. Keringat membasahi wajahnya sementara napasnya sedikit memburu.
"Mata ini cukup menyebalkan, memakan terlalu banyak energiku ... Heh!" keluh Fen Fang sambil tersenyum seolah menyemangati dirinya sendiri.
Seruling Neraka yang terselip di pinggang Fen Fang bergetar pelan bersamaan dengan munculnya sebuah simbol emas berbentuk bunga teratai sekepalan tangan di depan dada Tan Hao. Fen Fang hampir terjungkal karena saking terkejutnya, sorot matanya bukan menunjukkan kekaguman, tetapi ketakutan.
"Te-teratai penyegel dimensi! Chicun Jin Lian! Bocah ini memilikinya...! Bukannya bocah ini tidak ada ikatan dengan Dewi LianHua, lalu bagaimana bisa itu ada di dalam inti rohnya?"
Fen Fang terkejut bukan kepalang, menyadari arti simbol tersebut. Seketika kilas balik masa lalu terngiang dalam benaknya. Chicun Jin Lian, yang berarti Penyegel Dimensi hanya dimiliki oleh satu orang dan orang itu adalah Dewi Teratai Kehidupan yang berada di Istana Feiyun. Fen Fang mendapatkan pengetahuan tersebut saat dirinya berlatih dibawah bimbingan seseorang yang memiliki energi lingkaran emas dipunggungnya.
Chicun Jin Lian tak pernah terlepas dari adanya The Raging Lotus atau orang di alam bawah menyebutnya Cakram Teratai Amarah. Keduanya merupakan satu kesatuan, namun dapat dimiliki salah satunya. Jika Chicun Jin Lian berbentuk simbol energi, Raging Lotus terbentuk dari biji teratai yang memiliki tiga tingkat, setiap kelopaknya setajam angin jika berputar.
"Tan Haochun Liu Yaoshan! Seharusnya itu namamu, kan? Oh ... Ya Dewa! Apakah munculnya simbol pada dirinya ini pertanda ketetapan itu akan segera terjadi? Atau mungkin inilah masa terakhir kalinya kita akan kembali bersinar, saudara-saudaraku!" gumam Fen Fang yang masih tak habis pikir, bersamaan dengan sesaat isi pikirannya terbayang tiga sosok bayangan hitam tengah berdiri di atas tebing curam dibawah sinar bulan.
Bersamaan dengan semakin menghilangnya simbol tersebut, tubuh Tan Hao yang sebelumnya terangkat mulai turun dan menapak tanah. Tak berselang lama, cahaya keunguan dari tubuhnya kian meredup. Disisi lain, Fen Fang tersadar jika Tan Hao hampir menyelesaikan kultivasinya, maka dengan cepat ia membenahi posisi duduknya dan memperbesar energinya untuk mendorong energi Yin Yang dari alam yang sedikit tersendat.
__ADS_1