Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 179 ~ Perlawanan Nian Zhen 2


__ADS_3

Nian Zhen menatap geram, terlihat ia tak sesombong sebelumnya ketika sebelum bertemu Tan Hao. Instingnya mengatakan kalau orang yang baru saja datang tiba-tiba tersebut bukanlah orang yang mudah untuk disinggung.


Tan Hao menyeringai sembari memutar tubuhnya menghadap Nian Zhen, "Panglima Perang Raja Yan, ya! Berikan padaku apa yang barusan kau dapatkan!" tangannya menjulur seolah meminta secara blak-blakan sementara ekspresi wajahnya terlihat mengesalkan dimata Nian Zhen.


Hal itu membuat Nian Zhen terkejut, terlihat matanya menyempit dalam memandang Tan Hao, "Apa yang kau bicarakan! Aku tak mengerti, lagipula aku tak ada urusannya denganmu,"


"Hahaha, tidak ada urusannya denganku ya!" tawa lebar Tan Hao sambil membalas tatapan tajam Nian Zhen, 'Alam Dewa Petir tahap Dasar, orang ini sangat berbahaya jika dibiarkan.' Tan Hao meminta Die Lin untuk pergi ketempat aman, dirinya tak mengatakan apapun dan hanya menggunakan gerakan tangan.


Die Lin yang masih dalam kondisi terkejut, hanya bisa menuruti tanpa bertanya lebih jauh. Ia tahu benar maksud pemuda yang kini memunggunginya itu.


"Kau telah menyempatkan waktu mengunjungi tempat kecil seperti ini, tidak sopan rasanya jika aku tak menyambutmu dengan baik," ujar Tan Hao santai sambil membenahi jubah lengannya.


Nian Zhen menaikkan sebelah alisnya, "Apa maksudmu?" terlihat jelas rona ketegangan di wajahnya walaupun sikap tegasnya masih bertahan.


WHONG!!


"Maksudku! Karena kau telah berada disini, tidak lengkap rasanya jika tidak berbagi pukulan!" Tan Hao terlihat sangat serius walaupun ekspresi dan reaksi tubuhnya sangat santai.


Panglima Perang Raja Yan itu dibuat tertegun, bukan karena ucapan Tan Hao melainkan karena energi ungu keemasan yang melingkupi tubuhnya. Ia merasa sangat kecil di hadapan energi tersebut. Walaupun ia masih percaya diri dengan kekuatannya.


SWOOSH!!


Tan Hao bergerak sangat cepat ke arah Nian Zhen tanpa mendengarkan jawabannya, terlihat jelas energi tubuhnya begitu pekat.


Disisi lain, Nian Zhen terkejut sesaat sebelum memicingkan mata. Ia masih sempat mengalirkan tenaga dalamnya untuk melindungi tubuh.


BLAARR!!


Tan Hao meninju dengan kekuatan pukulan yang tak terhitung jumlahnya, dilain sisi Nian Zhen masih sempat mengeluarkan pukulan mematikannya berkekuatan besar. Adu pukulan tersebut membuat anomali udara disekitar karena tertekan oleh dua kekuatan besar tersebut.


Bukan hanya menciptakan suara yang menggelegar tetapi juga menyebabkan kilatan cahaya yang mengandung energi menyambar ke segala arah.


WUSH!!


HONG ... HONG!!


Nian Zhen membuang ludahnya, tatapannya begitu mengancam sementara adu tinju belum berakhir malah semakin memperbesar kekuatan yang digunakan. Kontan saja saling dorong dan saling menekan terjadi membuat seisi area sekitar mengalami goncangan ringan.

__ADS_1


'Aku tidak percaya, di benua ini ternyata masih ada pendekar yang mampu mengimbangi pukulanku. Orang ini bahkan sama sekali tidak merasa tertekan,' Nian Zhen menatap tajam Tan Hao, ia tak habis pikir dengan ekspresi yang ditunjukkan Tan Hao padanya.


"Jangan sombong, ini belum seberapa!"


SWOSH


"Oh, benarkah?"


BOOM!!


Nian Zhen menggunakan tangan kiri untuk meninju dan secepat itu juga Tan Hao mengimbangi tinjuannya menggunakan tangan kiri.


Panglima Perang yang terkenal keganasannya itu dibuat geram oleh sikap dan tindakan Tan Hao yang seolah seperti mengajarinya.


"Masih belum! Bagaimana caramu menghadapi ini ...!"


BOOM!! BOOM!!


DUARR ... DUARR!!


SWOSH


Bagaimana tidak, wilayah tersebut bukan hanya tergoncang tetapi juga hancur berantakan, tanah berhamburan. Keduanya bukan hanya mengandalkan kekuatan tetapi juga kecepatan.


Adu pukulan yang sebelumnya hanya berdiam ditempat, kini berubah menjadi adu pukulan disertai pergerakan di udara. Suara yang ditimbulkan bahkan lebih mengerikan daripada bunyi guntur saat akan terjadi hujan.


Die Lin membelalak lebar, keterkejutannya tak berhenti sampai disitu saja. Bahkan ia tak sanggup melihat kedua orang tersebut dan hanya sanggup melihat bayangan pergerakan mereka.


Jika tubuh mereka tidak memancarkan energi, mungkin pertarungan keduanya sama sekali tak terlihat.


'Apa-apaan dua orang ini? Mustahil ... Pertarungan ini! Terlihat seperti pertarungan seorang ... Dewa!' batin Die Lin seolah tak mempercayai apa yang ia lihat. Tubuhnya bahkan tak berhenti gemetaran karena efek tekanan yang ditimbulkan dari pertarungan keduanya.


BOOM ... BLARR!!


DUAARRR!!


Nian Zhen semakin dibuat geram sebab setiap kali mengadu tinjunya, Tan Hao menyeringai seolah sedang membimbingnya dalam pelajaran memukul. Tak sampai disitu saja, kegeramannya semakin bertambah tatkala ia menyadari kalau pukulan sekuat tenaganya selama ini hanya diimbangi dengan pukulan biasa.

__ADS_1


Memang Nian Zhen terlambat menyadari kalau Tan Hao hanya mengayunkan pukulan tersebut dengan energi yang tak sebesar dirinya, namun kecepatannya melebihi kecepatan pukulannya.


WOSH


BOOM!!


Tan Hao dan Nian Zhen melompat mundur bersamaan setelah adu tinju terakhir. Terlihat jelas wajah geram Nian Zhen hanya dibalas senyum tipis oleh Tan Hao.


"Tak heran kalau kau dijuluki Panglima Tulang Naga! Kualitas Tulang Naga Angin-mu itu tak mengecewakan. Cukup membuat diriku yang hanya memiliki kualitas tulang Singa Besi kewalahan, heh!" Tan Hao terkekeh pelan diselingi gerakan tangannya memegang cincin dimensi.


Nian Zhen tersedak napasnya ketika mendengar pengakuan Tan Hao, ia begitu terkejutnya sampai-sampai ekspresinya berubah bodoh sesaat, 'Uhk ... Dia bilang kewalahan, eh! Tunggu dulu ... Tulang Singa Besi? A-apa aku tak salah dengar? Kualitas lima tingkat jauh dibawahku, apa dia sedang bercanda, heh!'


Tan Hao memang tidak sedang berbohong, kualitas tulangnya saat ini memang hanya ada pada tingkat Singa Besi. Selama ini bahkan ia tak pernah berlatih ekstra untuk kekuatan fisik ataupun mengkonsumsi secara rutin Rumput Giok Sutra sebagai dasar pembentukan kualitas tulang.


Ia berfokus pada pengembangan Inti Roh dan juga Spirit Energinya, meskipun sebenarnya kualitas tulang akan mengalami perkembangan mengikuti kultivasi inti roh namun itu sangat lamban.


"Ada apa? Aku tidak berbohong, jika kau cukup pintar bukankah seharusnya kau dapat merasakan sewaktu beradu pukulan denganku! Eh ... Kecuali kalau kecerdasanmu di bawah rata-rata ...!" kelakar Tan Hao sembari diam-diam menyiapkan sesuatu.


Nian Zhen mendengus kesal, ia mengeram kuat yang menunjukkan kemarahannya telah memuncak mendengar cemooh yang dilontarkan Tan Hao.


"Aku tidak tahu kau jenius dari sekte mana, tetapi waktumu sudah habis untuk omong kosong lagi. Jangan harap kau akan bisa melarikan diri dariku ... Hng!" geram Nian Zhen sementara ia meraih palu kembarnya, terlihat jelas dari suara maupun mata merahnya kalau ia sudah sangat terpancing emosi.


Sementara itu ditempat lain, beberapa waktu sebelumnya. Tetua Jing Yun memberitahukan semua rencana yang telah disusun oleh Tan Hao, begitu juga dengan langkah yang harus dilakukan. Ia juga meminta Lian Ho dan Yao Yuen untuk turut serta dalam rencana tersebut.


Diskusi mereka yang belum lama berakhir harus terdiam untuk beberapa saat karena tiba-tiba terjadi goncangan berkali-kali disertai tekanan energi yang sangat kuat.


Bahkan kedua pasukan yang tengah bertempur pun terkena dampaknya, mereka semua tak bisa menguasai keseimbangan tubuh masing-masing.


Jika bukan karena peringatan dari Fen Fang sebelumnya, mungkin para tetua sekte yang tergabung ke dalam aliansi tidak mengetahui sumber goncangan tersebut.


Fen Fang sendiri telah selesai bermain-main, bahkan kepala Yin Xiang ia gantung di pinggang kirinya. Hal itu juga yang semakin menambah tidak karuannya pasukan topeng emas maupun topeng hitam.


Setelah efek goncangan itu berakhir, tanpa kendala yang berarti. Pasukan aliansi aliran putih-netral dengan mudahnya membantai pasukan topeng emas dan hitam yang tersisa. Bahkan hal itu tak perlu para tetua sekte maupun Patriark sekte atau Matriark Zhang turut bertindak.


Ratusan ribu mayat bergelimpangan diluar maupun di pusat desa dengan kondisi memprihatinkan. Tak ada dari mayat itu yang masih utuh. Sementara disisi pasukan aliansi aliran putih-netral hanya memakan korban tak lebih dari dua ribu jiwa.


Jumlah yang lebih sedikit dibanding perkiraan Tetua Jing Yun sebelumnya saat sebelum berangkat ke Hibei.

__ADS_1


Praktis, kini Desa Hibei menjadi kuburan masal. Darah dimana-mana, bau anyir bahkan memenuhi keheningan yang terjadi setelah keributan besar. Tak ada satupun yang bergerak dari posisinya, semuanya terpaku terdiam memandang apa yang ada dihadapan mereka.


__ADS_2