Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 224 ~ Pegunungan Kaca Api


__ADS_3

“Apakah Tuan Muda Hao akan pergi? Setidaknya beristirahatlah lebih dulu, sejak anda kembali aku tak melihat Tuan Muda Hao tidur! Bukankah itu tidak baik bagi seorang pendekar?” Ying Yue menyarankan sembari memberi tempat duduk untuk Lan Lihua.


"Nona Yue tak perlu khawatir soal itu! Bahkan aku pernah melihatnya tidak tidur selama satu minggu penuh. Dia tidak akan sakit, tapi kesehatan akalnya saja yang menurun,” tukas Lan Lihua setengah menyindir diselingi lirikan kecil pada Tan Hao.


Ying Yue terkekeh pelan mendengarnya, lain hal dengan Fen Fang yang tengah beradu tatapan dengan kucing di pundak Tan Hao.


“Ehem... Bukan seperti itu kau tahu! Sesuatu yang ada dalam tubuhku lah yang membuatku tidak ada rasa lelah, itu seperti memberiku energi lebih hanya untuk terjaga sepanjang malam dalam waktu yang lama....”


Tan Hao meletakkan kucing itu di dekat tempat duduk Fen Fang, seolah ia sengaja melakukan hal itu sebelum kemudian mengambil tempat duduk sendiri.


“Aku akan segera pergi, aku kemari untuk memberikanmu ini. Aku rasa tempat ini terlalu kosong untuk disebut sebagai penyedia sumber daya makanya sebelum aku pergi, sudah seharusnya aku melakukan tanggung jawabku,”


Ying Yue tak lagi bisa menyembunyikan rasa bahagianya ketika Tan Hao mengeluarkan beberapa jenis sumber daya dalam jumlah yang banyak. Pelukan spontan sambil tertawa senang membuatnya lupa diri akan posisinya.


“Terimakasih Tuan Muda...! Ini aset berharga yang pastinya akan sangat mengembangkan asosiasi di cabang ini....”


“Uhukk...! Sebaiknya kita mengisi perut lebih dulu sebelum berangkat, aku merasa tubuhku perlu asupan gizi,” Lan Lihua memejamkan mata tetapi terlihat genggaman kasar tangannya membuat Tan Hao terkekeh polos sebelum kemudian melepaskan pelukan Ying Yue pelan-pelan.


Tan Hao tersenyum kecil sambil menggaruk pelipisnya, sementara Lan Lihua membuang wajah kala Tan Hao memandangnya.


Sikap Ying Yue berubah canggung saat menyadari tindakannya yang salah, ia hanya tersenyum kecut sambil membenahi posisi duduknya.


Tak berapa lama, pelayan yang diminta untuk mengambilkan uang telah datang. Ying Yue langsung meminta pelayan itu menyerahkannya sebelum kemudian memberi perintah untuk menyediakan santapan siang.


Kota Shaoguan telah memasuki masa yang bisa dibilang aman dari manusia ular gurun. Karena itulah, menurut Tan Hao keberadaan Asosiasi Menara Emas ditempat ini akan sangat penting.

__ADS_1


Kabar mengenai situasi kota gurun itu pasti akan segera menyebar, daya tarik dari ginseng air pasti akan mendatangkan lebih banyak pengunjung. Apalagi di dalam kota terdapat mata air jernih yang cocok untuk pelatihan tenaga dalam.


Tan Hao sudah memikirkan hal itu, sebab itulah ia berani memberikan beberapa jenis sumber daya yang ada di dalam hutan sumberdaya di dalam ruang kedua cincin dimensinya.


Waktu satu jam dihabiskan ketiganya dengan saling bertukar ide dan cerita, tak ada pembahasan apapun mengenai persoalan lain. Mereka bercengkrama sambil menikmati santapan yang secara khusus disediakan oleh Ying Yue sebagai ucapan terimakasih sekaligus salam perpisahan.


Hanya Yi Jin yang diam mendengarkan tanpa bisa memakan makanannya, bahkan saat ingin mengambil satu koin emas milik Fen Fang pun dirinya di tatap dengan tatapan membunuh oleh Lan Lihua. Praktis, hewan legenda suci tersebut benar-benar menjadi kucing biasa.


‘Cih ... Jika bukan karena Dewi Hua, aku mana sudi mengikuti kalian.’


Yi Jin hanya mampu mengumpat dalam hati tetapi memasang wajah polos dan berperilaku layaknya kucing dengan menjilati salah satu kakinya.


Setelah semua perjamuan itu, Tan Hao dan Lan Lihua berpamitan pada Ying Yue. Sementara Fen Fang telah lebih dulu keluar ruangan setelah mengambil uangnya.


“Sejak kapan Kakek Fang memiliki jurus kembali muda? Jika bukan karena mata dewa, mungkin aku tak bisa mengenali,” tanya Tan Hao dalam laju larinya yang berdampingan dengan Fen Fang sementara Lan Lihua persis dibelakang keduanya.


“Penjelasannya sangat panjang, untuk saat ini bukan waktu yang tepat. Sebaiknya kita persiapkan diri! Kita akan segera memasuki wilayah paling berbahaya di Benua Perak!”


Mereka memotong jalan dengan tidak melewati jalan utama setelah keluar dari Kota Shaoguan. Baik Tan Hao maupun Fen Fang memiliki pendapat yang sama, daripada melewati tiga desa lagi lebih baik melewati pegunungan yang berada di arah utara Kota Shaoguan.


Bukan hanya jaraknya yang lebih pendek, tapi arah hutan itu berada di wilayah selatan Kota Shuning bagian luar. Pegunungan tinggi yang memiliki ratusan jenis hewan buas dan menjadi wilayah terisolasi dari siapapun, tempat itu tidak ada yang pernah melewatinya.


Padahal tak memiliki luas lebih besar dari hutan Kota Hibei, keberadaannya memanjang membelah tiga kota sekaligus. Pegunungan yang tak masuk ke dalam peta alam bumi sebab selalu tertutup awan tebal ini bernama Pegunungan Kaca Api.


Wilayah ini bahkan bagi seorang Pertapa Alam Semesta akan kesulitan bertahan hidup. Satu hal yang menjadi ketakutan adalah adanya serangga penghisap tenaga dalam.

__ADS_1


Pernah suatu ketika beberapa pendekar dari Kerajaan Shu mencoba memasuki pengunungan ini untuk berburu Kristal Kaca Api yang terdapat pada hewan buas tipe penghisap, Lebah Kaca Api.


Tetapi setelah lebih dari satu minggu mereka semua tak satupun yang terlihat keluar. Padahal menurut cerita dari saksi mata, tingkat kekuatan pendekar itu setingkat Pertapa Cahaya tahap Atas.


Salah satu lembah di pegunungan ini juga pernah di jadikan tempat persembunyian Tetua Tombak yang saat itu di kejar pendekar sekte aliran hitam. Tapi bedanya, tiga tetua tombak hanya bersembunyi di sisi luar dan hanya beberapa jam.


Setelah meninggalkan wilayah padang pasir, kini di depan Tan Hao terdapat barisan gunung yang ditumbuhi pohon dengan ukuran dua kali lipat pohon tua pada umumnya.


Ketiganya berhenti sejenak untuk mengamati pegunungan tersebut, meski mereka tidak takut apapun tetapi lebih baik berwaspada sejak awal.


“Aku merasa pernah melewati tempat ini tapi sepertinya saat itu aku tak mengetahui adanya ancaman yang ada di dalamnya!” Tan Hao mengamati salah satu gunung yang memiliki ukuran lebih kecil dari yang lainnya.


Memang benar jika Tan Hao pernah melewati pegunungan ini tetapi saat itu ia hanya melewati ujung perbatasannya saja dan itupun ia memakai kecepatan maksimalnya.


“Baiklah! Hanya tinggal melewati pegunungan ini, kita akan sampai di tepi luar Hutan Shuning.”


“Berhati-hatilah terhadap kabutnya, itu bisa menyebabkan halusinasi tingkat tinggi. Jadi lebih baik kita lindungi enam indera kita dengan energi!” Fen Fang menyarankan sebelum Tan Hao bersiap melesat.


Tan Hao mematung sejenak sambil menunjuk ke depan, ekspresi wajahnya terlihat sangat ambigu, “E-eh ... Aku lupa soal itu!” senyum aneh tersirat di bibirnya sebelum mengubah reaksi dengan cepat, “Ehem... Meskipun tidak berpengaruh pada kita tapi tetap saja kabut itu bisa membuat kita hilang arah. Mata dewa tahap kedua milikku bahkan tak bisa memecahkan misteri didalamnya...! Hua’er, aku minta jangan jauh dariku,”


‘Orang ini sangat langka, kenapa ia begitu pintar! Kecerdasannya bahkan melampaui ekspektasiku, phuih...!’ ledek Yi Jin dalam hati, ia hanya bisa duduk diam di pundak Tan Hao tanpa bisa menolak dan hanya sesekali mengeluh dalam hati.


Sementara wajah Lan Lihua nampak serius tetapi ia tersenyum tipis ketika Tan Hao berbicara.


‘Hawa ini...! Siapa pemilik dari aura aneh ini, kenapa rasanya berbeda?’

__ADS_1


__ADS_2