
"Kau...! Katakan, apa yang kau inginkan?"
Terlihat raut wajah Jenderal Rui Yun berbeda dari sebelumnya, kelihatan lebih cerah. Benda yang dibawa Tan Hao mampu mengubah sikapnya dalam sekejap, hal itu membuat Fen Fang yang semula ragu kini tersenyum penuh arti.
Tan Hao berjalan mendekati Jenderal Rui Yun sembari memegang kotak hitam berukuran kecil, tersirat tawa kecil di wajahnya ketika melihat perubahan sikap wanita penguasa istana benteng barat itu.
"Begini ... Kami datang karena memerlukan inti roh dari bawahanmu! Aku pikir untuk beberapa inti roh cukup layak ditukar dengan benda ini! Bagaimana menurut Jenderal Yun?" Tan Hao mencoba berbicara seramah mungkin untuk menarik perhatian Jenderal Rui Yun tetapi tetap saja apa yang disampaikannya membuat wanita ular itu tersentak hingga melotot tajam.
"Apa kau bilang? Inti Roh manusia ular...! Apa kau gila! Bagaimana mungkin aku mengijinkanmu membantai bawahanku? Tidak ... Simpan dan bawa kembali barangmu, aku tak tertarik!" pekik Jenderal Rui Yun dengan lantang, walau bagaimanapun menukar inti roh yang bisa dibilang nyawa dari manusia ular hanya dengan satu barang tidak bisa ia terima begitu saja.
Jenderal Rui Yun kembali bersikap keras setelah mendengar keinginan Tan Hao, tetapi matanya tak lepas dari benda yang dipegang Tan Hao. Seolah lirikan mata itu mengisyaratkan kalau dia sangat tertarik tetapi ia tutupi ketertarikannya.
"Tunggu dulu, jangan terburu-buru! Aku tidak mengatakan akan membantai seluruh anak buahmu, tapi aku ingin meminta ijinmu untuk melenyapkan bawahan yang tak bisa kau kendalikan! Bukankah akan sangat bagus, kau akan memiliki kekuatan yang melebihi jenderal lain disaat yang sama kau melenyapkan orang-orang yang tak menyukaimu?" tawar Tan Hao meyakinkan.
Untuk beberapa saat Jenderal Ular berparas seperti gadis belasan tahun itu terdiam. Terlihat jelas ia bimbang dengan apa yang ditawarkan Tan Hao.
Fen Fang melangkah pelan sambil menyunggingkan senyum penuh makna, "Kapan lagi kau akan menjadi kuat? Ini kesempatan buatmu untuk melebihi jenderal lainnya, bukankah kekuatanmu yang terbawah diantara semua jenderal? Nona Rui Yun!"
Bibir Jenderal Rui Yun bergetar pelan sebelum menggigit kecil setelah mendengar perkataan Fen Fang.
__ADS_1
Memang tak dipungkirinya kalau dirinya merupakan jenderal terlemah dari ketujuh jenderal pelindung Istana Dewi Ular. Bukan itu saja, wilayah kekuasaannya juga tak sebesar dan sekuat keenam jenderal yang lain.
Apa yang disampaikan Fen Fang tentu saja menjadi semacam cambuk peringatan baginya, beberapa kali terlihat ia memandang Tan Hao bergantian memandang lantai dibawahnya seolah sedang memutuskan sesuatu.
'Aku lihat dia mulai terpengaruh, tapi jika ini gagal. Kita gunakan rencana kedua, apa kakek sudah menyiapkannya?' tanya Tan Hao pada Fen Fang melalui pikirannya sambil terus menatap penuh keyakinan Jenderal Rui Yun.
Fen Fang tersenyum sesaat kemudian mengangguk pelan, 'Semua sudah pada tempatnya, hanya tinggal di eksekusi! Hanya saja....'
'Tenanglah, aku akan memberi kakek beberapa kantung koin saat kita berhasil!' sahut Tan Hao sebelum ia berjalan satu langkah.
"Bagaimana? Apa yang membuatmu ragu, kupikir pilihan itu tidak ada yang merugikanmu, bukan?" desak Tan Hao tetapi dengan nada ramah sambil memperlihatkan lebih jelas kotak hitam yang ia genggam.
Jenderal Rui Yun melirik kesana kemari sebelum kemudian menghela napas, "Baiklah! Aku setuju dengan penawaranmu, tapi aku minta kau benar-benar melenyapkan orang yang menentangku dan bukan sembarang membunuh!"
"Bagus! Percayalah, aku tidak akan mengecewakanmu! Kita sama-sama diuntungkan dalam hal ini, jadi ... Terima ini!" Tan Hao melempar kotak hitam tersebut untuk kemudian segera ditangkap oleh Jenderal Rui Yun.
Senyum merekah jelas terlihat tatkala ia membuka kotak itu, sejenak kemudian dirinya balas melempar sebuah gulungan tipis, "Ini yang kau butuhkan! Pastikan kau tak menyisakan satu pun, ingat! Dan lagi, aku kira jumlah mereka melebihi yang kau butuhkan tapi aku berharap kau mau membersihkannya,"
Gulungan itu berisi daftar nama orang yang telah lama menjadi incaran Jenderal Rui Yun untuk disingkirkan dari Istana Benteng Barat tetapi ia belum memiliki kesempatan untuk melakukan tindakan.
__ADS_1
"Baiklah! Kau tenanglah dalam berkultivasi, dalam dua hari aku pastikan kau tak akan pernah lagi bertemu orang-orang itu!" Tan Hao melambaikan tangannya setelah berbalik badan kemudian meninggalkan Jenderal Rui Yun yang masih asyik mengamati isi kotak hitam tersebut sampai ia mengabaikan ucapan Tan Hao.
Dalam perjalanan menuruni anak tangga, Tan Hao menyempatkan diri melihat isi gulungan itu. Begitu juga dengan Fen Fang yang merasa penasaran, dalam benaknya berharap kalau didalam daftar itu terdapat manusia ular yang memiliki tingkat kultivasi yang ia butuhkan.
"Aku tak percaya ini, dalam kekuasaan manusia ular pun ada juga orang yang susah diatur! Aku pikir hanya beberapa orang saja, tapi ini...!" Tan Hao berbicara seraya membaca gulungan tersebut yang isinya ternyata lebih dari seratus orang lengkap dengan tingkat kekuatan serta posisinya didalam Istana Benteng Barat.
Reaksi Fen Fang setelah berhasil mencuri baca gulungan tersebut mengagetkan Tan Hao. Bagaimana tidak, pemilik seruling iblis itu seperti bersorak gembira namun tak bersuara hingga tak sengaja sikunya mengenai lengan Tan Hao.
Kontan saja hal itu menjadi awal berdebatan tak penting, keduanya seolah tak terlalu memikirkan apa yang akan dihadapi tetapi lebih mengutamakan saling cecar tak jelas seperti bocah yang sedang berkelahi.
Beberapa saat berlalu, keduanya telah berada diluar istana tetapi Fen Fang terlihat lebih pendiam setelah mendapatkan sedikit benjolan di kepalanya.
"Baiklah, waktunya berburu...! Lan Lihua tak bisa menunggu lebih lama atau aku akan sulit menjelaskan kepergianku yang terlalu lama!"
Tan Hao mengangkat kedua tangannya, terlihat ia sangat bersemangat sementara Fen Fang terlihat sedang mengancam beberapa penjaga yang ada di depan sekat pintu menggunakan tatapan mata yang mengandung aura membunuh seolah sedang mencari pelampiasan untuk apa yang ia dapatkan beberapa saat lalu.
Di dalam isi gulungan itu ada beberapa nama penting yang memiliki posisi bagus didalam istana benteng barat, Tan Hao sempat tak habis pikir namun kemudian ia memahami hal tersebut.
Entah di dunia mana, kekuasaan dan kekuatan akan selalu menciptakan orang-orang rakus yang tak pernah puas dengan apa yang didapatkan. Meskipun itu ada didalam ruang lingkup kejahatan. Tak ada batas untuk orang rakus yang selalu menginginkan lebih.
__ADS_1
Pada saat yang sama, Jenderal ular yang setara Pertapa Dewa Langit itu tertawa terbahak-bahak berulang kali sambil memainkan dua butir pil berwarna emas dan memiliki corak tiga garis, pil itu memancarkan cahaya yang lumayan terang.
"Dengan ini, aku akan mampu menembus batasanku! Hahaha ... Alam Pertapa Dewa hanya tinggal sejengkal lagi! Hua Mei, sebentar lagi aku akan merebut perhatian Ratu Qin Ling darimu, hahaha...!" tawa keras Jenderal Rui Yun sambil menyombongkan diri.