
Tan Hao masih duduk bersila di bawah pohon mahoni yang cukup rindang, terlihat dari pancaran tubuhnya energi tipis namun begitu terasa lebih murni.
Sudah hampir satu jam ia melatih Roh-nya di dalam Ruang Roh, meskipun tanpa Ye Yuan tetapi Tan Hao tak mendapat kesulitan yang berarti dalam mengontrol Inti Spirit-nya.
Ruang Roh pertama yang dimiliki Tan Hao seperti hamparan samudra tak berujung sementara diatasnya terdapat bola emas berukuran besar melayang. Itu merupakan Inti Energi miliknya, sumber dimana ia menyimpan kekuatan Spirit Energi-nya.
Sementara Ruang Roh kedua seperti sebuah dunia lengkap dengan berbagai macam tumbuhan serta aliran air yang sangat jernih. Itu merupakan basis aliran energi dalam tubuhnya.
Dan tingkat terakhir, Ruang Roh ketiga seperti semesta luas alam raya. Terdapat sembilan bintang yang memiliki pancaran cahaya masing-masing, terdapat juga sebuah ruang persegi hitam yang memiliki panjang dan lebar sama, itu merupakan kesadaran dewa miliknya yang mampu menyerap apapun yang masuk kedalam tubuhnya, persis di sampingnya Chicun Jin Lian bertempat yang merupakan pemurni segala apa yang terserap oleh kesadaran dewa atau yang berada di dalam tubuh Tan Hao.
Tapi, sejauh ini Tan Hao hanya bisa menggunakan Ruang Roh pertama sebagai tempat berlatihnya. Kekuatan serta kemampuan spirit energinya belum cukup untuk dapat memasuki ruang kedua. Dan tidak adanya Ye Yuan menjadikan tingkat kesadaran spritualnya hanya berada di tingkat dasar.
Meskipun dalam wujud Roh, bukan berarti ia tak bisa berlatih teknik jurus. Tan Hao cukup bersemangat dalam berlatih teknik pedang yang terbuat dari padatan energi. Kitab Ilusi Dewa Yaoshan bukan saja berisikan empat teknik jurus ilusi tetapi juga memuat beberapa teknik pedang tingkat tinggi.
Teknik pedang yang dipelajari Tan Hao dari Kitab Ilusi Dewa Yaoshan bernama Pedang Ilusi Tujuh Tebasan. Itu bukan benar-benar ilusi dari kemampuan jurus melainkan kecepatan gerakan serta keseimbangan pola gerakan. Meskipun juga dapat di gunakan ketika melancarkan jurus ilusi tapi itu juga membutuhkan konsentrasi yang lebih tinggi.
Total Tan Hao memperagakan teknik tersebut dalam satu jam di Ruang Roh telah mencapai ratusan kali, meskipun baru pertama kali tapi penguasaan yang didapatkannya telah melebihi pendekar ilmu pedang tertinggi.
"Baiklah, aku rasa ini cukup! Dengan ini, aku bisa menggunakan pedang apapun. Konyol sekali jika setiap kali bertarung harus menggunakan Pedang Dewa Hampa atau Teratai Amarah, itu sangat mencolok selain juga menghabiskan banyak tenaga, hehe..! Oh ya, soal Pedang Dewa Hampa itu, harusnya juga pusaka yang sama dengan Pedang Dewa Surgawi kan? Tapi sejauh ini, tak terlihat apa dan bagaimana kemampuannya selain empat jurus ilusi. Hmm ... Aku penasaran kapan pedang hitam tanpa corak warna itu menunjukkan dirinya, eh..!"
Tan Hao terlihat begitu senang dengan hasil pencapaiannya, beberapa saat setelah menyeimbangkan Inti Energi-nya ia memutuskan untuk menyudahi dan kembali ke kesadarannya.
Lan Lihua nampak masih asik berbincang dengan Han Xue sementara entah sejak kapan, keduanya masing-masing memegang satu ekor ayam hutan panggang.
__ADS_1
Terik matahari tak membuat mereka terganggu, bahkan tawa keduanya membuat Tan Hao yang baru tersadar dari pelatihannya di dalam Ruang Roh merasa cemburu.
Tan Hao mengambil napas beberapa kali sebelum mengatur kondisi tubuhnya yang memanas akibat penggunaan energi berlebihan, setelah itu ia bergegas bangkit dan menghampiri keduanya.
"Mau sampai kapan kalian? Ayo kita lanjutkan perjalanan, tengah hari sudah hampir lewat. Jangan sampai kita terlalu malam ketika sampai di Kota Zhongnan!"
Lan Lihua melirik sinis Tan Hao sebelum kemudian tersenyum kembali memandang Han Xue, pada saat yang sama sebelah alis Tan Hao turun naik. Wajahnya kelihatan bodoh untuk beberapa saat.
***
Untuk beberapa hal, Tan Hao seperti mengulang kejadian yang sama dalam perjalanan kali ini. Dirinya masih melakukan hal yang sama, berjalan di belakang kedua wanita itu sambil mengunyah sebatang rumput tanpa ada lawan bicara.
'Cih...! Diabaikan begitu saja, apa menariknya wanita seperti dia. Lagi-lagi perlakuan terhadapku berbeda, huh ... Saat menyenangkan bagiku hanya bersama empat gadis itu. Haih ... Kapan lagi aku merasa menjadi raja,' keluh Tan Hao dalam hati.
"Itu ... Itu Serigala Bulan Perak...! Lihatlah tanda di dahinya, seperti bulan sabit dan bulunya berwarna perak. Tak salah lagi, itu Hewan Buas tingkat Langit, kita harus segera menyelamatkan diri jika tidak kita akan menjadi santapannya," Han Xue gemetaran sambil menunjuk serigala tersebut.
GRRR!
Tatapan serigala itu begitu tajam, hewan itu mengeram beberapa kali seperti sedang melihat buruannya. Ukurannya yang besar membuatnya sangat mencolok.
Tan Hao tersenyum lebar melihat hewan buas tipe petarung tersebut, bukan hanya tingkatannya yang sangat pas untuk meningkatkan kualitas tulangnya tapi juga serigala itu memiliki Inti Roh Hewan Buas yang berfungsi meningkatkan Tahapan Spirit Energi.
"Tenanglah, orang dibelakang itu bisa mengatasinya. Sebaiknya kita duduk dan melihat disana saja," Lan Lihua buru-buru menarik lengan Han Xue dan mengajaknya berlindung dibalik pepohonan.
__ADS_1
Sementara Tan Hao berjalan santai mendekati serigala tersebut sembari menyiapkan Pedang Harimau Putih, "Pedang yang bagus, akhirnya aku memiliki kesempatan menggunakannya...! Heh, hewan buas rendahan ... Majulah!"
Tan Hao menggunakan senjata tingkat suci tersebut yang ia dapatkan saat memperoleh Zirah Naga Suci, meskipun sampai saat ini Zirah yang ia kenakan tak menunjukkan kemampuannya. Lebih tepatnya belum memiliki kesempatan, karena selama ini tak ada yang mampu menyentuh tubuh Tan Hao saat bertarung. Hal itu juga yang membuatnya merasa baju zirah dewa tersebut seperti baju dalam biasa.
GROARR!!
Serigala Bulan Perak itu melompat menyerang Tan Hao menggunakan dua kaki depannya yang memiliki cakar-cakar panjang dan tajam. Saat ia melompat, hempasan udara di pijakannya bahkan mampu meretakkan tanah.
Tan Hao sendiri tak tinggal diam begitu saja, ia segera menggeluarkan teknik pedang yang baru saja ia pelajari.
Gerakannya sangat cepat pada saat yang sama ketika Serigala Bulan Perak itu menyerangnya dengan cakaran yang memiliki energi tenaga dalam tinggi. Terbukti beberapa pohon tumbang dan pohon lainnya terkena goresan yang cukup dalam.
Tanpa basa basi lagi, Tan Hao langsung mengeluarkan teknik ilusi tujuh tebasan beberapa detik setelah serigala itu menyerangnya.
SLASH!!
Tujuh tebasan mengenai serigala bulan perak tersebut hanya dalam waktu kurang dari satu detik, kecepatan luar biasa yang ia gunakan tak lepas dari efisiensi penggunaan spirit energi diwaktu yang pas dalam jeda waktu yang akurat.
Tan Hao tersenyum lebar setelah menjejakkan kaki ke tanah, sementara serigala tersebut jatuh tersungkur dengan luka tebasan menganga lebar namun hewan buas tingkat langit itu belum mati.
"Hidupmu sudah berakhir, hewan rendahan!"
KRAKK!!
__ADS_1
Serigala itu tiba-tiba terbelah menjadi dua bagian dalam satu waktu Tan Hao menyarungkan kembali Pedang Harimau Putih.