Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 218 ~ Kultivasi Bintang Gajah Naga


__ADS_3

Bagian dalam bangunan kuil nampak berantakan, terdapat anak tangga melingkar yang menurun. Meskipun cukup besar tapi nyatanya ruangan itu hanya berisi patung-patung batu setengah rusak, ornamen yang ada juga kelihatan sudah tak utuh lagi.


Tanpa membuang lebih banyak waktu, Tan Hao langsung menuju anak tangga yang letaknya disisi lain ruangan.


Lan Lihua masih menyesuaikan tubuhnya sesuai arahan Tan Hao tetapi dirinya juga menyempatkan diri mengamati sisi sekitar ruangan itu. Meskipun tubuhnya tidak sedang baik-baik saja tetapi persepsi jiwa miliknya masih berada di tahap yang sama tanpa penurunan kualitas.


“Jika Kakek Fang ikut, pasti dia akan sangat penasaran dengan apa yang ada di dasar bangunan ini. Baiklah ... Hua'er pegangan!”


Tan Hao memeluk pinggang Lan Lihua sambil memegang sebelah lengannya sebelum melompat turun. Ia tak berniat untuk menuruni anak tangga satu persatu sebab akan sangat menyita banyak waktu, terlebih kedalaman kuil yang menurut penglihatannya lebih dalam dari yang tercatat di gulungan.


Keduanya seperti terjun bebas dengan posisi berdiri, terlihat di dasar kuil itu berwarna merah. Tan Hao yakin bahwa cahaya itu berasal dari magma, sebab semakin mendekati sumber cahaya merah itu tubuhnya terasa semakin panas.


Lan Lihua tak mengatakan apapun, ia hanya memandang serius kearah cahaya merah itu tanpa mengeluh ataupun menggerutu seolah tak merasakan hawa panas di tubuhnya.


‘Pantas tak ada yang berani berlatih disini, panasnya sangat luar biasa...! Jika aku hanya menggunakan energi petir ungu, sudah pasti aku akan terpanggang. Untungnya aku memahami hukum petir, heh!’


Tan Hao melapisi tubuhnya dengan energi petir ungu begitu juga dengan tubuh Lan Lihua. Energi itu membentuk lapisan berongga seolah diantara lapisan terdapat ruang hampa.


Tak berselang lama, keduanya telah hampir mencapai dasar. Goncangan ringan segera menyebar ke seluruh tubuh keduanya tatkala energi petir membentur energi merah dari pancaran hawa panas bumi.


Jika Tan Hao tak memiliki kekuatan ruang waktu, mungkin pendaratan yang terjadi mengakibatkan rasa sakit. Untuk itulah ia menggunakan ruang hampa disaat jarak hanya beberapa kaki dari lantai dasar. Itu terlihat seperti keduanya menghilang dan tiba-tiba telah berdiri di atas tanah.


Lan Lihua menyapu pandang area di depannya. Dari sorot matanya terlihat ia begitu takjub, bagaimana tidak, hamparan magma meletup-letup seolah itu merupakan dasar gunung berapi. Keduanya berada tepat ditengahnya yang hanya memiliki lingkaran lapisan tanah seluas beberapa kaki.


“Kakak! Latihan macam apa yang akan kita lakukan ditempat seperti ini? Bagaimana mungkin kita akan mampu bertahan disini?” tanya Lan Lihua serius sembari mengamati tubuhnya sendiri.


Tan Hao tersenyum kecil sebelum melepas tangannya dari pinggang Lan Lihua, “Tenanglah, kita akan aman sampai kau berhasil berkultivasi. Sekarang lebih baik kau bersiaplah, kita tak punya banyak waktu!”


Ia menerangkan secara ringkas metode yang akan dilakukan sembari duduk bersila terlebih dahulu.

__ADS_1


“Kita akan menggunakan metode kultivasi bintang gajah naga, sekarang duduklah...!”


Lan Lihua mengikutinya sembari mendengarkan, ia terlihat lebih pendiam dan tenang mengetahui jika energi petir yang melingkupi tubuhnya tak hilang meskipun ia telah terpisah jarak dari Tan Hao.


Metode kultivasi bintang gajah naga yang digunakan Tan Hao secara garis besar, itu memanfaatkan energi panas yang ada di dasar tempat itu. Sementara inti roh manusia ular digunakan untuk membentuk inti cahaya dari bintang gajah naga sebelum menyerap keseluruhan energi yang ada.


Metode ini mirip dengan menciptakan lingkaran energi ketika meridian tubuh telah hancur walaupun persamaan itu tak sepenuhnya sama, sebab tujuh bintang malaikat suci yang ada di dalam diri Lan Lihua tak bisa dibandingkan dengan dantian seorang pendekar.


Setelah dirasa cukup, Tan Hao menyudahi penjelasannya dan meminta Lan Lihua berkonsentrasi sementara dirinya menyiapkan ratusan inti roh manusia ular.


Tan Hao berdecak kagum melihat hanya butuh empat tarikan napas bagi Lan Lihua untuk mencapai fase hampa. Bahkan dirinya membutuhkan waktu lima tarikan napas untuk melakukan hal yang sama.


Tanpa membuang waktu lagi, Tan Hao dengan segera memurnikan inti roh manusia ular itu secara berkala menggunakan Cichun Jin Lian meskipun sebenarnya tidak harus dimurnikan pun bintang gajah naga akan memurnikannya sendiri secara alami tetapi itu memerlukan waktu sebab ia kehilangan energinya. Untuk itulah Tan Hao menggunakan Teratai Penyegel Dimensi dalam dirinya.


Anomali energi segera memenuhi tempat itu, penyebabnya tak lain adalah ledakan energi dari Teratai Penyegel Dimensi yang membuang energi hitam. Panas bumi yang ada tentu saja langsung melahap energi hitam tersebut.


Perlahan tapi pasti, Tan Hao meletakkan dua ujung jarinya ke kening Lan Lihua sementara dirinya dalam konsentrasi penuh dalam mengontrol inti roh yang telah dimurnikan.


Seketika itu juga dingin segera menyelimuti, perlahan lahan bintang itu menjadi gelap sepertu sebelumnya.


Setelah menarik satu napas panjang, Tan Hao meleburkan inti roh manusia ular yang telah dimurnikan secara berkala tanpa terputus melewati ujung jarinya.


Inti roh yang sebelumnya memiliki warna bervariasi tergantung tingkat kekuatannya itu, kini memiliki warna yang sama. Hijau cerah, itu merupakan inti murni sesungguhnya dari roh manusia ular.


Pelan tapi pasti, inti roh yang berjumlah puluhan itu terserap kedalam bintang gajah naga. Dampaknya, tubuh Lan Lihua nampak bergetar sebelumnya akhirnya terangkat dari tanah.


Pancaran energi dari dalam tubuhnya terasa sangat dingin, untuk itulah Tan Hao bergerak cepat melepaskan pelindung petir yang melingkupi tubuh Lan Lihua.


Kontan saja hal itu menyebabkan tubuh Lan Lihua di serang oleh hawa panas dari lautan magma.

__ADS_1


Energi dingin dari dalam tubuh Lan Lihua bertabrakan dengan energi panas dari lautan magma menciptakan anomali yang luar biasa menekan, bahkan tubuh Tan Hao sendiri terasa bergetar dibuatnya.


Di dalam diri Lan Lihua jiwa Tan Hao bekerja keras menyeimbangkan energi yang terserap bintang gajah naga tetap berada di jalurnya, sementara ia sendiri terlihat kepayahan dalam menahan hawa dingin yang terpancar dari bintang itu meskipun jiwanya dilindungi oleh energi petir ungu.


Jika bisa berteriak, Tan Hao ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk melepaskan ketegangan yang ia rasakan. Raut wajahnya berubah-ubah tak beraturan. Sebelum akhirnya wajahnya memerah seperti menahan sesuatu yang berat.


WHONG!!


DUAR!!


Getaran disertai ledakan terjadi pada bintang itu beberapa saat setelah inti roh terakhir berhasil terserap, bahkan itu membuat jiwa Tan Hao terpental cukup jauh hingga menabrak salah satu bintang lainnya.


Kontan saja hal itu membuat tubuh Tan Hao yang sebenarnya batuk darah segar, tetapi itu tak menjadikan konsentrasinya pudar.


Lan Lihua dalam kondisi kritis saat ini akibat ledakan itu, Tan Hao maupun jiwanya bekerja keras dalam membantu menyeimbangkan tubuh Lan Lihua maupun energi dalam tubuhnya.


WHONG!!


Getaran terjadi berawal dari Bintang Merak kemudian disusul bintang lainnya hingga yang terakhir Bintang Bangau Gulin. Semuanya bergetar seolah beresonansi pada getaran yang terjadi pada bintang gajah naga yang mulai menampakan titik cahaya kecil pada intinya.


Tan Hao dibuat tak percaya dengan kejadian itu, ini pertama kalinya ia melihat ketujuh bintang bergerak bersamaan. Tak cukup itu saja, bintang-bintang itu saling memancarkan sinarnya bersambungan dengan bintang gajah naga berada dipusatnya.


Jiwa Tan Hao dapat melihat dengan jelas, pola yang tercipta akibat sinar bersambungan itu membentuk sebuah gugus bintang yang indah di tengah alam semesta.


Sinar itu juga yang menyebabkan hawa dingin segera berganti dengan cahaya terang, jiwa Tan Hao terlempar keluar begitu saja ketika itu terjadi.


Praktis, kini Tan Hao sudah tidak bisa lagi ikut campur di dalam semesta itu. Jiwanya dipaksa kembali ke tubuh asli.


“Uhk...! Beginikah rasanya dihadapan kekuatan mutlak? Sungguh, mengerikan!” Tan Hao menarik ujung jarinya dari kening Lan Lihua kemudian menyeka darah di bibirnya.

__ADS_1


Untuk beberapa saat ia memulihkan diri dengan mengkonsumsi dua butir pil sumberdaya secara bersamaan.


“Hua'er! Sekarang tergantung dirimu! Aku akan berjaga disini, kuharap kau tidak tergesa-gesa!” ujar Tan Hao sambil memandang Lan Lihua yang kini melayang dalam posisi masih bersila.


__ADS_2