Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 215 ~ Hadiah Untuk Lan Lihua


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu setelah Jenderal Rui Yun mengamankan pil obat itu, ia segera memanggil pengawalnya untuk kemudian memberi perintah pengumpulan pasukan.


Tak sampai disana, ia juga memanggil lima panglima ular terbaiknya yang masing-masing memiliki tingkat kekuatan diatas Pertapa Surga.


Setelah Tan Hao membantai orang-orang yang berniat menggulingkan kekuasaannya hanya dalam semalam, kini setiap perintahnya tak lagi ada penolakan.


Hanya tersisa tiga orang penatua ular yang belum dibereskan, namun ketiga orang itu tidak berada di istana jenderal Rui Yun.


Tan Hao ingin membereskan tiga orang tersebut dengan tangannya sendiri tetapi Fen Fang memberi saran lain, dalam diskusi singkat yang mereka lakukan. Fen Fang mengajukan diri untuk menyelesaikan tugas itu seorang diri sementara Tan Hao diminta untuk kembali dan membantu Lan Lihua selain juga mempersiapkan keberangkatan menuju sekte Tujuh Tombak Emas.


Fen Fang sangat percaya diri ketika mengajukan permintaan itu, Tan Hao sendiri mengerti keinginan dari pemilik Seruling Iblis itu.


Sebelum pergi menggunakan portal dimensi, Tan Hao berpesan pada Fen Fang untuk tidak berlaku berlebihan dan hanya membunuh tiga orang tersebut. Selain itu juga Tan Hao meminta Fen Fang mengamankan inti roh tiga manusia ular itu.


"Sebaiknya, kau segera cari tahu tentang apa yang ada pada dirimu. Sejujurnya, aku merasa nyawaku dalam bahaya ketika dekat denganmu! Ini berbeda ketika aku merasakan adanya Sheng Long dalam wujud pedang dewa surgawi. Meskipun aku tak tahu itu apa, tapi sejauh ini yang bisa aku katakan padamu, ini berhubungan dengan pedangmu satu lagi..." Fen Fang menatap serius Tan Hao beberapa detik sebelum mengalihkan pandangannya ke portal dimensi di depannya.


"... Semenjak kau berhasil menjadi seorang petarung saint, pedang itu seolah semakin agresif. Aku takut terjadi hal buruk padamu, sementara Sheng Long entah kapan akan kembali. Itu saja, pergilah ... Aku akan kembali sebelum matahari terbit."


Tan Hao hanya diam tanpa berusaha menjawab, apa yang dikatakan Fen Fang memang ada benarnya, tapi saat ini yang lebih penting adalah segera kembali pada Lan Lihua. Bukannya Tan Hao tak memikirkannya tapi memang ia percaya jika benda peninggalan ayahnya tak mungkin akan membahayakan nyawanya.


"Baiklah Kakek! Aku mengerti, aku pergi...!"


Fen Fang tersenyum sesaat ketika Tan Hao melompat ke portal dimensi, sesaat kemudian raut wajahnya kembali menyeringai kejam sembari membalikkan badan, "Saatnya mengambil kepala yang tersisa dan kembali berjaya!"


***


Lan Lihua duduk di dekat jendela sementara pandangannya terarah keluar, ia mengamati orang-orang yang mulai beraktifitas tetapi tatapannya seolah kosong.


"Sudah sehari semalam dan kakak belum juga kembali, sebenarnya apa yang dia lakukan?" Lan Lihua seolah berbicara sendiri sambil memangku dagunya.


"Tenanglah, Tuan Tan Hao pasti memiliki sesuatu yang penting untuk dilakukan. Sebaiknya, nona sarapan lebih dulu," sahut Ying Yue berjalan sambil membawa nampan berisi makanan.

__ADS_1


Disampingnya, Bao Jia menemani sambil mengamati Lan Lihua dari belakang. Terlihat tatapan matanya seolah terpesona oleh penampilan Lan Lihua.


"Apa dia orang yang memiliki pengaruh di asosiasi? Cantik sekali!" bisik Bao Jia yang dibalas lirikan sinis Ying Yue.


"Hati-hati dengan sikapmu jika tidak ingin mendapat masalah!"


Lan Lihua segera menoleh ketika Ying Yue menjawab kekhawatirannya, sontak saja hal itu membuat Bao Jia tambah terpesona ketika melihat wajah Lan Lihua, sampai ekspresinya membuat Ying Yue tersenyum paksa dihadapan Lan Lihua.


"Nona Yue...! Apakah kakak bilang sesuatu padamu sebelum pergi? Aku merasa tubuhku sudah lebih baik, seharusnya kita sudah harus melanjutkan perjalanan. Bisakah Nona Yue memberitahuku kemana kakak pergi?" tanya Lan Lihua sambil bangkit dari duduknya kemudian mendekati Ying Yue sementara ia mengabaikan Bao Jia.


Ying Yue menggeleng pelan, "Aku tidak tahu kemana perginya Tuan Muda Hao, tetapi mungkin saja sebentar lagi akan kembali. Mengingat kesehatanmu masih bermasalah, tentu saja dia akan kembali secepat mungkin. Sudahlah ... Percaya saja dengannya, sekarang ambil sarapan lebih dulu...."


"... Oh ya...! Ini Bao Jia, pendekar dari asosiasi yang diutus Nona Fen Lian untuk memimpin penjagaan di kota ini," lanjut Ying Yue memperkenalkan Bao Jia setelah meletakkan nampan berisi makanan di atas meja.


Lan Lihua memandang Bao Jia sambil tersenyum namun hanya sesaat sebelum kemudian mengambil tempat duduk.


"Salam Nona Lan Lihua...! Aku Bao Jia, ketua dari pasukan asosiasi untuk Kota Shaoguan. Senang bertemu dengan Nona Hua...!" Bao Jia memberi hormat kemudian memberikan sebuah kotak giok kecil.


"Ini hadiah kecil dariku untuk perkenalan pertama kita! Ku harap Nona Hua bersedia menerima tanda pertemanan ini," sikap ramah Bao Jia membuat Ying Yue mendengus sebal, sebab ini sama perlakuannya ketika pertama kali bertemu dengannya.


"Terimakasih Tuan Bao Jia...!"


Lan Lihua bahkan tak melihat benda yang diberikan itu dan hanya meletakkannya di atas meja, Bao Jia tersenyum kecut melihat tanggapan dingin wanita yang menurutnya berwajah lebih cantik dari Ying Yue.


"Kau memberi hadiah sekecil itu untuk Nona Hua? Apa kau meremehkan dia? Itu bahkan tak lebih baik dari hadiah yang pernah kau berikan untukku!" kelakar Ying Yue mencoba mencairkan suasana canggung sembari mengambil tempat duduk.


Bao Jia hanya tertawa kecil sementara Lan Lihua menikmati tehnya tanpa ekspresi.


Untuk beberapa saat ketiganya merasa canggung tetapi setelah melewati beberapa perbincangan, kini mereka telah mulai terbiasa satu sama lain.


Canda ringan sembari menikmati sarapan menjadi hal yang baru pertama kali Lan Lihua rasakan setelah keluar dari Kota Foshan. Bertemu dan mengenal orang baru sambil menyantap makanan dan berbagi cerita membuatnya merasa lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


Roti gandum ditangan ditemani secangkir teh membuat mereka larut dalam perbincangan. Nampak Lan Lihua meskipun cukup antusias tetapi sorot matanya tak menunjukkan ketertarikan bahasan yang terjadi.


Bao Jia cukup pintar memainkan kata, hal itu menjadikan dirinya cukup asik menjadi teman bercanda.


"Entah bagaimana bisa, aku yang merupakan pendekar kelas dua menjadi pemimpin dari tugas ini. Padahal masih banyak para senior yang lebih mumpuni, apa mungkin karena aku terlalu tampan, haha haha...!" Bao Jia tertawa renyah sambil memegang roti gandum.


Memang benar Bao Jia sosok lelaki tampan dan memiliki kekuatan mumpuni, menurut Ying Yue dia merupakan lelaki hebat yang ia kenal dari asosiasi. Beberapa hari selalu bersama membuatnya menyukai Bao Jia tetapi ia sadar dengan posisinya yang lebih tinggi dari pendekar setingkat Pertapa Angin itu.


"Selain juga kau terlalu percaya diri dengan ketampananmu, kau juga tipe pria yang banyak bicara! Mungkin karena itulah Nona Fen Lian memberikanmu misi ini, haha!" sahut Ying Yue dengan tawa sedikit paksa.


"Haha jadi kau mau bilang kalau Nona Fen bosan dengan tingkahku? Hahaha mungkin saja seperti itu tapi setidaknya aku bukan seorang wanita yang banyak menuntut gaji hahaha...!"


Lan Lihua tersenyum tipis mendengar keduanya beradu sindirian. Sesekali ia memandang keduanya yang nampak serasi menurutnya.


"Sepertinya, ada hal yang menarik disini? Bisakah aku ikut bergabung?"


Bao Jia langsung memegang pedangnya ketika tiba-tiba ada seseorang sedang berjongkok di jendela kamar sambil melemparkan senyum lebar.


"Siapa kau? Lancang sekali...!" pekik Bao Jia sambil berdiri menghunuskan pedangnya.


Wajah orang tersebut tak terlalu terlihat karena jendela kamar itu tempat dimana matahari memberikan cahayanya.


Ying Yue menyipitkan mata mencoba melihat lebih jelas di tengah terpaan sinar matahari pagi, sementara Lan Lihua langsung berdiri dari duduknya.


"Kakak...! Kau lama sekali, aku hampir bosan menunggumu...!"


Lan Lihua berlari kecil kemudian memeluk orang itu yang langsung turun dari jendela.


"Haha Hua'er sepertinya tubuhmu sudah lebih baik! Bagaimana perasaanmu? Apakah masih merasa tidak baik?"


Ying Yue menyudahi rasa penasarannya ketika sosok itu membelai rambut Lan Lihua, "Sudahlah, turunkan pedangmu. Dia bukan orang jahat, tetapi sebaliknya!"

__ADS_1


Bao Jia terkejut mendengar pernyataan Ying Yue, "Apa maksudmu pria ini memiliki kekuasaan disini? Ah aku tak pernah mendengar ada orang yang lebih tinggi darimu!" ia mengeluh sembari menyarungkan kembali pedangnya.


"Hmm ... Bahkan lebih tinggi dari Nona Fen Lian! Asal kau tahu saja, Nona Lan Lihua adalah istrinya, jadi bersiaplah atas sikapmu, eh hehe!" sindir Ying Yue terkekeh ringan sambil menikmati teh.


__ADS_2