
Dikenal sebagai jalur perdagangan, membuat kota Foshan menjadi satu-satunya kota yang makmur dari segi ekonomi. Letak yang strategis dan tak tergabung kedalam kekaisaran mana pun membuat penduduk kota ini bagaikan raja di wilayah mereka masing-masing.
Meskipun begitu, penduduk kota Foshan memiliki kekuatan yang cukup mumpuni setara dengan Pertapa Ahli. Hanya ada dua wilayah kekuasaan yang dipegang oleh dua keluarga. Wilayah utara di kuasai oleh Keluarga Lan dan wilayah selatan dikuasai oleh keluarga Lin.
Sebagai kota paling sibuk dalam hal ekonomi yang menjadi jalur perdagangan, para pendekar berkultivasi dengan mengandalkan sumber daya yang dapat dengan mudah mereka beli.
Kedua keluarga meski terlihat baik-baik saja tetapi mereka saling membuktikan diri menjadi yang paling hebat. Itu terbukti dari cara mereka memanipulasi anggota keluarga masing-masing untuk menggunakan sumber daya sebanyak-banyaknya dalam berkultivasi.
Meskipun jarang terlibat pertengkaran maupun pertarungan tetapi kedua keluarga sudah terkenal dengan permusuhan mereka.
Para pedagang yang lewat maupun yang membuka kedai tak jarang melihat anggota keluarga mereka masing-masing bersitegang namun mereka tidak pernah memperlihatkan pada hal umum.
Mereka mementingkan pamor dan nama baik. Kedua keluarga ini sama-sama bersikap manis apabila bertemu maupun dalam hal kerjasama dengan para pedagang.
Keluarga Lan merupakan Keluarga yang telah ada lebih dulu dibanding Keluarga Lin, itu menyebabkan Keluarga Lan selalu merasa bahwa mereka lah penguasa sesungguhnya. Dalam keluarga Lan di pimpin oleh kepala keluarga yang gila rasa hormat dan mementingkan nama baik.
Sebab sifat pemimpin keluarga lah yang membuat Leluhur Lan kehilangan istri dan puncaknya 10 tahun lalu terusir keluar dari Keluarga Lan.
Leluhur Lan yang bernama asli Bing Zhenzu. Dirinya lebih suka di panggil Lan Hou/ Kera Biru. Sejatinya, nama Kera Biru cukup besar dan terkenal, penduduk Kota Foshan tak ada yang tak mengenal namanya.
Kera Biru sudah sangat lama terkenal, tepatnya 80 tahun lalu saat kota Foshan di jajah oleh Kekaisaran Chu penguasa tunggal Benua Emas, saat itu Kaisar yang berjuluk Kaisar Qilin Api Tanah bersitegang dengan Kaisar Bangau Magma Beku pemimpin Kekaisaran Wang.
Kaisar Qilin Api Tanah memerintahkan pasukannya untuk memguasai kota Foshan sebagai langkah pertama sebelum menyerang Kekaisaran Wang untuk dijadikan markas batalion tempur gelombang kedua.
Namun, langkah sang kaisar saat itu gagal total dalam menguasai kota foshan yang pada saat itu dianggap lemah. Pasukan berjumlah seratus ribu lebih tidak ada yang hidup satupun, padahal saat itu tingkat terendah prajurit berada di tingkat Pendekar Ahli Puncak.
Penduduk kota Foshan mengingat benar peristiwa berdarah saat itu, Delapan Kera Suci bertarung dengan gagah berani melawan seratus ribu lebih pasukan penjajah. Delapan Kera Suci yang di pimpin oleh Kera Putih berhasil memusnahkan seluruh pasukan beserta kelima jenderal perang yang memimpin.
Kedelapan Kera Suci, yang termuda diantara mereka adalah Kera Biru yang dengan gagahnya menghabisi empat jenderal perang tanpa bantuan. Jasanya yang besar membuatnya menjadi kunci kemenangan pertempuran.
__ADS_1
Setelah kejadian itu, tidak ada yang tau kemana perginya delapan Kera Suci tersebut. Para penduduk hanya pernah mendengar desas desus jika yang saat ini menjaga kota foshan hanyalah Kera Biru.
Karena kejadian saat itu, setelahnya dan sampai saat ini tidak ada yang berani mencoba menjajah atau menguasai kota Foshan meskipun kedua kekaisaran telah berganti Kaisar.
Praktis, mulai saat itu kota foshan menjadi tempat netral di antara dua penguasa Benua Perak dan Benua Emas.
Tan Hao terkesima dengan cerita Feng Zhenzu dalam mabuknya. Meskipun Tan hao juga sama mabuknya tapi ia sedikit banyak mampu menerima cerita yang ia dengar. Sedangkan Leluhur Lan tertawa terbahak-bahak seolah menganggap cerita Feng Zhenzu di lebih-lebihkan.
Terlihat belasan kendi arak telah kosong berserakan dan hanya tersisa satu kendi yang tengah dipegang Leluhur Lan.
"Baiklah baiklah aku mendengarmu paman Feng, ha ha ha."
Tan hao melambaikan tangannya tetapi kepalanya ia letakkan miring diatas meja.
Nyatanya, setelah bicara panjang lebar Feng Zhenzu tak sadarkan diri. Tan hao hanya mendengar dengkuran tak berirama darinya. Sedangkan Leluhur Lan telah berpindah tempat, Tan hao melirik sejenak kearah Leluhur Lan yang sedang duduk di depan perapian sambil sesekali meneguk arak dari kendi berukuran sedang yang ia pegang.
Tan hao tak berniat untuk menemani Leluhur Lan, ia sudah tak kuat membuka mata. Sesaat setelah melirik Leluhur Lan, Tan hao memejamkan mata pelan.
"Aku terlupakan.. Mainan baru lebih mengasyikan.. Aku terlupakan.. Mainan baru lebih mengasyikan."
Tan hao melihat di kejauhan ada seorang anak sedang duduk berjongkok rendah dengan menggambar tak jelas ditanah sambil mengulang perkataan yang sama.
Di belantara hutan yang pohon nya begitu menjulang, Tan hao dengan penasaran mencoba mendekati anak tersebut yang posisinya menghadap padanya.
"Anak siapa itu,-!! Kenapa bisa di dalam hutan seperti ini, apakah ia sedang kabur dari rumah." batin Tan bao sembari berjalan pelan mendekati anak tersebut.
"Aku dilupakan.. Mainan baru lebih baik.. Aku dilupakan mainan baru lebih baik...,-"
Tan hao mendengar dengan jelas perkataan berulang anak tersebut setelah hanya berjarak beberapa langkah. Tan hao tak dapat melihat wajah anak tersebut karena dia menunduk dengan berpangku pada lututnya.
__ADS_1
"Eh, kenapa rasanya aku pernah melihat anak ini,-!! Tapi dimana, hmm...??" batin Tan hao dengan memiringkan kepalanya mencoba mengingat.
Kehadiran Tan hao nyatanya tak membuat anak tersebut menghentikan perbuatannya. Tan hao melihat gambaran yang dibuatnya menggunakan ranting kering sangat berantakan.
Tan hao terkejut dan termundur satu langkah saat anak itu mengucapkan gumamannya yang tadi dengan suara yang lebih kencang seperti berteriak namun masih dalam posisi yang sama hanya saja ranting yang ia pegang patah berantakan.
"Hei, tenanglah. Katakan padaku siapa yang berbuat jahat padamu, aku akan pastikan orang itu menerima hukuman yang pantas. Tenanglah, aku tidak bermaksud jahat padamu." seru Tan hao dengan nada rendah mencoba bersikap lembut.
Tan hao bingung harus berbuat apa sebab perkataannya tak di anggap sama sekali. Tapi saat Tan hao mencoba melangkah, anak itu melirik tajam kearah Tan hao dengan satu matanya tertutup rambut membuat Tan Hao merasa bergidik.
Tatapan tajamnya berhasil membuat bulu kuduk Tan hao berdiri. "Anak ini kenapa tatapannya seperti ingin membunuhku. Ohh.." batin Tan hao singkat.
Tan hao merasa takut sebab anak di depannya itu tak berkedip menatapnya. Ia merasa mengenal tapi tak pernah ingat melihat atau bertemu sebelumnya. Pikiran Tan hao di penuhi berbagai pertanyaan hingga membuatnya tak menyadari perubahan tempat yang terjadi begitu lambat.
Hutan belantara dengan pohon tinggi menjulang berubah dengan lambat menjadi tempat luas serba putih.
"Untuk apa kau disini, pergii." seru melengking anak itu yang membuat Tan hao terkejut hingga melangkah mundur.
Tan hao melangkah mundur tanpa melihat yang membuatnya tiba-tiba seperti terjatuh di ruang gelap hampa.
"Hohh..hohh.. Apa itu tadi,-!!"
Tan terbangun dengan tergagap, ia terbangun dengan langsung berdiri hingga membuat kursi yang ia duduki terjatuh kebelakang.
"Ahh.. Ternyata mimpi,-!! Sungguh terasa mengerikan rasanya." gumam Tan hao dengan mengelus dadanya ringan.
Rasa kantuk akibat mabuk berat yang ia rasakan beberapa saat yang lalu lenyap begitu saja seperti menguap bagai asap. Detak jantung Tan hao berdetak begitu cepat dengan masih memikirkan tentang mimpi yang baru saja ia alami.
Tan hao merasa buntu karena ia masih terguncang, kemudian ia menelusuri setiap sudut ruangan dengan pandangannya, mencoba menenangkan pikirannya.
__ADS_1
Tan hao dapat melihat Feng Zhenzu dan Leluhur Lan tidur tergelatak begitu saja di tempat yang sama saat terakhir kali melihatnya.
Setelah berhasil mengatur nafas dan menenangkan pikirannya, Tan hao berjalan keluar rumah menuju ke kursi panjang yang menghadap ke pusat kota dengan setiap langkah menunduk memikirkan tentang mimpi yang ia alami.