Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 229 ~ Komandan Totsuki Hirada


__ADS_3

Tan Hao sedikit kecewa sebab dirinya sama sekali tak menemukan hewan buas. Lebah Kaca Api yang disebutkan Fen Fang juga sama sekali tak ia temui disepanjang perjalanan.


Fen Fang sendiri juga tak habis pikir, terakhir kali ia melewati pegunungan ini. Bahkan setiap jarak tertentu selalu ada hewan buas dari segala tingkatan, yang paling rendah berada di tahap menengah.


Tapi kini, Pegunungan yang memiliki kabut ilusi itu seperti kosong. Satupun tak ada hewan buas, bahkan sarangnya pun sama sekali tak terlihat.


“Tidak mungkin semua hewan buas disini habis diburu! Kekuatan macam apa yang mampu menyapu bersih semuanya seperti ini? Aku kira ada hal lain yang membuat pegunungan ini terlihat kosong,”


“Aku kira juga begitu! Mungkin hewan-hewan itu sudah meninggalkan tempat ini karena sesuatu, tidak mungkin karena manusia! Pastinya karena kekuatan yang lebih tinggi dari mereka....”


“Itu artinya ... Ada hewan suci di pegunungan ini?” Fen Fang terkejut mendengar pernyataan Tan Hao, dirinya langsung menebak penyebabnya.


Memang secara normal itu bisa terjadi, tetapi tidak sembarang tempat bisa menjadi rumah bagi Hewan Suci.


“Itu hampir tidak mungkin...! Jika memang ada, seharusnya kita bisa merasakannya sejak memasuki pegunungan ini, kan? Sudahlah, itu tak penting sekarang. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan... Eh ini?”


Lan Lihua yang berjalan cepat hampir saja menabrak Tan Hao dari belakang karena berhenti tiba-tiba. Jika ia tidak melihat ke depan, sudah pasti kepalanya membentur punggung Tan Hao.


Sebenarnya hanya butuh waktu satu jam bagi Tan Hao untuk sampai di Kota Shuning, tetapi perjalanannya harus kembali terhenti ketika ia merasakan ada sesuatu yang tak asing.


Fen Fang menyarankan untuk memeriksanya tetapi Lan Lihua meminta untuk melanjutkan perjalanan.


Alasan Lan Lihua bersikeras untuk segera ke Kota Shuning karena ia butuh membersihkan diri, tetapi ia tak mengatakan hal itu.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, jika Panglima Hirada bergerak ke arah mereka. Tetapi disisi lain, ketiga wanita berpenampilan hampir sama juga menuju ke arah Tan Hao berada dari sisi arah yang lain.


Setelah keluar dari Pegunungan Kaca Api tak ada siapapun yang mereka temui di sepanjang jalan besar. Padahal jalan itu merupakan jalan utama yang dipakai hampir setiap hari, bahkan tak pernah sepi pengelana maupun pedagang antar kota yang lewat atau berpapasan jalan.


Tetapi yang Tan Hao lihat, bahkan jejak kaki kuda pun sama sekali tidak ada. Fen Fang berpendapat mungkin telah hilang karena hujan, tetapi bau kotoran pun tak tercium sama sekali.


Hal itu membuktikan jika jalan besar ini sudah lama tidak di lalui, menurut Tan Hao setidaknya selama lebih dari tiga hari yang lalu.


Lan Lihua terus saja menggerutu, tetapi Tan Hao mengabaikannya dan memilih berbincang dengan Fen Fang soal apa yang ia rasakan. Meskipun mereka masih tetap melanjutkan perjalanan tetapi mereka berjalan kaki, tidak lagi berlari menggunakan kecepatan energi.


Tak berapa lama, sayup-sayup terdengar sebuah pertarungan ketika mereka tiba di persimpangan jalan. Suara itu terdengar dari arah jalan menuju ibukota kerajaan.


“Apa kau dengar itu?” Fen Fang menajamkan pendengarannya.


Tan Hao menoleh ke arah asal suara tersebut sambil mengaktifkan mata dewa, “Hanya beberapa mil dari sini, tiga wanita melawan satu orang yang memegang pedang besar!” mata dewa tahap satu hanya bisa melihat objek jauh secara kasar tidak begitu detil, untuk itu Tan Hao berusaha memfokuskan sambil mengamati lebih jelas.


Tan Hao menyudahi pengamatannya dan lalu tersenyum kecut, “Hua’er, kenapa kau bersemangat sekali untuk segera sampai di kota? Kita ini berada ditengah-tengah dua kekuatan besar, bisa jadi orang yang dikeroyok itu salah satu pendekar aliran putih yang ingin menuju Kota Shuning!”


Kini Tan Hao tak lagi berbicara kasar terhadap Lan Lihua demi tidak membuatnya bertindak salah sebagai pelampiasan.


Lan Lihua tak menjawab dan hanya membuang wajah sebelum akhirnya berlari dengan kecepatan tinggi menuju kota dengan membawa Yi Jin, ekspresi kucing itu bahkan membuat Tan Hao tertawa kecil.


“Dasar wanita! Ada-ada saja, hehe! Tapi yang lebih penting, siapa mereka ini?” untuk beberapa saat Tan Hao berubah serius setelah Lan Lihua menghilang dari penglihatannya.

__ADS_1


Dengan adanya Yi Jin bersama Lan Lihua, Tan Hao tak terlalu khawatir. Terlebih kekuatan Lan Lihua sekarang sudah sangat jauh berkembang.


“Apa kau mau memeriksanya?” tanya Fen Fang setelah adegan kedua pasangan itu berakhir.


“Tapi kita akan sedikit terlambat,”


“Tidak masalah, bukan? Dengan kekuatan kita, hanya butuh satu kedipan mata untuk sampai di kota,” Fen Fang kembali memastikan.


Tan Hao mengangguk pelan, kemudian keduanya bergerak cepat hampir bersamaan ke arah sumber suara pertarungan.


Memang benar apa yang dikatakan Pendekar Seruling Iblis yang kini penampilannya terlihat tak jauh beda dari Tan Hao bahkan terlihat lebih muda, dengan kemampuan ruang waktu milik Tan Hao mereka akan sampai di kota lebih cepat dari kilat. Begitu juga dengan kemampuan Fen Fang yang bisa berpindah tempat menggunakan media udara.


Pertarungan masih berlangsung cukup sengit. Dari tiga wanita hanya dua dari mereka yang nampak berbalas serangan fisik dengan seorang lelaki pemilik pedang besar. Sementara seorang lagi berdiri mengamati dari atas dahan pohon sementara di pinggangnya terselip sepasang trisula.


Laki-laki itu tak lain adalah Totsuki Hirada, Komandan Tempur Negeri Taiyo. Beberapa saat lalu mereka secara tak sengaja bertemu jalan, yang membuat pertarungan terjadi karena Hirada berniat merebut sepasang pedang yang dimiliki salah satu wanita itu.


Hirada langsung tertarik dan mengenali pedang itu, ia yang merupakan pendekar pedang terbaik Negeri Taiyo tentu saja bisa dengan mudah mengetahui kualitas pedang dan nama-nama mereka.


“Jangan keras kepala! Kalian yang hanya setingkat Pertapa bukan tandingan Alam Dewa! Serahkan Pedang Bintang Kembar itu dan kalian bebas pergi!” Hirada mengancam setelah kedua wanita itu melompat mundur untuk mengambil jarak.


“Jangan mimpi...! Apa kau pikir kami takut padamu?” wanita pemilik busur di punggung mengancam balik.


Adu aura tenaga dalam tak terhindarkan lagi, keduanya sama-sama saling menekan. Hirada termundur dua langkah ketika pemilik sepasang pedang yang ia minati itu juga mengancamnya.

__ADS_1


Tetapi bukan kemarahan yang ia tunjukkan melainkan tersenyum lebar, Hirada sangat menikmati pertarungan aura tenaga dalam tersebut sebab sudah sejak lama ia tak mendapat lawan yang mampu menekan balik dirinya.


"Kalian, dua tikus betina yang menarik! Kurasa cukup untuk membuat Pedang Emas Hitam ini ku gunakan, hehe...!”


__ADS_2