
Senja telah hampir usai berganti dengan malam, Namun beberapa aktifitas sekte maupun perdagangan di wilayah sekte masih berjalan dalam keramaian.
Terlihat beberapa pedagang menawarkan barangnya, tapi dari sekian banyak pedagang yang ada hanya terdapat satu toko yang menjual serta menawarkan senjata.
" Senjata ini lumayan bagus berkualitas tinggi hanya saja bentuk serta coraknya yang umum membuat peminat jarang menyukai., Bisakah aku bertemu penempa yang membuat semua senjata ini.." ucap Tetua Jing Yun setelah mengamati satu persatu senjata berupa pedang tombak, pedang, pisau panjang, Tombak serta berbagai macam tipe senjata yang di temani seorang laki-laki penjaga toko.
" Ohh apakah yang Tuan maksud adalah Penempa Lian Ho, sepertinya cukup sulit menemuinya jika tidak ada sesuatu yang membuatnya tertarik.." ucap penjaga toko itu dengan wajah sedikit gugup.
" Tenang saja, aku ingin menemuinya karena aku ingin dia menempa senjataku yang bahannya sudah ku siapkan serta bayaran yang cukup tinggi jika dia bisa membuat kualitas tinggi.." kata Tetua Jing yun dengan tatapan fokus kearah mata tombak yang ia pegang.
" Maaf Tuan, saya bisa membantu tapi tidak bisa memastikan. Jika Tuan berkenan besok saya akan memberi kabar. Tapi Maaf, siapa nama Tuan dan senjata apa yang tuan maksud.." kata penjaga toko dengan senyum terpaksanya.
" Oh baiklah besok aku akan kemari. Katakan padanya bahwa Jing yun meminta untuk di buatkan Mata Tombak dengan corak kepala singa, yang bahannya dari Besi Giok Magma Api.." ucap Tetua Jing yun sambil memandang penjaga toko dengan tatapan serius santai.
"A-apaa?? Besi Giok Magma Api?.. B-baiklah besok di waktu yang sama, aku pasti membawa kabar baik.." kata penjaga toko itu setelah terkaget sesaat mendengar bahan dasar yang akan di gunakannya.
Tanpa berkata apapun lagi Tetua Jing yun meninggalkan toko senjata itu dengan membiarkan si penjaga toko tak bisa bertanya lebih jauh lagi yang akhirnya hanya bisa menghela nafas saja.
Tetua Jing yun tak lantas kembali ke kediamannya melainkan berjalan mengelilingi bagian luar sekte yang biasanya di gunakan untuk berlatih kultivasi para murid sekte.
...
Sementara itu, Setelah menyelesaikan makan besarnya, Tan hao meminta ketiga pelayan untuk berkumpul menemuinya.
" Baiklah, pertama perkenalkan nama kalian??.." ucap Tan hao santai sambil menuangkan susu ke gelas kecil.
" Nama saya Liu Ran, sebelah kiri saya Liu Wen dan sebelah kanan saya Liu Zey. Kami tiga bersaudara yang masih berumur 18 tahun.." ucap sopan pelayan yang berada di tengah memperkenalkan diri serta kedua adiknya.
" Ohh, pantas wajah kalian hampir mirip. Lalu dari mana asal kalian.." tanya Tan hao lagi.
" Kami berasal dari desa kecil di wilayah paling ujung kerajaan Shio yang datang kemari 2 tahun lalu untuk bekerja.." ucap jelas Liu Ran menjawab pertanyaan kedua Tan hao.
" Aku tak suka kebohongan, yang ku maksud dari mana sekte asal kalian.." ucap santai Tan hao setelah menenggak segelas susu dengan senyum puas.
Mendengar pertanyaan Tan hao, membuat ketiga pelayan itu tercekat kaget serta gugup dan ragu untuk menjawab.
" Tenanglah, aku bukan orang jahat. Rahasia kalian aman selama kalian jujur padaku.. " ucap mantap Tan hao dengan tatapan tegas.
__ADS_1
Hal itu membuat ketiga pelayan itu saling berpandangan sebelum akhirnya mengangguk pelan bersamaan.
" Kami berasal dari Sekte Pedang Langit, yang memutuskan untuk tidak kembali ke sekte setelah gagal menjalankan misi 2 tahun silam, selain misi kami gagal juga kedua rekan kami terbunuh. Kami bertekad untuk tidak kembali dan menebus kegagalan kami dengan membangun Rumah Cahaya sebagai rumah para pengemis anak-anak serta anak cacat dan anak yang tidak punya orang tua...'' kata Liu Wen panjang lebar menjelaskan kisah mereka dengan sedikit air mata merembes di kedua matanya.
" Hmm.. Artinya kalian Pendekar.. emmmmm... ohh kemampuan kalian tidak buruk juga, Pendekar Ahli tahap Puncak. Yang selama ini tidak pernah lagi berlatih ataupun berkultivasi lagi.. Benar bukan??.. kata Tan hao sesaat setelah membuka insting dewa nya untuk melihat tahapan mereka.
" Benar, bagaimana cara Tuan Muda bisa tahu sedetail itu?. Lalu siapakah Tuan Muda ini..??." sergap Liu Ran dengan tegas akibat terkaget dengan tebakan Tan hao yang tepat.
" Masalah itu tidak penting, Yang pasti jika kalian tak keberatan, aku bersedia menjadi donatur tetap Rumah cahaya kalian jika kalian bersedia membantuku melakukan sesuatu.." kata Tan hao setelah menenggak segelas susu yang ke dua kalinya dengan mata berbinar sebab kenikmatan yang ia rasakan.
" A-apaa??.. Jika yang Tuan Muda katakan benar, maka tidak ada lagi alasan kami menolak itu.. para anak-anak itu lebih penting dari kami.." ucap tegas Liu Zey yang sejak tadi diam mendengarkan setiap pernyataan yang keluar.
" Baiklah, ini untuk Rumah Cahaya kalian. Mulai besok berhenti bekerja disini dan ikuti aku. Meskipun kalian tidak berhenti bekerja pun, besok akan terjadi sesuatu yang akan membuat kalian harus meninggalkan tempat ini.." kata Tan hao serius santai dengan mengeluarkan 2 kantong kecil berisi koin perak lalu menyerahkannya pada Liu Ran.
Mereka bertiga terpaku kebingungan dengan Liu Ran memegang 2 kantong itu dengan tangan terbuka. Bingung sebab 1 kantong tersebut biasanya berisi 100 koin perak yang berarti totalnya 200 koin perak. Dengan Uang sebanyak itu Rumah Cahaya tidak akan kekurangan apapun selama 3 tahun penuh. Untuk membeli pakaian serta makanan juga membayar beberapa pengasuh yang ada.
Liu Ran yang paling bahagia sebenarnya, sebab uang tabungan mereka bertiga bisa untuk membayar hutang-hutang mereka yang selama ini sudah menumpuk selama 2 tahun. Ke beberapa toko makanan. Sedangkan Uang yang mereka terima barusan untuk kebutuhan 3 tahun ke depan.
Sebab itu mereka tak ragu untuk menerima penawaran Tan hao. Meskipun belum mengetahui apa yang akan di lakukan mereka bertiga nantinya.
"B-baiklah, Tuan. Mulai sekarang kami pelayan Tuan dan kami pastikan akan setia melayani serta menjalankan perintah Tuan.." kata mereka bertiga bersamaan.
Tanpa berkata apapun, mereka hanya memberi hormat lalu berjalan mundur keluar dari kamar serta menutup pintu dan langsung menuju kamar mereka seperti yang di perintahkan.
" Hei bocah, kau jeniuss.." seru Ye yuan yang tiba-tiba muncuk berbentuk aura berwujud setengah manusia setengah asap dengan kedua jempol diarahkan pada Tan hao sambil tersenyum nakal yang bangga.
"Hei hei hei, jangan berpikiran yang macam-macam. Aku berencana mengumpulkan mereka yang berhati baik. Tanpa memandang wanita atau pria.." ucap malas tan hao dengan kedua tangan menggantung lemas serta berwajah bosan.
" Hahahahah hahahhaa.. Aku suka gayamu anak muda.. " Ucap ye yuan dengan senyum lebarnya yang bahagia.
" gaya palamu, huss huss husss aku mau tidur.." ucap Tan hao dengan mengibaskan kedua tangannya pelan.
" Haiyaa.. tidak seru tidak seru..
Ehh, hmm Tan'er kau punya tamu penting, besok pagi akan seru lhoo.." ucap Ye yuan setengah serius setelah tiba-tiba merasakan Aura jahat mendekat.
" Dasar burung lamban, Aku sudah tahu sejak tadi. Sepertinya sudah lengkap, burung jelek burung lamban dan burung tumpul.. hahahahhaa.." ucap Tan hao dengan tawa lantang mengejek.
__ADS_1
" Dasar bocah rakus, lihat saja nanti. Akan ku balas ocehan murahanmu.." ucap Ye yuan marah bermuka konyol serta menghilang.
...
Sebelum matahari terlihat, Tan hao telah terbangun dari tidurnya. Dengan wajah masih sayu sambil menggerakkan ringan badannya Tan hao berjalan pelan keluar kamar.
Tanpa di duga, salah satu pelayan tertidur disamping pintu kamar dengan posisi terduduk yang wajahnya terbenam diantara lututnya. Terlihat begitu kelelahan.
"ehh. Pelayan ini sungguh menungguiku semalaman penuh??.." gumam Tan hao sambil berjongkok di depannya mengamati tanpa menyentuhnya.
" Ahh sebaiknya aku pindahkan dia ke kamar, aku tak mengira dia cukup kuat menahan hawa dingin malam hari dengan pakaian tipis seperti ini.. sungguh wanita Nekat.." batin Tan hao lalu memegang tangan pelayan itu memastikan terbangun atau tidak setelah tersentuh.
Mungkin karena lelah atau memang mengantuk berat, aksi Tan hao tak mengindahkan posisi tidurnya bahkan suara nafasnya pun teratur pelan.
Tan hao dengan hati-hati membopong pelayan itu yang tanpa sengaja kepalanya tersandar di bahu depan Tan hao.
Sekilas terlihat wajah cantik dengan bibir mungil yang membuat wajah Tan hao salah tingkah serta pipi memerah malu.
Dengan langkah pelan Tan hao berjalan masuk ke kamar sambil sesekali melirik wajah cantik pelayan itu yang memakai gaun tipis berwarna hijau muda dengan kedua bahu terlihat.
Entah kenapa, jantung Tan hao berdetak lebih cepat ketika telah meletakkan pelan tubuh indah pelayan itu.
"sekarang saatnya kau mempelajari tentang wanita, lihatlah tubuh indah dengan wajah cantik di hadapanmu.. menarilah bersama.."
Tiba-tiba Tan hao mendengar bisikan pelan yang berulang-ulang dengan ucapan yang sama.
Yang membuat Tan hao entah bagaimana menuruti bisikan itu dengan mendekatkan wajahnya dalam keremangan kamar.
Sebelum kedua wajah itu bertemu, Tan hao berhenti memajukan wajahnya dengan tiba-tiba.
" Hehh, anak polos yang bodoh. Temuilah ajalmu.." ucap pelan pelayan itu yang tengah memegang pisau serta berada tepat menempel di leher Tan hao.
Tanpa ba-bi-bu lagi pelayan wanita itu menarik pisau yang telah menempel di leher Tan hao seperti menggorok cepat. Yang kemudian pelayan wanita itu menendang perut Tan hao hingga jatuh tersungkur tanpa bergerak.
Pelayan wanita itu kemudian berdiri dengan menyingkap sebagian gaun yang menutupi paha kanannya.
Yang ternyata terdapat sebuah kain hitam melilit serta terdapat dua buah pisau berbentuk S dibaliknya.
__ADS_1
" Dengan begini tugasku selesai, hihihi.. Tetua Shi fei terlalu berlebihan tentang bocah ini. Kekuatan apanya, bahkan dia tak bisa membedakan antara pelayan atau bukan. Tapi kuakui, sungguh sayang bocah setampan ini harus menjadi korban pekerjaanku..
Oh anak tampan kau sungguh membuatku patah hati dengan ketampananmu yang kini jadi mayat.. hhihihihi.." ucap pelayan wanita itu dengan tawa nakalnya yang mengelus-elus lembut pipi Tan hao yang tersungkur tengkurap dengan kaki terlipat ke dada sementara wajahnya menyamping ke kiri dengan mata terpejam.