
"Saudari Zey! Apa yang sedang terjadi? Mengapa mereka seperti akan bertarung?" ujar Tetua Shuxan mempertanyakan tentang apa yang ia lihat.
Liu Zey pun tak mengerti dengan sikap mereka berdua, ia bahkan tak bisa menebak apapun. Dirinya sendiri pun memiliki pertanyaan yang sama dengan Tetua Shuxan, namun ia lebih memilih bungkam dan hanya menyaksikan keduanya.
Tan Hao mengangguk sekali dengan tatapan dingin seolah memberi tanda pada Tiandou, yang langsung Tiandou pahami maksud isyarat tersebut.
Ledakan energi keduanya semakin meningkat, bahkan menciptakan pusaran besar dengan dua energi berbeda warna.
"Mereka memiliki kekuatan yang bisa dikatakan setara denganmu, bahkan teman-temanmu pun tak bisa mengetahuinya. Aku salut pada Tian kecil, ia bisa mengetahui dengan jelas." ujar Ye Yuan memasang wajah seriusnya berbicara di dalam ruang jiwa Tan Hao.
Ye Yuan memang memberi isyarat pada Yue Yin sesaat sebelum keduanya berjalan saling mendekat, sebab itulah Tiandou yakin dengan indera perasanya lebih cepat.
"Tuan! Sejujurnya aku hanya bisa katakan, Tuan harus menggunakan pedang iblis itu jika bertarung satu lawan satu nantinya." kata Yue Yin bersamaan dengan Ye Yuan yang tengah berbicara pada Tan Hao.
Selepas keduanya membuat kesepakatan, Tiandou bergerak lebih dulu. Gerakan tangannya yang mengeluarkan jurus membuat Liu Zey tersentak kaget, bahkan Tetua Shuxan sempat ingin melompat menghentikan perbuatan Tiandou.
Tetua Shuxan mengira Tiandou akan benar-benar menyerang Tan Hao pun begitu dengan pikiran Liu Zey.
Tetapi keduanya mengerutkan dahi mereka ketika menyadari sikap yang ditunjukkan Tan Hao.
Tiandou memusatkan tenaga dalamnya kemudian menyerang kearah sisi kiri belakang Tan Hao. Serangan itu begitu kuat hingga membuat tanah sekitar berterbangan.
Ketika serangan energi tersebut mengarah padanya, Tan Hao hanya memiringkan sedikit badannya, kemudian mengeluarkan energi yang sama melalui telapak tangan kanannya persis mengikuti lesatan energi yang Tiandou lepaskan.
Liu Zey dan Tetua Shuxan dibuat heran dengan perbuatan mereka, keduanya saling pandang namun tak ada perkataan yang keluar.
Sementara Lan Lihua telah sejak awal bersikap waspada, ketenangannya masih tetap terjaga. Meskipun begitu, ia menuruti nasihat Bing Long untuk tidak ikut serta sementara waktu sebelum situasinya jelas.
DDUUAARR.. wushh.. Wusshh..
Ledakan energi yang bertumpuk tersebut menciptakan guncangan tanah, bahkan menumbangkan pepohonan yang tinggi menjulang hingga membentuk lingkaran dipermukaan tanah yang besar.
Beberapa saat kepulan asap telah berangsur menghilang, terlihat dua sosok tengah berdiri tegak ditengah-tengahnya. Keduanya terhalangi oleh sebuah kain yang melayang seperti menari mengitari tubuh mereka.
Liu Zey terkejut melihatnya sampai membuatnya termundur selangkah.
"Siapa itu disana? Apakah itu manusia?"
__ADS_1
"Aku merasa itu bukan sesuatu yang sederhana. Bagaimana mungkin kedua orang itu masih bisa baik-baik saja setelah terkena serangan sedahsyat itu." timpal kagum Tetua Shuxan namun raut wajahnya menunjukkan hal lain.
Di sisi lain Su Kong ternganga lebar, wajahnya pucat pasi.
"Selendang iblis? Bukankah itu milik Dewi Iblis, Ming Yin? Oh habislah sudah."
Su Kong langsung bisa mengenali salah satu dari dua sosok tersebut, sebab beberapa tahun sebelumnya Sekte Gunung Pandan yang memiliki ayahnya sebagai Patriark Sekte mempunyai masalah serius dengan salah satu sosok tersebut yang dikenal sebagai Dewi Iblis, satu dari ketujuh panglima iblis Organisasi Iblis Darah.
Sesaat kemudian setelah kepulan asap telah menghilang barulah terlihat jelas, seorang wanita dengan pakaian berwarna merah gelap sedang memegang ujung selendang merah darah yang masih berputar.
Disampingnya seorang lelaki setengah baya dengan wajah seputih giok terlihat menutup kedua matanya, ekspresinya begitu santai terlihat dari kedua tangannya yang ia lipat dibelakang sembari mengumbar senyum tipis.
"Ahh, aku terkejut kalian bisa menyadari keberadaan kami! Tapi serangan lemah seperti ini tak akan bisa menyentuh kami." kata wanita tersebut yang memiliki nama Ming Yin.
Tan Hao begitu tenang, bahkan posisi tubuhnya tak berubah sejak terakhir kali mengeluarkan jurusnya. Ia hanya melirik santai seolah tak menghiraukan ucapan Ming Yin.
Alasan Tan Hao seperti itu adalah ia lebih mengkhawatirkan tentang pria disamping Ming Yin, sikapnya yang sangat tenang dan tidak terpengaruh situasi membuatnya sulit ditebak.
Tetua Tiandou pun memiliki pemikiran yang sama, hanya saja ia tak bisa begitu saja meremehkan Ming Yin yang dengan mudahnya menangkis dua serangan beruntun yang dilepaskan sebelumnya.
Ming Yin mendengus kesal, tatapan matanya menunjukkan kemarahan.
"Serahkan apa yang kau dapat dan kami akan mengampuni nyawa kalian."
Pria disampingnya hanya melambaikan sebelah tangannya dua kali sembari tersenyum pada Tan Hao.
"Maaf atas sikapnya, berikan saja sebelum dia menggunakan kekerasan."
Ming Yin mendengus sebal kearah pria tersebut.
"Hentikan sikap manismu itu, Yin Zhu! Aku muak melihatnya. Untuk apa bersikap baik dengan para semut seperti mereka."
Disisi lain Lan Lihua tengah mempelajari kekuatan kedua orang tersebut dengan bantuan Bing Long, ia merasa ada yang tak beres dengan sikap kedua orang tersebut.
Tan Hao melirik Tetua Shuxan dan kemudian mengangguk pelan, isyarat tersebut langsung dipahami olehnya.
Dengan cekatan dan tanpa menunggu waktu lagi, Tetua Shuxan memberitahukan isyarat tersebut pada Liu Zey dan Su Kong.
__ADS_1
"Tuan Muda! Apa kau cukup ide untuk mengetahui mereka? Aku sama sekali buta akan kekuatan asli mereka. Aku takut ini akan berakhir buruk." ucap pelan Tetua Tiandou.
"Tenanglah, aku bisa mengatasi mereka. Lagipula, kau jangan meremehkan kekuatanmu sendiri. Aku bisa merasakan kau memiliki sesuatu yang aku kenal." balas Tan Hao tanpa menoleh kearahnya, pandangannya masih terfokus pada dua orang yang kini tengah beradu argumen tidak penting.
Tetua Tiandou tercengang, ia tak menduga bahwa Tan Hao bisa mengetahui bahwa ia menyimpan Pedang Sabit Matahari milik Jiwei Dan. Pedang iblis tersebut jelas sangat dikenal Tan Hao, meskipun disimpan dalam cincin dimensi tetapi aura nya dapat dengan mudah Tan Hao rasakan.
"Hei kalian!" seru Tan Hao.
"Sudah hentikan kebodohan ini, aku peringatkan kau jangan ikut campur." ujar kesal Ming Yin pada Yin Zhu yang hanya dibalas senyum tipis.
"Serahkan benda yang kau pakai di tubuhmu dan cincin itu," seru Ming Yin menunjuk ke arah Tan Hao.
Berbarengan dengan itu Yin Zhu melompat mundur dan duduk di batang pohon yang roboh.
Tan Hao mengerutkan dahinya, ia tak menduga lawan kali ini benar-benar meremehkannya.
"Ambil sendiri jika kau cukup mampu melakukannya," balas Tan Hao dingin sembari mengubah posisi badannya menghadap lurus Ming Yin.
"Pria kurang ajar," dengus Ming Yin sesaat kemudian melesat kearah Tan Hao dengan memutarkan selendang iblis.
Praakkhh...
Belum sampai serangan ujung selendang tersebut mengenai tubuh Tan Hao. Tetua Tiandou telah lebih dulu bergerak ke depan Tan Hao, dengan menggunakan Tombak Bulu Surga menangkis serangan frontal tersebut.
"Benda itu sekeras besi, aku tak menyangka." batin Tiandou yang melihat sesaat ujung tombaknya mengalami retakan halus.
"Tch..kau tikus sialan berani ikut campur."
Ming Yin begitu marah, sifatnya yang tak bisa mengontrol emosi meskipun seorang wanita membuatnya cukup pantas di gelari Dewi Iblis.
Ming Yin tak mengetahui, meskipun tanpa Tiandou tangkis pun serangan tersebut tak akan melukai Tan Hao. Zirah Naga Suci bukan hanya melindungi sebagian tubuh tetapi keseluruhan anggota tubuh.
Apa yang Tiandou lakukan adalah membuktikan diri bahwa ia sanggup jika harus berhadapan dengan Dewi Iblis. Tentu saja itu juga bagian dari rencananya bersama Tan Hao beberapa saat sebelumnya.
"Tuan jangan lengah, sekarang Tombak Bulu Surga sudah tak bisa lagi digunakan untuk melawannya. Simpan dan gunakan pedang iblis." Yue Yin memberi peringatan di dalam ruang jiwa Tiandou.
Sementara Tan Hao terlihat cukup mempercayai Tiandou, ia menatap santai kearah Yin Zhu berada yang berjarak beberapa belas meter darinya. Dua orang dengan ketenangan tinggi beradu pandang. Keduanya cukup tenang dan tak ada yang melakukan gerakan apapun.
__ADS_1